Indonesia
NovelToon NovelToon
Gendhis

Gendhis

Status: tamat
Genre:Spiritual / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Matabatin / Chicklit / Tamat
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Khinanti Nomi

Kisah Gendhis adalah gadis desa yatim-piatu yang hidup di tahun 90an. Perjalanan Gendhis penuh dengan ujian hidup yang beraneka ragam, mulai tantangan, jalan yang berliku hingga masalah kehidupan.

Hingga Gendhis menemukan kebahagiaan bersama dengan seorang pria yang masih memiliki garis keturunan ningrat.

•••

Selow update

Mohon dukungan dan saran.
Like, komentar, gift dan Vote.

Matursuwon sanget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Manggala, kamu antar Gendhis ke rumah." Ambarawati melihat putranya yang sejak tadi hanya diam setelah mengusulkan Gendhis untuk menjadi pelayan pribadinya.

"Lalu Ibunda?" Manggala langsung menatap Ibunya.

"Ibu kan datang ke sini, pakai kendaraan sendiri bersama Pak Salim, Mbok Minah dan Mbok Narti. Jadi ya kamu antarkan Gendhis pulang ke rumah."

Ucapan Ambarawati dibenarkan oleh Kanjeng Cokrowolo. "Benar Gala, pulang saja bersama dengan Gendhis. Kan bagus, agar kalian bisa saling mengenal."

Manggala melihat Eyangnya juga Ibunya. Apa boleh buat, ada tiga titah yang memang tidak bisa ia lawan. Pertama titah almarhum sang Ayah, kedua titah Eyang dan ketiga titah Ibunda.

"Ikutlah denganku." Manggala berjalan mendahului gadis yang akan dijodohkan dengannya.

Gendhis melihat Sang Kanjeng dan beralih melihat wajah Ibunda dari Manggala dan mendapati beliau-beliau menganggukkan kepala membersamai dari Kanjeng Cokrowolo yang tersenyum penuh arti. Seolah menandakan untuk Gendhis mengikuti langkah Manggala yang sudah lebih dulu berjalan ke mobilnya yang terparkir.

Seorang pelayan pria rumah Kanjeng Cokrowolo membukakan pintu mobil untuk Gendhis. Kendati bingung, namun Gendhis melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam mobil yang mempunyai body besar entah mobil ini mereknya apa.

Mobil Jeep Wrangler yang dikemudikan Manggala perlahan meninggalkan pelataran rumah Eyangnya.

Gendhis terdiam tatapannya kosong menatap keluar jendela. Tak ada yang dibicarakan selama dalam perjalanan. Entah Ia entah Manggala, seolah berkutat dengan pikirannya masing-masing.

Dingin, suasananya sangat canggung dan hampa. Gendhis membayangkan nasibnya kini. Entah nasib baik atau nasib buruk? Gendhis teringat nasehat Romo Gandhi, bahwa sejatinya dalam hidup ini, tidak ada nasib baik dan nasib buruk. Melainkan persepsi yang muncul dalam pikirannya sendiri.

Perjalanan yang cukup membuat suasana dingin, canggung dan seakan mencekam ini sepertinya sebentar lagi akan usai. Gendhis lihat seorang pria membukakan pintu gerbang, mobil yang dikemudikan Manggala juga memasuki pelataran rumah yang luas. Degupan jantung Gendhis seakan hampir loncat ke lutut, saat tersentak oleh suara Manggala yang tiba-tiba saja menyuruhnya turun.

"Sudah sampai, turunlah." kata Manggala tanpa melihat kearah Gendhis.

Bukan tidak mau turun dari dalam mobil, Gendhis bahkan segera ingin lari dan menjauhi pria yang perangainya sangat cuek dan seakan misterius. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya membuka pintu mobil.

Manggala mendapati Gendhis tidak juga turun dari mobil, akhirnya ia memutuskan untuk mengalihkan atensinya menatap Gendhis.

"Kenapa nggak turun? Kamu sengaja biar aku yang membukakan pintu mobil? Jangan harap!" Manggala berkata tegas.

Gendhis langsung mengalihkan atensinya dari semula menatap pintu dan berusaha untuk membuka pintu mobil. Kini ia menatap wajah Manggala, dilihatnya wajah seorang pria tanpa ekspresi. "Aku nggak tahu caranya membuka pintu mobil?"

Ingin sekali rasanya Manggala tepok jidat. Kenapa tidak terpikir olehnya. Bahwa gadis disebelahnya merupakan gadis yang berasal dari desa dan sangat ndeso. Manggala turun dari mobilnya. Alih-alih membukakan pintu mobil untuk Gendhis, ia malah menyuruh Pak Karno yang sedang berdiri di sebelah gerbang. "Pak Karno, tolong bukakan pintu sebelah kemudi."

"Iya Den." Pak Karno mengangguk singkat. Lantas segera berjalan ke arah pintu. Setelah membuka pintu mobil, pria berusia 48 tahun ini terkejut melihat seorang gadis yang tidak pernah sekalipun dilihatnya ada di dalam mobil anak dari majikannya. Namun, ia tak sempat bertanya siapakah gerangan gadis itu, dikarenakan klakson mobil dari luar pagar kembali berbunyi.

Gendhis melihat seorang pria yang membukakan pintu mobil untuknya, belum sempat mengucapkan maturnuwon (terimakasih). Pria yang sepertinya adalah pelayan langsung pergi setelah mendengar suara klakson mobil diluar pagar. Gendhis berinisiatif turun dari dalam mobil, entah kemana arah dan tujuannya sekarang. Ia bingung dan asing, Manggala juga entah pergi kearah mana.

Diamatinya rumah yang tidak jauh berbeda dari rumah Kanjeng Cokrowolo. Bangunannya memang tidak tingkat bertingkat. Namun, bangunan rumah yang mencirikan khas rumah Jawa Joglo ini sangat besar dan memiliki taman yang luas. Ada beberapa pohon mangga dan ada juga beberapa jenis tanaman hias. Gendhis berpikir, mungkin untuk perawatan dari tanaman yang ditanam dipekarangan rumah ini bukanlah hanya menggunakan pupuk kandang. Seperti yang ia lakukan di rumah Bibik Jaitun.

Ambarawati turun dari mobil, dan mendapati Gendhis berdiri hanya seorang diri. Ia tahu putranya memang bersikap sangat tak acuh pada orang lain. Namun, bukan berarti meninggalkan Gendhis seperti ini.

"Cah ayu, mari ikut denganku." Ambarawati mengajak Gendhis untuk menuju ke pendopo yang terdapat di sebelah rumah utama.

Gendhis mengangguk kecil. Lalu berjalan dibelakang wanita yang sangat anggun itu. Saat Gendhis mengedarkan pandangannya, tatapan dari beberapa pelayan yang memakai pakaian *Pinjung sedang menatapnya. Lalu mereka semua berkumpul di pendopo.

Ambarawati lantas membawa Gendhis untuk duduk di kursi kayu pendopo. "Duduklah cah ayu."

Tiada sepatah kata terlontar dari bibir Gendhis. Ia hanya menuruti semua yang diucapkan Ibu dari Manggala.

Wanita bernama lengkap Ambarawati Sukma Darmadji ini melihat keseluruhan pelayannya yang berjumlah delapan orang. "Seperti yang sudah saya katakan tadi pagi. Akan ada seorang gadis yang akan menjadi bagian dari keluarga ini."

Seorang pelayan wanita bernama Sumi memberanikan diri untuk bertanya sembari menunjuk seorang gadis muda menggunakan ibu jarinya. "Apa Nyimas ini yang bernama Gendhis, Gusti?"

"Benar." Ambarawati tersenyum simpul. Tatapannya mengalih pada Gendhis yang sejak tadi hanya diam seraya menunduk dan memilin ujung kebaya kutu baru berwarna putih tulang.

"Berarti Nyimas Gendhis ini yang akan dijodohkan dengan Den Manggala, Gusti?" seorang pelayan lainnya yang bernama Idah juga bertanya.

Sekali lagi, Ambarawati kembali melihat gadis yang duduk tidak jauh darinya. "Benar, namun sebelum adanya tali pernikahan yang mengikat Manggala maupun Nyimas Gendhis. Sehubungan dengan kedua orang tua Nyimas Gendhis sudah meninggal, maka saya akan meminta Mbok Minah dan Mbok sumi untuk menemani Gendhis di rumah yang berada di dusun tiga."

Pelayan yang disebutkan namanya saling bersitatap mendengar titah dari majikannya.

"Setiap pagi sampai sore, Nyimas Gendhis akan tetap datang ke rumah ini. Untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebelum hari pernikahan yang sudah ditetapkan oleh Kanjeng Cokro." jelas Ambarawati terutama kepada dua pelayan yang diperintahkan untuk menemani Gendhis di rumah yang akan ditempati Gendhis untuk sementara waktu guna menghindari gunjingan orang-orang disekitar lingkungannya tinggal.

"Maaf Gusti, kegiatan sehari-hari apa yang akan dilakukan Nyimas Gendhis?" Minah bertanya agar kedepannya lebih jelas dalam melakukan pendampingan terhadap Gendhis.

Tidak sekejap pun Gendhis mengangkat wajahnya. Ia masih dalam posisi yang sama, yaitu menunduk dan memilin ujung kebayanya.

Ambarawati melihat diamnya Gendhis menandakan kecanggungan. Ia lantas mengusap punggung gadis yang telah banyak melewati penderitaan setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.

Gendhis terkejut mendapatkan sentuhan tangan di punggungnya, netranya bersitatap dengan sorot mata teduh dari wanita bernama Ambarawati. Sedetik kemudian wanita anggun itu mengalihkan atensinya menatap keseluruhan pelayannya.

"Nyimas Gendhis tidak serta-merta lepas tangan dan hanya menunggu hari pernikahan. Dia berkeinginan membantu Manggala dan ingin mengetahui lebih banyak hal yang dilakukan calon suaminya."

Ambarawati dalam menerangkan Gendhis yang akan menjadi pelayan dari putranya, namun sebagai pengalihan Gendhis yang berkeniatan dipekerjakan sebagai pelayan maka hanya alasan yang ia ucapkan barusan untuk bisa menutupi keniatan Gendhis yang berkeinginan dipekerjakan. Ia juga tidak ingin orang-orang tahu bahwa Gendhis adalah gadis tumbal pelunasan hutang Bibiknya yang kejam.

"Dimohon, agar semua orang di sini membantu Nyimas Gendhis dalam melaksanakan tugasnya." kata Ambarawati lagi.

"Sediko dawuh Gusti." jawab semua pelayan, terkecuali satu pelayan wanita yang sejak tadi memang menatap tajam kearah gadis yang diperkenalkan sebagai calon istri dari Manggala.

Sebenarnya semua orang yang bekerja di rumah ini terkejut dengan adanya Manggala yang akan dijodohkan sedangkan setahu mereka Manggala telah memiliki seseorang.

...----------------...

*Pinjung adalah pakaian adat Yogyakarta yang umum dikenakan oleh Abdi Dalem keraton Kasultanan Yogyakarta.

Pinjung adalah kain yang digunakan sebagai penutup sampai ke dada.

Biasanya kain pinjungan dilengkapi dengan kemben atau kain penutup dada. Selain itu, bisa juga dipadukan dengan baju batik atau lurik sebagai penutup terluar.

...----------------...

Maaf saudara-saudara pembaca, untuk sementara waktu rehat sejenak. Ada yang harus saya perbaiki 🙏🏼..

Informasi lebih lanjut akan saya sampaikan di bab berikutnya...

1
Jouliani Jouliani
Luar biasa
Afternoon Honey
akhirnya setelah beberapa purnama ada kelanjutannya, eh ini tamat spi disini🤔
Afternoon Honey: buat Gendhis yg baru
total 2 replies
Afternoon Honey
menunggu kelanjutannya, apa terpenggal sampai disini saja 🤔
Afternoon Honey
juara pisan lah semua nasehat falsafah budi luhur Jawa di bab ini ⭐👍
Afternoon Honey
baca ini sambil belajar bahasa jawa
Afternoon Honey
tuh kan bener jadi Gendhis ditemukan bibinya yg jahat... ah kesel jadi bacanya...
Afternoon Honey
lha koq ke pasar Beringharjo nanti ketemu sama bibi dan paman mu bagaimana❓
Afternoon Honey
suka ceritanya bagus, ada pembelajaran kehidupan & ada dakwah Islam di dalamnya⭐👍💖💐
Afternoon Honey
ini karya author yg pertama saya baca, langsung saya suka 💖💐
Tri Yuliati
Ceritanya sangat bagus, kenapa end
Tri Yuliati
Cerita yang sangat luar biasa
Endang Werdiningsih
belajar ilmu agama bukan'a buat dipraktekan tp hanya buat pantas"an thok,,,
sifa opo gunane ilmu sing mbok oelajari neng oesabtren yen ati karo lambemu sadis bgt...
Puji Qurniawati
bagus bgt cerita nya sedih bgt tp jg seru
Bembi Arkana
suka bget... jawenni.. lanjut y kakak q tunggu up ny byk ilmu yg didapat...💪💪💪💪💪👍👍👍👍
Arif Sunoe
alhamdulillah... crita yang panjang runtut..bisa menghipnotis aq membaca karya ini.... makasih Thor...aq tunggu kelanjutannya
khey
kak, kamu nulis berapa kata sih?? panjang benar, kayak gampang aja kamu mikir alurnya , encer bangat otak nya 👍👍
khey
bener Manggala, dengerin saran eyang
Arif Sunoe
sempat semledot ketika author berencana hentikan cerita ini dan berganti lagi dengan ntah apa...


tp dimanapun berkarya..jika aq bisa menemukannya.. insyaallah aq dukung
Maulana ya_Rohman
selalu ku tunggu ip darimu thor...... 😁
lanjut lagi thor.....😌😌😌😌
Sribundanya Gifran
temanya ap thor, lanjuuuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!