Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Sindiran di Rumah Mertua Impian

Lampu jalanan temaram menyinari pagar besi tinggi bernuansa hitam elegan di kawasan perumahan elite itu. Dirga menghentikan sepeda motor matik tuanya tepat di depan gerbang. Suara deru mesin motornya yang kasar seolah merusak ketenangan kompleks pemukiman megah tersebut. Sisa air mata dan rasa hina dari insiden di kafe tadi sore masih membekas di dadanya, tetapi rasa penasaran dan keinginan untuk mendapatkan sedikit keadilan menuntun langkahnya menuju rumah keluarga Eri.

Ia mematikan mesin motor, melepas helm kusam bermerek lokal yang kacanya sudah penuh baret, lalu menggenggamnya rapat-rapat. Dengan langkah yang berat, Dirga mendekati pagar dan menekan bel interkom yang terpasang di pilar semen bertuliskan ukiran nama keluarga Eri.

"Permisi... Selamat malam," panggil Dirga dengan suara yang serak menahan sesak.

Tidak lama kemudian, pintu utama rumah berlantai dua itu terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan kaos berkerah mahal melangkah keluar, didampingi seorang wanita paruh baya berambut sasak tinggi yang mengenakan gaun rumah berbahan sutra. Mereka adalah Pak Surya dan Bu Maya, orang tua Eri yang selama tiga tahun ini selalu Dirga hormati dan anggap seperti orang tuanya sendiri.

Namun, tidak ada senyum hangat atau sapaan ramah yang menyambutnya. Saat melihat siapa yang berdiri di balik gerbang, raut wajah Bu Maya seketika berubah menjadi sangat masam, sementara Pak Surya menatapnya dengan pandangan dingin penuh ketidaksukaan.

"Mau apa kamu datang ke sini lagi, Dirga?" tanya Pak Surya tanpa basa-basi, berdiri di balik gerbang tanpa ada niat sedikit pun untuk membukakannya.

Dirga membungkukkan badannya sedikit, berusaha menjaga tata krama yang selalu ia pegang teguh. "Selamat malam, Bapak, Ibu. Maaf saya mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu. Saya datang ke sini dengan niat baik... saya hanya ingin berbicara sebentar dengan Eri."

Bu Maya melipat kedua tangannya di dada, melontarkan tawa sinis yang sangat mirip dengan nada bicara putrinya tadi sore di kafe. "Bicara dengan Eri? Mau bicara apa lagi, Dirga? Eri sudah cerita semuanya pada kami tentang apa yang terjadi di kafe tadi sore. Kamu sungguh tidak tahu diri ya?"

"Ibu... tolong dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu," mohon Dirga, matanya menatap pasrah pada kedua orang tua di hadapannya. "Saya sudah berusaha sebisa saya untuk memenuhi permintaan Eri. Saya menguras tabungan saya, bahkan saya sampai meminjam uang dari kantor demi membelikan tas yang dia inginkan. Tapi Eri malah—"q

"Cukup, Dirga!" potong Pak Surya dengan nada tinggi dan tegas, memotong kalimat Dirga sebelum selesai terucap. "Jangan melimpahkan kesalahanmu pada putri kami! Kamu yang tidak tahu kapasitas dirimu sendiri. Kamu itu cuma seorang petugas kebersihan yang menyambi jadi tukang ojek di malam hari! Berani-beraninya kamu bermimpi ingin menyandingi putri tunggal kami?"

"Saya bekerja jujur, Pak Surya," sahut Dirga dengan nada tegas meski matanya berkaca-kaca. "Setiap rupiah yang saya dapatkan berasal dari keringat saya sendiri. Saya tidak pernah mencuri atau merugikan orang lain. Saya mencintai Eri dengan tulus dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dia."

"Tulus?" Bu Maya melangkah lebih dekat ke gerbang, menudingkan jarinya yang berhiaskan cincin berlian tepat ke wajah Dirga. "Tulus saja tidak cukup untuk memberi makan putriku, Dirga! Tulus tidak bisa dipakai untuk membayar perawatan wajah Eri, tidak bisa untuk membeli baju bermerek, dan tidak bisa mengangkat derajat keluarga kami di hadapan kerabat-kerabat kami!"

"Tapi Ibu dulu bilang, selama saya bekerja keras dan memiliki niat baik—"

"Itu dulu! Waktu kami pikir kamu punya prospek karier yang jelas!" sergah Bu Maya cepat tanpa memberi ampun. "Ternyata bertahun-tahun berlalu, posisi kamu tetap saja di bawah. Cuma tukang ojek berpenghasilan pas-pasan yang jangankan membelikan rumah mewah untuk Eri, untuk memperbaiki rumah butut mu saja kamu harus kelimpungan!"

Dirga menarik napas panjang, merasai dadanya yang bagai diremas keras. "Saya sedang berjuang, Bu. Saya yakin suatu saat nanti kehidupan saya akan membaik. Saya hanya minta Eri menghargai proses dan pengorbanan saya..."

Pak Surya tertawa meremehkan, menggelengkan kepalanya dengan pandangan penuh kasihan yang mengejek. "Menghargai prosesmu? Sampai kapan Eri harus menunggu proses yang tidak pasti itu, Dirga? Sampai usianya tua? Dengar ya, sore tadi Leon datang ke rumah ini. Kamu tahu siapa dia?"

Dirga membisu, teringat pada pria bersetelan jas mahal yang merangkul pinggang Eri tanpa canggung di kafe tadi.

"Leon itu putra tunggal dari pemilik kontraktor terbesar di kota ini!" lanjut Pak Surya dengan nada bangga yang diuji-ujikan. "Dia datang membawa mobil mewah, membawakan oleh-oleh barang branded dari luar negeri untuk kami, dan langsung melamar Eri di hadapan kami bertiga. Itu baru dinamakan pria sejati! Pria berkelas yang bisa memberikan kepastian dan kemewahan, bukan cuma janji-janji kosong dari seorang tukang ojek seperti kamu!"

"Pak Surya... Eri dan saya sudah menjalin hubungan selama tiga tahun," bisik Dirga, suaranya terdengar sangat rapuh. "Apakah pengabdian dan kesetiaan saya selama tiga tahun ini tidak ada artinya sama sekali di mata Bapak dan Ibu?"

"Sama sekali tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan apa yang bisa diberikan Leon dalam sehari!" balas Bu Maya sadis, tanpa memedulikan rasa sakit yang menggerogoti hati pemuda di hadapannya. "Hubungan kalian dari awal adalah sebuah kesalahan besar. Kamu hanya memanfaatkan kepolosan Eri untuk mengangkat derajatmu sendiri!"

"Saya tidak pernah memanfaatkan Eri!" tegas Dirga, napasnya memburu saat membela kehormatannya. "Justeru Eri yang selama ini—"

"Tutup mulutmu, Dirga!" bentak Pak Surya dengan wajah memerah karena marah. "Jangan pernah kamu berani menghina putriku di depan rumahku sendiri! Kami sudah cukup sabar menoleransi keberadaanmu selama ini karena memikirkan rasa kasihan. Tapi malam ini, rasa kasihan kami sudah habis!"

Bu Maya membuka sedikit celah gerbang besi tersebut, lalu melangkah keluar dengan raut wajah penuh kebencian. Tangannya dengan kasar merebut helm tua yang dipegang erat oleh Dirga.

"Ibu! Mau apa?!" seru Dirga kaget.

Sebelum Dirga sempat mencegahnya, Bu Maya mengayunkan tangannya dengan kuat dan melempar helm kusam milik Dirga itu ke tengah jalanan aspal kompleks.

PRANG!

Suara benturan keras terdengar membelah keheningan malam. Helm tua yang menjadi saksi bisu perjuangan Dirga mengais rezeki di jalanan itu menghantam aspal dengan keras. Kaca pelindungnya pecah berkeping-keping, terlempar menyebar di atas tanah yang dingin, sementara pelindung plastiknya tergores dalam dan retak.

Dirga terperanjat, matanya menatap kepingan kaca helmnya yang hancur di jalanan. Helm itu adalah peninggalan almarhum ibunya sebelum meninggal dunia, benda sederhana namun memiliki nilai sejarah yang tak terhingga bagi hidupnya.

"Pergi kamu dari sini!" teriak Bu Maya dengan suara melengking yang merendahkan, melambaikan tangannya seperti mengusir hewan liar. "Jangan pernah berani menampakkan mukamu di sekitar rumah ini lagi! Kamu itu cuma sampah yang tidak sadar diri, persis seperti anjing kurap yang mengemis makanan di depan pintu rumah kaya!"

Pak Surya berdiri di samping istrinya, menatap Dirga dengan pandangan menjijikkan. "Jika kamu masih terlihat berkeliaran di sekitar sini atau mencoba menghubungi Eri lagi, aku tidak akan segan-segan memanggil petugas keamanan kompleks untuk memukulmu dan menyerahkanmu ke kantor polisi atas tuduhan pengganggu ketertiban!"

"Pergi! Sadari tempatmu di mana, Tukang Ojek!" tambah Bu Maya seraya meludah ke tanah dekat kaki Dirga.

Setelah melampiaskan makiannya, kedua orang tua itu berbalik, melangkah masuk ke dalam halaman rumah megah mereka, dan membanting pintu gerbang besi tebal itu dengan dentuman keras yang bergema di sepanjang jalanan.

BAM!

Suara kunci otomatis terdengar mengunci rapat gerbang tersebut, menutup rapat-rapt akses Dirga menuju kehidupan wanita yang pernah ia impikan menjadi pendamping hidupnya.

Dirga berdiri sendirian di bawah pendar redup lampu jalanan kompleks elite. Sepi menyergapnya secara mendadak, menyisakan deru angin malam yang berembus dingin menerpa wajahnya yang pucat. Ia mengalihkan pandangannya perlahan ke tengah jalan, menatap helm tua peninggalan ibunya yang kini telah hancur tak berbentuk di atas aspal.

Dengan langkah yang sangat lambat dan gemetar, Dirga berjalan menuju tengah jalan. Ia berlutut di atas aspal dingin, mengumpulkan kepingan-kepingan kaca helmnya yang pecah satu per satu dengan jari-jarinya yang mulai terluka. Satu tumpukan rasa hina, kejamnya penolakan, dan besarnya penderitaan malam ini menyatu menjadi sebuah gelombang emosi yang teramat dahsyat di dalam dadanya.

Namun, tidak ada lagi air mata yang menetes di pipinya. Air matanya telah habis terbakar oleh rasa sakit yang melampaui batas kemanusiaan. Tatapan mata Dirga yang dulunya lembut dan penuh kepasrahan kini perlahan berubah, menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan tekad kegelapan yang pekat.

Sambil menggenggam erat kepingan helm yang retak hingga jarinya meneteskan darah segar ke atas aspal, Dirga berbisik pelan pada dirinya sendiri di tengah kegelapan malam.

"Kalian boleh menghancurkan helm ini... kalian boleh menginjak-injak harga diriku malam ini..." desis Dirga dengan suara yang sangat dalam dan mengancam. "Tapi ingat kata-kataku... suatu hari nanti, aku yang akan membuat kalian merangkak di atasku dan memohon ampun atas setiap tetes air mata dan darah yang keluar malam ini."

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!