Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 : kiriman misterius dari pangeran es
Keesokan paginya, matahari musim semi bersinar cerah di atas Paviliun Anggrek, kediaman Xie Yufei. Burung-burung berkicau riang, tetapi suasana di dalam kamar Yufei justru terasa sangat canggung.
Yufei sedang duduk di depan cermin rias perunggu, memperhatikan Xiao Mei yang sedang menyisir rambutnya. Di luar dia tampak anggun, tetapi di dalam hati, otaknya sedang sibuk mengagumi fasilitas kamar barunya.
(Wah, aslinya hidup jadi anak jenderal kuno enak juga ya. Kamarnya gede, kasurnya diganti sutra, terus dapet pelayan pribadi lagi. Gak perlu pusing mikirin tugas sekolah atau kuota internet habis. Nikmat mana yang kau dustakan..)
Deg!
Tangan Xiao Mei yang sedang memegang sisir langsung gemetaran mendengar kata 'internet' dan 'kuota'. Xiao Mei buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan wajah bingungnya agar tidak dicurigai oleh sang nona.
Sebelum Yufei sempat membatin lebih jauh, suara derap langkah kaki terdengar dari koridor. Seorang kasim istana masuk dengan membawa sebuah nampan perak yang ditutupi kain sutra merah, diikuti oleh Kakak Xie Jian di belakangnya.
"Menghormati Nona Xie," ucap sang kasim sambil membungkuk khidmat. "Hamba diutus oleh Yang Mulia Pangeran Mo Cheng untuk mengantarkan ramuan obat dan hidangan khusus demi mempercepat pemulihan kesehatan Nona."
Yufei langsung berdiri dan membungkuk anggun, memasang wajah terkejut yang penuh rasa hormat. "Yufei menerima kebaikan Yang Mulia Pangeran. Semoga Yang Mulia selalu dilimpahi berkah."
Xie Jian yang berdiri di dekat pintu langsung bersedekap dada. Dia sengaja ikut ke paviliun ini karena sudah tidak sabar ingin mendengarkan "siaran langsung" dari isi kepala adiknya yang super kocak.
Kain sutra penutup nampan pun dibuka oleh sang kasim. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk porselen putih berisi sup ayam dengan kuah yang merah membara, menyebarkan aroma rempah yang sangat menyengat, pedas, dan gurih.
"Pangeran berpesan, ramuan sup ini dibuat khusus oleh koki istana atas perintah beliau. Karena kemarin Nona Xie sempat tersedak air kolam, Pangeran berharap sup hangat yang gurih dan... pedas menyengat ini bisa menghangatkan tubuh Nona," ujar kasim itu dengan sopan.
Melihat sup merah merona yang aromanya mirip sekali dengan makanan pedas di dunia modern, mata Yufei seketika berbinar. Di luar dia hanya mengangguk pelan penuh tata krama, tapi batinnya sudah menjerit kegirangan:
(ANJIRRR!! Demi apa gue dikasih makanan pedas?! Padahal dari kemarin gue disuapin bubur hambar mulu sampai lidah gue mati rasa! Pangeran Mo Cheng baik banget woy! Ternyata di balik mukanya yang kayak psikopat dingin itu, dia perhatian juga ya? Spek jodoh idaman banget nih, tahu aja kalau jiwa Gen-Z gue sekarat kalau gak makan yang pedes-pedes!)
Pfftt...
Xie Jian yang berdiri di ambang pintu langsung terbatuk kecil, buru-buru berbalik menghadap tembok dengan bahu yang berguncang hebat. Dia memegangi perutnya yang mulai kram karena menahan tawa. "Jodoh idaman? Psikopat? Adiknya ini benar-benar tidak ada kapok-kapoknya mengatai Pangeran Mo Cheng di dalam hati!"
Pangeran Mo Cheng sebenarnya sengaja menyuruh koki membuat sup pedas itu karena kemarin mendengar Yufei meracau ingin "suapan seblak pedas" saat dia tersedak teh. Tentu saja Pangeran tidak tahu apa itu seblak, jadi dia hanya menyuruh kokinya membuat sup paling pedas di istana.
Yufei yang sama sekali tidak tahu tentang hal itu, mengira ini murni karena kemurahan hati sang Pangeran yang kebetulan pas dengan seleranya.
"Terima kasih atas kiriman Yang Mulia Pangeran. Kasim, kau boleh kembali," ujar Xie Jian setelah berhasil meredakan tawanya. Setelah kasim itu pergi, Xie Jian melangkah mendekati meja rias Yufei.
"Yufei, tampaknya Pangeran Mo Cheng sangat memperhatikanmu. Bagaimana menurutmu tentang sup ini?" tanya Xie Jian sengaja memancing reaksi adiknya dengan wajah polos.
Yufei tersenyum sangat manis dan tulus. "Yufei sangat bersyukur, Kakak. Perhatian Yang Mulia Pangeran sungguh luar biasa. Yufei akan menghabiskan sup ini dengan baik."
Padahal di dalam hatinya, Yufei sudah jingkrak-jingkrak kegirangan:
(Gue habisin sampai mangkok-mangkoknya nih, Kak! Gila, wangi banget supnya! Fix, mulai hari ini Pangeran Mo Cheng naik kasta di mata gue. Dari 'Pangeran Es Belum Bayar Kontrakan', sekarang resmi jadi 'Mas Jenderal Ganteng Spek Drakor'! Besok-besok kalau ketemu lagi, gue harus akting lebih kalem dan anggun biar Mas Jenderal makin terpesona sama gue, hehehe)
Xie Jian buru-buru menggigit bibir dalam-dalam sampai hampir berdarah demi menjaga wibawanya sebagai wakil jenderal. Dia menatap adiknya dengan tatapan iba sekaligus geli.
"Dek... andai kamu tahu kalau 'Mas Jenderal Ganteng' itu bisa mendengar semua pujian dan hinaanmu barusan, abang yakin kamu gak bakal berani tersenyum sebahagia ini," batin Xie Jian pasrah.