Demi memperbaiki kehidupan keluarga pak Taslim mengikuti program Transmigrasi. Tapi kenyataan tak seindah harapan. Syarifah yang berumur 10 tahun terpaksa harus berhenti sekolah dan bekerja serabutan demi membantu perekonomian keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mz Pur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Anak Yang Mulai Belajar Tentang Arti Kehidupan
Palembang dengan ikon Jembatan Ampera tak pernah benar-benar sepi hiruk pikuk dari berbagai macam jenis kendaraan yang berlalu lalang dan dari kesibukan warganya.
Di pagi hari, Hasraf berangkat menyusuri jalanan menuju ke sekolah dengan tas punggung yang sedikit kebesaran, di apit dua tangan yang kini terasa aman yaitu tangan ibunya dan tangan Firman. Di gerbang sekolah, Firman selalu lebih dulu melangkah, menoleh, lalu mengangkat alisnya seolah berkata ; "Ayo..."
Hasraf belajar dengan cepat. Bukan cuma membaca dan berhitung, tetapi juga membaca wajah, siapa yang ramah, siapa yang menilai, siapa yang diam-diam mencibir. Kadang, ia teringat hari pertama di ejek. Tapi ia juga ingat satu kalimat yang menyelamatkannya.
" Dia saudaraku."
Kalimat itu menjadi benteng bagi dirinya.
Suatu siang, saat jam istirahat, Hasraf duduk di bawah pohon Ketapang.
Firman menyodorkan sepotong roti.
" Ambil saja," katanya santai.
" Kita bisa bagi dua."
Hasraf tersenyum, " Ayahmu baik sekali,"
Firman mengangkat bahu.
"Ibuku juga, kalau kamu lapar, tinggal bilang saja,"
Kalimat sederhana, tapi bagi Hasraf yang dulu sering menelan rindu itu adalah bentuk kedamaian yang nyata.
Di kelas, Hasraf sering menjadi yang terakhir mengangkat tangan. Bukan karena tak tahu pertanyaan yang di berikan guru, melainkan karena takut memberikan jawaban yang salah. Bu Dewi yang kebetulan mengajar di sekolah SMA tapi sering menjemput Firman, suatu sore duduk di sampingnya.
" Kamu sebenarnya tahu jawabannya," kata Bu Dewi.
" tapi kenapa kamu ragu?"
Hasraf menunduk. " Aku takut jika jawabanku salah, aku akan di tertawakan banyak orang."
Bu Dewi tersenyum." Orang yang berani melakukan kesalahan, berarti ia sedang belajar meraih kebenaran."
Sejak saat itu, Hasraf berani mengangkat tangannya pelan-pelan memberikan jawaban dari pertanyaan guru, dan perlahan suaranya tumbuh lebih berani.
Di rumah Pak Bambang, aturan di buat sederhana yaitu menjunjung tinggi kejujuran, kesopanan, saling menjaga, saling menghormati, serta rasa tanggung jawab. Pak Bambang sebagai kepala gudang perusahaan internasional, beliau tidak pernah meninggikan suaranya kepada siapapun. Semisal ketika Hasraf memecahkan gelas, ia hanya berkata " Ambillah sapu, dan mari Kita bereskan bersama." Dan ketika Hasraf pulang dengan mata sembab, Pak Bambang setia duduk di teras, menunggunya.
" Apa ada yang ingin kamu ceritakan," tanyanya.
Hasraf mengangguk, "Aku rindu ayah."
Pak Bambang tidak menasehati terlalu panjang lebar. Ia hanya berkata," Bila di hatimu ada kerinduan berarti kamu punya tempat pulang untuk mengobati kerinduan itu. Pegang kata-kata itu dengan baik-baik."
Bu Dewi mengajarkan Hasraf cara membaca lebih cepat, menulis lebih rapi, ia selalu menyelipkan pujian kecil yang konsisten.
" Kamu anak yang rajin."
" Kamu anak yang penuh tanggungjawab."
" Kamu berhati baik.,"
Pujian -pujian itu tidak serta merta meledak, tapi perlahan menetap menjadi tulang punggung kepercayaan diri.
Syarifah mengamati dari kejauhan. Setiap kali melihat Hasraf tertawa bersama Firman, dadanya terasa menghangat sekaligus perih.
" Terima kasih," katanya pada Pak Bambang di suatu malam.
Pak Bambang menggeleng.
" Kami hanya melanjutkan kebaikan yang sudah kamu mulai.,"
Syarifah bangun paling pagi. Menyiapkan sarapan,, menyetrika seragam Hasraf,
menidurkan Rachma kini sudah pandai menyebut nama kakaknya.
" Kak , Has." panggil Rachma sambil tertawa.
Hasraf mengangkat adiknya. "di sini kakak dek,"
Syarifah memandangi mereka, dua anak yang dulu hampir terpisah oleh jarak dan nasib, kini berada dalam satu ruang aman.
Malam-malam Syarifah masih di isi dengan menulis surat. Kepada Hanif selalu. Ia bercerita tentang Hasraf yang kini berani maju di depan kelas, tentang Rachma yang mulai berlari kecil, tentang Pak Bambang dan Bu Dewi yang seperti orang tua kandung.
Ia tak pernah menuntut balasan suratnya. Ia hanya menanam kabar seperti menanam doa.
Di Berlin, musim gugur datang dengan daun-daun yang lurus pelan ke bumi
Hanif masih terbaring. Napasnya teratur, wajahnya tenang seperti orang yang tidur panjang. Di kursi samping, Bella Marisa duduk dengan buku kecil di pangkuannya. Ia membacakan berita ringan, kadang bercerita masa kecil Hanif yang ia dengar dari Kartika.
" Dokter bilang respon sarafmu stabil," ucap Bella pelan
" Kamu keras kepala, jangan lama-lama tidurnya ya."
Hari-hari Bella Marisa semakin sering ia habiskan di rumah sakit demi Merawat dan menjaga Hanif. Ia mengatur jadwalnya, ia menunda perjalanan dinas, menolak undangan. Tangannya terampil menggantikan kain, merapikan selimut, mengusap dahi.
Kartika memperhatikan itu semua dengan perasaan campur aduk.
" Bella," katanya suatu sore.
" Kamu tidak wajib melakukan hal-hal seperti ini,"
Bella Marisa tersenyum kecil.
" Aku mau melakukan ini, karena aku benar-benar tulus pada Hanif,"
Kartika menunduk, " Aku... merasa tidak enak dengan semua ini."
Bella Marisa menatap Hanif.
" Kalau aku berhenti," katanya lirih.
'" Siapa yang akan mau menungguinya?"
Kartika terdiam. Ia tahu perhatian yang konsisten, kesabaran, dan pengorbanan yang diam-diam, pelan-pelan akan berubah menjadi ikatan yang sulit di putuskan.
Dokter mengangguk setiap kali Bella Marisa yang datang.
" Respon pasien lebih baik saat ada stimulus emosional." katanya.
Bella Marisa menggenggam tangan Hanif Suntoro.
"kalau begitu," bisiknya.
" Aku aku akan tinggal di sini menemanimu."
Di Palembang,Hasraf pulang membawa piala kecil lomba menulis dan membaca.
" Ibu !" serunya.
" Coba lihat apa yang ku bawa,"
Syarifah memeluknya," Kamu hebat, Nak."
Di Berlin, Bella Marisa menyuapkan sup hangat kepada Hanif, walaupun terkadang tidak bisa masuk melewati bibir, ia melakukannya dengan perlahan dan sabar.
Dua perempuan, dua cara mencintai, dari dua hal yang berbeda.
Yang satu membesarkan hidup yang terus berjalan.
Yang satunya lagi menjaga hidup yang tertahan.
Dan di antara keduanya, ada benang kusut yang terurai pada satu titik, di mana ada seorang laki-laki terbaring tak berdaya begitu lama. Belum tahu bahwa di belahan dunia lain yang jauh, ada seorang anak yang mulai berdiri tegak. Membawa namanya dalam doa-doa kecil sebelum bayangan malam membuatnya tertidur.