bagaimana jika dirimu dipaksa menikah pada lelaki tampan dan kaya, mungkin kamu berpikir semua akan baik-baik saja, tapi bagaimana jika lelaki itu telah memiliki istri.
ya itu lah yang dirasakan oleh Ayana, menikah dengan lelaki yang telah memiliki istri, terlebih istri pertama sang suami sangat membenci keberadaannya dirumah itu.
ia bahkan harus tinggal di rumah yang berbeda dengan sang suami.
akan kah Ayana dapat mempertahankan pernikahan nya dengan Lucanne? atau ia lebih memilih untuk pergi sejauh mungkin agar tidak lagi berhubungan dengan keluarga itu.
dilarang plagiat..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Ratipurwasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ayanna pendarahan??
kini waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 Ayanna baru saja selesai melaksanakan sholat magrib, dan bergegas turun kebawah untuk membantu BI sum menyiapkan makan malam.
"selamat malam bi."ujar Ayanna yang tiba tiba muncul di samping bi sum, sehingga membuat wanita paruh baya itu terjingkat karena terkejut.
"apakah Ayanna mengejutkan bibi??."ujarnya kembali saraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"tidak nona, bibi hanya sedikit kaget melihat nona yang tiba-tiba sudah disini."timpal bi sum dengan tersenyum tipis.
"apa ada yang bisa Ayanna bantu bi??."tanya perempuan muda itu.
"tidak perlu nona, sebaiknya duduk saja lagipula semuanya sudah hampir selesai."jawab bibi.
Ayanna menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah meja makan, sementara itu bi sum masi melanjutkan memasaknya, 5 menit kemudian semuanya sudah selesai, bibi hanya tinggal menyajikannya di atas meja makan tempat Ayanna duduk.
"terima kasih bibi."ucap Ayanna dengan senyum lebar.
"tidak perlu berterima kasih nona, ini memang sudah jadi pekerjaan saya."ujarnya dengan membalas senyum Ayanna.
"ayo bi, kita makan."ucap Ayanna lagi.
"tidak nona, makan saja lebih dulu saya akan membereskan dapur lebih dulu lalu makan."tolak bi sum dengan halus agar tidak menyinggung perasaan perempuan muda tersebut.
"baiklah kalau begitu, bi."Ayanna menganggukkan kepalanya, dan segera memulai makannya.
Selesai makan ia membereskan piring bekasnya, walaupun sudah dilarang oleh bi sum tetap saja tidak didengar oleh nya, alhasil bibi hanya bisa membiarkan Ayanna melakukannya.
Ayanna pamit pada bibi untuk ke kamar setelah membereskan piring kotornya, sesampainya dikamar ia berjalan ke arah balkon untuk melihat pemandangan diluar rumah, disana hanya ada pepohonan besar yang mengelilingi sekitar rumah yang ditempatinya olehnya, jarang sekali ada rumah lainnya bahkan bisa dibilang tidak ada rumah lain selain rumahnya.
kunang-kunang berterbangan menghiasi malam yang gelap itu, begitupula dengan kicauan burung hantu yang membuat Ayanna merinding ketika mendengarnya.
Ayanna memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya, dan menutup pintu balkonnya karena angin malam yang terus berhembus dingin hingga rasanya menusuk tulang.
Ayanna menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur miliknya, matanya beralih ke arah kucing putih yang kini tertidur lelap disampingnya, Ayanna tersenyum seraya terus mengelus bulu halus kucing itu.
Tanpa disadari ia terlelap dalam tidurnya dalam posisi duduk, ditengah lelapnya tidur ia terbangun saat mendengar samar-samar suara ketukan pintu, ia segera bangun dari tempat tidur dan berjalan turun kebawah untuk melihat siapa yang berada diluar sana.
Ia mengintip lebih dulu dari jendela untuk mengetahui siapa yang berada diluar sana, namun sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut, sebelum membuka pintu Ayanna mengambil sapu untuk berjaga jaga, siapa tahu yang diluar sana orang jahat.
Pelan pelan ia membuka pintu itu, dan akhirnya dirinya bisa bernafas lega saat melihat siapa yang datang.
"mas Lucanne."ujar Ayanna saat melihat lelaki dihadapannya.
tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Lucanne, Ayanna dibuat terkejut ketika tubuh nya tiba tiba melayang ke udara yang sudah berada dalam gendongan Lucanne.
Lucanne menggendong Ayanna ala bridal style, Ayanna hanya menurut ketika Lucanne menggendong nya seperti itu.
Dengan hati hati Lucanne membaringkan tubuh Ayanna diatas kasur king size milik perempuan itu, Lucanne mendekatkan wajahnya kearah Ayanna, lama Lucanne menatap wajah perempuan dibalik cadar itu.
Ayanna memalingkan wajahnya kearah lain karena tidak sanggup terus menatap wajah pemilik mata elang tersebut.
Lucanne semakin mendekatkan wajahnya kearah Ayanna sehingga Ayanna bisa mencium napas Lucanne yang bau alkohol.
"aku ingin meminta hakku sebagai suamimu, malam ini Ayanna."ujar Lucanne dengan berbisik didekat telinga Ayanna, tangan lelaki itu dengan pelan tapi pasti perlahan menarik cadar yang selalu menutupi wajah istrinya itu.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah perempuan itu, wajah itu cantik tanpa cacat sedikitpun, walaupun tanpa menggunakan make up wajahnya tetap terlihat segar, bibir merah muda tanpa lipstik membuat Lucanne ingin mencicipinya.
Namun Ayanna mendorong pelan tubuh Lucanne agar menjauh darinya, Lucanne mengernyitkan keningnya saat mendapatkan penolakan dari Ayanna.
"kenapa Ayanna, apa kau lupa dengan tugasmu??."ujar Lucanne yang kini merasa dongkol atas penolakan Ayanna.
"tidak mas, aku tentu tidak lupa dengan tugasku, tapi aku tidak ingin melakukannya ketika kondisi mas Lucanne sedang mabuk seperti ini."timpal Ayanna menatap dalam mata Lucanne.
Mendengar hal itu membuat Lucanne tersulut emosi, ia segera mencengkram kuat rahang milik istrinya itu.
"kenapa tidak?? Bukankah mama sudah membayarmu, jadi sekarang tugasmu memang untuk melayaniku bagaimanapun kondisinya, tidak ada penolakan."geram lelaki itu, dengan Lucanne segera melancarkan aksinya.
"istighfar, mas."ujar Ayanna yang terus mencoba untuk menyadarkan Lucanne.
namun suaminya itu seakan sudah tuli sehingga tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Ayanna.
dalam keadaannya yang setengah sadar ia melakukannya dengan kasar, sehingga membuat Ayanna meringgis kesakitan, walaupun mereka sudah pernah melakukannya sebelumnya tetap saja Ayanna masih merasakan sakit diarea bawahnya.
setelah beberapa waktu berlalu Lucanne telah menuntaskan kegiatannya dan ambruk diatas tubuh Ayanna yang sudah terkurai lemas.
tiba tiba Ayanna meringis kesakitan seraya memegang perutnya, awalnya Lucanne tidak terlalu memperdulikan Ayanna karena dianggap hanya berdrama namun Ayanna terus meringis kesakitan.
Ia segera bangkit dan terbelalak saat melihat darah di seprai.
"mas, anak kita."ujar Ayanna dengan suara gemetar.
Lucanne segera tersadar saat mendengar ucapan Ayanna, ia segera menyadari bagaimana bisa tadi ia melakukan hal itu pada istrinya yang tengah hamil muda, yang rentan sekali keguguran.
Tanpa pikir panjang ia segera berpakaian dan memakaikan pakaian pada Ayanna, lelaki itu bergegas mengendong Ayanna menuju mobil untuk dibawah ke rumah sakit.
sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Ayanna tidak berhenti meringis bahkan sampai menangis karena sakit, tibanya dirumah sakit Ayanna segera dibawah keruang ICU.
sementara diluar Lucanne terus mondar mandir karena mengkhawatirkan kondisi Ayanna terutama kondisi anaknya.
ditengah kepanikannya ia segera menelepon orang rumah untuk memberitahu jika Ayanna dibawah kerumah sakit.
Tidak berselang lama papa dan mama tiba dirumah sakit, dan menanyakan pada Lucanne perihal apa yang terjadi pada Ayanna hingga dibawah kerumah sakit, namun lelaki itu hanya diam seribu bahasa tidak berniat untuk membuka suara.
setelah menunggu lama, akhirnya dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"dimana suami pasien??."tanya dokter dengan wajah serius.
"saya dokter."timpal Lucanne dengan maju mendekati dokter, sementara dokter menghembuskan napas kasar sebelum menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"istri anda mengalami pendarahan hebat tuan, ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya berlaku kasar saat melakukan hubungan intim, saya sarankan untuk tidak melakukan hubungan terlebih dahulu sebelum usia kandungan istri anda memasuki trimester tiga, jika masih ingin melakukan hal tersebut maka ada baiknya anda berhati hati jangan sampai melukai ibu dan kandunganya, untung saja istri anda segera dibawah kerumah sakit jika tidak saya tidak bisa menjamin apakah janin yang dikandungan istri tuan akan selamat atau tidak."jelas dokter panjang lebar.
"baik dok, terima kasih."ujar Lucanne dengan lemas.
"istri anda akan dipindahkan oleh suster keruang inap nanti, kalau begitu saya permisi."lanjut dokternya seraya berjalan menjauh dari tempat Lucanne dan kedua orang tuanya berdiri.
"mama tidak habis pikir sama kamu Lucanne, bagaimana jika tadi Ayanna keguguran hanya karena kamu tidak bisa menahan nafsu mu itu, kedepannya kamu harus menjaga jarak dari Ayanna, mama tidak ingin hal itu terulang lagi."tegas mama seraya menatap tajam kearah Lucanne.
"aku tahu yang ku lakukan hari ini salah tapi, mama tidak berhak melarangku untuk menemuinya karena aku adalah suaminya jadi aku berhak atas semua hal tentangnya."cecar Lucanne pada sang mama.
mama ingin menjawab perkataan Lucanne namun ditahan oleh papa.
"sudah ma, tidak baik membuat keributan disini."ujar papa yang mencoba menenangkan mama.
ditengah mereka yang sedang diselimuti oleh emosi suster keluar dengan mendorong brankar Ayanna, perempuan muda itu kini terbalik lemas dengan jarum infus yang menancap dipunggung tangannya.
setelah memindahkan Ayanna keruang inap dan memastikan semuanya baik baik saja suster pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain, sementara Lucanne, papa dan mama masih berada diruang tersebut menunggu Ayanna.