Indonesia
NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelanggang Terakhir dan Garis Bintang

Memasuki bulan kedua di Kelas XII, ritme kehidupan di SMA Wijaya bergerak secepat tempo lagu yang dimainkan dalam tempo presto. Papan tulis di setiap kelas IPA kini tak pernah sepi dari deretan rumus kalkulus dan modul latihan soal persiapan seleksi masuk perguruan tinggi. Di saat yang sama, spanduk Kejuaraan Basket Antar-SMA Tingkat Provinsi—atau yang biasa dikenal sebagai Wijaya Basketball Championship—sudah membentang gagah di dinding luar GOR sekolah. Bagi Sean, ini adalah gelanggang terakhirnya sebelum melepas jersey bernomor punggung 8 yang telah menemaninya selama tiga tahun.

Di dalam GOR yang pengap oleh hawa panas dan aroma keringat, pantulan bola basket membentur lantai kayu berdecit nyaring.

"Sean, pass ke kiri!" teriak pelatih dari pinggir lapangan.

Dengan gerakan cepat yang sangat presisi, Sean melakukan crossover, mengecoh dua pemain bertahan, lalu melayangkan umpan lambung manis yang langsung diselesaikan dengan lay-up sempurna oleh rekan timnya. Peluit panjang ditiup, menandai berakhirnya sesi latihan sore itu.

Sean menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu melangkah ke tribun penonton tempat tas dan botol minumnya tergeletak.

Di salah satu sudut tribun, Callista duduk menunggunya seraya memangku laptop yang menampilkan draf latihan soal Fisika. Di sebelahnya, Kenzo—yang kini juga menjabat sebagai penanggung jawab teknis dari pihak OSIS untuk turnamen tersebut—sedang mencatat jadwal alokasi ruang ganti dan tim medis di papan klipnya.

"Gimana bentuk permainan tim sore ini, Nzo?" tanya Sean seraya meneguk air mineralnya hingga tandas.

Kenzo mendongak dari papan klipnya, menyunggingkan senyum tipis yang apresiatif. "Rotasi pertahanan lo makin tajam, Sean. Kalau grafik permainannya tetap konsisten kayak gini, laga pembuka besok Sabtu kontra SMA Garuda bisa kita amankan."

Sean terkekeh pelan, duduk di anak tangga tribun di depan Callista. "Harus menang lah, Nzo. Ini panggung terakhir gue di Wijaya sebelum pensiun total buat berhadapan sama buku-buku tes universitas."

Callista menurunkan layar laptopnya, menatap Sean dengan sorot mata berbinar hangat. "Lo pasti bisa, Sean. Gue sama Kenzo udah siapin tempat paling strategis di tribun depan buat dukung lo."

Hari Sabtu yang dinantikan pun tiba. GOR SMA Wijaya dipadati oleh ratusan suporter berseragam putih-abu-abu. Gemuruh tabuhan drum dan yel-yel kebanggaan sekolah membahana, memenuhi setiap sudut ruangan beratap tinggi tersebut. Suasana pertandingan semifinal antara SMA Wijaya dan SMA Garuda berjalan sangat sengit.

Di kuarter keempat, papan skor menunjukkan angka imbang 68-68. Sisa waktu di shot clock hanya tersisa dua belas detik. Tekanan udara di dalam GOR serasa mendadak membeku.

Sean memegang bola di luar garis tiga poin. Keringat menetes dari ujung dagunya, namun matanya tetap fokus menatap pergerakan lawan. Di tribun utama, Callista berdiri menggenggam erat jemarinya, berdoa dalam hati untuk keselamatan dan keberhasilan sahabatnya. Kenzo di sampingnya menatap ke arah lapangan dengan ketegangan yang sama.

Lima detik... empat detik...

Sean melakukan dribble cepat ke arah kanan, berpura-pura melakukan dorongan ke area dalam, lalu dengan gerakan step-back yang begitu anggun, ia melompat melepas tembakan tiga poin di detik terakhir!

Bola melayang mulus membentuk parabola sempurna di udara... dan SWISH! Bola masuk bersih tanpa menyentuh lingkar besi tepat saat sirine tanda berakhirnya pertandingan berbunyi nyaring!

71 - 68! SMA Wijaya lolos ke babak Final!

Seketika, seluruh suporter SMA Wijaya melompat dan bersorak riuh rendah! Rekan-rekan tim Sean langsung merubung dan memeluknya di tengah lapangan. Di antara gemuruh sorak-sorai itu, Sean mendongak ke arah tribun utama. Pandangannya langsung mengunci sosok Callista yang sedang bertepuk tangan gembira dengan mata berbinar-binar haru. Sean menyunggingkan senyum leburnya, mengangkat satu tangannya ke udara—sebuah gestur kemenangan yang ia persembahkan khusus untuk Callista.

Malam harinya, setelah perayaan kemenangan kecil bersama tim basket dan pengurus OSIS usai, suasana sekolah perlahan kembali hening. Lampu-lampu taman membiaskan warna keemasan yang hangat di atas pelataran yang basah oleh embun malam.

Callista dan Sean berjalan lambat menuju gerbang depan sekolah. Sean berjalan santai sambil menyampirkan tas olahraganya di bahu, sementara jam tangan pemberian Callista melingkar gagah di pergelangan tangan kirinya.

"Permainan lo tadi keren banget, Sean," puji Callista tulus saat mereka berhenti di dekat bangku taman bawah pohon angsana. "Tembakan terakhir itu bener-bener bikin seisi GOR mendingin."

Sean tertawa renyah, menatap jemarinya sendiri. "Gue cuma fokus, Cal. Pas megang bola di detik-detik terakhir tadi, gue cuma inget pesan lo... buat selalu percaya sama proses dan doa yang udah kita panjatkan."

Callista tersenyum manis, menyandarkan badannya ke tiang kayu bangku taman. "Gue bangga banget sama lo, Sean."

Sean memalingkan wajahnya sedikit, menatap Callista dengan ketulusan dan kelembutan yang teramat mendalam.

"Cal," panggil Sean pelan.

"Ya?"

"Setahun lagi kita udah bukan anak SMA lagi," tutur Sean, intonasi suaranya memelan namun penuh kedewasaan. "Kenzo bakal berangkat mengejar impiannya di Australia, lo bakal terbang tinggi di universitas terbaik, dan gue juga bakal berjuang di jalur gue sendiri. Tapi malam ini, di bawah langit sekolah ini... gue cuma mau lo tahu satu hal."

Callista menatap mata cokelat jernih milik Sean, mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya.

"Ke mana pun garis masa depan bakal membawa kita," lanjut Sean mantap, "rasa bangga dan doa gue buat lo gak bakal pernah berubah. Di altar yang sama tempat kita bersimpuh tiap minggu, nama lo bakal selalu ada di daftar pertama doa gue."

Air mata haru menyelinap di sudut mata Callista. Di tengah pusaran ujian, cita-cita, dan persimpangan masa depan yang kian dekat, Callista sadar betapa beruntungnya ia memiliki jiwa sehebat Sean dalam hidupnya.

Callista merogoh sakunya, menggenggam kantong kain merah pemberian Mama Sean, lalu mengangguk pelan dengan senyuman paling bahagia dalam hidupnya.

"Makasih, Sean... terima kasih untuk selalu jadi bintang paling terang di jalur hidup gue."

Dari lantai dua ruang OSIS, Kenzo yang baru saja selesai merapikan berkas kompetisi berdiri di dekat jendela kaca. Ia menatap kebersamaan Callista dan Sean di bawah pendar lampu taman dengan senyuman yang sangat damai. Ia tahu, persahabatan dan cinta mereka bertiga telah melampaui sekadar ambisi remaja—mereka telah tumbuh menjadi manusia dewasa yang saling mengikhlaskan, saling mendoakan, dan siap menyambut masa depan dengan kepala tegak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!