Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Keharuman mawar peach di atas meja samping tempat tidur masih menyerbak lembut saat aku menyandarkan punggung di kepala ranjang. Setelah beberapa saat melepas lelah dan merapikan pakaian ke dalam lemari, ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan.
"Tita? Kamu sudah bangun?" suara lembut Mama Felix terdengar dari luar.
Aku bergegas membuka pintu. Mama Felix berdiri di sana dengan senyuman manis, mengenakan pakaian santai rumah yang tetap terlihat elegan.
"Eh, Tante... iya, Tita sudah selesai istirahat," jawabku ramah.
"Ayo turun, Sayang. Makanan untuk makan malam sudah disiapkan. Semua orang sudah menunggu di meja makan," ajak Mama Felix sembari merangkul pundakku hangat.
Kami berjalan bersama menuju ruang makan utama di lantai bawah. Meja makan kayu jati berukuran besar sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan rumahan yang menggugah selera. Papa Felix, Kak Olan, Valerie, dan Ko Felix sudah duduk rapi di sana.
"Ayo duduk, Tita," panggil Papa Felix ramah, menunjuk kursi di sebelah Valerie yang berhadapan langsung dengan Ko Felix.
Makan malam berlangsung dengan suasana yang begitu akrab dan penuh kehangatan. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Papa dan Mama Felix berulang kali menyuruhku menambah lauk, sementara Valerie tak henti-hentinya menceritakan detail acara pernikahan yang akan digelar lusa.
"Oh iya, Tita," sela Valerie di tengah-tengah makan malam. "Besok pagi kita berdua ikut Tante ke salon dan tempat fitting terakhir ya. Setelah itu kita jalan-jalan santai sebentar."
"Boleh, Val. Aku ikut aja mana yang terbaik," jawabku tersenyum.
Di seberang meja, Ko Felix lebih banyak diam mendengarkan, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arahku. Perhatian kecilnya tetap terlihat saat ia menggeser mangkuk sup hangat ke dekat piringku tanpa banyak bersuara.
Selesai makan malam dan mengobrol santai di ruang keluarga, satu per satu anggota keluarga mulai pamit menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena merasa udara malam Singapura cukup menyegarkan, aku melangkah keluar menuju area balkon lantai dua yang berada di luar kamar tamu.
Dari balkon, pemandangan taman belakang dan kolam renang yang tersiram cahaya lampu taman tampak sangat tenang dan indah. Suara gemericik air memberikan rasa damai yang luar biasa.
"Belum mengantuk, Tita?"
Suara berat yang khas itu mengejutkanku pelan. Aku menoleh dan mendapati Ko Felix berjalan mendekat. Pria itu sudah berganti pakaian kasual, mengenakan kaus polos dan celana kain santai.
"Belum, Ko," jawabku tersenyum tipis, kembali menatap taman di bawah. "Suasananya tenang banget di sini. Bedabeda jauh sama Jakarta yang riuh."
Ko Felix berdiri di sampingku, menyandarkan kedua lengannya di pagar balkon. Angin malam berembus pelan, menerbangkan sedikit rambutku dan membawa aroma wangi woody dari tubuh pria di sebelahku ini.
"Bagaimana perasaanmu setelah sampai di sini?" tanya Ko Felix pelan, menatap lurus ke depan. "Apakah kamu merasa nyaman?"
"Sangat nyaman, Ko. Tante, Om, Valerie... semuanya menyambut aku dengan hangat banget," jawabku tulus. Aku menoleh menatap profil wajahnya dari samping. "Terima kasih ya, Ko Felix. Buat semuanya. Tempat ini, kamar yang indah ini, dan perlakuan keluarga Ko Felix yang luar biasa."
Ko Felix memalingkan wajahnya, menatap tepat ke dalam mataku. Binar matanya yang pekat memancarkan kehangatan yang begitu dalam dan tulus.
"Kamu pantas mendapatkan semua kenyamanan ini, Tita. Bahkan lebih," ucap Ko Felix dengan suara bernada rendah namun penuh kepastian. "Jangan pernah merasa merepotkan. Melihatmu tersenyum dan tenang seperti sekarang... itu sudah lebih dari cukup buatku."
Dadaku berdesir hangat mendengar ucapannya. Kehadiran Ko Felix selalu memberiku rasa aman yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Ko Felix merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang elegan. Pria itu menyodorkannya perlahan kepadaku.
Aku menatap kotak itu dengan dahi berkerut bingung. "Ini... apa, Ko?"
"Buka saja," jawab Ko Felix tenang.
Dengan jemari yang sedikit ragu, aku membuka tutup kotak beludru tersebut. Di dalamnya, melingkar sebuah gelang rantai tipis dari emas putih dengan liontin berbentuk bunga melati kecil yang bertahtakan berlian mungil di tengahnya. Sangat anggun dan simpel.
"Ko Felix... ini indah banget," bisikku takjub, meraba permukaan berlian mungil itu. "Tapi kenapa..."
"Bunga melati itu simbol keteguhan dan kesucian," potong Ko Felix lembut. "Aku membelinya waktu ada urusan pekerjaan di Paris beberapa waktu lalu. Saat melihatnya, aku langsung ingat kamu. Anggap ini hadiah kecil untuk menyambut kehidupan barumu yang bersinar di sini."
Airmata haru perlahan menetes di pipiku. Bukan air mata kesedihan, melainkan rasa syukur karena akhirnya ada seorang pria yang menghargaiku seluar biasa ini.
"Boleh aku pasangkan?" tanya Ko Felix pelan.
Aku mengangguk pelan sembari mengulurkan pergelangan tangan kiriku.
Dengan jemarinya yang hangat dan telaten, Ko Felix melingkarkan gelang itu di pergelangan tanganku, mengaitkan penguncinya dengan sangat hati-hati. Sentuhan jemarinya di kulitku menyengat hangat, mengalirkan rasa damai yang makin sempurna ke dalam jiwaku.
"Terima kasih banyak, Ko Felix..." bisikku tulus, memandangi gelang melati yang kini melingkar cantik di tanganku.
Ko Felix tersenyum tipis, menatapku hangat. "Sama-sama, Tita. Sekarang beristirahatlah. Esok hari masih panjang untuk dipenuhi hal-hal membahagiakan."
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁