Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kubuat Dirimu Hamil!
Ciuman itu mendadak berubah menjadi sebuah dominasi mutlak yang menguasai seluruh indra Serena. Sergio memperdalam pagutan bibir mereka tanpa ada niat untuk memberi celah, sama sekali tidak memperdulikan Serena yang mulai kehabisan napas di bawah kurungannya. Tangan kokoh pria itu menahan tengkuk Serena dengan erat, memastikan istrinya tidak bisa menghindar barang sedikit pun.
Beberapa detik kemudian, saat Serena merasakan dadanya sesak dan paru-parunya berteriak meminta oksigen, barulah Sergio perlahan melepaskan tautan bibir mereka.
Pria itu menarik diri sejenak, menatap ke arah Serena yang langsung menegakkan tubuhnya sambil mengambil napas dalam-dalam secara tergesa-gesa. Wajah gadis itu tampak merah padam, bibirnya sedikit bengkak, dan napasnya memburu tersengal-sengal, pemandangan yang membuat Sergio menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan.
"Kupikir kamu harus belajar teknik menyelam, Serena," ucap Sergio dengan nada datarnya yang khas, namun tersirat ejekan terang-terangan di sana.
"Aku tidak suka wanita yang payah dalam berciuman dan gampang kehabisan napas. Mulai besok, akan kusuruh seorang tutor khusus untuk melatih kapasitas pernapasannya."
Mendengar sindiran telak itu, emosi Serena yang sempat mereda akibat ciuman tadi langsung tersulut kembali. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar bantal empuk di sampingnya dan melemparkannya tepat ke muka Sergio.
Pluk!
Bantal itu mendarat mulus di wajah tampan sang pemimpin mafia.
"Aku tidak mau!" teriak Serena kesal setengah mati, matanya melotot tajam ke arah suaminya.
"Banyak sekali kegiatan yang harus kulakukan setiap hari! Belajar menembak, belajar memanah... dan sekarang apa lagi?! Kapan waktu luangku untuk bersantai, hah?!" protesnya merengut sebal.
Sergio menangkap bantal yang dilempar istrinya dengan sebelah tangan tanpa usaha berarti, lalu menaruhnya kembali ke atas ranjang dengan tenang. Pria itu menatap Serena lurus-lurus tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak ada waktu untuk bersantai di kamus hidupku, Serena. Sebaiknya kamu persiapkan dirimu dari sekarang," balas Sergio dingin namun santai.
"Dengan belajar menyelam dan menahan napas di dalam air, kamu setidaknya bisa mengimbangi durasi ciumanku kelak."
Pernyataan arogan dan tanpa beban itu sukses membuat darah Serena mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa malunya seketika menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang luar biasa besar akibat harga dirinya yang diinjak-injak secara terang-terangan.
"Siapa juga yang mau berciuman lama-lama denganmu, Tuan Besar yang menyebalkan!" teriak Serena marah, menunjuk-nunjuk dada bidang suaminya dengan jari telunjuknya.
"Asal kamu tahu ya, lebih baik aku berciuman dengan Calum saja!" ceplos Serena tanpa menggunakan saringannya sama sekali, tersulut emosi hingga kehilangan akal sehatnya.
Suasana di dalam kamar tidur utama itu mendadak membeku dalam hitungan sepersekian detik. Suhu di sekitar mereka seolah terjun bebas ke titik nol.
Serena, yang baru saja melontarkan kalimat maut itu, langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun, nasi sudah menjadi bubur.
"Meskipun pria berambut putih itu irit bicara, dingin, dan kemarin sempat bersikap kasar padaku..." lanjut Serena mencoba meralat dengan nada terbata-bata yang gugup.
"Tapi... tapi kalau dipikir-pikir, tipe pria idamanku itu ya yang seperti Calum! Bukan tipe tiran sepertimu!" kata Serena ngeyel, meski ia sadar ia sedang menggali kuburannya sendiri.
Di hadapannya, Sergio tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, tatapan mata biru terang pria itu berubah menjadi sangat gelap dan mematikan. Aura membunuh yang pekat menguar dari tubuh Sergio, seolah siap mencabik-cabik siapa saja yang berani menyebut nama anak buahnya dengan nada memuja di hadapannya, terutama sang istri sah sendiri.
"Katakan sekali lagi, Serena," tantang Sergio dengan suara bariton yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena amarah yang tertahan di balik rahangnya yang mengeras sempurna.
Serena menelan air liurnya dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang bukan karena gugup romantis, melainkan karena ketakutan nyata yang tiba-tiba merayapi tulang punggungnya. Meski takut, sifat keras kepalanya memaksanya untuk tetap bersuara polos di saat yang salah.
"A-Apa?" tanya Serena pura-pura bego, memalingkan wajahnya ke samping karena tidak sanggup menatap sorot mata suaminya yang bagaikan algojo itu.
Sergio mencengkeram rahang Serena perlahan namun tegas dengan ibu jarinya, memaksa wajah gadis itu kembali menatap lurus ke arahnya. Cengkeraman itu tidak menyakiti, namun mutlak dan tidak bisa ditolak.
"Jangan pernah membuatku marah, Serena," desis Sergio tepat di depan bibir istrinya, suaranya terdengar seperti bisikan kematian yang mengerikan.
"Karena kamu terus memancing singa yang sedang tidur... sebaiknya malam ini juga aku harus membuatmu hamil! Biar kamu sadar dan ingat siapa pemilik mutlak dirimu yang sebenarnya di dunia ini!"
Mendengar ancaman vulgar dan telak itu, mata Serena membelalak lebar. Wajahnya yang tadinya merah karena marah kini berubah pucat pasi dalam sekejap. Hatinya menjerit histeris.
"H-Hah?! Hamil?! Kamu sudah gila, ya?!" pekik Serena histeris, mencoba mendorong tubuh kokoh suaminya sekuat tenaga.
"Aku tidak mau! Lepasin, Sergio! Aku cuma bercanda tadi! Sumpah, aku cuma keceplosan!" rontanya panik luar biasa.
Sergio sama sekali tidak bergeming sedikit pun. Pria itu justru menyeringai dingin, sebuah seringai predator yang membuat nyali Serena ciut seketika.
"Candaan mu sudah melewati batas toleransiku, Nyonya Ziegler," ucap Sergio mutlak, tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi istrinya untuk melakukan pembelaan diri.
"Persiapkan dirimu malam ini... dan jangan buat aku kecewa dengan alasan lelah atau mengantuk."
Setelah mengucapkan kalimat vonis yang membuat seluruh bulu kuduk Serena merinding ketakutan, Sergio melangkah mundur, melepaskan kurungannya, lalu berbalik begitu saja meninggalkan kamar tidur utama dengan langkah tenang nan tegas.
Blam!
Pintu kamar tertutup rapat dari luar, meninggalkan Serena seorang diri di atas ranjang king size. Gadis itu terdiam kaku membatu, menatap kosong ke arah pintu dengan mulut sedikit terbuka. Otaknya seolah berhenti berputar.
"Mati aku..." bisik Serena lemas, merosot merebahkan diri di atas kasur sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, menyesali setiap kata-kata lancang yang baru saja meluncur dari mulutnya sendiri.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔