Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA ANAK, SATU RAHASIA
Nama itu terus terngiang di benak Liān Huā.
Yuán Zhēn.
Mengapa nama Kaisar muncul dalam rahasia masa lalunya?
Apakah ia telah mengetahui identitas asli Liān Huā sejak awal pertemuan mereka? Ataukah ada hubungan antara kelahiran mereka yang selama ini sengaja disembunyikan?
Liān Huā duduk di tepi ranjang, menggenggam secarik kertas yang ditinggalkan perempuan misterius itu.
“Xiǎo Yàn,” panggilnya pelan.
Pelayan itu segera mendekat.
“Ya, Nona?”
“Apakah kau pernah mendengar tentang Paviliun Han Mei?”
Xiǎo Yàn berpikir sejenak.
“Saya pernah mendengar namanya dari pelayan senior. Katanya, paviliun itu dibangun untuk seorang perempuan dari keluarga kerajaan, tetapi sudah lama tidak digunakan.”
“Siapa perempuan itu?”
“Tidak ada yang tahu pasti. Sebagian mengatakan beliau meninggalkan istana, sementara yang lain mengatakan paviliun itu ditutup atas perintah kaisar terdahulu.”
Liān Huā menatap surat di tangannya.
“Kalau begitu, besok aku ingin pergi ke sana.”
Xiǎo Yàn langsung menggeleng.
“Nona, Anda baru saja menerima peringatan dari orang asing. Bagaimana jika tempat itu berbahaya?”
“Aku tidak akan pergi sendirian. Aku akan meminta izin kepada Yang Mulia.”
Liān Huā berhenti sejenak, lalu menatap nama di atas kertas.
“Namun, sebelum itu, aku harus menanyakan sesuatu kepadanya.”
---
Di aula utama, Yuán Zhēn belum beristirahat.
Di hadapannya terhampar dokumen lama mengenai kelahiran keluarga kerajaan. Beberapa nama telah dihapus dari catatan, sedangkan bagian lain sengaja dipindahkan ke halaman terpisah.
Ia baru saja menerima laporan tentang seorang perempuan berjubah putih yang terlihat di kawasan utara.
“Apakah kalian berhasil mengenali perempuan itu?” tanyanya.
Pengawal yang berlutut menjawab, “Belum, Yang Mulia. Namun, ia terlihat memasuki Paviliun Han Mei.”
Yuán Zhēn mengangkat wajah.
“Paviliun Han Mei?”
“Benar.”
Kaisar berdiri dan berjalan menuju lemari di belakang mejanya. Ia membuka laci paling bawah, mengeluarkan sebuah kotak hitam, lalu mengambil gulungan kecil dari dalamnya.
Di atas gulungan itu terdapat lambang phoenix yang dikelilingi awan.
Yuán Zhēn menatapnya lama.
“Jadi, akhirnya seseorang kembali ke sana.”
“Yang Mulia mengenali lambang itu?” tanya pengawal.
Yuán Zhēn segera menggulung kembali dokumen tersebut.
“Ini bukan urusan yang perlu diketahui orang lain.”
Pengawal itu menunduk.
Setelah semua orang pergi, Yuán Zhēn berdiri sendirian di dekat jendela.
Ada satu rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Bertahun-tahun lalu, ketika ia masih menjadi seorang pangeran muda, ayahnya pernah memanggilnya ke ruang pribadi. Pada malam itu, ia diperlihatkan sebuah catatan mengenai dua bayi yang lahir pada hari yang sama.
Satu bayi berasal dari garis utama keluarga kerajaan.
Bayi lainnya dicatat sebagai anak dari seorang kerabat jauh.
Namun, catatan itu tidak menjelaskan mengapa kedua bayi tersebut dipisahkan.
Ayahnya hanya mengatakan satu kalimat.
Jika suatu hari kau bertemu seorang perempuan dengan liontin awan, jangan biarkan siapa pun menentukan nasibnya atas nama kerajaan.
Saat itu, Yuán Zhēn tidak memahami maksud perkataan tersebut.
Sekarang, ia mulai mengerti mengapa ayahnya menyimpan rahasia itu hingga akhir hayatnya.
---
Keesokan paginya, Liān Huā meminta bertemu dengan Kaisar.
Yuán Zhēn menerimanya di taman bagian timur istana.
Liān Huā tidak membuang waktu.
“Yang Mulia, apakah Anda mengenal Paviliun Han Mei?”
Yuán Zhēn menatapnya.
“Dari mana kau mendengar nama itu?”
Liān Huā mengeluarkan secarik kertas yang ditemukan semalam.
“Ada seseorang yang datang ke kediamanku. Ia mengatakan bahwa jika aku ingin menemukan ibuku, aku harus mencari bunga yang tidak pernah mekar.”
Yuán Zhēn membaca tulisan itu.
Wajahnya berubah serius.
“Siapa orang itu?”
“Aku tidak mengetahui namanya. Ia mengatakan pernah menjadi bagian dari Paviliun Yún.”
Yuán Zhēn mengembalikan kertas tersebut.
“Paviliun Han Mei sudah lama ditutup. Aku akan mengirim pengawal untuk memeriksanya.”
“Aku ingin ikut.”
“Liān Huā—”
“Aku tahu tempat itu mungkin berbahaya,” potongnya dengan suara tenang. “Namun, ini menyangkut keluargaku. Aku tidak ingin terus menunggu orang lain memutuskan kapan aku boleh mengetahui kebenaran tentang diriku sendiri.”
Yuán Zhēn terdiam.
Ia memahami perasaan itu.
Selama bertahun-tahun, Liān Huā telah hidup dengan nama yang mungkin bukan nama kelahirannya. Kini, setiap orang yang mengetahui rahasianya hanya memberinya sebagian jawaban.
Akhirnya, Yuán Zhēn mengangguk.
“Baik. Kita akan pergi bersama. Namun, kau harus mengikuti pengawalku dan tidak memasuki ruangan yang belum diperiksa.”
Liān Huā mengangguk.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Yuán Zhēn memandangnya sejenak.
“Dan ada sesuatu yang perlu kukatakan kepadamu.”
“Apa?”
“Jika kau menemukan sesuatu tentang masa laluku di tempat itu, jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasanku.”
Liān Huā menatapnya dengan bingung.
“Masa lalu Yang Mulia?”
Yuán Zhēn tidak menjawab.
Ia hanya berbalik dan memerintahkan persiapan keberangkatan.
Kini, kecurigaan Liān Huā semakin kuat.
---
Paviliun Han Mei berdiri di tengah taman tua yang hampir terlupakan.
Pohon-pohon plum mengelilingi bangunan itu. Sebagian besar rantingnya kering, dan tidak ada satu pun bunga yang terlihat.
Di depan pintu terdapat sebuah plakat kayu yang warnanya telah memudar.
Yuán Zhēn dan Liān Huā memasuki halaman bersama para pengawal.
“Tempat ini terasa seperti tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun,” ujar Xiǎo Yàn.
Lù Shān memeriksa sisi bangunan.
“Tidak sepenuhnya. Ada jejak kaki baru di dekat pintu belakang.”
Yuán Zhēn segera memberi isyarat kepada pengawal.
“Periksa bagian belakang. Jangan bertindak sebelum mengetahui siapa yang berada di dalam.”
Sementara itu, Liān Huā berdiri di hadapan pohon plum terbesar.
Ada sesuatu di batangnya yang menarik perhatian.
Sebuah ukiran kecil berbentuk awan.
Ia mengeluarkan liontinnya dan membandingkan kedua lambang itu.
Bentuknya sama.
“Yang Mulia,” panggilnya.
Yuán Zhēn mendekat.
“Lihat ini.”
Ia mengamati ukiran tersebut, lalu memeriksa pangkal pohon.
Di antara akar yang menonjol terdapat sebuah batu pipih. Ketika batu itu digeser, terlihat sebuah lubang kecil yang berisi kotak kayu.
Yuán Zhēn mengangkat kotak tersebut.
Di atas tutupnya tertulis:
Untuk anak yang kelak kembali mencari asal-usulnya.
Liān Huā merasakan jantungnya berdebar.
Kotak itu dibuka.
Di dalamnya terdapat dua gelang bayi, selembar kain bersulam, dan sebuah catatan pendek.
Yuán Zhēn membaca catatan tersebut dengan suara pelan.
“Pada malam bulan purnama, dua anak dilahirkan di bawah satu atap. Demi melindungi keduanya, nama mereka dipisahkan, dan kebenaran dipercayakan kepada orang yang tidak boleh memihak kepada siapa pun.”
Liān Huā mengangkat salah satu gelang bayi.
Pada gelang itu terukir satu karakter: Huā.
Gelang yang lain memiliki ukiran berbeda.
Zhēn.
Keduanya saling berpandangan.
“Yang Mulia...” suara Liān Huā bergetar. “Mengapa gelang ini memiliki karakter nama Anda?”
Yuán Zhēn tidak menjawab.
Ia mengambil gelang kedua, memeriksa ukirannya, lalu membalik bagian dalamnya.
Di sana terdapat tulisan yang hampir tidak terbaca.
Anak pertama: pewaris darah Ning.
Anak kedua: pewaris takhta.
Liān Huā menatap catatan itu.
“Apakah ini berarti...”
“Belum tentu,” jawab Yuán Zhēn, meskipun suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. “Kita harus menemukan catatan lengkapnya.”
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit dari dalam paviliun.
Seorang perempuan berjubah putih berdiri di ambang pintu.
Wajahnya tertutup kerudung, tetapi matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan.
“Jangan baca catatan itu lebih jauh,” katanya.
Para pengawal segera bergerak melindungi Kaisar dan Liān Huā.
Yuán Zhēn mengangkat tangannya, menghentikan mereka.
“Siapa kau?”
Perempuan itu menatap Liān Huā.
“Aku adalah orang yang berjanji kepada ibumu bahwa suatu hari aku akan mengembalikan kebenaran kepadamu.”
Liān Huā melangkah maju.
“Apakah kau mengenal ibuku?”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun di istana ini.”
“Kalau begitu, katakan di mana dia berada!”
Perempuan itu terdiam.
Lalu, perlahan, ia menurunkan kerudungnya.
Liān Huā membeku.
Wajah perempuan itu tampak lebih tua daripada yang bisa ia bayangkan dari kenangan masa kecilnya. Namun, matanya memiliki bentuk yang sama dengan mata perempuan dalam ingatan samar yang selalu muncul ketika Liān Huā mencoba mengingat masa lalunya.
Perempuan itu mengangkat tangan, menyentuh pipi Liān Huā dengan lembut.
“Anakku...”
Satu kata itu menghancurkan seluruh keraguan yang selama ini dipendam Liān Huā.
“Ibu?”
Perempuan itu memeluknya.
Untuk beberapa saat, Liān Huā tidak mampu berkata-kata. Ia hanya berdiri dalam pelukan perempuan yang selama bertahun-tahun dianggap hilang dari hidupnya.
Namun, pertemuan itu tidak berlangsung lama.
Putri Ning melepaskan pelukannya dan memandang Yuán Zhēn.
“Yang Mulia, Anda seharusnya tidak membawa Liān Huā ke tempat ini.”
Yuán Zhēn menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Putri Ning memandang kotak kayu yang terbuka.
“Karena catatan itu bukan sekadar bukti kelahiran.”
Ia menunjuk kedua gelang bayi.
“Itu adalah bukti bahwa pada malam yang sama, dua anak kerajaan dilahirkan. Salah satunya ditetapkan sebagai pewaris takhta, sedangkan yang lainnya memiliki hak yang seharusnya tidak pernah dirampas.”
Yuán Zhēn mengepalkan tangan.
“Siapa yang merampas hak itu?”
Putri Ning menatapnya dengan kesedihan mendalam.
“Orang yang memisahkan kedua anak itu adalah orang yang paling dipercaya oleh kakek Anda.”
Liān Huā memandang ibunya.
“Siapa?”
Putri Ning menarik napas panjang.
Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki dari luar taman.
Lù Shān berlari memasuki paviliun.
“Yang Mulia! Kita harus segera pergi. Pasukan dari kediaman Paman Agung Zhāng telah mengepung taman!”
Yuán Zhēn langsung berdiri di depan Liān Huā dan Putri Ning.
“Berapa banyak?”
“Cukup banyak untuk menutup seluruh jalan keluar.”
Putri Ning menutup kotak kayu itu dengan cepat.
“Mereka tidak boleh mendapatkan gelang tersebut.”
“Kenapa benda ini begitu penting?” tanya Liān Huā.
Putri Ning menatap putrinya.
“Karena gelang itu dapat membuktikan siapa yang berhak mewarisi takhta kerajaan.”
Yuán Zhēn terdiam.
Kini ia mengerti mengapa seseorang bersedia menghapus nama Liān Huā dari catatan sejarah.
Bukan semata-mata untuk melindungi seorang anak.
Melainkan untuk mengubah masa depan kerajaan.
Dari luar, terdengar suara seorang pria.
“Yang Mulia Kaisar! Atas perintah Dewan Istana, serahkan Putri Ning dan semua dokumen yang ditemukan di dalam paviliun!”
Yuán Zhēn menatap pintu.
Tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan perintah seperti itu tanpa dukungan dari pihak yang sangat berkuasa.
Ia menoleh kepada Liān Huā.
“Berdirilah di belakangku.”
Namun, Liān Huā justru menggenggam tangan ibunya.
“Aku tidak akan pergi tanpa mengetahui kebenarannya.”
Putri Ning menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau memang selalu seperti itu.”
Kemudian ia berbisik, cukup pelan agar hanya Liān Huā yang mendengarnya.
“Jika sesuatu terjadi, carilah orang yang menyimpan separuh gelang ini. Dia satu-satunya saksi yang mengetahui siapa sebenarnya anak kedua yang dilahirkan pada malam itu.”
Liān Huā menoleh dengan bingung.
“Separuh gelang?”
Putri Ning mengangguk.
“Gelang yang kaupegang sekarang bukan pasangan yang lengkap.”
Liān Huā menatap kotak kayu.
Salah satu gelang bayi memang tampak seperti pernah dipatahkan dan disambungkan kembali.
Namun, bagian kecil yang seharusnya melengkapi ukirannya telah hilang.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu paviliun terbuka.
Seorang pejabat kerajaan memasuki ruangan bersama para penjaga bersenjata.
Di belakangnya, Paman Agung Zhāng berdiri dengan wajah dingin.
“Yang Mulia,” katanya sambil membungkuk sekadarnya. “Sepertinya kita akhirnya bertemu di tempat yang tepat.”
Yuán Zhēn menatapnya tanpa berkedip.
“Paman Agung Zhāng, atas dasar apa Anda membawa pasukan ke sini?”
Paman Agung Zhāng tersenyum tipis.
“Atas dasar sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah ditemukan.”
Tatapannya beralih kepada Liān Huā.
“Dan atas dasar bahwa perempuan itu bukan satu-satunya orang yang identitasnya telah diubah.”
Semua orang terdiam.
Paman Agung Zhāng mengangkat tangannya.
Seorang pengawal maju membawa sebuah dokumen bersegel kerajaan.
“Jika Yang Mulia ingin mengetahui kebenaran tentang Liān Huā, bacalah dokumen ini.”
Yuán Zhēn menerima dokumen tersebut.
Ketika ia melihat tanda tangan pada bagian bawahnya, wajahnya seketika berubah.
Tanda tangan itu milik ayahnya sendiri.
Dan tanggal yang tercantum di sana adalah tanggal ketika Yuán Zhēn masih bayi.