Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Drama Pernikahan 2

Bukan Drama Pernikahan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shann29

Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.

Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.

Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.

Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.

Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.

“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”

“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”

Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Pertarungan Dalam Hati

Malam semakin larut.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, Jove akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur besar yang malam ini terpaksa harus mereka bagi berdua.

Ia memilih posisi membelakangi Nic.

Tidak butuh waktu lama hingga napasnya terdengar teratur.

Jove sudah tertidur.

Sementara Nic masih terjaga.

Pria itu berbaring dengan kedua tangan di belakang kepala, menatap langit-langit kamar hotel.

Sesekali matanya bergerak ke samping.

Menatap punggung Jove yang membelakanginya.

Kemudian kembali menatap langit-langit.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun beberapa saat kemudian, matanya kembali terbuka.

Pandangan itu kembali tertuju kepada Jove.

“Alarice Jovelyn Dav Dewantara.”

Nama lengkap itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam pikirannya.

Nic sendiri tidak tahu mengapa hatinya menyebut nama tersebut.

Selama ini ia hanya memanggilnya Jove.

Tidak pernah ada alasan untuk menyebut nama lengkapnya di dalam hati.

Namun malam ini berbeda.

Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.

Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Sebagai seorang pria dewasa, Nic tentu memahami apa yang sedang dirasakan tubuhnya ketika seorang perempuan berada begitu dekat dengannya.

Terlebih perempuan itu adalah istrinya.

Jove.

Namun Nic segera mengingat kesepakatan yang mereka buat sebelum menikah.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada kewajiban sebagai pasangan.

Pernikahan mereka hanya sebatas kertas.

Ia tidak boleh menyentuh Jove hanya karena mereka sekarang berada dalam satu tempat tidur.

Nic mengembuskan napas panjang.

Kemudian memalingkan wajahnya.

Berusaha memejamkan mata dan mengabaikan perasaan asing yang terus mengganggunya.

Namun malam itu, tidur tidak datang dengan mudah.

Pagi hari.

Jove terbangun lebih dulu.

Ia membuka mata perlahan dan langsung menyadari bahwa dirinya masih berada di kamar hotel.

Jove kemudian duduk.

Di sampingnya, Nic masih tertidur dengan sangat pulas.

Jove tanpa sadar memperhatikan wajah pria itu.

Bahkan dalam keadaan baru bangun tidur pun, Nic tetap terlihat tampan.

Jove hanya menggeleng kecil.

Ia kemudian turun dari tempat tidur.

Baru beberapa langkah berjalan, terdengar ketukan dari pintu.

Jove segera membukanya.

Di sana berdiri Marry.

“Mama.”

“Jove, maaf mengganggu,” ujar Marry.

“Ayo masuk, Ma.”

Marry masuk ke dalam kamar.

“Kamu bawa parfum tidak?”

Jove mengerutkan dahi.

“Bawa, Ma. Memang kenapa?”

“Papa tidak sengaja menjatuhkan parfum Mama. Botolnya pecah, jadi Mama belum pakai parfum.”

Jove tersenyum kecil.

Ia sangat tahu bagaimana pentingnya parfum bagi ibu mertuanya itu.

Jove bahkan hampir tidak pernah melihat Marry keluar rumah tanpa menggunakan parfum.

“Sebentar, Ma.”

Jove mengambil dua botol parfum dari dalam tasnya.

Ia menyerahkannya kepada Marry.

“Mau yang mana?”

Marry mengambil salah satunya dan menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangannya.

Ia menghirup aromanya.

Kemudian mengambil botol yang satunya dan melakukan hal yang sama.

“Yang ini saja.”

Marry tersenyum.

“Ini sama seperti yang sering kamu pakai.”

Jove mengangguk.

“Kalau begitu ambil saja, Ma.”

“Terima kasih, Sayang.”

Marry kemudian hendak keluar.

Namun sebelum benar-benar meninggalkan kamar, matanya tanpa sengaja kembali melihat ke arah tempat tidur.

Nic masih tidur pulas.

Entah mengapa senyum kecil muncul di wajah Marry.

Tentu saja pikirannya langsung berjalan ke arah yang berbeda.

Ia membayangkan putranya dan Jove akhirnya mulai menikmati kehidupan sebagai pengantin baru.

Marry tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi jauh berbeda.

“Terima kasih ya, Jove.”

“Sama-sama, Ma.”

Marry akhirnya keluar.

Jove menutup pintu.

Setelah itu ia mengembuskan napas panjang.

“Ternyata ada bagusnya juga kejadian sofa basah,” pikir Jove.

Kalau tidak, mungkin Nic masih tidur di sofa ketika Marry datang.

Ia bisa membayangkan betapa banyak pertanyaan yang akan muncul.

Jove kemudian membersihkan diri dan bersiap.

Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi.

Namun Nic masih tertidur.

Jove melihat jam.

Sudah pukul tujuh.

Ia menghampiri tempat tidur.

“Nic, bangun. Ini sudah jam tujuh.”

Tidak ada respons.

Jove mengernyit.

Nic benar-benar tidak bergerak.

“Ya Tuhan, apa dia begadang sampai larut?” gumam Jove.

Ia kemudian menggoyangkan lengan Nic.

“Nic, ayo bangun. Papa dan Mama menunggu untuk sarapan.”

Nic bergerak sedikit.

Tubuhnya menggeliat.

Matanya masih terpejam.

“Jam berapa ini, Honey?”

Jove langsung diam.

Honey?

Ia mengerutkan dahi.

“Pasti Nic ngelindur.”

Jove mengabaikannya.

“Ini sudah jam tujuh, Nic. Tadi Mama malah sudah ke sini.”

Mendengar kata Mama, mata Nic langsung terbuka.

Ia bangun dan duduk.

“Mama ke sini?”

Jove mengangguk.

“Iya.”

Nic mengusap wajahnya.

“Ada untungnya juga kamu tidur di ranjang.”

Jove kembali teringat kejadian semalam.

“Kalau Mama tadi melihat kamu tidur di sofa, pasti dia bertanya macam-macam.”

Nic menggaruk tengkuknya.

“Benar juga.”

“Cepat mandi. Papa dan Mama sudah menunggu.”

Nic akhirnya bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaian.

Jove meninggalkannya untuk bersiap.

Beberapa saat kemudian, mereka turun menuju restoran hotel.

Seperti biasa, begitu berada di depan keluarga, Nic kembali menjalankan peran mereka.

Tangannya menggenggam tangan Jove.

Dari kejauhan, Arman dan Marry langsung tersenyum melihat keduanya.

Mereka menghampiri meja.

“Mama tadi ke kamarku?” tanya Nic.

Marry mengangguk.

“Iya. Minta parfum punya Jove. Parfum Mama dipecahkan Papa.”

“Tidak sengaja, Ma,” sahut Arman. “Nanti Papa ganti.”

Marry mengangguk, lalu kembali menatap Nic.

“Kamu siang sekali bangunnya. Tadi Mama lihat masih pulas sekali sampai tidak tahu Mama datang.”

Arman menyenggol lengan Marry sambil tertawa.

“Wajar dong, Ma. Mana tahu Nic habis begadang semalam.”

Arman kemudian terkekeh.

“Sekalian honeymoon, kan, Nic?”

Jove langsung merasa wajahnya panas.

Ia menunduk sedikit.

Dalam hati ia mengeluh.

Sungguh jauh sekali apa yang dipikirkan kedua mertuaku ini.

Sementara Nic justru tertawa.

“Ya, Mama dan Papa seperti tidak pernah muda saja.”

Nic kemudian merangkul pundak Jove.

“Ya kan, Sayang?”

Jove membeku.

Lagi.

Pagi ini Nic sudah memanggilnya dengan dua panggilan manis.

Honey.

Dan sekarang…

Sayang.

Jove hanya bisa tersenyum kaku.

Marry justru semakin bahagia melihat mereka.

“Sepertinya mereka masih ingin tinggal di sini, deh, Pa.”

Arman ikut tertawa.

“Ya sudah, kalian di sini saja. Tidak usah ikut pulang. Papa dan Mama seperti mengganggu kalian.”

“Enggak kok, Pa,” jawab Jove cepat.

“Aku senang pergi sama Papa dan Mama.”

Jove menatap Arman dan Marry.

“Kita pergi bersama dan pulang juga harus bersama.”

Senyum Marry langsung mengembang.

“Kamu baik sekali, Sayang.”

Marry kemudian menatap putranya.

“Nic tidak salah memilih istri.”

Ucapan itu kembali membuat Nic terdiam.

Tatapannya perlahan beralih kepada Jove.

Perempuan itu hanya tersenyum kepada Marry, seolah kalimat tersebut bukan sesuatu yang istimewa.

Padahal bagi Nic, lagi-lagi ada sesuatu yang bergerak di dalam hatinya.

Ia memperhatikan bagaimana Jove memperlakukan kedua orang tuanya.

Tidak dibuat-buat.

Tidak berlebihan.

Jove memang tulus menyayangi mereka.

Dan entah mengapa, hal itu membuat Nic merasa bahagia.

Namun bersamaan dengan rasa bahagia itu, ada sesuatu yang membuatnya takut.

Karena semakin lama…

Jove bukan lagi sekadar perempuan yang menikah dengannya karena sebuah kesepakatan.

Bukan lagi sekadar teman serumah.

Bahkan mungkin…

bukan lagi sekadar teman.

Nic mengalihkan pandangan.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan dirinya?

Pikirannya mengatakan bahwa semua ini hanya kebiasaan.

Mereka tinggal bersama.

Mereka mulai nyaman.

Wajar jika ia memperhatikan Jove.

Wajar jika ia merasa aneh ketika Jove belum pulang.

Wajar jika ia merasa senang melihat Jove dekat dengan keluarganya.

Semua itu bisa dijelaskan.

Namun hatinya terus memberikan jawaban berbeda.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nic mulai takut pada jawabannya sendiri.

Karena jika semua itu bukan sekadar kebiasaan…

berarti perlahan-lahan ia mulai melanggar satu-satunya aturan yang sejak awal mereka sepakati.

Jangan berharap lebih.

1
Siti Chotimah
entahlah...gtw mw koment apa🤭
💪up othor
Warningsih Ningsih: semangat dong kak shann,,,, semangat terus ya
total 2 replies
Warningsih Ningsih
absen dulu ✌️✌️✌️
Miss. Shann (IG: miss.shann29): Hai Kak🤏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!