Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Perang Dingin masih berlanjut
Besoknya di kantor, suasana divisi Pemasaran berubah jadi ajang adu gengsi terselubung.
Areksa sama sekali nggak memindahkan Pak Rendy. Pria itu dibiarkan tetap jadi supervisor. Tapi, Areksa punya cara lain buat 'membalas' Zevanna. Dia mendadak rajin ikut rapat divisi Pemasaran, hal yang sebelumnya hampir nggak pernah dia lakukan.
Di dalam ruang rapat sore itu, Areksa duduk di ujung meja dengan gaya bos besar, sibuk mengkritik file presentasi.
"Data grafik penjualan ini aneh," kata Areksa dingin sambil melemparkan berkas tebal itu ke tengah meja, tepat di depan Rendy dan Zevanna. "Siapa yang bikin?"
Pak Rendy menelan ludah, mukanya udah pucat kayak kertas. "S-saya sama Zevanna, Pak."
Areksa menatap Zevanna lurus. "Zevanna. Kenapa ada selisih dua persen di laporan ini?"
Zevanna berdiri dengan tenang. Dia mengambil pointer, lalu menjelaskan presentasinya dengan gaya seformal mungkin. Nggak ada panik-paniknya sama sekali.
"Selisih dua persen itu adalah margin diskon promo yang minggu lalu disetujui Pak Areksa sendiri," jawab Zevanna tajam tapi sopan. "Semua datanya ada di lampiran paling belakang. Mungkin Bapak ketiduran atau terlewat waktu bacanya."
Karyawan lain di ruangan langsung saling lirik, menahan napas. Zevanna baru saja menyindir CEO mereka secara terang-terangan!
Areksa bersandar di kursinya, menyilangkan kaki. Matanya menyipit menatap Zevanna.
"Laporan yang bagus itu langsung bikin paham, nggak perlu banyak alasan," balasan Areksa nggak kalah pedas. "Revisi semuanya. Saya tunggu di meja saya jam delapan malam ini. Kalian berdua."
"Baik, Pak," sahut Zevanna cepat. "Akan saya selesaikan sendiri. Pak Rendy nggak usah lembur."
"Saya nggak minta kamu mengambil alih tugas supervisor kamu, Zevanna," potong Areksa cepat. "Kerjakan berdua. Bukankah kalian tim yang sangat kompak kalau lagi ngecek grafik?"
Sindiran Areksa jelas banget. Tapi Zevanna cuma tersenyum manis, senyum palsu tingkat dewa. "Tentu. Kami akan kerjakan secepatnya, Pak Areksa."
Pukul delapan malam lewat sedikit.
Lantai empat udah sepi. Pak Rendy udah disuruh pulang duluan sama Zevanna karena kasihan, sementara Zevanna memilih bertahan di kantor buat menyelesaikan cetakan dokumen.
Langkah kaki terdengar mendekat. Areksa berjalan menghampiri kubikel Zevanna dengan jas yang udah dilepas dan lengan kemeja digulung sampai siku.
Begitu Areksa berdiri di samping mejanya, Zevanna langsung refleks berdiri dan melangkah mundur sejauh satu meter.
Dengan santai, Zevanna mengambil penggaris plastik sepanjang 30 cm di atas meja, lalu meletakkannya di lantai tepat di batas antara dia dan Areksa.
"Jarak aman satu meter, Pak Areksa," kata Zevanna datar tanpa beban. "Sesuai aturan yang Bapak buat kemarin."
Areksa mengepalkan tangannya di dalam saku. Dia geram banget melihat betapa santai dan dinginnya Zevanna sekarang. Kepatuhan Zevanna malah terasa kayak ejekan yang bikin tensinya naik.
"Kamu mau main adu gengsi kayak gini sampai kapan, Zevanna?" suara Areksa merendah, menahan kesal.
"Siapa yang main-main?" balas Zevanna santai. Dia menyerahkan berkas revisi itu dengan menjulurkan tangan sepanjang mungkin, memastikan kulit mereka nggak bersentuhan sedikit pun. "Ini berkasnya. Kalau udah nggak ada revisi aneh-aneh lagi, saya mau pulang."
Areksa nggak mengambil berkas itu. Dia malah melangkah maju, tapi Zevanna otomatis mundur lagi satu langkah.
"Aku bisa tahan kamu di kantor ini semalaman kalau aku mau," bisik Areksa, mencoba memakai otoritas bosnya.
Zevanna malah terkekeh pelan. "Silakan, Pak Areksa. Potong gaji saya, suruh saya lembur sampai subuh, atau pecat saya sekalian. Bebas. Tapi Bapak nggak bakal bisa maksa saya buat peduli lagi sama Bapak."
Zevanna menaruh berkas itu di atas meja, mengambil tasnya, lalu berjalan melewati Areksa begitu saja tanpa lirikan sedikit pun.
Areksa berdiri sendirian di ruangan kantor yang makin sepi. Dia menyisir rambutnya kasar, baru sadar kalau kali ini, taktik sok jual mahal dan gengsi tingginya sama sekali nggak mempan buat bikin istrinya luluh.
"Kembali Zevanna! Kalau kamu tidak kembali, aku akan membeberkan ke semua karyawan, kamu istriku. Bagaimana Nana sayang?" Licik, tentu saja Areksa licik membuat Zevanna berhenti melangkah dengan kekesalan yang sangat sangat sangat kuat.
Setelah tiba di depannya, Areksa malah menarik kepala istrinya mencium dengan brutal hingga Zevanna hanya melotot mata. Kedua tangannya memukul-mukul dada bidang suaminya.
Areksa mengigit bibir bawah istrinya dengan lembut. "Jangan main-main denganku, Nana sayang. Kita pulang sekarang" Areksa mengusap bibir bawah istrinya dengan jempolnya dan mengecup bibir itu sekilas.
"Areksa!" teriak Zevanna kepada suaminya yang sudah berjalan keluar kantor.