Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab³¹
Naura bahkan tidak sempat merapikan rambutnya ketika mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan Ardynata Group. Wajahnya pucat, tetapi matanya terus terpaku pada layar ponsel. Foto Laura dan Lionel yang dikirim penculik masih terbuka di sana. Kedua anaknya duduk berdampingan di sebuah sofa tua. Laura memeluk Lionel erat, sementara bocah itu menundukkan kepala dengan wajah ketakutan.
Naura menelan ludah dengan susah payah.
"Laura... Lionel..."
Tangannya gemetar sangat hebat. Selama ini ia telah melewati penghinaan, perceraian, kehilangan rumah tangganya. Namun semua itu tidak sebanding dengan ketakutan yang memenuhi dadanya saat ini. Anak-anaknya adalah kelemahan sekaligus alasan terbesar baginya untuk tetap berdiri.
Ponselnya kembali bergetar, panggilan masuk dari Alaska. Naura langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Naura, dengarkan aku. Jangan panik."
"Aku sedang berusaha..." Suara Naura bergetar. Ia memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang menggenang.
"Aku sudah meminta tim keamanan bergerak. Kakek Guntur juga menuju sekolah. Om Sakti dan Tante Miranda sedang dalam perjalanan."
"Aku ingin anak-anakku kembali, Alaska."
"Aku tahu, kita akan menemukan mereka."
"Aku tidak peduli siapa yang melakukan ini atau berapa banyak uang yang mereka minta. Aku hanya ingin Laura dan Lionel kembali dengan selamat."
"Naura, dengarkan aku. Jangan biarkan kepanikan membuatmu bertindak gegabah. Laura dan Lionel masih hidup. Mereka sengaja mengirim foto itu untuk menunjukkan bahwa anak-anak berada di tangan mereka. Artinya, mereka membutuhkanmu tetap berpikir jernih." Nada suara Alaska berubah lebih tegas.
Naura menarik napas panjang. “Baik..."
"Jangan pergi sendirian, tunggu sampai kami tiba."
"Aku akan menunggu di sekolah."
Panggilan berakhir.
Naura menatap jalanan di depan dengan mata berkaca-kaca. Ia masih takut, tetapi kini pikirannya mulai kembali bekerja, Ia tidak boleh runtuh.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Naura langsung turun dan berlari masuk. Beberapa guru yang sudah mengetahui kejadian tersebut segera menghampirinya.
"Nyonya Naura..."
"Di mana anak-anak saya?"
"Kami masih memeriksa semuanya. Tim keamanan keluarga Anda sedang melihat rekaman CCTV."
"Antarkan saya."
Naura berjalan cepat menuju ruang keamanan. Beberapa monitor menampilkan rekaman dari berbagai sudut sekolah. Seorang petugas keamanan menghentikan salah satu rekaman.
"Ini rekamannya."
Naura mendekat ke arah layar, Laura dan Lionel terlihat keluar dari kelas bersama murid lainnya. Beberapa detik kemudian, seorang wanita berpakaian sederhana menghampiri mereka.
"Siapa dia?"
"Kami masih mencari identitasnya."
Wanita itu berjongkok di hadapan Laura dan Lionel, lalu menunjukkan sesuatu kepada mereka sebelum berbicara dengan salah seorang guru.
Kepala sekolah tampak gugup. "Dia mengaku sebagai kerabat keluarga. Dia membawa dokumen dan mengetahui nama lengkap kedua anak itu. Bahkan dia tahu bahwa Anda sedang berada di kantor."
"Dan kalian membiarkannya membawa anak-anak?" Naura mengepalkan tangan.
"Kami mengira dia memang mendapat izin dari keluarga."
Penculik itu mengetahui jadwal anak-anak, mengetahui siapa yang biasa menjemput, bahkan mengetahui keberadaan Naura. Semua itu menunjukkan bahwa penculikan tersebut sudah direncanakan.
Beberapa menit kemudian, Alaska tiba bersama Kakek Guntur, Sakti, Miranda, dan tim keamanan.
Begitu melihat Alaska, Naura langsung menghampirinya. "Alaska..."
Pria itu memegang kedua bahu wanita itu. "Kita akan menemukan mereka."
Kakek Guntur segera meminta rekaman diputar ulang sejak lima belas menit sebelum Laura dan Lionel keluar dari sekolah. Mereka memperhatikan kendaraan yang keluar masuk area sekolah. Sebuah mobil hitam terlihat berhenti di seberang jalan.
"Perbesar," perintah Alaska.
Gambar diperjelas.
"Nomor pelatnya terlihat."
Petugas keamanan mengangguk, tetapi ketika mereka membuka rekaman kamera di jalan berikutnya, mobil yang sama terlihat menggunakan pelat berbeda.
"Mobilnya sama." Kakek Guntur mengernyit.
"Pelatnya sudah diganti," ujar Alaska.
Sakti mengepalkan tangan. "Berarti mereka sengaja menghilangkan jejak."
"Kemungkinan besar mereka sudah menyiapkan beberapa kendaraan atau pelat palsu," jawab Alaska.
Naura berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. "Cepat temukan mereka!"
"Kami sedang melacaknya," jawab salah seorang anggota keamanan.
Dua puluh menit kemudian, tim berhasil menemukan titik terakhir kendaraan tersebut. Mobil itu masuk ke kawasan industri lama sebelum jejaknya kembali menghilang.
"Kita berangkat sekarang," kata Naura.
"Jangan!" Alaska langsung menahan lengan Naura.
"Mereka membawa anak-anakku!"
"Justru karena itu... kita tidak boleh bergerak sembarangan."
"Mereka mungkin sengaja meninggalkan jejak itu agar kita datang ke tempat yang sudah mereka siapkan. Kita belum tahu jumlah mereka atau apakah anak-anak masih berada di sana."
Kakek Guntur mengangguk setuju. "Alaska benar, kita harus memastikan lokasi terlebih dahulu."
Naura menundukkan kepala. Ia tidak menyukai keputusan itu, tetapi keselamatan Laura dan Lionel jauh lebih penting daripada keinginannya untuk bertindak cepat.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita ikuti jejak mereka tanpa menunjukkan bahwa kita sudah menemukan lokasi. Tim dibagi menjadi beberapa kelompok. Jangan ada yang mendekati tempat itu sebelum kita memastikan keberadaan anak-anak."
Naura mengangguk.
Tiba-tiba ponselnya berdering, nomor asing.
Semua orang langsung terdiam.
"Angkat," ujar Kakek Guntur.
"Halo?" Naura menerima panggilan.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik, lalu suara pria terdengar berat dan dingin.
"Kalau ingin anak-anakmu kembali, dengarkan baik-baik."
Jantung Naura berdegup semakin kencang. "Siapa kamu? Di mana anak-anakku?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa kami."
"Tunjukkan mereka."
Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk. Laura dan Lionel masih berada di ruangan yang sama. Laura terlihat menangis, sementara Lionel duduk di sampingnya dengan tubuh meringkuk.
Naura menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Alaska segera mendekat. "Tenanglah..."
"Seratus miliar!“ Panggilan kembali terdengar.
"Baik." Naura menjawab tanpa ragu.
"Jangan libatkan polisi! Jangan mencari lokasi kami! Dan jangan ikuti kendaraan yang kami gunakan! Kalau kalian melanggar, kalian tidak akan pernah melihat anak-anak itu lagi."
Naura memejamkan mata sejenak. "Kalian boleh meminta uang sebanyak apa pun, tapi dengarkan aku baik-baik. Kalau kalian berani menyakiti anak-anakku sedikit saja, aku akan mengejar kalian sampai ke manapun!"
"Jangan mengancam kami!"
"Aku tidak mengancam!“ Naura membuka matanya, tatapannya berubah tajam. "Aku sedang memberitahumu apa yang akan terjadi jika kau berani menyentuh mereka!"
Panggilan terputus, ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian, salah seorang anggota keamanan menerima laporan.
"Pak Alaska, kami menemukan sesuatu."
"Apa?"
Ia menyerahkan sebuah foto. Kamera keamanan jalan ternyata menangkap seseorang yang turun dari mobil penculik dan berbicara dengan mereka. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tetapi pakaian dan bentuk tubuhnya cukup dikenali.
Alaska menatap foto itu beberapa saat sebelum ekspresinya berubah.
"Naura..."
Naura mengambil foto tersebut, wajahnya langsung membeku. Ia mengenal orang itu. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, ponselnya kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk.
>[Jangan mencoba menjadi pahlawan. Anak-anakmu akan mati jika kalian terus mencari.]
Naura menggenggam ponselnya erat.
...*****...
Di tempat lain, Davina berdiri di sebuah rumah kosong dengan wajah tegang. Laura dan Lionel masih duduk di sofa tua beberapa meter darinya. Keduanya tampak ketakutan, tetapi Davina sama sekali tidak menunjukkan rasa iba.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari salah satu anak buahnya masuk ke layar.
> [Semua sudah sesuai rencana, kami menunggu perintah berikutnya.]
Davina membaca pesan itu sekilas, lalu menghapusnya. Tatapannya beralih kepada kedua anak Naura.
"Jangan membuat masalah! Kalau kalian menurut, nggak akan terjadi apa-apa." Ucapnya dingin.
"Aku mau Mama..." Laura memeluk adik laki-lakinya semakin erat.
Davina mendecakkan lidah. "Diam! Kalian akan bertemu ibu kalian, kalau dia mau mengikuti semua yang aku minta."
Ia kembali menatap layar ponselnya, semua langkah sudah ia atur sendiri. Davina ingin Naura panik, kehilangan kendali, dan melakukan kesalahan. Jika rencananya berjalan sempurna, bukan hanya uang yang akan ia dapatkan. Ia juga ingin menghancurkan Naura sampai tidak mampu bangkit lagi.
"Naura, kali ini lihat bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling kau sayangi." Sudut bibirnya perlahan terangkat.
🤭🤭
krn ibu ny Tania sendiri yg gx kasih tau klo dy lgi hamil ank ny sakti ,,