Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Pengkhianatan Total
Saat asap ledakan masih melahap Dermaga Sektor Tiga, tragedi yang jauh lebih berdarah sedang berlangsung di Kediaman Utama Klan Pratama. Hujan deras yang mengguyur benteng megah itu tak mampu membasuh bau amis darah yang mulai merebak di setiap koridor.
Paman Felix telah melancarkan kudeta berdarahnya.
Di dalam ruang kerja lantai atas yang bernuansa kayu mahoni tua, Kakek Silas berdiri tegap menyandarkan tubuhnya pada meja kerja. Wajah sang Patriark tampak pucat, namun tatapan matanya masih memancarkan wibawa seorang penguasa klan yang tak tergoyahkan.
Di hadapannya, puluhan pengawal internal klan yang selama puluhan tahun ia beri makan dan naungan, kini berdiri mengarahkan moncong senjata api tepat ke dadanya.
"Kalian semua... yang kubesarkan dan kupelihara... memilih menjadi anjing suruhan Felix?" suara Kakek Silas mengalun berat, sarat akan kekecewaan mendalam.
Dari balik barisan pengawal yang berpaling, Paman Felix melangkah maju dengan senyuman kemenangan yang teramat licik. Jas mewahnya tampak rapi, tanpa ada satu pun noda darah—berbeda dengan kondisi mansion yang sudah luluh lantak.
"Jangan menyalahkan mereka, Kakak," ujar Paman Felix dengan nada santai seraya merapikan manset kemejanya. "Di dunia bisnis dan kekuasaan, kesetiaan hanya masalah harga. Dan Konsorsium Hitam memberikan tawaran yang jauh lebih tinggi daripada kekuasaanmu yang sudah lapuk ini."
"Pengkhianat tidak pernah bertahan lama, Felix," desis Silas dingin. "Kau menjual darah dagingmu sendiri demi menjadi boneka Konsorsium!"
"Atas nama perubahan, Kakak," potong Felix sinis. Ia memberi isyarat tangan. "Habisi dia."
DOR! DOR! DOR!
Sebelum peluru-peluru itu menyentuh tubuh Kakek Silas, dua sosok pria berbadan tegap menerobos masuk dari pintu samping dengan gerakan cepat. Mereka adalah Bima dan Arya—dua komandan pengawal pribadi kepercayaan Kakek Silas yang tersisa dari pembantaian malam itu.
BAM! BAM!
Bima dan Arya melepaskan tembakan balasan, menumbangkan tiga pengawal pengkhianat yang berdiri di garis depan, lalu memosisikan tubuh mereka sebagai perisai hidup di hadapan sang Patriark.
"Tuan Besar! Anda harus pergi sekarang melalui jalur rahasia!" teriak Bima dengan bahu kanan yang sudah bersimbah darah.
"Tidak ada yang bisa pergi dari ruangan ini!" jerit Paman Felix murka. "Bunuh mereka bertiga! Jangan biarkan satu orang pun selamat!"
Pertempuran jarak dekat yang sangat sengit meletus di dalam ruang kerja tersebut. Dentuman tembakan dan benturan fisik bergema memenuhi ruangan. Bima dan Arya bertarung bagaikan singa terluka, melumpuhkan satu per satu pengkhianat yang mencoba mendekati Kakek Silas.
JEB!
Satu tebasan sangkur dari pengawal Konsorsium merobek dada Bima, membuatnya tersungkur di atas karpet berdarah.
"Bima!" teriak Arya. Namun sebelum Arya sempat membalas, rentetan peluru dari senjata otomatis menembus punggungnya dari belakang.
DOR! DOR! DOR!
Dua pengawal paling setia klan Pratama itu gugur di tempat, membasahi lantai ruang kerja dengan darah mereka demi melindungi sang majikan hingga napas terakhir.
Kakek Silas membelalakkan mata, dadanya naik turun menahan gumpalan duka. Ia memegang tongkat naganya erat-erat, menatap Felix dengan binar kemurkaan murni.
"Langkahmu berakhir di sini, Silas," ujar Felix dingin. Ia mencabut senjata api bersilencer dari balik jasnya, mengarahkannya tepat ke dahi Silas. "Malam ini, kau, Clarissa, dan Dominic... semuanya tewas. Klan Pratama resmi menjadi milikku."
Silas justru menyunggingkan senyuman tipis—senyuman misterius yang membuat Felix sempat merasa ragu.
"Kau terlalu naif, Felix," bisik Kakek Silas dengan suara amat dalam. "Kau pikir kau bisa membunuh benih benalu... tanpa menyadari kau sedang membangunkan Ratu yang sesungguhnya."
PFT! PFT!
Dua tembakan bersilencer menembus dada Kakek Silas.
Tubuh Patriark tua itu bergetar kaku sebelum akhirnya ambruk terjerembap di atas meja kerjanya sendiri. Tongkat kayu jati berukir naga di tangannya terlepas, menggelinding dan berhenti tepat di depan sepatu Paman Felix.
Felix menatap jasad kakaknya tanpa ada sedikit pun rasa penyesalan. Ia merogoh ponselnya, menekan panggilan singkat menuju pimpinan Konsorsium Hitam.
"Mansion utama sudah bersih," ujar Felix dengan tawa kepuasan yang menggema di tengah reruntuhan. "Kakek tua ini sudah tewas. Segera umumkan kematian seluruh pilar klan Pratama besok pagi."
sangat menarik sekali