Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Mobil mewah yang di tumpangi Bara melaju kencang. Meninggalkan keramaian kota A, menuju pinggiran kota. Sementara di dalam mobil terlihat Bara bersandar pada jok belakang mobil mewahnya sembari memejamkan mata.
Di jok depan, supir dan asisten pribadinya terlihat menikmati perjalanan dengan saling diam. Sesekali mereka melirik tuanya dari spion tengah, seakan memastikan tuanya masih terlelap dengan nyaman. Mereka tak ingin menggangu tuanya yang baru terlelap. Beberapa hari ini dia hanya tidur beberapa jam saja, sisanya dihabiskan di perjalanan bisnis. Itu semua dia lakukan demi wanita bernama Safira.
Satu jam kemudian mobil berhenti di parkiran hotel mewah di pinggiran kota A. Menyadari mobil yang di tumpanginya berhenti, Bara membuka matanya yang terlihat merah.
"Sudah sampai?" tanya nya dengan suara serak. Netranya yang kelam menatap luar jendela.
"Sudah tuan." sahut supir pribadinya. Sementara Bimo cuma melirik Bara dari spion tengah. Lelah tergambar jelas di wajah bosnya itu.
"Istirahatlah, dua jam lagi kita ada pertemuan. Aku mau ke Bar dulu." ujarnya, lalu beranjak keluar dari mobil.
"Aku ikut." ujar Bimo, Bara tak menyahut. Tapi pria itu tetap mengekori langkah kaki Bara masuk kedalam hotel menuju Bar.
Sudah tengah malam, tapi hotel masih ramai beraktivitas. Di resepsionis terlihat ada beberapa tamu yang check out juga check in.
"Tuan Besar mulai bertindak." ujar Bimo membuka percakapan. Sembari berjalan menuju Bar.
"Hmmm." sahut Bara dengan gumaman.
"Apa sebaiknya kau pikirkan lagi tentang Safira, aku pikir melawan kakek karena dia itu tidak sepadan." imbuh Bimo.
Bara yang berjalan di depannya, menghentikan langkah kakinya. Kemudian berbalik kearah Bimo. Menatap wajah tampan itu intens, lalu menarik nafas berat sembari menyentuh pundak lelaki itu pelan.
"Kalau lelah istrahat saja sana." ujar Bara, lalu berbalik dan kembali melangkah menuju Bar.
Bimo berdecak kesal, tapi masih mengekori langkah Bara masuk kedalam Bar lalu duduk di sofa empuk yang ada di sudut ruangan yang ada di lantai dua.
Keduanya menikmati minuman rendah alkohol sembari menatap ke lantai satu, disana terlihat ramai. Masih banyak pengunjung yang turun kelantai menikmati alunan musik yang di pandu oleh dj cantik.
Di sudut lain terlihat beberapa pasangan kencan melakukan adegan panas tanpa malu malu. Dunia malam benar benar penuh gairah. Lalu di sudut lain terlihat beberapa wanita wanita cantik sedang menatap kearah mereka penuh binar.
Bimo menarik nafas berat sembari menatap Bara disampingnya. Lelaki dengan sejuta pesona ini malah jatuh cinta pada janda beranak satu, bahkan rela menentang kakeknya sendiri. Padahal wanita dengan status tinggi rela antri jadi istrinya. Tapi Bara tak tertarik sama sekali. Dia bahkan kehilangan selera terhadap wanita, selain Safira.
"Kenapa tidak istrahat?" tanya Bara sembari menyesap gelas pendek di tangannya, menatap Bimo yang terlihat resah.
"Terlalu banyak isi kepala ku, jadi tidak ngantuk." jawab Bimo dengan wajah kusut. Bara terkekeh, lalu kembali menyesap gelas wine di tangannya.
"Jangan tertawa, ini karena kau yang suka cari masalah. Dan aku lah yang harus membereskannya, ke jeniusanku ini harusnya bisa jadi seorang CEO bukan?" omel nya dengan mimik wajah kesal.
Bara terlihat mengangguk angguk kecil. "Aku sudah membebaskan mu, ku persilahkan kau bangun istana mu sendiri tapi kau sendiri yang tak mau pergi.Jadi jangan mengeluh." ujarnya.
"Siapa suruh kau punya daya tarik begitu kuat, aku jadi tidak bisa lepas dari pesonamu."
"Cih!"
"Hahaha." gelak tawa Bimo berhenti saat sudut matanya menangkap bayangan orang yang dia kenal.
"Bara, kau lihat itu." ujarnya nya, sembari mengarahkan jari telunjuknya ke sudut ruang yang berlawanan arah dengan mereka. Bara berpaling mengikuti arah telunjuk Bimo, matanya yang kelam menangkap sosok yang dia kenal.
"Ada apa?" tanya Bara sembari menarik pandangannya.
"Kau tidak kenal wanita begaun biru itu?" tanya Bimo, matanya masih tertuju di sudut ruang di sebrang sana. Seorang wanita muda bertubuh mungil dan berkulit putih bersih terlihat sedang melayani tamu.
"Kenal, memangnya kenapa kalau kenal?" Bara balik bertanya.
"Bukankah dia melakukannya pertama kali dengan mu, apa tidak ada kesan?" pancing Bimo.
Bara tak menyahut, dia menatap ke wanita itu sejenak lalu menggeleng. "Ada banyak wanita seperti itu yang ku temui, Kalau mereka membuatku terkesan maka aku pasti punya banyak selir sekarang." ujarnya, lalu beranjak bangkit.
"Sudah waktunya ayo." imbuh nya sembari melangkah pergi.
Bimo tak menyahut, dia ikut beranjak bangkit dan mengekori langkah Bara menuju ruang pertemuan. Bara menatap wanita itu sekilas, saat mereka melewatinya. Kebetulan wanita muda berparas cantik itu juga menatap kearahnya. Tubuhnya hampir telan jang, terbaring di sofa berwarna gelap. Sementara diatasnya seorang pria terlihat agresif mencumbunya. Tubuh mulus seputih susu itu terlihat bersinar di tengah cahaya temaram.
Bara cepat berpaling, tiba tiba dia teringat Safira dan sangat merindukannya.
Sembari terus melangkah, dia merogoh saku jasnya. Mengambil ponsel dari dalam sakunya lalu melakukan panggilan video dengan Safira.
Panggilan pertama tak di angkat Safira, Bara mengulang kembali sambil terus berjalan. Dia terus melakukan panggilannya sampai di ruang pertemuan. Di sana belum ada orang yang datang, ruang rapat yang hanya cukup untuk sepuluh orang itu di sinari cahaya temaram.
Dia duduk bersilang kaki sembari menatap layar ponselnya dengan mimik wajah tak sabaran, dan tersambung. Tapi Bara tak melihat apapun, layarnya terlihat gelap.
"Halo." sapa Bara dengan suara berat. Safira tak langsung menyahut, berisik seprai yang bergesek dengan tubuhnya terdengar saat dia bergerak.
"Hmmm." gumam Safira kemudian, dengan suara serak.
"Mana wajah mu?" tanya Bara pelan. Terdengar de sah nafas Safira.
"Ada apa?" Safira balik bertanya, suaranya yang terdengar seperti de sahan membuat imajinasi lelaki itu seketika beraksi.
"Aku ingin lihat." ucap Bara. Kembali terdengar desah lembut yang menggelitik telinga Bara.
"Aku ngantuk, gak bisa bukak mata." ujar Safira manja, wanita itu didera rasa kantuk yang amat sangat. Dia bahkan tak menyadari sepenuhnya, bahwa orang yang menelponnya adalah Bara. Sementara itu Bimo yang mendengar ucapan Bara, membulatkan matanya menatap bos sekaligus temannya itu. Dia tak habis pikir, Bara ternyata bisa sebucin itu pada wanita.
Mendengar suara manja itu, Bara menarik sudut bibirnya membingkai senyum.
"Tidurlah." titahnya kemudian, sebelum dia benar benar tak mampu menahan gejolak gairahnya sendiri.
Tak ada jawaban, hanya sepi dan tarikan nafas halus yang terdengar. Safira benar benar terlelap kembali. Bara pun mengakhiri panggilannya.
Tak berapa lama, orang yang di nanti Bara masuk dalam ruangan. Ada enam orang yang datang, dua diantaranya perempuan.
Keenam orang itu membungkukkan separuh tubuhnya memberi hormat.
"Maaf, kami membuat tuan Bara menunggu lama." ujar Salah satu dari mereka.
"Hmmm, duduklah." titah Bara.
Keenam orang itu duduk di sofa yang menghadap ke arah Bara. Empat pria itu terlihat berpenampilan sama, rambut gondrong di kuncir satu. Sedang yang perempuan kebalikannya, keduanya berambut pendek di atas bahu.
Bimo yang kini berada di samping terlihat heran dengan kehadiran mereka. Ada rencana besar apa tuan Bara, sampai harus mengundang keenam orang luar biasa ini.
"Kami datang siap menerima perintah dari tuan." ujar Salah satu dari mereka.
Bara terlihat mengagguk kecil, "Mulai malam ini kalian adalah orang ku, aku akan kirim tugas kalian melalui email pribadiku. Kita hanya berkomunikasih dengan email, jangan temui aku kalau tidak ku minta."
"Baik tuan, kami mengerti."
"Bagus, oh ya kenalkan. Dia Bimo, dia sekretaris pribadiku. Dalam keadaan darurat dia diperbolehkan mengambil keputusan tanpa seijin ku, kalian paham."
"Paham tuan."
"Baugus, kalian boleh pergi."
"Baik tuan."
Bimo menarik nafas berat saat enam orang itu pergi. "Kau benar benar berniat perang dengan ketua?"
Bara menggeleng, "Aku hanya bersiap menghadapi kemungkinan."
Bimo kembali menarik nafas berat. "Apa istimewanya Safira?" tanyanya sembari menatap intens.
Bara balas menatapnya. "Ini bukan hanya tentang Safira, aku hanya ingin memperingati orang di belakang kakek. Bahwa kedaulatan ku, siapa pun tidak boleh mengusiknya." ucapnya.
"Kau boleh mundur, aku selalu memberimu jalan. Sekarang adalah waktu yang tepat melakukannya." ucap Bara dengan wajah tenang.
"Ck! Sudah aku bilang, pesonamu tak bisa ku lawan. Untung saja orientasi seksual ku tidak melenceng, kalau tidak aku pasti sudah jadi kekasih mu." ujar Bimo dengan mimik wajah menggemaskan.
Melihatnya Bara mengumpat. "Bajingan!"
.
Bersambung