Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~31
Setelah menunggu hampir empat puluh lima menit, Abah akhirnya selesai mengajar. Beliau segera menemui kedua santrinya yang sudah duduk menunggu di ruang tengah.
Tanpa berbasa-basi, Abah mulai menjelaskan maksud pemanggilan mereka hari ini. "Zizan, Zia. Ada informasi terbaru terkait lomba kemarin," kata Abah sambil mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.
"Ada penambahan bab materi. Isinya ada di dalam surat ini. Silakan kalian baca dulu." Abah menyodorkan surat resmi tersebut ke atas meja.
Zizan mengulurkan tangan dan mengambil kertas itu lebih dulu. Ia membaca baris demi baris kalimat di sana dengan saksama. Setelah paham, ia menggeser kertas tersebut ke arah Zia yang duduk agak jauh di sebelahnya.
Zia kemudian membaca isi surat itu dengan teliti. Tidak ada satu pun pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Keduanya kompak mengangguk pelan, menandakan bahwa mereka paham sekaligus siap secara mental.
"Bagaimana, kalian paham maksudnya?" tanya Abah untuk memastikan.
"Insya Allah paham, Bah," jawab Zizan dan Zia serempak.
"Alhamdulillah kalau begitu, Abah senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan proses belajar kalian selama ini? Apakah ada kendala atau kesulitan?" tanya Abah lagi.
Zizan sedikit memajukan posisi duduknya, namun pandangannya tetap tertuju ke bawah menghormati gurunya. "Alhamdulillah tidak ada, Abah. Kami berdua sudah sering berdiskusi terkait bab-bab yang ditentukan di awal. Alhamdulillah, sejauh ini kami tidak terlalu bingung untuk menyelesaikan contoh-contoh soal atau permasalahan materi yang ada."
Jawaban mantap dari Zizan membuat hati Abah merasa sangat puas. Zizan dan Zia memang santri pilihan yang cerdas di bidang ini. Itulah alasan utama mengapa Abah menaruh kepercayaan besar pada mereka berdua.
"Alhamdulillah, Abah lega mendengarnya," ucap Abah sambil tersenyum hangat. Tapi ingat, tetap perbanyak belajar lagi. Cari referensi yang lebih luas dan jangan terpaku pada satu buku saja. Jadi, nanti kalau ada pertanyaan dari dewan juri yang tidak terduga, kalian sudah siap sedia dengan pemahaman kalian sendiri."
"Insya Allah, Bah," jawab Zia dan Zizan lirih."Satu lagi pesan Abah," lanjut beliau dengan nada suara yang lebih santai.
"Jangan terlalu memikirkan target menang atau kalah. Fokus saja pada proses perlombaannya nanti. Menang itu cuma bonus dari kerja keras kalian. Yang paling penting adalah bagaimana lewat acara ini kalian bisa menambah wawasan, pengalaman, dan tentu saja keberkahan ilmu." Petuah dari Abah seketika meruntuhkan ketegangan yang sempat menjalar di dada mereka. Zizan dan Zia akhirnya bisa tersenyum lega.
"Alhamdulillah, ya Allah," batin Zizan bersyukur karena beban di pundaknya terasa berkurang.
"Alhamdulillah, bismillah semoga kami tetap bisa memberikan yang terbaik untuk pondok ini," sambung Zia dalam hati, penuh dengan semangat baru.
Abah memperhatikan raut wajah kedua santrinya yang kini tampak lebih rileks. "Ya sudah, kalau begitu tetap semangat ya, Zizan, Zia. Kalian harus kompak, dan yang paling penting, tetap jaga batasan serta adab ya."
"Insya Allah, Abah," jawab mereka berdua kompak untuk kesekian kalinya.
"Bagus. Berhubung urusan surat ini sudah selesai, kalian boleh kembali ke asrama untuk melanjutkan tugas masing-masing," kata Abah menyudahi pertemuan siang itu.
"Baik, Abah. Kalau begitu kami pamit undur diri. Terima kasih banyak atas bimbingan dan nasihatnya, Bah," ujar Zizan mewakili.
Keduanya lalu menundukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda hormat dan takzim, sebelum akhirnya melangkah mundur dan keluar dari ruang tengah.
Begitu sampai di teras ndalem, langkah kaki mereka mulai memisahkan diri.
Zia tidak langsung kembali ke asrama putri lewat jalur utama. Ia berniat melewati jalan setapak di area belakang karena harus segera membantu pengurus lain di dapur pondok. "Zizan, aku duluan lewat belakang ya, mau langsung ke dapur," pamit Zia dengan suara pelan sembari memutar badannya.
Zizan menghentikan langkahnya sejenak. Ia tahu belakangan ini Zia sedang menghadapi beberapa masalah pribadi yang cukup menguras pikiran di pondok. Sebelum gadis itu melangkah lebih jauh, Zizan mengepalkan tangan kanannya di depan dada, lalu menatap Zia sebentar sambil mengangguk tegas. Isyarat tanpa kata itu adalah kode penyemangat khusus darinya, seolah ingin mengatakan bahwa Zia pasti bisa melewati semua masalahnya dengan baik.
Zia tersenyum tipis melihat kode dari temannya itu. Ia mengangguk balik sebagai tanda terima kasih, lalu bergegas berjalan cepat menuju area dapur lewat pintu belakang.
Sementara itu, Zizan berbalik arah dan berjalan santai menuju asrama putra.
Setelah melangkah keluar dari teras ndalem, Zizan tidak langsung kembali ke asrama putra. Tenggorokannya terasa kering setelah pertemuan tadi. Ia memutuskan untuk mampir sejenak ke koperasi pondok yang letaknya tepat di sebelah ndalem. Selain ingin membeli minuman dingin, Zizan juga teringat bahwa bolpoin miliknya sudah habis.
Suasana koperasi sore itu cukup lengang. Di balik meja kasir depan, tampak Rani, santriwati pengurus koperasi, sedang merapikan beberapa stoples jajanan. Zizan masuk, mengambil satu botol air mineral dari lemari pendingin, lalu meletakkannya di meja kasir. "Mbak Rani, sekalian mau beli bolpoin ya. Masih ada di dalam, kan?" tanya Zizan.
"Oh, masih ada, Kang. Langsung masuk saja ke ruang sebelah, tempatnya belum dipindah kok," jawab Rani sambil menghitung total belanjaan Zizan.
Zizan mengangguk dan melangkah menuju ruangan sebelah. Ruangan ini memang dikhususkan untuk alat tulis, buku tulis, dan jajaran kitab kedekatan santri..
Suasananya lebih tenang dan dipisahkan oleh sebuah pintu pembatas. Di sana, Zizan berdiri di depan rak alat tulis. Namun, pandangannya justru teralihkan oleh deretan kitab kuning yang terpajang rapi di etalase kaca sebelah rak. Ia melihat-lihat judul kitab tersebut dengan saksama, menimbang-nimbang mana yang kiranya bisa menjadi referensi tambahan untuk materi lombanya nanti.
Zizan menghabiskan waktu beberapa menit di sana, hanyut dalam pikirannya sendiri sambil sesekali membolak-balik kemasan bolpoin yang baru ia ambil.
Sementara itu, Zia yang tadinya berniat langsung ke dapur, terpaksa putar balik. Ia baru ingat kalau buku catatan harian miliknya sudah penuh, padahal ia harus segera mencatat poin-poin penting dari surat Abah tadi.
Tanpa membuang waktu, Zia menyusul ke koperasi. Karena sudah hafal letak tata ruang, Zia langsung masuk melalui pintu samping yang terhubung langsung ke ruang alat tulis dan kitab, tanpa perlu melewati area kasir depan tempat Rani berjaga.
Zizan yang merasa sudah cukup lama melihat-lihat, berniat untuk segera kembali ke kasir. Ia berjongkok sejenak untuk mengambil bolpoin yang sempat terjatuh dekat kakinya. Begitu ia bangun dan membalikkan badan untuk melangkah keluar, pintu ruangan terbuka.
Deg!
Zia sudah melangkah masuk dan posisi mereka tepat berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.
Langkah Zia mendadak terkunci. Kedua matanya membelalak kecil, menatap langsung ke arah Zizan yang juga tampak terkejut. Kemudian menundukkan kepalanya untuk menjaga pandangan yang tiba-tiba. Ruangan yang sempit itu mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang tiba-tiba berpacu tidak karuan.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca