Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Aira
POV Revan
Satu bulan berlalu.
Aku: Masih mual atau pusing?
Pagi hari, aku mengirimkan pesan pada Alya. Semalam ia sempat mengeluh pusing dan mual, bahkan beberapa kali muntah. Saat aku periksa, ternyata tekanan darahnya rendah. Namun, Alya tetap pergi untuk menemani ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Aku duduk di pinggir kasur. Kemeja salur berwarna biru muda sudah aku pakai. Kemeja yang sempat Alya siapkan semalam.
Tidak lama, balasan pesan Alya masuk ke ponselku.
Alya: Masih, Kak, tapi tidak separah waktu malam.
Aku: Ya sudah, aku bawakan obat ke sana.
Aku berdiri, kembali bersiap untuk segera berangkat ke rumah sakit, memastikan kondisi Alya sekaligus ayahnya yang sedang dirawat.
Saat aku mengambil tas kerja, sekilas perkataan Ibu kembali terngiang dalam benakku.
Ibu perhatikan kamu semakin perhatian dengan Alya. Ibu senang sekali. Begitulah pernikahan, Revan. Sekarang kamu mulai nyaman dan perhatian. Suatu saat nanti, perlahan kamu akan membuka hati untuknya.
Jatuh hati pada Alya?
Itu sepertinya tidak akan pernah terjadi karena aku masih sangat mencintai Aira. Sampai saat ini.
Menurutku, perhatian yang aku berikan pada Alya hanyalah balasan atas kebaikan dan perhatian Alya kepadaku.
Ting!
Aira: Sayang, aku datang ke ruang kerjamu hari ini, ya. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan.
Aira, kekasihku. Wanita yang telah lama menjadi penghuni tetap di dalam hati ini dan tidak pernah sedikit pun aku berpaling darinya. Setelah dibujuk dengan susah payah, akhirnya aku dan Aira kembali menjalin hubungan, dengan aku yang semakin menyayangi wanita itu.
Aku: Boleh, Sayang. Tapi pagi ini aku harus mengurus pasien terlebih dahulu. Kamu tunggu saja di ruang kerjaku.
Aira tidak membalas lagi. Aku memutuskan untuk segera menunaikan kewajibanku. Berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Pak Darman sekaligus Alya. Setelah itu, aku akan bertemu dengan Aira.
🌸🌸🌸
Aku melangkahkan kaki sambil menegakkan tubuh. Menyapa beberapa dokter yang sedang bertugas pagi ini. Menelusuri tiap lorong putih hingga akhirnya...
“Dokter Revan. Bu Aira tadi sempat datang ke sini.”
“Sekarang di mana?” tanyaku.
“Saya tidak tahu pasti, Dok. Tadi sempat menanyakan ruang rawat Pak Darman, ayahnya Bu Alya.”
“Ya sudah, terima kasih, Sus.”
Aku kembali melangkah cepat menuju ruang VIP. Dengan langkah tergesa-gesa dan jantung yang berdegup cepat, aku mulai mengira-ngira drama apa yang akan Aira lakukan pada Alya.
Dari mana Aira mendapatkan informasi tentang ayah Alya yang sedang dirawat di sini?
Dan untuk apa ia begitu ingin mendatangi Alya?
Langkahku semakin mendekat ke arah lorong ruang VIP.
“Dugaanku tidak salah. Kamu ini wanita licik dan munafik. Sok-sokan tidak menginginkan Revan, tapi perhatian dan kelembutanmu seolah sedang merayu agar mendapatkan balasan perhatian dari Revan.”
Di depan pintu ruang VIP, Aira sedang menatap tajam ke arah Alya. Seperti biasa, Alya hanya memasang wajah tenangnya. Seolah tidak peduli dengan perkataan yang keluar dari bibir Aira.
“Jawab!”
“Oh... kamu nggak bisa jawab? Berarti benar, kan? Kau ini menginginkan Revan. Asal kamu tahu, Alya. Kamu tidak akan mendapatkan pria setampan dia. Dia dokter terkenal dan pemilik rumah sakit ini. Kamu baginya hanyalah seonggok sampah di jalanan. Revan hanya pantas untukku. Status sosial kami setara, bukan dengan seorang guru yang masa jabatannya saja belum diakui...”
Omongan pedas itu pasti akan menyakitkan bagi Alya. Tapi apa yang wanita itu lakukan?
Ia hanya memasang senyum tipis dengan wajah datar. Tanpa ekspresi, seolah Aira hanyalah pemeran drama yang sedang asyik ia tonton.
“Aira...”
Dua wanita itu seketika menoleh ke arahku.
“Ngapain kamu di sini, Sayang?”
“Kamu, Revan. Kamu telah ingkar janji padaku.”
Aku menarik tangan Aira agar ia sedikit menjauh dari hadapan Alya.
Aku melirik Alya sekilas. Guratan wajah pucat semakin terlihat pada wajahnya. Cekungan pada kelopak matanya juga semakin terlihat. Wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
“Ingkar janji apa? Aku tidak mengerti. Ayo, kamu jelaskan di ruanganku. Jangan di sini.”
“Tidak!” Tangan Aira menghentak keras, berusaha melepaskan cekalanku.
“Aku ingin membicarakannya bersama kalian berdua. Hati aku sakit, Revan...”
Aira terus meronta. Tangannya tidak bisa diam, sementara sorot matanya terus menatap tajam ke arah Alya.
“Alya... sudah minum obatnya?”
Aku menahan lengan Alya yang hendak memasuki ruang rawat ayahnya. Wanita itu hanya terdiam dengan guratan senyum tipis.
“Urus saja kekasihmu. Bawa pergi jauh. Aku sedang tidak ingin melayani drama yang ia ciptakan hari ini.”
Alya masuk, kemudian menutup pintunya, meninggalkan aku dan Aira.
“Lepas!”
Aira menggigit lenganku hingga cekalanku terlepas. Dengan cepat ia memasuki ruang rawat Pak Darman.
“Aira!”
Aku menyusulnya masuk.
Alya yang sedang menyuapi Pak Darman makan seketika terlonjak kaget dengan kedatangan Aira kembali.
“Alya...” Napas Aira mulai menderu cepat.
Aku melirik Pak Darman yang terbaring lemah. Ia juga ikut menyaksikan pertengkaran kami.
“Godaan apa yang sudah kamu berikan pada Revan hingga dia tergoda olehmu? Kalian sudah berhubungan lebih, kan? Ayo, ngaku! Bukti nyatanya, seprai dengan noda merah itu...”
Air mata mulai mengalir di pipi Aira.
Alya masih tidak ingin menanggapi omongan Aira. Ia tetap fokus menyuapi Pak Darman makan.
“Aira... stop. Bisa aku jelaskan nanti.”
“Stop! Jangan mendekat, Revan!”
Aira bergerak meraih pisau di nakas dan menghunuskannya di hadapan Alya.
Aku mematung di tempat, tahu dengan sifat Aira yang selalu nekat.
“Jika kamu mendekat, Revan, jangan sampai pisau ini tertuju pada istrimu.”
Posisi berdiriku serba salah.
“Kalian pikir selama ini aku tidak tahu tentang hubungan kalian? Dari awal menikah, kalian sudah tinggal satu kamar. Hubungan malam itu. Dan kalian pergi berdua dengan dalih ingin menjadi relawan para korban longsor, tapi pada akhirnya kalian pergi berdua dan menikmati waktu yang manis di dalam kabin.”
“Aira, cukup...!”
Alya yang membuka suara.
“Tolong hargai ayah saya yang sedang sakit. Jangan menciptakan keributan di sini.”
“Kamu berbohong, Revan! Kamu telah mengkhianati kepercayaanku. Kamu berjanji tidak akan tinggal satu kamar bersamanya dan tidak akan menyentuhnya. Kamu mengingkari itu semua...!”
“Aira, cukup!!”
Air mata Alya mulai mengalir di pipinya. Pisau tajam di tangan Aira semakin mendekat ke arahnya.
“Kamu ini siapa? Hanya kekasih Revan yang belum terikat. Sementara aku adalah istri Revan. Tapi apa yang kamu lakukan padaku? Seolah-olah aku ini adalah wanita simpanan suamimu.”
Alya terisak beberapa kali. Alya mengelus bahu ayahnya yang tampak khawatir dari sorot matanya.
“Aira, kamu memang kekasihnya, tapi aku adalah istrinya.”
“Kurang ajar kamu, Alya!”
“Memang pada kenyataannya seperti itu, Aira.” Suara Alya seketika mengentak tegas.
“Aku dan Kak Revan adalah suami istri. Jadi, wajar saja kami melakukan hubungan yang lebih karena kami telah terikat dalam ikatan yang halal...”
“Kurang ajar! Dasar jalang berkedok hijab...!”
Tidak sempat aku tahan, Aira mendorong keras tubuh Alya hingga tubuh Alya menubruk bagian sudut nakas.
“BRUKK!”
Bersambung...