Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Pria yang berjuang kembali
Waktu terus berlalu, tetapi pintu ruang operasi masih belum terbuka.
Jarum jam telah melewati tengah malam. Lorong rumah sakit yang sebelumnya masih sesekali dilalui para pengunjung kini semakin sepi. Hanya suara langkah kaki para perawat dan bunyi roda ranjang pasien yang sesekali memecah keheningan.
Ivy masih duduk di tempat yang sama.
Matanya terus tertuju pada pintu ruang operasi, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski tubuhnya terasa lelah, ia sama sekali tidak berniat memejamkan mata.
Bagaimana mungkin ia bisa tidur ketika pria yang sangat dicintainya sedang berjuang antara hidup dan mati?
"Ivy, Sayang, cobalah beristirahat sebentar," bujuk Nenek Veronika untuk kesekian kalinya. "Kau sudah duduk di sini selama berjam-jam. Setidaknya, sandarkan kepalamu dan pejamkan mata sebentar."
Ivy menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa tidur, granma." Jawab Ivy sambil menghela napas pelan.
Nenek Veronika menatap Ivy dengan lembut, Ia lalu mengusap kepala Ivy pelan.
"Tapi tubuhmu membutuhkan istirahat." Ujar nenek Veronica lembut, Ia menatap Ivy penuh kasih sayang.
"Aku akan beristirahat setelah mengetahui keadaan Edgar." Jawab Ivy pelan, tetapi nada suaranya terdengar tegas. Ia masih belum bisa menenangkan pikirannya sebelum mengetahui bagaimana keadaan Edgar saat ini.
Melihat bagaimana keras kepalanya Ivy, nenek Veronika hanya bisa menghela napas. Ia kemudian meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan lembut.
"Edgar pasti tidak ingin melihatmu menyiksa diri seperti ini." Ujar nenek Veronica lembut.
Ivy terdiam mendengar perkataan nenek Veronica, Ia menunduk dengan jemari yang saling meremas di atas pangkuannya. Ada rasa sesak yang mengganjal di dadanya setiap kali membayangkan bagaimana keadaan Edgar saat ini.
"Aku tahu, Granma," jawabnya lirih. "Tapi aku tidak bisa tenang sebelum melihatnya sendiri."
Ivy Mengangkat wajahnya, menatap nenek Veronica dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kakek James yang berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya mendekat. Pria tua itu melirik jam tangannya, kemudian kembali menatap pintu ruang operasi.
"Dokter pasti sedang melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya." Ujar kakek James dengan suara tenang. Ia menatap Ivy dengan penuh perhatian, berusaha menenangkan gadis itu.
Meskipun mengucapkan kalimat itu dengan tenang, Kakek James sebenarnya menyimpan kecemasan yang tidak kalah besar.
Edgar adalah satu-satunya cucu yang dia miliki, satu-satunya penerus untuk keluarga Falcon. Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada pria itu tentu bukan hal yang mudah diterima.
Terlebih lagi, kakek James belum mengetahui siapa yang sudah berencana membunuh cucunya itu.
Pria tua itu melirik gadis muda yang duduk dengan wajah pucat di samping istrinya.
Ia bisa melihat betapa besar ketakutan yang dirasakan Ivy.
Namun, sebelum kakek James sempat mengatakan sesuatu lagi, suara langkah kaki mendadak terdengar dari arah lorong.
Ketiganya sontak menoleh.
Seorang dokter berpakaian hijau keluar dari ruang operasi. Masker yang menutupi sebagian wajahnya membuat ekspresinya sulit dibaca, tetapi kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Ivy langsung berdiri.
"Dokter!"
Ivy bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Edgar? Apakah dia baik-baik saja? Apakah operasinya berhasil?"
Berbagai pertanyaan meluncur dari bibirnya tanpa jeda. Suaranya bergetar, sedangkan kedua matanya dipenuhi harapan sekaligus ketakutan.
Dokter itu mengangkat tangannya sedikit, meminta Ivy untuk menenangkan diri.
"Nona, tenanglah terlebih dahulu." Ujar dokter itu dengan nada menenangkan. "Saya akan menjelaskan kondisi tuan Edgar pada kalian."
Ivy langsung terdiam, Ia menatap pria berbaju putih itu dengan cemas. Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan dada.
"Bagaimana keadaan Edgar dokter?" Tanya Ivy kembali, suaranya terdengar bergetar, seolah ia sedang berusaha menahan kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.
Ia lalu menahan napas, menunggu kalimat berikutnya dengan jantung yang berdebar kencang.
"Operasinya berjalan lancar, kami berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh tuan Edgar." Dokter itu berhenti sejenak, tapi sebelum dia melanjutkan perkataannya Ivy lebih dulu memotong ucapannya.
"Syukurlah...." Ucap Ivy.
Air mata kembali mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan hanya karena kesedihan. Ada kelegaan besar yang akhirnya menyusup ke dalam hatinya setelah berjam-jam diliputi kecemasan.
Bersambung