Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Bab 4: Rahasia di Balik Selimut dan Tamparan Pagi Hari

​Sinar rembulan malam kian condong ke barat, menandakan waktu telah berganti melintasi tengah malam. Di dalam kamar tidur Wiliam yang sunyi, napas terengah-engah masih terdengar dari bibir mungil Anya. Wajah cantik sang Wanita Suci dipenuhi peluh dingin. Jemari lentiknya gemetaran, dan kabut cahaya perak murni yang memancar dari tubuhnya terus-menerus menolak serta menetralkan mana kegelapan yang coba dialirkan oleh Wiliam. Setiap kali esensi kegelapan menyentuh sirkulasi darahnya, elemen kosmik dan cahaya di dalam tubuh Level 20 milik Anya memicu reaksi pertahanan otomatis yang menghancurkannya.

​Wiliam yang duduk di hadapannya mengusap wajahnya yang kelelahan. Kelopak matanya terasa seberat batuan gunung, dan efek regenerasi dari pertarungan semalam membuat energinya berada di titik terendah.

​"Cukup, Anya," kata Wiliam dengan suara serak dan mengantuk. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Anya. "Sudah tiga jam kita mencoba, dan hasilnya tetap sama. Kau tidak akan pernah bisa menguasai Pernapasan Pedang Kegelapan."

​Anya membuka matanya perlahan, menatap Wiliam dengan pendar kekecewaan dan sedikit rasa tak terima. " Kenapa tidak bisa?! Aku ini Level 20! Aku menguasai ribuan matriks sihir kompleks dan meretas batas dimensi! Bagaimana mungkin sebuah teknik pernapasan fisik bisa menahanku?!"

​Wiliam menguap lebar tanpa memedulikan status sang Wanita Suci, lalu menyandarkan punggungnya ke tepi tempat tidur. "Bukan soal Level atau kecerdasanmu. Tubuhmu dan jiwamu adalah manifestasi murni dari cahaya kosmik dan ruang-waktu. Esensi Pernapasan Pedang Kegelapan milikku berakar pada kehampaan, penyerapan, dan isolasi. Memaksa tubuhmu menerima pernapasan kegelapan sama saja seperti mencoba menuangkan minyak panas ke dalam danau es murni. Reaksinya hanya akan merusak tubuhmu sendiri."

​"Tapi aku ingin menguasai teknik pernapasan pedang!" desak Anya seraya memajukan tubuhnya, bibirnya sedikit cemberut.

​Wiliam menggelengkan kepalanya pelan, menatap Anya dengan mata merahnya yang redup oleh rasa kantuk. "Kau tidak perlu meniru milikku. Kenapa kau tidak menciptakan Pernapasan Pedang milikmu sendiri?"

​Anya tertegun. "Menciptakan... milikku sendiri?"

​"Ya," lanjut Wiliam seraya membenarkan posisi duduknya. "Aku sudah mengajarimu dasar-dasar mekanismenya—bagaimana mengikat mana ke dalam aliran sirkulasi darah, bagaimana mengatur ritme paru-paru untuk memicu dorongan fisik, dan bagaimana memproyeksikan elemen ke dalam bilah pedang. Fondasi teknik ini sudah ada di kepalamu. Daripada memaksakan elemen yang menolak jiwamu, gunakan elemen kosmik atau ruang-waktu milikmu sendiri. Jika kau memadukan esensi ruang-waktu dengan prinsip pernapasan fisik, kau bisa menciptakan gaya bertarung yang jauh lebih mengerikan dari milikku."

​Anya terdiam kaku. Kata-kata Wiliam meresap dalam ke dalam benaknya yang telah hidup ribuan tahun. Sebagai seorang peneliti sihir sejati, ide untuk menciptakan cabang ilmu baru—sebuah Pernapasan Pedang Kosmik atau Pernapasan Pedang Ruang-Waktu—seketika membakar gairah keilmuannya yang tertidur. Mata birunya yang jernih berkilat-kilat, dipenuhi oleh ribuan kalkulasi dan formulasi sihir yang mulai berputar liar di dalam otaknya.

​Wiliam melihat Anya yang mulai tenggelam dalam lamunan dan perenungan mendalam. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Wiliam merayap naik ke atas tempat tidurnya, menarik selimut tebalnya hingga ke dada, membalikkan badan menghadap dinding, dan langsung tertidur lelap dalam hitungan detik.

​Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Anya yang baru saja menemukan petunjuk awal untuk formulasinya mendongak dengan riang, berniat menanyakan detail tentang kompresi ritme napas saat menggunakan sihir ruang.

​"Wiliam! Kalau aku mengombinasikan siklus napas keempat dengan percepatan—"

​Kalimatnya terputus saat matanya mendarat di atas tempat tidur.

​Wiliam sudah mendengkur halus, tertidur sangat lelap bagaikan papan kayu yang tak bernyawa.

​Rasa kesal seketika menyelimuti dada Anya. Bibirnya memanyun kencang, dan pipinya memerah tahan marah. "Sialan kau, Wiliam Pendragon! Aku ini Wanita Suci! Orang-orang memohon hanya untuk mendengar satu patah kata dariku, tapi kau malah meninggalkanku tidur saat aku sedang antusias?!"

​Ia mengepalkan tangan mungilnya, berniat mengguncang tubuh pemuda itu atau melemparkan sihir angin kecil untuk membangunkannya. Namun, melihat raut wajah Wiliam yang tampak begitu lelah—dengan bekas penderitaan pertarungan semalam yang masih menyisa tipis di aura jiwanya—kekesalan Anya mendadak mereda. Ia menghela napas pelan, mengurungkan niatnya.

​Anya berdiri dari karpet, berdiri sejenak menatap wajah tidur Wiliam, lalu melangkah melipat ruang menuju kamarnya sendiri di sebelah. Di sana, ia mengganti gaun latihannya dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda yang sangat lembut. Namun, bukannya tidur di ranjang mewahnya sendiri, Anya yang memiliki kebiasaan aneh dan jiwa polos yang tak terikat aturan manusia justru melangkah kembali menembus dinding menuju kamar Wiliam.

​Tanpa rasa ragu sedikit pun, sang Wanita Suci Elf Level 20 itu merayap masuk ke bawah selimut tebal Wiliam, melingkarkan kedua lengan mulusnya di pinggang Wiliam, menyandarkan kepalanya di dada pemuda 17 tahun itu, dan memejamkan matanya dengan senyum puas.

​Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, seluruh mansion keluarga Pendragon mendadak gempar.

​Suara langkah kaki yang terburu-buru, teriakan panik para pelayan, dan teguran keras dari Julius bergema di sepanjang lorong-lorong batu.

​"Cari di seluruh sudut mansion! Bagaimana mungkin Nona Anastasia tidak ada di kamarnya?!" teriak Julius dengan suara panik yang tertahan. "Apakah ada penyusup semalam?! Periksa taman! Periksa menara!"

​"Kami sudah memeriksa seluruh area barat, Tuan Muda Julius!" sahut kepala pelayan dengan suara bergetar. "Pintu kamar Nona Anastasia terkunci dari dalam, tapi beliau tidak ada di dalamnya!"

​Suara kegaduhan yang riuh rendah itu merambat menembus pintu kayu kamar Wiliam, memecahkan kedamaian pagi.

​Wiliam terbangun perlahan. Kelopak matanya mengerjap berat, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih samar. Namun, saat ia mencoba menggerakkan lengan kirinya, ia merasakan sebuah beban yang hangat, lembut, dan beraroma harum bunga lavender menempel erat di dadanya.

​Wiliam menundukkan pandangannya.

​Di sana, tertidur dengan sangat nyenyak dan wajah polos tanpa dosa, adalah Anastasia. Gaun tidur sutra merah mudanya sedikit tersingkap di bagian bahu, memperlihatkan kulit mulusnya yang berkilau disiram sinar matahari pagi. Kedua tangannya memeluk pinggang Wiliam erat bagaikan seorang anak kecil yang sedang memeluk boneka kesayangannya.

​Wiliam membeku total. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak kaku.

​Apa... apa-apaan ini?! batin Wiliam menjerit gila di dalam hatinya.

​Ia menatap paras cantik Anya yang sedang bernapas teratur. Garis wajahnya yang sempurna, bulu matanya yang lentik, dan bibir merah muda mungilnya yang sedikit terbuka memancarkan pesona tiada tara yang sanggup melumpuhkan akal sehat pria mana pun. Untuk beberapa detik, Wiliam hanya bisa terdiam, terpana oleh kecantikan abadi sang Wanita Suci.

​Namun, mengingat keributan hebat di luar lorong, Wiliam dengan cepat menggelengkan kepalanya kencang, menepis pikiran aneh yang mencoba merayap di otak mudanya.

​"Woi... bangun!" bisik Wiliam kencang seraya mengguncang bahu Anya. "Anya! Bangun!"

​Anya mengerjap pelan, mengusap matanya dengan jemari mungilnya, lalu menguap menggemaskan seraya makin menyusupkan wajahnya ke dada Wiliam. "Ngh... lima menit lagi, Wiliam... kasurmu hangat sekali..."

​"Bukan masalah hangat atau tidak!" geram Wiliam dengan suara tertahan. "Apa yang kau lakukan di kamarku?! Kenapa kau tidur di sampingku sambil memelukku begini?!"

​Anya mendongak, menatap Wiliam dengan pendar mata biru yang polos dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tentu saja karena aku ingin tidur di sini. Kau tahu, walaupun usiaku sudah ribuan tahun, aku ini sebenarnya takut tidur sendiri kalau berada di tempat baru! Kamar di sebelah terlalu luas dan sepi!"

​Wiliam menepuk jidatnya sendiri. "Kau ini penguasa Level 20! Kau bisa meratakan benua ini dengan satu kibasan tangan, tapi kau takut tidur sendiri di tempat baru?!"

​"Takut itu tidak ada hubungannya dengan Level, Wiliam!" sahut Anya polos seraya memanyunkan bibirnya.

​TOK! TOK! TOK!

​Gedoran keras di pintu kamar Wiliam membuat jantung Wiliam serasa melompat keluar dari dadanya.

​"Wiliam! Kau sudah bangun?!" suara ibunya bergema dari balik pintu, terdengar penuh kecemasan. "Buka pintunya, Nak!"

​Wiliam panik setengah mati. Jika ibunya—atau lebih buruk lagi, Julius dan para pelayan—melihat Sang Wanita Suci Bangsa Elf sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan gaun tidur minim, nama keluarga Pendragon dan reputasi Hantu Topeng akan hancur lebur dalam satu detik.

​"Sembunyi! Cepat masuk ke dalam selimut!" bisik Wiliam panik seraya memegang kepala Anya dan mendorongnya paksa ke bawah selimut tebal.

​"Aplikasi sihir apa ini—umpfh!" protes Anya tertahan saat seluruh tubuhnya ditutupi selimut raksasa oleh Wiliam.

​Wiliam membenarkan posisi duduknya di tepi kasur, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan suaranya. "I-Iya, Ibu! Masuklah, pintunya tidak dikunci!"

​Pintu kamar terbuka. Ibunya melangkah masuk dengan raut wajah cemas, didampingi oleh dua pelayan wanita.

​"Wiliam, kau mendengar kegaduhan di luar?" tanya ibunya cepat, menatap anak bungsunya. "Nona Anastasia hilang dari kamarnya! Seluruh mansion sedang panik mencarinya. Ibu takut ada faksi kejahatan yang melancarkan penculikan atau—"

​"Ibu, tenanglah," potong Wiliam cepat, berusaha tetap terlihat santai meskipun kakinya di bawah selimut sedang ditendang pelan oleh Anya. "Nona Anastasia adalah entitas terkuat di dunia. Tidak ada yang bisa menculiknya. Mungkin beliau hanya sedang jalan-jalan pagi di luar atau menikmati udara segar di atap."

​Ibunya menatap Wiliam sejenak, lalu mendesah lega. "Kau benar... Ibu terlalu panik. Tapi tetap saja, Ayahmu dan Julius sangat cemas. Cepatlah mandi dan turun ke bawah untuk membantu pencarian."

​"Baik, Ibu. Saya akan turun sebentar lagi," jawab Wiliam seraya tersenyum kaku.

​Ibunya mengangguk, lalu berbalik dan keluar ruangan, menutup pintu kembali hingga terdengar bunyi klik kunci.

​Begitu suara langkah kaki ibunya menjauh, Wiliam melompat berdiri dari kasur dan menarik selimutnya kencang.

​"Anya! Kau gila ya?!" omel Wiliam dengan bisikan keras, wajahnya memerah karena rasa jengkel dan panik yang bercampur aduk. "Seluruh mansion berisik dan panik setengah mati karena mencarimu! Cepat kembali ke kamarmu sebelum ada orang lain yang masuk ke sini!"

​Anya yang kini duduk di atas kasur tidak tampak menyesal sedikit pun. Sebaliknya, ia menatap Wiliam dengan pendar mata jahil. Senyum licik dan menggemaskan terukir di bibirnya.

​"Kenapa kau panik sekali, Wiliam?" goda Anya dengan suara mendayu-dayu. Ia perlahan merangkak mendekati tepi kasur, menatap Wiliam dari bawah ke atas. "Jujur saja pada dirimu sendiri... kau sebenarnya sangat terpana melihatku di tempat tidurmu, kan?"

​Sembari mengucapkan kata-kata itu, jemari lentik Anya bergerak perlahan, menarik tali gaun tidur sutranya sedikit ke bawah, memperlihatkan bahu mulusnya dan paha putihnya yang mulus tersingkap dari balik gaun yang tersingkap.

​Wajah Wiliam seketika memerah padam hingga ke ujung telinganya. Insting pemuda 17 tahunnya bergejolak hebat. Ia dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah jendela, menutupi matanya dengan satu tangan.

​"T-Tidak! Aku tidak terpana!" kata Wiliam dengan suara yang mendadak terbata-bata dan agak meninggi. "C-Cepat rapikan pakaianmu dan kembali ke kamarmu!"

​Anya terkekeh renyah—sebuah suara manis yang dipenuhi kepuasan karena berhasil mengusik ketenangan sang Hantu Topeng. Dengan gerakan lincah bagaikan seekor kucing, Anya melompat dari tempat tidur, mendarat tepat di depan Wiliam, dan memegang kedua bahu pemuda itu.

​"Benarkah, Wiliam Pendragon?" bisik Anya tepat di depan wajah Wiliam, suaranya dipenuhi godaan yang begitu dekat hingga napas harum beraroma lavender berembus menyentuh kulit leher Wiliam. "Matamu memalingkan pandangan, tapi detak jantungmu bertindak sebaliknya..."

​Aroma harum, kulit mulus yang menyentuh dadanya, dan nada suara penuh godaan dari seorang wanita tercantik di benua itu membuat pertahanan mental Wiliam runtuh seketika. Selama ini ia bisa menahan ejekan saudaranya dan tekanan dari musuh Level tinggi dengan dingin, namun digoda secara intim oleh Anya adalah hal yang sama sekali berbeda.

​Darah muda Wiliam bergejolak. Rasa jengkel, kewaspadaan, dan dorongan alami bertabrakan di dalam otaknya.

​Cukup sudah! batin Wiliam.

​Tanpa berpikir panjang lagi, Wiliam mencengkeram kedua pergelangan tangan Anya, membalikkan posisi mereka dalam sekedip mata, dan mendorong tubuh mulus Anya ke atas tempat tidur!

​Brak!

​Anya terperanjat pelan saat punggungnya menyentuh kasur empuk. Wiliam kini berada di atasnya, menindih kedua tangan Anya di samping kepalanya, menatap wanita Elf itu dari jarak beberapa sentimeter dengan mata merah menyalanya yang berkilat tajam dan penuh dominasi.

​"Jangan bermain-main denganku, Anya," kata Wiliam dengan suara rendah, dalam, dan mengancam—suara asli milik sang Hantu Topeng. "Kau pikir karena kau Level 20, kau bisa terus menggodaku tanpa akibat?"

​Anya membeku sejenak, matanya yang biru membelalak menatap mata merah Wiliam yang berada begitu dekat. Jantung sang Wanita Suci yang biasanya berdetak tenang kini berdesir cepat untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun.

​Namun, tepat saat suasana di antara mereka berada di puncak ketegangan intim...

​Kriiiet...

​Pintu kamar Wiliam mendadak terbuka kembali tanpa mengetuk.

​"Wiliam, Ibu lupa memberi tahu bah—"

​Kalimat ibu Wiliam terhenti total di udara.

​Dua pelayan wanita yang mengekor di belakang ibunya membelalakkan mata hingga hampir keluar dari rongganya. Nampan berisi handuk hangat yang dipegang salah satu pelayan jatuh terhempas ke lantai batu.

​PRANG!

​Di atas tempat tidur, Wiliam sedang menindih tubuh Sang Wanita Suci Bangsa Elf—yang sedang mengenakan gaun tidur sutra minim dengan paha tersingkap—dalam posisi yang sangat ekstrim dan tak terbantahkan.

​Keheningan yang membekukan, mematikan, dan begitu mengerikan mencengkeram kamar tidur itu selama tiga detik penuh.

​Wiliam perlahan menoleh ke arah pintu, wajahnya yang tadinya mengancam seketika berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat. "I-Ibu... ini tidak seperti yang Ibu bayangkan—"

​PLAAAAKKK!

​Sebuah tamparan mentah, keras, dan penuh kasih sayang seorang ibu mendarat telak di pipi kanan Wiliam dengan suara berdengung yang sangat nyaring.

​Satu jam kemudian, di ruang makan utama kediaman Pendragon.

​Suasana di meja makan panjang itu terasa begitu canggung hingga piring dan sendok perak yang bersentuhan pun memicu ketegangan.

​Julius dan Hector duduk di sisi kiri meja dengan raut wajah shock berat yang belum pulih sepenuhnya. Ayah Wiliam—sang Kepala Keluarga Pendragon—duduk di ujung meja dengan batuk-batuk kecil yang dipaksakan seraya pura-pura membaca koran sihir.

​Di sisi kanan meja, Wiliam duduk kaku dengan pakaian akademinya yang rapi. Pipi kanannya tampak memerah padam dengan bekas cetakan lima jari ibunya yang sangat jelas dan membengkak tipis—bukti dari tamparan dahsyat seorang ibu yang mengira anak bungsunya telah melakukan tindakan tak senonoh pada tamu agung kerajaan.

​Ibu Wiliam berdiri di dekat meja, terus-menerus mengusap tangannya dengan raut wajah merasa bersalah sekaligus malu setengah mati pada sang Wanita Suci.

​Sedangkan di tempat kehormatan, Anya duduk dengan sangat anggun, menyeduh teh pagi dengan senyum ceria, gembira, dan tanpa dosa sedikit pun, seolah-olah kejadian satu jam lalu hanyalah mimpi di siang bolong.

​"N-Nona Anastasia..." kata ibu Wiliam dengan suara bergetar dan membungkuk memohon maaf untuk yang kesepuluh kalinya. "Saya... saya sungguh meminta maaf atas kelakuan tidak sopan anak bungsu saya! Saya tidak tahu apa yang kesetanan di otaknya hingga ia berani bertindak lancang pada Anda di dalam kamarnya!"

​"Ibu! Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa!" protes Wiliam dengan suara tertahan, memegang pipinya yang masih berdenyut panas.

​"Diam kau, Wiliam!" bentak ibunya dengan tatapan tajam yang membuat Wiliam seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Kau hampir membuat keluarga kita dieksekusi karena melanggar kehormatan Wanita Suci!"

​Julius menatap Wiliam dengan pandangan tidak percaya dan amarah yang meluap. "Wiliam! Kau benar-benar tidak tahu diri! Bagaimana mungkin kau... pada Nona Anastasia?!"

​Anya meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu terkekeh renyah dengan suara yang begitu merdu, membuat seluruh ruangan kembali hening.

​"Nyonya Pendragon, tolong jangan marahi Wiliam," ucap Anya manis dengan raut wajah paling polos yang dibuat-buat. "Ini semua hanyalah kesalahpahaman kecil. Wiliam hanya... membantu saya menangkap seekor serangga sihir yang masuk ke bawah selimutnya saat saya sedang berkunjung untuk menanyakan dokumen akademi pagi ini."

​Serangga sihir dengan gaun tidur sutra, batin Wiliam menjerit sarkastik seraya memutar matanya ke atap.

​"A-Ah... begitu?" ibu Wiliam bernapas lega, meskipun tatapan matanya pada Wiliam masih dipenuhi kecurigaan tebal. "Jika Nona Anastasia berkata demikian... saya sangat bersyukur Anda tidak tersinggung."

​"Tentu saja tidak," sahut Anya seraya menatap Wiliam dengan pendar mata jahil. "Lagipula... Wiliam sangat tanggap dan bertanggung jawab. Saya sangat menikmati 'bantuannya' pagi ini."

​Julius dan Hector hampir saja tersedak air liur mereka sendiri mendengar ucapan bernada ganda dari Anya.

​Wiliam hanya bisa mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya ke kursi seraya meratapi nasibnya. Menghadapi konspirasi tingkat benua terasa seribu kali lebih mudah daripada bertahan hidup dari tingkah kekanak-kanakan seorang penguasa Level 20 yang tinggal di rumahnya.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!