Yuna seorang wanita yatim piatu yang terjebak dalam kisah cinta yang rumit. setelah malam nya bersama seorang pria yang tidak di inginkan, membuat ia harus memilih keputusan yang berat dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prissia Reize, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
River
... \~ Star Dust \~...
“Ini kamar kalian, kau istirahat dulu saja Yuna!” Elena mengantar Yuna ke dalam sebuah kamar sederhana namun tampak nyaman. “Kau bisa membuka jendelanya jika kau mau,” lanjutnya sambil melirik ke arah jendela dengan tirai putih yang menggantung di kedua sisi.
“Terimakasih Ela…” Yuna tersenyum lembut.
Setelah memperhatikan Elena yang menghilang di balik pintu, Yuna mulai mengarahkan pandanannya menelusuri kamar bergaya Aesthetic itu, kamar ini lebih kecil dari kamar milik Theo namun lebih besar dari kamar lama Yuna. Tatapannya menerawang keluar saat mendapati jendela yang ditunjukan bibi Theo beberapa menit yang lalu.
Pemandangan di balik itu membuat kaki Yuna tidak sadar bergerak perlahan menuju peraduan, mata coklatnya bergerak ke kiri dan kanan untuk menjelajahi area yang tidak berada dalam jarak pandangannya.
Ia buka knop jendela itu sehingga udara segar dari luar bebas memasuki rongga penciumannya, mengalirkan rasa tenang yang tidak pernah Yuna rasakan. Ia hirup lebih dalam hingga matanya pun ikut terpejam merasakan angin syahdu yang menggelitik wajahnya.
Hingga suara gedebug dari pintu yang ditutup membuat kelopaknya terbuka kembali, dilihatnya Theo yang berjalan ke arah tempat tidur, ia buka jaket hitam yang ia kenakan, menyisakan kaos hitam yang terlihat pas di tubuhnya yang atletis. “Aku akan mandi sebentar, kau istirahatlah…!” ucapnya pada Yuna sambil membuka arloji di pergelangan tangannya, kemudian menyimpannya pada nakas di sisi tempat tidur.
Yuna tidak menjawab ia hanya melirik pergerakan pria itu hingga memasuki kamar mandi yang terletak tidak jauh dari pintu masuk kamar.
Yuna masih menikmati hembusan angin dari balik jendela, kini tirai putih itu ikut bergoyang diterpa angin, tangan lentiknya menopang bagian dagu wanita itu—bersandar pada bingkai jendela, menikmati alam indah yang membentang luas di luar sana.
Di balik jendela itu terbentang lapangan hijau dengan sungai kecil yang mengalir tenang—menambah indah pemandangan di mata Yuna yang berbinar. Air dari sungai itu sangat jernih, Yuna bahkan bisa melihat bebatuan kecil yang berada dalam sungai. Di balik lapangan itu ada bukit-bukit kecil dengan pohon cemara yang membentang luas di muka.
Diantara keindahan itu Yuna mengingat kekasihnya, jika saja ia bisa melihat pemandangan indah ini bersama Ren, Yuna pasti akan senang bukan kepalang ia akan berlari di atas rumput hijau itu dengan Ren yang mengejarnya, lalu mereka tertawa bersama membuang semua beban dalam hidup mereka. Dan di saat itu juga Yuna tersadar ia belum menghubungi lagi kekasihnya.
Ren sudah berbaik hati mengijinkannya untuk pergi, meski tidak mudah membujuknya karena rasa khawatir pria itu sangat besar untuk Yuna. Yuna bahkan sempat putus asa membujuk Ren namun pria itu akhirnya bisa luluh juga karena Yuna yang mogok bicara dan lebih banyak melamun.
Tidak! Ia tidak boleh mengecewakan Ren dan membuat masalah dengan tidak mengabarinya. Yuna kemudian beralih dari posisi nyamannya, merogoh tas yang tadi ia simpan di atas kasur, ia buka handphone miliknya. Namun sebelum sempat ia mengetik pesan pada Ren, Theo berteriak memanggilnya dari balik kamar mandi.
“Yuna, ambilkan handuk dalam koper aku lupa membawanya!” tampa menunggu lama Yuna langsung menghampiri koper Theo dan membukanya ia ambil handuk putih dalam koper hitam itu.
Ditengah pergerakanya, pandangan Yuna tak sengaja melihat sebuah gelang berwarna silver dalam tas kecil transfaran tempat koleksi jam Theo disimpan. “Yuna… kau mendengarku?!” Yuna tidak sempat melihatnya karena Theo Kembali memanggilnya, ia segera bangkit—mendekatkan diri pada pintu kamar mandi.
“Ini handuknya!” ucapnya sedikit berteriak agar Theo bisa mendengarnya, tak lama setelah itu Theo membuka sedikit pintu dan mengulurkan tangannya.
“Ahh…!!” Yuna memekik ketika tangannya ditarik masuk kedalam kamar mandi. Jantungnya seakan melompat keluar saat melihat pemandangan di depannya, Theo tidak memakai apapun!! Pikirannya bergerak cepat “Pakai ini…!!” ia membuka handuk yang masih berada di genggamannya kemudian melingkarkan langsung pada tubuh bagian bawah Theo karena bagian itu membuatnya sangat merinding. Meski sering merasakannya namun tetap saja Yuna tidak terbiasa jika harus berhadapan langsung degan tubuh telanjang Theo.
Bukannya membantu Theo malah tersenyum ringan seakan mempermainkan Yuna.
Menyadari hal itu tangan Yuna yang sebelumnya melingkar di pinggang Theo kini terangkat memukul dada pria itu. Alisnya menukik tidak bersahabat menyadari pria di hapannya hanya mempermainkan Yuna. “Theodor sialannn…!!” Wanita itu memukul Theo berkali-kali meluapkan semua kekesalannya.
Dengan perasaan dongkol ia berbalik ingin keluar namun tanganya ditarik kembali, Yuna mengerjap ketika pinganggnya ditarik lebih dekat sehingga tubuh mereka kini menempel, untung saja handuk yang tadi Yuna pakaikan sudah terpasang sempurna di pinggang pria itu. Jika tidak, Yuna tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Wanita itu tidak berani bergerak ketika netra kelam Theo menatapnya. Udara seakan semakin menipis ketika Theo mendekatkan wajahnya, Yuna refleks memejamkan mata namun hembusan napas di telinganya membuat netra Yuna terbuka kembali dengan sempurna. “Pipimu sangat merah Yuna…” Theo tertawa riangan setelah mempermainkan wanita di hadapannya. Emosi dalam diri Yuna semakin memuncak, ia mengatur napasnya untuk beberpa saat agar amarah dalam dirinya menghilang percuma saja menghadapi pria yang sulit di tebak di hadapannya. Pria itu hanya mempermainkan perasaan Yuna. Ya… mungkin jika tidak menganggunya satu hari saja pria itu akan demam.
Yuna berbalik kembali untuk keluar “Yuna…” panggilan dari belakannya membuat ia berdecak dan menghela napas untuk mengatur emosinya kembali.
Wanita itu kembali membalikan badan pada Theo dengan emosi yang sebisa mungkin ia tahan. “Apa la-“ Yuna dibungkam oleh ciuman Theo yang menyerangnya secara tiba-tiba, bahkan tubuhnya sampai mundur kebelakang menubruk dinding sebelah pintu. Ia kewalahan menerima setiap pergerakan bibir Theo yang menjamah miliknya dengan liar, tidak memberikan celah baginya untuk sekedar menolak.
Berbagai salipan liar terus pria itu layangkan, tidak ada bagian yang lolos dari belitan lidah Theo yang haus akan hasrat, Yuna bahkan hampir kehabisan napas. Ia pukul dada Theo berulangkali agar pria itu mau melepaskannya.
Butuh waktu beberapa lama sebelum Theo benar-benar melepaskan pangutanya. “Aku merindukan bibirmu Yuna…” ucap Theo memandang bibir Yuna yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
Sudah lama sejak terakhir kali Theo hampir kelepasan, pria itu memutuskan untuk tidak mencium Yuna atau terlalu dekat dengan istrinya karena kondisi kandungan Yuna yang masih harus dijaga setelah mengalami pendarahan karena benturan.
“Jangan…” bisi Yuna tepat di depan bibir Theo, jarak mereka masih sangat dekat setelah serangan tiba-tiba Theo. Dapat Yuna dengan pria di depannya menggeram—menahan sesuatu liar dalam dirinya.
“Keluarlah!” Ucap Theo dingin sambil menjauh dari Yuna.
Tidak ingin melewatkan kesempatan itu, Yuna langsung bergerak keluar, kemudian menutup pintu di depannya rapat-rapat. Ia bersandar beberapa saat menetlarisir perasaan aneh yang menyelimutinya. Lalu matanya teralihkan ketika tidak sengaja melirik koper Theo yang masih terbuka.
Ia mendekat kembali, diperhatikannya tas transfaran yang sempat mencuri perhatian Yuna sebelum Theo berteriak memanggilnya. Ia buka perlahan tas kecil itu—mengeluarkan sebuah gelang silver.
Gelang ini… mirip seperti miliknya yang hilang, namun liontin yang menghiasi gelang ini berbeda dengan liontin pada gelang Yuna yang berbentuk Armor, sedangkan gelang di tangannya berliontinkan kepala naga.
“Apa yang kau lalukan?” Yuna terperanjat dari lamunannya mendengar suara bariton Theodor yang menggelegar di telinganya secara tiba-tiba.
“Aku—akan memasukan pakaian kita kedalam lemari.” Jawab Yuna cepat mencari alasan sambil memasukan kembali gelang di tangannya pada tas transfaran.
“Tidak usah, biar aku yang melakukannya. Aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat kenapa kau tidak mendengarkanku?!” Jawab Theo dingin sambil berjalan ke arah Yuna—mengambil pakaian dalam koper untuk ia kenakan.
“Aku tidak lelah Theo, lagi pula aku sudah tidur di mobil.” Theo memejamkan mata sambil menghela napas mendapati sikap keras kepala istrinya.
“Kau tidak ingin menghubungi Ren?” tanyanya mengalihkan Yuna agar wanita itu diam dan tidak melakukan pekerjaan lain. Yuna juga baru tersadar, ia tadi mau menghubungi kekasihnya namun urung karena Theodor.
Nampaknya Theo berhasil mengalihkan perhatian Yuna, terbukti dengan pergerakan wanita itu yang langsung menyambar handphone miliknya di atas tempat tidur—menekan panggilan kemudian berjalan menjauh dari Theo menghampiri jendela yang masih terbuka di depan sana.
Tanpa yuna sadari Theo mengeraskan rahangnya melihat Yuna yang Tengah bercengkrama ria dengan sang kekasih hingga melupakan kehadirannya begitu saja.
Theo masih memperhatihan wanita itu sambil mengenakan celana dan gesper. Ia ambil kaos hitam miliknya dalam koper dengan urat-urat tangan yang menonjol, matanya semakin mengeras ketika menangkap senyum di bibir Yuna semalin lebar.
Usai mengenakan kaosnya ia mulai merapikan baju miliknya dan Yuna kedalam lemari kayu yang tak jauh di samping tempatnya berdiri sambil sesekali mencuri pandang pada Yuna dengan wajah datarnya.
...\~ Star Dust \~...
Gemerisik air mengalir masih bisa terdengar pada intra pendengaran Yuna meski jarak antara sungai kecil dengan tempatnya duduk agak jauh.
Saat ini Yuna dan keluarga Theo tengah makan siang di teras belakang kediaman Alonso. Jika tadi ia hanya bisa melihat pemandangan indah itu dari balik jendela, kini ia bisa merasakannya langsung, lapang hijau itu tepat berada di depanya.
Ada sebuah jembatan kecil dengan lampu hias di kedua sisi penyangga. Jembatan itu sebagai akses untuk menyebrangi sungai kecil yang mengalir di bawahnya. Yuna tidak pernah menyangka kediaman Alonso akan seindah ini.
“Yuna kau harus makan ini, ini bagus untuk ibu hamil.” Juana menuangkan satu sendok sayur hijau yang sudah dimasak dengan bubu rahasia keluarga Alonso ke dalam piring Yuna.
“Terimakasih nenek…”
“Ini juga Yuna!” Elena menambahkan lauk lain yang kaya akan protein.
Theo menatap istrinya yang kewalahan karna Nenek dan Bibinya terus memberikan lauk pada piring Yuna. Mereka juga terus memperhatikan Yuna agar wanita itu menghabiskan semua makanan dalam piringnya, Theo tahu wanita itu tidak enak menolak kebaikan mereka, terlihat dari raut wajahnya yang dipaksakan bahagia.
“Nenek… biarkan Yuna makan sendiri!” Ucap Theo mengalihkan perhatian mereka bertiga, Elena yang menyadari perbuatannya dan Juana membuat Yuna tak nyaman segera menjauhkan diri dari piring Yuna.
Yuna melirik Theo di sebrang meja yang telah menyelatkannya dari ketidak nyamanan, sudut mata pria itu jadi lebih tajam sejak kejadian di kamar mandi.
“Pemandangan di sini sangat indah.” Yuna angkat bicara meluapkan isi hatinya yang terpukau akan keindahan alam di kediaman Alonso yang sederhana.
“Ini rumah impian nenek Yuna… tanpa hiruk pikuk perkotaan yang membuat udara sesak, nenek lebih suka menghabiskan masa tua nenek dekat alam seperti ini—”
“—rumah ini pemberian suamimu. Theo sangat menyayangi nenek, dia memberikan semua apa yang nenek inginkan.” Perkataan Juana lagi-lagi membuat Yuna melirik Theo. Pria itu hanya memakan makanannya tidak menghiraukan kalimat dari neneknya sendiri yang ditunjukan kepadanya.
“Kami juga memiliki kebun anggur Yuna, pemandangan di sana lebih indah. Besok aku akan mengajakmu ke sana jika kau mau.” Timpal Elena.
“Aku mau Ela.” Jawab Yuna tidak sabar melihat pemandangan indah lainnya.
“Apakah setelah ini aku boleh pergi ke sana?” Tanya Yuna sambil melihat ke arah jembatan putih dengan lampu di kedua sisi jembatan.
“Tentu saja!” jawab Ela.
...\~ Star Dust \~...
Setelah menghabiskan makanannya, Yuna kembali ke dapur dan mencuci piring kotor yang ada dalam wastafel tanpa sepengetahuan Theodor. Jika pria itu tau sudah pasti dia akan melarang Yuna, Yuna juga tidak enak jika hanya menumpang tinggal tanpa melakukan apapun. Terlebih keluarga ini sangat baik pada Yuna, tadi ia juga tidak membantu mereka memasak. Jadi rasanya sangat keterlaluan jika Yuna hanya diam saja tanpa membantu apapun.
“Yuna…” refleks Yuna menghentikan pergerakannya yang sedang memberi sabun pada salah satu piring kotor. Yuna menoleh ke sumber suara dengan napas beratnya.
“Theo—aku ingin membantu sedikit saja.” Theo tidak menjawab ia berjalan ke arah wastafel menyimpan piring makannya ke dalam, kemudia mengambil spons yang Yuna genggam.
“Theo—”
“Diam!” jawabnya dingin.
Yuna berdecak sebal wajahnya cemberut sambil mendudukan diri di atas kursi meja makan setelah mencuci bersih tangannya. “Aku membencimu!” Theo tidak menggubris, pria itu hanya melirik Yuna sekilas dan melanjutkan lagi aktivitasnya.
Netra coklat Yuna menangkap pemandangan dari balik jendela Elena dan Juana masih menikmati makanan mereka di teras. saat itu lah ia teringat akan sesuatu, lalu ia bangkit dari peraduan untuk menemui mereka.
“Nenek, aku ingin pergi ke sana tidak apa-apakan?” tanya Yuna ketika berhasil melewati pintu keluar, sambil melihat ke arah jembatan yang mencuri perhatiannya.
“Tentu saja.” Jawab Juana ramah.
“Ayo aku akan mengantarmu!” Sambar Elena sambil menuruni tangga dan merentangkan satu tangannya pada Yuna.
Yuna tersenyum menanggapi kesigapan bibi Theodor itu. Lalu ia menerima uluran tangan Elena dengan mantap.
Mereka berdua berjalan mendekati tempat tujuan. Sesampainya di sana Yuna mulai menikmati alam di sekitar dari atas jembatan putih yang terbuah dari kayu, ia lihat kebawah—air jernih dengan bebatuan menghiasi dasar sungainya. Ketika matanya menelisik ke arah lain, ia menemukan ikan-ikan kecil berenang dengan tenang.
Airnya terlihat dangkal, Yuna rasa jika ia turun ke bawah ia bisa menangkap ikan-ikan itu dengan kedua tangannya. “Ela…” panggil Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari gerombolan ikan yang berenang dekat batu.
“Ya?” sahut Elena.
“Apakah kita bisa turun kebawah sungai?—”
“—aku ingin mencoba menangkap ikan-ikan itu.”
“Ikan?” Elena mengernyit, setahu Elena tidak banyak ikan di sungai ini, ia lihat kemana arah pandang mata Yuna. Lalu ia menemukan ikan-ikan yang berenang dekat batu. Benar saja ada banyak ikan di sana.
Melihat itu, Elena mencoba mencari akses untuk bisa turun ke bawah, lalu ia menemukan jalan yang bisa mereka laluli—ada di sisi kanan jembatan.
Elena bergerak dari tempatnya mencoba melihat ke sana. Setelah dirasa aman untuk Yuna lalui wanita itu memanggil Yuna untuk mengikutinya dan membantu wanita itu turun ke bawah.
Segar yang Yuna rasakan ketika kaki telanjangnya menapaki bebatuan—terendam oleh air dingin dari sungai yang mengalir. Ia sempat tersenyum sendiri merasakan sensasi menggelitik dari batu-batu kecil yang ia injak, dress dengan motip bunga berwarna pinknya ia angkat sedikit agar tidak basah dan mengganggu pergerakannya.
“Yuna… kau diam di sana, aku akan membantumu menangkap mereka!” Titah Elena sambil mendekat perlahan pada ikan-ikan yang berenang di dekat batu.
Meskipun airnya dangkal namun ikan-ikan itu bergerak lincah sehingga Elena kesulitan untuk menangkapnya. Ia berulang kali berdecak karena tidak mendapatkan satu ikan pun padahal ia hampir berhasil. Hal itu membuat Yuna cekikikan melihat bibinya yang kesal namun terlihat lucu.
Yuna melangkah perlahan ke tepi sebrang sungai tempat bibinya berada. Ia selipkan sisi rambut kanannya kebelakang telinga agar tidak mengganggu pandangannya untuk melangkah dan mencari ikan.
Ketika tubuhnya mulai mendekati Elena, kakinya menginjak sebuh batu yang licin hal itu membuah ia kehilangan keseimbangannya dan—seseorang berhasil menangkap Yuna dari belakang, di tengah keterkejutannya itu, Yuna melihat ke sisi kanan perutnya, netranya manangkap tangan besar hinggap di balik pinggangnya—menopang tubuh Yuna agar tidak terjatuh.
“Hati-hati…” Suara pelan itu… membuat netranya naik ke bagian kiri tubuhnya, hingga wajah rupawan Theodor memenuhi indra penglihatan Yuna. Ia terpaku untuk beberapa saat, wajah Theo seakan bersinar dengan aura dominannya, anak-anak rambut pria itu sedikit tertiup angin menambahkan kesan maskulin dan acak-acakan secara bersamaan.
“Aku dapat satu Yun-“
“Theo…?! Sejak kapan kau di sini?” Lanjut Elena terheran mendapati keponakannya sudah berada di antara mereka tanpa ia sadari. Suara teriakan Elena juga yang menyadarkan Yuna dari lamunannya, ia segera menegakan diri dari posisinya yang bersandar pada dada Theo.
“Ela seharusnya kau memberi tahuku jika akan mengajak Yuna ke sungai.”
“Aku yang meminta Ela untuk membantuku turun ke sungai!” sanggah Yuna cepat. Tidak ingin Theo menyalahkan bibinya karena ulah Yuna sendiri.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Elena, menangkap wajah tegas keponakannya.
“Tidak ada!” Sambar Yuna cepat, ketika mendapati Theo sudah ancang-acang untuk meluapkan emosinya. “Kau dapat ikannya ela?” tanyanya sumbringah mengalihkan perhatian.
“Iya aku dapat satu, tapi kita tidak membawa wadah untuknya.” Ucap Elena sambil melirik sekeliling apakah ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyimpan ikan dalam tanggkupan kedua tangannya. “Kau tunggu di sini aku akan mengambil wadah untuk ikan ini di rumah.
“Iya…” Jawab Yuna tersenyum. Lalu Elena naik meninggalkan Yuna dan Theo berdua.
Yuna tidak menghiraukan keberadaan Theo ia mulai melangkah lagi untuk menangkap ikan yang masih berenang di sekitar batu-batu yang berukuran tidak terlalu besar.
“Apa yang kau lalukan?” tanya Theo.
“Mencari ikan.” Jawab Yuna lugas. Dapat Yuna dengar pria itu berdecak samar kemudian bergerak ke arahnya.
“Biar aku yang menangkapnya, kau tunggu di sini!.” Titah Theo sambil menggandeng Yuna menuju salah satu batu berukuran besar dengan permukaan kering agar Yuna bisa duduk di atasnya.
Setelah memastikan Yuna diam di tempatnya, Theo berbalik, mulai mencari ikan dengan matanya, Pundak pria itu terlihat lebar dengan kaos hitam yang digulung sepergelangan. Percayalah saat ini Yuna sedang terpesona dengan ketampanan pria itu, tubuh jangkung Theo sangat menggoda dengan setelah celana jeansnya. Namun tetap saja rasa kesal Yuna lebih besar.
“Apakah yang dikatakan Ela itu benar?” Kelereng coklat Yuna menerawang ke depan, sambil memperhatika bahu lebar Theo yang mulai turun untuk menangkap ikan.
“Yang mana?” jawab Theo sekenanya. Sambil terus mencoba menangkap ikan yang berenang gesit.
“Kau sering menceritakan tentang aku dan menanyakan tips menjagaku.” Jawaban Yuna membuat pergerakan Theo terhenti sejenak. Theo bergumam sebagai jawaban “iya”
“Kenapa?” Tanya Yuna cepat. Dan itu lagi-lagi berhasil membuat Theo terdiam.
Hening untuk beberapa lama hingga membuat wanita di belakangnya menunggu.
“Aku—hanya ingin menjaga anaku agar tetap sehat sampai dia lahir.”
Manik Yuna bergetar mendengar jawaban dari pria di depannya. Jadi… itu sebabnya. Yuna tertawa miris di dalam hati Theo hanya menggap Yuna sebagai wadah kandungan untuk anaknya. sudut bibirnya tersinggung ke atas tanpa ia sadari. Ia tertunduk untuk menyadarkan diri akan posisinya.
Wajah Yuna bangkit kembali ketika mendengar suara air. Netra coklatnya bergerak mengikuti pergerakan Theo yang berbalik dan mulai berjalan ke arahnya dengan ke dua tangan menangkup air.
“Berikan tanganmu!” perintahnya lembut. Yuna yang mengertipun langsung mengangkat kedua tangannya. Pria itu mulai memindahkan seekor ikan kecil dengan warna yang sangat cantik ke dalam telapak tangan Yuna.
“Kau tau Yuna kenapa aku menangkap ikan ini, dari banyaknya ikan di antara bebatuan itu?” Tanya Theo menatap ikan dalam tangan Yuna. Yuna mengernyit tidak mengerti.
“Karena dia yang paling indah di antara yang lain.” Kalimat jawaban yang dilontarkan Theo membuat kerutan di dahinya semakin dalam.
“Nenek benar, kau… mirip dengan ibuku, dia baik dan cantik.”
“Aku tidak paham apa maksudmu.”
“Tidak papa jika kau tidak mengerti, tapi… ada satu hal yang pasti.”
“Apa yang ada di sini—” Theo menunjuk dahi Yuna dengan tangannya. “—semuanya tidak benar—Yuna. Kau… lebih dari itu, jangan bebankan pikiranmu dengan hal yang tidak seharusnya kau pikirkan.”
Yuna mencerna setiap kata yang Theo ucapkan dengan netra yang senantiasa bertaut dengan manik kelam Theo. Apa itu maksudnya Yuna lebih berharaga dari yang ia pikirkan selama ini?
Apa maksudnya? ia semakin tidak mengerti dengan sikap Theo padanya. Kemelut dalam pikiran Yuna kian menjadi. Namun kedatangan Elena membuyarkan mereka berdua.
Wanita itu membawa sebuah wadah kaca bening hingga Yuna dapat melihat jelas ikan yang di tangkap Elena berenang bebas di dalamnya.
“Kalian mendapatkannya lagi?” tanya Elena melihat ikan dengan warna yang cantik di atas telapak tangan Yuna.
“Iya, Theo yang menangkapnya.” Yuna tersenyum menyambut kedatangan bibinya melupakan perkataan Theo untuk sementara waktu.
“Ayo masukan ke dalam sini!” Elena turun sambil menyodorkan wadah kaca yang dibawanya. Yuna pun melakukan perintah Elena. Ikan itu bergerak bersama seakan menyambut satu sama lain ketika dimasukan ke dalam wadah.
“Huh… aku baru tau di sini banyak ikan,” lanjutnya sambil berkaca pinggang dengan salah satu tangannya.
“Dari dulu juga banyak, kau saja yang tidak memperhatikan.” Sambar Theo.
Elena menunjukan deretan gigi putihnya, benar apa yang dikatakan Theo, ia tidak pernah memperhatikan kebawah sungai. Bahkan ini baru pertama kali ia turun, ia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah kecuali Juana yang memintanya untuk mengantarnya ke kebun di balik bukit.
“Ayo kita pulang sekarang, sudah sore.” Lanjut Theo melihat semburan jingga yang mulai mendominasi langit. Ia gandeng tangan Yuna untuk dibawanya pulang. Sementara Elena sudah lebih dulu mengambil langkah di depan mereka.