Indonesia
NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Kita Merestui kok

Denting mesin SUV hitam Rezvan meraung halus saat kendaraan itu berbelok keluar dari gerbang perumahan elite. Di saat yang persis sama, sebuah sedan sport mewah beratap terbuka meluncur masuk dari arah berlawanan.

Lampu depan kedua mobil sempat saling menyorot dalam sepersekian detik sebelum akhirnya berselisih jalan—tanpa ada yang menyadari siapa yang baru saja berpapasan.

Sedan mewah itu terus melaju anggun hingga berhenti tepat saat pintu gerbang besi Kediaman Sumargo terbuka lebar. Mobil Bianka akhirnya terparkir sempurna di samping deretan mobil mewah lainnya di dalam garasi.

Di dalam rumah, tawa dan obrolan hangat memecah keheningan malam di ruang tengah yang luas. Damian Sumargo bersama sang istri, Karlina, dan putra bungsunya, Vidi, sedang berkumpul di atas sofa kulit.

Zahira, yang sudah selesai mandi dan mengenakan piyama katun simpel yang nyaman dengan rambut di gerai , baru saja melangkah turun dari tangga dan bergabung di sana.

"Papi, Mami... ada kabar besar dari sekolah Vidi," ucap Vidi dengan binar mata antusias yang tak bisa disembunyikan. Pria muda itu memajukan posisinya.

"Proposal dan hasil tes akhir Vidi lolos! Vidi resmi terpilih jadi salah satu perwakilan siswa pertukaran pelajar ke Cina di bidang Information Technology."

Damian langsung meletakkan kacamata bacanya dengan wajah sumringah. "Serius kamu, Vidi? Cina itu kiblat perkembangan IT masa kini. Luar biasa, Nak!"

Zahira yang baru saja duduk di sebelah Vidi mengatupkan kedua tangan di dada, matanya berbinar penuh kebanggaan. "Wah, Vidi! MasyaAllah... Selamat ya, Adik Paling Pinter! Kakak bangga banget sama kamu!"

Vidi menoleh ke arah Zahira, tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat.

"Makasih banyak ya, Kak Zira. Semua doa dan berkata support dari Kakak pas Vidi begadang belajar akhirnya bernilai hasil."

Tepat saat kehangatan itu tercipta, suara ketukan tumit sepatu high heels yang nyaring memotong pembicaraan. Bianka melangkah masuk dengan gaun pesta ketat nan seksi yang mengekspos bahunya.

Wajah cantik bertata rias tebal itu tampak tertekuk muram—sisa kekecewaan akibat penolakan dingin Rezvan beberapa jam lalu yang masih membakar dadanya.

"Bianka? Baru pulang, Nak?" panggil Damian menghentikan langkah putrinya di dekat area tangga. "Sini duduk sebentar, ikutan kumpul. Ada berita bagus dari adik kamu, Vidi."

Bianka menghentikan langkahnya tanpa memutar badan sepenuhnya. Ia menghela napas panjang dengan nada ketus. "Aduh, Papi... Bianka capek banget malam ini. Photoshoot seharian tuh menguras tenaga. Mending Bianka ke kamar aja, mau istirahat."

"Cuma sebentar, Bianka. Hargai adik kamu yang mau berangkat pertukaran pelajar," tegur Damian, suara beratnya menyiratkan kekecewaan.

Sebelum Damian menyelesaikan kalimatnya, Karlina langsung menyela sembari membelai lengan suaminya.

"Sudahlah, pi... Jangan dipaksa. Kasihan Bianka, papi kan tahu kerjaan modeling-nya itu capek luar biasa. Soal Vidi kan bisa diceritakan besok lagi pas sarapan."

Damian hanya bisa membuang napas berat, menggelengkan kepala melihat memanja yang berlebihan dari istrinya. Bianka sendiri langsung berlalu menaiki tangga tanpa mengindahkan teguran papinya sedikit pun.

Zahira dan Vidi saling melempar pandangan penuh arti secara diam-diam. Sikap Bianka yang dingin dan kerap tidak menghargai Papi di rumah sudah menjadi pemandangan biasa, namun tetap saja menyisakan rasa sesak.

Damian berusaha menetralkan kembali suasana. Ia menepuk bahu Vidi pelan. "Lanjutkan cerita kamu, Vid. Kapan jadwal keberangkatannya?"

"Bulan depan, Pi. Tapi Vidi rada cemas, takutnya pas Vidi berangkat, Papi lagi ada dinas," sahut Vidi pelan.

Damian tersenyum mengayomi. "Papi memang ada jadwal tugas bisnis ke Inggris beberapa hari di bulan depan, tapi Papi usahakan betul buat lepas keberangkatan kamu di bandara. Kalaupun Papi berhalangan mamai dan kak Zahira dan kak Bianka yang bis antar kamu, doa Papi nggak akan pernah putus buat kamu, sayang."

Vidi mengangguk mantap, sirna sudah kecemasannya. "Iya, Pi. Vidi ngerti kok. Yang penting Papi sama Mami selalu doain Vidi, itu udah lebih dari cukup."

"Pasti, Vidi. Kakak juga bakal selalu mendoakan Vidi dari rumah," tambah Zahira melontarkan senyum paling hangat yang menyiratkan dukungan tanpa batas bagi adik tersayangnya itu.

"Jangan khawatir, nanti saat disana mami akan temenin kamu, kok." Sahut Kalina tak mau kalah.

.

.

Dikediaman Susanto.

Gemuruh tawa samar dari balik pintu depan menyambut langkah Rezvan begitu ia melintasi ambang pintu rumahnya. Kediaman keluarga Susanto selalu terasa hangat dan riuh, terutama jika Gisel adik satu-satunya yang penuh kejahilan—sudah berada di rumah.

Di ruang keluarga, tampak Pak Lazuardi sedang membaca koran malam sembari disuapi potongan buah naga oleh Bunda Heni. Langkah Rezvan yang baru saja memarkir SUV hitamnya langsung ditangkap oleh mata jeli Gisel yang sedang selonjoran di sofa.

"Cie... yang baru balik mengantarkan sang putri impian sampai ke depan gerbang rumahnya!" seru Gisel dengan nada melengking yang sengaja dikeras-keraskan. "Ehem... Ehemmm..."

Pak Lazuardi melirik dari balik kacamata bacanya, sementara Bunda Heni menghentikan suapan buahnya. Rezvan melepaskan jam tangan dan mendengus pelan, berusaha bersikap acuh tak acuh.

"Berisik kamu, Sel. Baru juga nyampe," gumam Rezvan melepas dua kancing teratas kemejanya.

Gisel justru makin memajukan posisinya, menatap Bunda Heni dan Pak Lazuardi dengan binar mata berlipat ganda.

"Bunda, Papi! Harus tahu, nih! kakak Rezvan tadi nganterin Zahira pulang! Terus di kafe tadi, masa kakak blak-blakan bilang nggak keberatan kalau Zahira jadi calon istrinya!"

Bunda Heni membelalakkan mata gembira, lalu menatap putranya penuh selidik. "Serius kamu, Rezvan? Kamu beneran mendekati Zahira, nak?"

"Beneran, Bun! pasti tadi di mobil udah curi-curi pandang tuh!" seloroh Gisel tanpa rasa dosa.

Tak tahan lagi dengan godaan adiknya yang terus melantur, Rezvan meraih bantal sofa di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah Gisel.

BUK!

"Gisel, mulut kamu tuh ya!" cetus Rezvan dengan wajah merona menahan malu.

Gisel berhasil menangkis bantal itu sambil tertawa melengking, lalu dengan gesit melompat dari sofa dan berlari kecil menuju arah tangga. Sebelum menaiki anak tangga, ia menyempatkan diri berteriak,

"Papi, Bunda! Mumpung kakak udah ngaku, mending langsung lamar Zahira minggu depan! Minta aja langsung ke orang tuanya!"

"Awas kamu ya, Sel!" Rezvan bersiap melangkah cepat hendak mengejar adiknya yang jahil itu. Namun, tawa renyah Pak Lazuardi dan Bunda Heni menghentikan pergerakannya.

"Sudah, sudah... Rezvan, duduk dulu," panggil Pak Lazuardi tenang, menepuk busa sofa di sampingnya.

"Gisel memang suka menggodamu, tapi Papi mau dengar langsung dari mulut kamu. Benar yang dikatakan adikmu?"

Rezvan menghela napas panjang. Ia membatalkan niatnya mengejar Gisel, lalu berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di seberang kedua orang tuanya. Keheningan sejenak melingkupi ruangan sebelum Rezvan akhirnya membuka suara secara jujur.

"Rezvan memang tertarik sama Zahira, Pi, Bun," aku Rezvan berterus terang, menatap lekat kedua orang tuanya.

"Tapi Rezvan nggak mau ada istilah dijodoh-jodohin atau terburu-buru. Rezvan mau hubungan ini mengalir apa adanya dulu. Lagian... Rezvan belum tahu perasaan Zahira ke Rezvan seperti apa. Siapa tahu Zahira udah punya laki-laki lain yang dia sukai?"

Bunda Heni tersenyum lembut, memiringkan kepalanya menatap putra sulungnya itu dengan tatapan penuh kasih.

"Kalau soal itu, Bunda rasanya bisa bantu jawab, Nak," tutur Bunda Heni hangat.

"Kamu tahu sendiri kan, Zahira itu sahabat Gisel dari SMP, bahkan dua bulan lalu sempat tinggal di paviliun rumah kita sewaktu Zahira ingin fokus dengan skripsinya. Belum lagi selama tiga tahun dia kerja paruh waktu di Kafe 55 milik Bunda."

Rezvan mendengarkan setiap kata ibunya dengan saksama.

"Selama Bunda kenal dan memperhatikan Zahira, tak pernah sekali pun Bunda lihat dia dijemput atau diantar laki-laki. Membahas soal pacar atau cowok yang lagi ditaksir pun nggak pernah... Zahira itu anak yang sangat menjaga diri dan fokus sama kuliah serta keluarganya," lanjut Bunda Heni meyakinkan.

Pak Lazuardi mengangguk setuju.

"Papi dan Bunda menganalisis Zahira sudah bertahun-tahun, Rezvan. Dia anak yang santun, pekerja keras, dan punya kepribadian yang sangat baik. Kalau memang kamu serius sama dia, Papi dan Bunda dukung penuh seratus persen."

Mendengar penuturan dan restu hangat dari orang tuanya, beban ganjalan di dada Rezvan perlahan sirna. Senyum tipis yang tulus akhirnya terukir di wajah tampannya.

"Makasih ya, Pi, Bun. Rezvan cuma minta doa dan dukungannya aja. Biar Rezvan yang pelan-pelan berjuang mendekati Zahira dengan cara Rezvan sendiri."

"Pasti didoakan, kak! Kita semua ada di belakang kak Rezvan!"

Suara teriakkan nyaring Gisel mendadak terdengar lagi dari balik pembatas lantai dua. Gisel menyeringai lebar dari atas selasar tangga, mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi.

Rezvan menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan, sementara Pak Lazuardi dan Bunda Heni kembali tertawa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak mereka yang tak pernah sepi dari kehangatan.

1
sunaryati jarum
Bianca makin iri jika Zahira yang disukai Rizwan
sunaryati jarum
Niat hati ingin menjatuhkan staf baru,eeh malah kebongkar kejahatannya.Imelda kamu sekarang tidak bebas lagi melakukan kecurangan, untuk memperkaya diri
sunaryati jarum
Jangan suka membanding-bandingkan anak, semua sudah punya porsi masing-masing .Untuk Karlina tadi baru melambungkan Bianka,pak Damian Zahira sebagai contoh menapak karir dari bawah.Sekali lagi kurang benar walau contoh jika sebagai perbandingan .Bianka yang merasa paling unggul dan benar pasti marah.Untuk Zahira sudah terbiasa dihina sebagai cambuk pembuktian kualitas diri.
sunaryati jarum
Borokmu ketahuan staf baru yang ingin kau jadikan tumbal ,Imelda
sunaryati jarum
Mantaaap , emak dukung
sunaryati jarum
Imelda kamu menunjukkan keburukan kamu sendiri di depan putri pemilik perusahaan.Damian kau akan selalu bangga pada kinerja dan pencapaian hasil pada putrimu, yang kau abaikan selama ini.
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!