Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kaca Jendela
Malam itu, setelah badai emosi mereda dan Davin akhirnya jatuh tertidur pulas akibat kelelahan yang luar biasa, kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati kembali diselimuti keheningan yang pekat.
Keira duduk bersila di atas karpet tipis, memegang ponsel retaknya dengan layar redup. Ia tidak menyalakan lampu meja utama; ia hanya membiarkan temaram cahaya dari layar ponselnya menerangi sebagian kecil ruang di hadapannya. Di sudut meja, tumpukan diktat kuliah menutupi map plastik berisi salinan dokumen pembanding audit dari Nadia sebuah bundel kertas yang kini terasa bagaikan jangkar berat yang menyeretnya ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Pikiran Keira berkecamuk tak beraturan. Ucapan Davin sore tadi “Apapun yang terjadi... aku bakal lakuin apa saja buat ngamanin posisi aku” terus bergema di dalam kepalanya, membawa serta rasa ngeri yang dingin. Ia melihat bagaimana ketakutan akan kehilangan jabatan telah mengubah lelaki yang dulu lembut dan penuh perhatian itu menjadi seseorang yang dikuasai oleh keputusasaan dan amarah tersembunyi.
Di sisi lain, Keira juga menyadari bahwa ia tidak lagi bisa berpura-pura tidak tahu. Dunia luar, dengan segala kerumitan, intrik korporat, dan kebohongannya, telah merangsek masuk dan merusak dinding-dinding perlindungan kamar kos ini.
Namun di tengah ketakutan yang mencekam itu, ada satu hal yang memberinya sedikit ruang untuk bernapas: buku sketsa dan proyek zine Ruang Aksara dari Rian.
Keberhasilan kecil dari goresan tangannya sendiri membuktikan bahwa ia memiliki identitas yang terpisah dari bayang-bayang Davin.
Dengan menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang sesak, Keira menutup aplikasi perpesanan di ponselnya, merebahkan diri perlahan di atas karpet, dan membiarkan lelah merayapi tubuhnya hingga ia terlelap dalam tidur yang gelisah.
Keesokan paginya, hari Kamis, matahari bersinar pucat menembus kaca jendela kos yang berdebu. Pukul delapan lewat sepuluh menit, Davin sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Tidak ada lagi sisa-sisa isak tangis atau keputusasaan yang terlihat di wajah lelaki itu seperti semalam; Davin telah mengenakan kembali topeng profesionalismenya kemeja rapi, jas kantor yang disampirkan di lengan, dan senyuman tipis yang dipaksakan saat mencium kening Keira sebelum melangkah keluar pintu.
"Aku berangkat dulu ya, Kei. Hari ini ada rapat darurat sama bagian kepatuhan di kantor," pamit Davin tenang, meski sorot matanya masih menyisakan ketegangan yang pekat.
"Iya, Vin. Hati-hati di jalan, jangan terlalu diporsir," balas Keira lembut, mengantar kekasihnya sampai depan pintu kayu.
Begitu deru motor matic Davin menghilang di ujung gang Jalan Melati, Keira menghela napas panjang. Ia menutup pintu, menguncinya dari dalam, lalu memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan melanjutkan pekerjaannya. Ia mengambil buku sketsanya dan mulai merancang ilustrasi kedua pesanan Rian: siluet kafe kecil dengan lampu temaram di malam hari.
Namun, baru saja beberapa garis arsir disapukan di atas kertas, sebuah ketukan ringan terdengar di pintu kayu kos.
Tok... tok... tok.
Ketukan itu tidak sekeras atau sepanjang biasanya. Itu adalah ketukan ragu-ragu, pelan, namun berulang.
Jantung Keira langsung berdegup kencang. Pikirannya langsung melompat pada kemungkinan-kemungkinan terburuk.
Apakah Davin kembali karena tertinggal sesuatu? Atau... apakah seseorang dari kantor telah menemukan alamat kos ini?
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Keira bangkit dari duduknya, berjalan perlahan ke arah pintu, lalu mengintip dari lubang kecil di daun pintu kayu.
Sosok yang berdiri di luar bukanlah Davin.
Seorang perempuan berbadan tegap dengan potongan rambut sebahu yang rapi, mengenakan blazer formal abu-abu tua dan menenteng tas kerja, berdiri sendirian di koridor sempit depan kamar kos.
Nadia Paramita.
Darah di sekujur tubuh Keira seolah membeku. Ia mengerjap kaget, mencengkeram gagang pintu erat-erat.
Bagaimana mungkin Nadia bisa tahu alamat kos ini? Selama sehari sebelumnya, melalui pesan singkat yang dikirimkan malam hari setelah pertemuan darurat mereka, Nadia sempat meminta izin untuk melacak alamat tersebut melalui catatan direktori darurat perusahaan demi menyampaikan informasi krusial.
Ketukan pelan kembali terdengar. Suara Nadia menyusul dari balik pintu, terdengar tenang, hati-hati, namun mendesak.
"Mbak Keira... saya tahu ini lancang dan mendadak. Tapi saya mohon, buka pintunya sebentar saja. Ada hal yang sangat penting menyangkut jalannya audit dan masalah pekerjaan yang harus saya bicarakan langsung dengan Mbak."
Keira terpaku di tempatnya. Kakinya terasa kaku di atas ubin lantai. Di satu sisi, ketakutan yang luar biasa melarangnya untuk membuka pintu itu ketakutan bahwa kehadiran Nadia akan memicu badai yang selama ini ia hindari. Namun di sisi lain, nada suara Nadia tidak menyiratkan ancaman, melainkan sebuah peringatan tulus dari seseorang yang berada di ambang masalah yang sama.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Keira akhirnya membuka kunci selot besi, lalu menarik daun pintu kayu ke samping perlahan-lahan.
Nadia berdiri di ambang pintu, menatap Keira dengan sorot mata yang sarat akan kelelahan, urgensi, dan rasa bersalah yang tertahan.
"Halo, Mbak Keira," sapa Nadia lirih. "Terima kasih sudah mau membukakan pintu."
"Mbak Nadia... bagaimana bisa tahu tempat ini?" tanya Keira dengan suara bergetar, matanya menatap waswas ke ujung koridor seolah takut ada orang lain yang melihat.
Nadia menghela napas panjang, merapikan letak tas kerjanya. "Saya minta maaf karena mencari alamat ini lewat data administratif darurat kantor, Mbak. Tapi saya harus melakukannya, karena apa yang sedang dilakukan oleh Davin di kantor sekarang sudah jauh melampaui batas kewajaran konflik internal perusahaan. Kemarin, setelah menerima surat pemberitahuan dari bagian kepatuhan internal, Davin mendatangi bagian arsip untuk mencari tahu siapa saja yang memegang salinan dokumen pembanding tersebut. Dia bertekad menyingkirkan saya atau membungkam keberatan saya dari proses audit dengan cara apa pun."
Pernyataan itu meluncur bagaikan hantaman keras yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Keira.
"Menyingkirkan dari proses audit?" ulang Keira dengan napas tersengal, dadanya mendadak sesak. "Maksud Mbak Nadia apa?"
Nadia melangkah sedikit mendekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah kamar kos. "Dia panik luar biasa, Mbak. Kemarin, setelah surat dari bagian kepatuhan turun, dia berusaha mencari cara agar nama saya dicoret dari daftar tim verifikasi lanjutan. Dia ingin memastikan tidak ada lagi orang di dalam divisi keuangan yang mempertanyakan keabsahan laporan pos pengeluaran lapangan itu."
Nadia menatap lurus ke dalam mata Keira, mencengkeram tali tas kerjanya erat-erat.
"Saya tidak datang ke sini untuk menghancurkan hubungan Mbak dengan Davin. Saya datang karena saya khawatir, jika Davin merasa posisinya terancam tanpa jalan keluar, dia bisa melakukan tekanan psikologis atau tindakan yang merugikan siapa saja yang mengetahui masalah ini, termasuk Mbak Keira yang mungkin ikut terseret dalam beban pikirannya."
Kalimat itu menggantung di udara koridor yang sempit, dingin, dan menyesakkan.
Keira tertegun bisu di ambang pintu. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Bayangan tentang genggaman tangan Davin yang terlalu erat semalam, sumpah gelap lelaki itu untuk melakukan apa saja demi mengamankan jabatannya, serta tatapan matanya yang penuh keputusasaan kini berkejaran di kepala Keira, menyatu dengan peringatan yang dibawa oleh Nadia.
Dunia kecil yang selama ini ia bangun dengan susah payah di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter ini dunia yang ia kira aman dari segala kebusukan di luar sana ternyata kini berdiri tepat di atas bibir jurang yang siap runtuh kapan saja.