Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Pukul 20.00 malam.

Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya yang terlihat indah dari kejauhan. Setelah seharian berkutat dengan kuliah, dokumen perusahaan, dan berbagai masalah yang rasanya tidak ada habisnya, Evelyn akhirnya memutuskan kembali ke apartemennya.

Kalau dibandingkan mansion keluarganya yang berada cukup jauh dari kampus, apartemen ini jauh lebih praktis.

Setidaknya begitu alasannya. Dan tentu saja... Ia sama sekali tidak ingin mengakui bahwa dirinya sudah terlalu malas menempuh perjalanan jauh setiap hari.

"Eugh..." Evelyn mengusap wajahnya pelan. Capek. Bahkan otaknya rasanya sudah menolak diajak berpikir.

Begitu memasuki lobi apartemen yang masih cukup ramai, ia langsung menuju area lift. Beberapa penghuni lain sudah berdiri menunggu di sana.

Tak lama kemudian...

Ting!

6

170

Pintu lift terbuka. Orang-orang mulai masuk satu per satu. Evelyn ikut melangkah masuk. Namun tepat saat kakinya melewati ambang pintu

ВЕЕР! ВЕЕР! ВЕЕР!

Alarm lift berbunyi. Semua orang langsung saling menoleh.

"Hah?"

"Overload?"

"Perasaan nggak penuh deh."

Evelyn ikut mengerutkan kening. Ia melirik layar kecil di atas tombol lift.

Maximum Capacity: 10

Persons

Sementara yang berada di dalam lift... Sembilan orang.

Termasuk dirinya.

"Eh?"

Beberapa penghuni lain juga terlihat kebingungan.

"Harusnya masih muat satu lagi."

"Kenapa bunyi?"

"Rusak mungkin?"

Evelyn yang sudah terlalu lelah untuk berpikir panjang langsung mengangkat tangan. "Yaudah, saya aja yang keluar."

Semua orang tampak lega.

"Terima kasih."

"Iya, makasih ya kak."

Evelyn hanya mengangguk malas lalu keluar kembali. Dan anehnya... Begitu pintu tertutup.

Alarm langsung berhenti.

Lift kembali bergerak naik seolah tidak terjadi apa-apa.

"..."

Evelyn berkedip.

"Oke."

"Mungkin emang takdir gue nunggu lift dua kali."

Ia menghela napas panjang.

Namun tepat sebelum lift tadi benar-benar tertutup, matanya sempat menangkap sesuatu. Di sudut lift. Sebuah koper hitam. Berukuran sedang. Diletakkan begitu saja tanpa ada orang yang memegangnya.

"Hm?" Evelyn mengangkat sebelah alis.

Mungkin itu penyebabnya.

Kalau kopernya berat, bisa jadi sensor lift menganggapnya sebagai tambahan beban.

Masuk akal. Setidaknya lebih masuk akal daripada teori-teori aneh yang tiba-tiba muncul di kepalanya akhir-akhir ini.

Beberapa menit kemudian lift lain akhirnya tiba.

Ting!

Kali ini kosong. Benar-benar kosong. Evelyn masuk seorang diri. Pintu tertutup perlahan. Dan tepat saat lift mulai bergerak naik... Ia kembali melihat koper hitam itu. Masih berada di sudut yang sama.

Persis seperti sebelumnya.

"..."

"Lupa dibawa?" gumamnya.

Ia memperhatikan koper itu beberapa detik. Tidak ada nama.

Tidak ada label. Tidak ada tanda kepemilikan yang jelas.

Hanya sebuah koper hitam biasa. Evelyn lalu mengalihkan pandangan ke panel lift.

Matanya tanpa sadar menangkap layar kecil indikator kapasitas.

Passengers: 2

"..."

"Hah?" Ia menatap layar itu lagi.

Passengers: 2

Evelyn menoleh ke belakang. Kosong. Menoleh ke kanan. Kosong. Menoleh ke kiri.

6

170

Tetap kosong.

Yang ada di dalam lift hanya dirinya. Dan koper itu.

"..."

"Oh."

Mungkin sensor koper. Iya.

Pasti sensor koper. Evelyn mengangguk sendiri. Mencoba meyakinkan dirinya. Meski entah kenapa bulu kuduknya sedikit meremang.

Lift terus naik.

Lantai 10.

Lantai 13.

Lantai 16.

Lalu berhenti di lantai 18.

Ting!

Pintu terbuka. Seorang staf apartemen masuk sambil membawa tablet kerja. Evelyn langsung merasa lega melihat ada manusia lain di sana.

"Pak."

"Iya, Nona?"

"Itu ada koper tertinggal."

Staf tersebut menoleh. "Oh."

Benar saja. Ia baru menyadari keberadaan koper itu.

"Terima kasih informasinya, Nona. Mungkin penghuni lupa membawanya. Nanti saya amankan dulu."

Evelyn mengangguk. "Takutnya ada yang nyari."

"Tentu." Staf itu tersenyum ramah.

Lift kembali bergerak naik. Kali ini suasananya terasa jauh lebih normal. Setidaknya menurut Evelyn.

Ketika lift berhenti di lantai 25, staf tersebut turun sambil membawa koper hitam itu.

"Terima kasih ya, Nona."

"Sama-sama."

Pintu kembali tertutup. Lift bergerak lagi. Kini benar-benar hanya menyisakan Evelyn seorang diri. Aneh. Entah kenapa setelah koper itu keluar... Suasana lift terasa lebih ringan.

Lebih lega. Seolah ada sesuatu yang ikut pergi bersama benda tersebut. Evelyn langsung menggelengkan kepala.

"Lo kebanyakan baca novel misteri." gumamnya pada diri sendiri.

"Tidur."

"Yang gue butuhin sekarang cuma tidur."

Lift akhirnya berhenti di lantai 27.

Ting!

Pintu terbuka. Evelyn melangkah keluar. Koridor apartemen tampak tenang dan sepi seperti biasanya. Lampu- lampu hangat menyala lembut sepanjang lorong.

Dengan langkah lelah, ia berjalan menuju unit miliknya. Tak lama kemudian...

Beep.

Pintu apartemen terbuka.

Evelyn langsung masuk.

Menutup pintu. Menguncinya.

Lalu menjatuhkan tas ke sofa.

"Rumah..." gumamnya lega.

Namun saat ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, pikirannya kembali teringat pada layar lift tadi.

Passengers: 2

6

170

Padahal saat itu... Bukankah ia hanya sendirian? Evelyn terdiam sesaat. Lalu menggeleng keras.

"Nggak."

"Fix gue kecapekan."

Dan tanpa berpikir lebih jauh lagi, gadis itu memilih mengabaikan perasaan aneh yang sempat muncul.

Tanpa menyadari...

Di ruang keamanan apartemen lantai bawah.

Seorang petugas yang baru menerima laporan koper tertinggal sedang memeriksa rekaman CCTV lift.

Lalu perlahan... Kening pria

itu berkerut. Karena dalam

rekaman tersebut... Lift

memang hanya berisi satu

orang. Yaitu Evelyn.

Sedangkan... Koper hitam yang dilaporkan itu- Tidak terekam sama sekali.

\=\=\=\=\=\=\=

Evelyn baru saja merebahkan tubuhnya di sofa.

Hari ini benar-benar melelahkan. Kuliah, urusan perusahaan, rapat, dokumen, dan berbagai masalah yang seolah berlomba datang ke hidupnya membuat kepalanya terasa berat. Ia memejamkan mata perlahan, berniat beristirahat sejenak.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Evelyn membuka sebelah matanya.

"Siapa lagi malam-malam begini..." gumamnya pelan.

Dengan langkah malas, ia berjalan menuju pintu apartemen. Rambutnya masih sedikit berantakan dan wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang sudah kehabisan energi untuk menghadapi dunia.

Klik.

Pintu terbuka. Dan Evelyn langsung tertegun.

"Kael?"

Pria itu berdiri santai di depan pintu dengan kedua tangan memegang beberapa kantong makanan. Kael mengangkat salah satu kantong itu sedikit. "Aku membawa makanan."

Evelyn berkedip. Lalu menatap kantong makanan. Lalu menatap Kael. Lalu kembali menatap makanan. Matanya langsung berbinar. Seolah semua kelelahan hidupnya mendadak lenyap.

"Makanan?"

"Iya."

"Makanan?"

Kael menahan senyum.

"Iya."

"Makanan gratis?"

"Ya."

"Oke, masuk."

Keputusan tercepat yang pernah dibuat Evelyn hari itu.

Bahkan lebih cepat daripada saat ia memutuskan bekerja sama dengan Loren Holdings.

Kael masuk ke dalam apartemen sambil menggeleng pelan melihat perubahan ekspresi gadis itu yang begitu drastis. Beberapa menit kemudian...

Mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Berbagai kotak makanan memenuhi meja.

Evelyn makan dengan lahap tanpa sedikit pun menjaga citra.

Sedangkan Kael duduk di sampingnya dengan tenang sambil sesekali memperhatikan tingkah gadis itu.

"Enak banget..." gumam Evelyn.

"Bagus."

"Serius, ini enak."

"Hm."

"Lo harus bangga."

"Aku yang membelinya, bukan memasaknya."

"Itu detail kecil."

Kael hanya menggeleng pelan. Suasana terasa cukup nyaman. Hingga Evelyn tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong..."

"Hm?"

"Kenapa tumben datang ke sini?"

Kael terlihat berpikir sesaat.

"Tidak ada alasan khusus."

"Hah?"

"Hanya lewat."

Evelyn menatapnya curiga.

"Datang bawa makanan sebanyak ini cuma karena lewat?"

"Ya."

"Lo kira gue percaya?"

Kael hanya tersenyum tipis.

Tidak menjawab. Yang justru membuat Evelyn semakin curiga. Namun sebelum ia sempat menginterogasi lebih jauh, ponselnya yang berada di meja bergetar.

Nama Celine muncul di layar. Evelyn langsung mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

Suaranya terdengar agak aneh karena mulutnya masih penuh makanan. Di seberang sana, suara Celine langsung terdengar.

"EV!"

Evelyn refleks menjauhkan ponselnya sedikit. "Buset..."

"Lo nggak apa-apa kan?!" ucap Celine tampal khawatir m

Evelyn mengernyit. "Loh?"

"Jawab dulu!" Celine.

"Gue baik-baik aja."

"Serius?"

"Iya."

"Astaga..." Terdengar suara napas lega dari seberang.

Evelyn semakin bingung.

"Celine, ada apa sih?"

Beberapa detik hening. Lalu suara sahabatnya kembali terdengar. Kali ini lebih pelan.

Lebih serius.

"Εν..."

"Hm?"

"Lo masih di apartemen kan?"

"Iya."

"Lo nggak lihat berita?"

"Berita apa?"

"Nih gue baru lihat di grup kampus."

Jantung Evelyn entah kenapa langsung berdebar. "Cepetan ngomong."

"Di wilayah apartemen lo..."

Celine menelan ludah. "... baru ditemukan koper berisi potongan tubuh manusia."

Sunyi. Dunia seolah berhenti beberapa detik.v"Hah?"

Mata Evelyn membulat.

Potongan tubuh? Koper? Koper hitam? Lift? Koper yang tadi?

Otaknya langsung menghubungkan semuanya dalam satu garis lurus yang mengerikan.bWajahnya

berubah pucat dalam hitungan detik.

"Huekk-!"

Makanan yang tadi terasa lezat mendadak berubah menjadi racun. Ia langsung menutup mulut. Perutnya bergejolak hebat. Ponselnya terlepas dari tangan.

Brak.

Jatuh ke lantai. "Ev?!"

Suara Celine masih terdengar dari speaker.

"EVELYN?!"

Namun gadis itu sudah tidak mendengar apa-apa. Ia buru-buru berdiri lalu berlari menuju kamar mandi.

"Huekk!"

Brak!

Pintu kamar mandi tertutup. Meninggalkan ruang tamu yang mendadak sunyi.

Di lantai. Ponsel Evelyn masih menyala. Suara Celine terdengar panik.

"EV?!"

"JAWAB GUE!"

"EVELYN!"

Kael melirik ponsel itu sekilas, mengambilnya perlahan. Namun ia tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Dari balik sana terdengar suara air menyala.

Mungkin Evelyn sedang mencuci muka berkali-kali.

Atau mencoba

memuntahkan sisa makanan yang baru saja dimakannya. Kael bersandar santai di sofa.

Tatapannya tetap tertuju ke arah pintu kamar mandi.

Kemudian... Perlahan. Sudut bibir pria itu terangkat. Membentuk senyum tipis yang sulit ditebak artinya.vBukan senyum geli. Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum seseorang yang sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih dalam.

Sementara dari speaker ponsel, suara Celine masih terdengar.

"Kael?"

"Hah? Kael ada di sana?"

"Kael?!"

Namun pria itu tak menjawab lagi. Tatapannya masih tertuju pada pintu kamar mandi. Dan entah kenapa... Mata gelap itu terlihat jauh lebih tajam dibanding biasanya.

Seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat menarik baginya. Yaitu seorang gadis bernama Evelyn. Gadis yang tanpa sadar kini semakin sering muncul dalam pikirannya.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!