Indonesia
NovelToon NovelToon
Jerat Tiga Sisi

Jerat Tiga Sisi

Status: tamat
Genre:Action / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

✦ JERAT TIGA SISI ✦

"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"

Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.

Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.

Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.

Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.

Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Altar Senja dan Benih Badai Baru

Sore itu, langit di atas pinggiran kota Jakarta membentang luas dalam gradasi warna jingga keemasan yang menenangkan, seolah alam semesta ikut mengembuskan napas lega setelah badai besar berlalu.

Angin bertiup lembut, menggoyahkan dedaunan hijau dengan melodi sunyi di kawasan pemakaman elit yang tertata rapi.

Setelah semua badai korporat yang memekakkan telinga, teror psikologis dari kegilaan masa lalu, dan drama ruang pengadilan yang menguras seluruh energi batin itu selesai, di sinilah langkah kaki Azira akhirnya mendarat.

Langkah kakinya yang kini terasa ringan—dibimbing oleh genggaman tangan dan dekapan hangat Baskara—berhenti tepat di depan sebuah batu nisan marmer putih bersih yang dirawat dengan sangat baik.

Di atas batu marmer itu, terukir nama mendiang ibu kandungnya. Satu-satunya tempat yang menjadi jangkar emosional, tempat di mana Azira selalu ingin kembali setiap kali jiwanya membutuhkan pelukan yang tulus.

Azira perlahan berjongkok di atas rumput hijau yang basah oleh embun sore. Dengan gerakan jemari yang halus, ia meletakkan seikat bunga lili putih segar—favorit ibunya semasa hidup—tepat di atas gundukan tanah yang lembap.

Baskara ikut berjongkok di sisinya. Pria kaku yang biasanya sangat menjaga wibawa dan penampilannya itu sama sekali tidak ragu membiarkan lutut celana kain mahalnya kotor terkena tanah makam demi menemani wanita yang kini telah bergeser menjadi poros tunggal dari seluruh dunianya.

"Mamah... Azira datang," bisik Azira, suaranya bergetar halus. Air mata kebahagiaan yang tulus dan bening kini mengalir lambat di pipinya.

"Azira sudah aman sekarang, Mah. Jerat tiga sisi yang selama beberapa bab ini mengurung, menyiksa, dan mempertanyakan takdir hidup Azira sudah lepas dan hancur sepenuhnya tanpa sisa. Tante Shafira dan Sendy sudah menerima hukuman belasan tahun penjara akibat konspirasi mereka. Papah juga datang kemarin...

Papah berlutut di lantai memohon maaf atas segala kebutaannya. Dia berjanji akan mulai menata kembali hidupnya dengan benar, menjauh dari lingkaran keserakahan korporat yang sempat menghancurkan keluarga kita."

Azira menjeda kalimatnya sejenak. Ia menoleh ke samping, menatar wajah Baskara yang sedang memandangi nisan ibunya dengan sorot mata takzim.

"Dan Mama... ini Baskara. Pria yang awalnya Azira benci setengah mati karena selembar kertas kontrak pernikahan bisnis. Tapi dia... dia pria yang meruntuhkan seluruh keangkuhan dan egonya di tengah ganasnya Laut Utara hanya untuk membawa Azira pulang dengan selamat. Pria yang kini memegang seluruh sisa takdir hidup Azira."

Baskara membalas tatapan Azira. Sepasang mata elangnya yang biasa dingin menatap dunia kini melunak sepenuhnya, memancarkan kabut kehangatan yang murni. Di bawah saksi bisu langit sore yang kian meremang tenang, Baskara meraba saku jas abu-abunya.

Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil, lalu membukanya dengan perlahan dan takzim. Di dalamnya, sebuah cincin bermata berlian biru pekat berkilau dengan sangat mewah, elegan, namun tetap anggun.

Baskara meraih tangan kanan Azira, lalu dengan gerakan yang sangat lembut menyematkan cincin berlian biru tersebut di jari manis Azira—secara resmi menggantikan cincin pertunangan kontrak lama mereka yang kini sudah dihancurkan berkeping-keping.

"Di depan Mamahmu, aku bersumpah, Azira Gunawan," ucap Baskara, suara baritonnya yang berat dan berwibawa bergaung tegas di keheningan makam.

"Kau bukan lagi bagian dari transaksi saham korporat, utang masa lalu keluarga, atau kewajiban dokumen bisnis di atas meja kerjaku. Mulai detik ini, kau adalah pemilik tunggal dari sisa napas, detak jantung, dan seluruh takdir hidupku. Aku akan menjagamu menembus waktu, hingga garis akhir yang sesungguhnya."

Azira mengangguk bahagia di antara tangis kelegaannya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat Baskara di bawah siraman cahaya senja keemasan yang membungkus mereka dengan kedamaian.

...****************...

Enam Bulan Kemudian...

Kilatan lampu kamera dari ratusan media papan atas memenuhi pelataran hotel bintang lima paling megah di ibu kota.

Hari itu, pernikahan akbar antara Baskara Prayoga dan Azira Anandya Gunawan digelar dengan dekorasi yang menyerupai istana musim semi yang luar biasa megah, dipenuhi jalinan bunga lili putih dan mawar segar.

Pemandangan di meja keluarga utama menghadirkan haru yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Papah duduk di sana dengan senyum tulus yang telah lama hilang dari wajahnya, berbincang hangat dan akrab dengan kedua orang tua Baskara.

Keluarga besar Prayoga menyambut Papah dengan tangan terbuka lebar, melupakan seluruh masa lalu gesekan korporat mereka dan fokus sepenuhnya pada kebahagiaan anak-anak mereka. Restu murni dan kerukunan dua keluarga besar ini menjadi pondasi baru yang sangat kokoh bagi batin Azira.

Farhan tidak hadir di pesta megah itu. Namun, sebuah paket kecil berbungkus kain sutra tiba di ruang rias Azira pagi hari sebelum acara dimulai.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak perhiasan beludru abu-abu yang berisi sebuah kalung perak sederhana dengan liontin berbentuk kelopak bunga yang indah, lengkap dengan secarik surat pendek dengan tulisan tangan Farhan yang rapi dan familier:

“Aku melihat berita pernikahan kalian dari surga kecil di Papua. Tersenyumlah yang lebar, Ra. Kamu pantas bahagia dengan pria pilihan hatimu. Tugas sahabatmu kini sudah selesai dengan damai.”

Azira tersentak haru dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata kebahagiaan. Dengan jemari yang gemetar, ia mengenakan kalung kelopak bunga tersebut di lehernya sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk seluruh ketulusan sang sahabat yang telah mengalah demi cintanya.

Tepat setelah itu, pintu ruang rias terbuka, dan Azira melangkah tegap dengan gaun pengantin putihnya menuju altar pernikahan.

Di ujung sana, Baskara sudah menantinya dengan setelan jas hitam yang gagah, menatapnya dengan sepasang mata elang yang kini dipenuhi oleh binar kekaguman mutlak. Di depan pendeta dan ratusan saksi, mereka mengucapkan janji suci, mengunci seluruh takdir cinta mereka di garis akhir yang sesungguhnya.

...----------------...

[TEKA-TEKI YANG GANJIL: Jejak Sang Monster]

Namun, di balik riuh rendah tepuk tangan para tamu undangan dan kemegahan dekorasi istana musim semi yang indah itu, sebuah rahasia gelap yang ganjil tersimpan rapat di dalam saku jas pernikahan Baskara.

Hanya beberapa menit sebelum ia melangkah ke altar, Bagas—kepala tim intelijen Prayoga Group—sempat menemuinya di ruang transit VIP dengan wajah pucat pasi.

Bagas menyerahkan sebuah laporan forensik rahasia mengenai hilangnya Gavin Manzies dari Rumah Sakit Jiwa Grogol yang hingga kini masih menjadi misteri tak terpecahkan oleh pihak kepolisian.

Teka-teki pelarian Gavin terasa sangat ganjil dan tidak masuk akal secara logika. Hasil penyelidikan mendalam tim intelijen Prayoga menemukan bahwa seluruh sistem keamanan digital rumah sakit jiwa tidak diretas dari luar, melainkan mati total selama tiga menit akibat system glitch yang polanya persis dengan protokol militer tingkat tinggi.

Lebih ganjil lagi, beberapa helai rambut dan sampel darah Gavin yang tertinggal di sel isolasi telah diperiksa ulang di laboratorium privat Prayoga.

Hasilnya mengejutkan: rekam medis forensik menunjukkan bahwa kadar obat penenang di tubuh Gavin sebelum ia menghilang berada di dosis yang mematikan bagi manusia normal.

Gavin tidak mungkin bisa berdiri, apalagi berjalan keluar ke atap helipad dengan kekuatannya sendiri. Pria itu tampaknya tidak sedang "melarikan diri", melainkan sengaja diekstraksi dalam keadaan tidak sadar seperti sebuah aset biologis yang sangat berharga oleh organisasi internasional berjas hitam yang bergerak seperti hantu.

Baskara menatap pantulan dirinya di cermin besar aula hotel, membenarkan letak dasinya dengan rahang yang kembali mengeras sempurna.

Teka-teki ganjil ini mengirimkan alarm kewaspadaan baru yang sangat pekat ke dalam urat sarafnya. Seseorang di luar sana sengaja menyelamatkan kegilaan Gavin, menyembunyikan sang monster, dan sedang memprogram ulang delusi pria itu untuk dijadikan senjata pemusnah massal yang siap menghancurkan Prayoga Group di masa depan. Target mereka tidak pernah berubah: Azira Anandya Gunawan.

Baskara memejamkan matanya sejenak, mengunci rapat teka-teki berbahaya itu di sudut benaknya. Saat pintu altar dibuka dan sosok Azira berjalan anggun mendekatinya dengan senyum tercantik di dunia, Baskara menyembunyikan kewaspadaan mautnya dengan sebuah senyuman hangat yang menenangkan.

Badai baru yang jauh lebih besar berskala internasional mungkin sedang mengintai takdir mereka dari kegelapan masa depan. Namun, sambil menggenggam jemari Azira yang kini resmi menjadi istrinya.

Baskara bersumpah di dalam jiwanya: ia akan meratakan konspirasi finansial dunia mana pun, demi menjaga senyuman wanita yang telah menjadi akhir dari seluruh pencarian hidupnya.

Sebab bagi Baskara Prayoga, permainan catur yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

...****************...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TAMAT — BUKU 1

Author's Note:

Yay, akhirnya mereka berdua happy ending juga di buku pertama karya ku ini! Terima kasih banyak ya buat kalian yang sudah setia mengikuti perjalanan cinta mereka dari awal sampai bab ini.

Tapi tunggu dulu... kalian penasaran gak sama masalah baru yang muncul di akhir tadi? Rahasia dan ancaman, apakah itu ancaman dari rival bisnis atau bahkan bisnis bawah yang ada kaitannya dengan masalalu Prayoga, yang sebenarnya baru akan dikupas tuntas di buku kedua nanti.

Siap-siap buat ketegangan yang lebih seru ya! Sampai ketemu di buku selanjutnya!

Jangan lupa di follow ya biar gak ketinggalan sama cerita aku selanjutnya bye bye muachhh....😘👋

1
Deni Abdul Gani
novelnya lumyan menarik untuk seorang pemula. semangat💪
Deni Abdul Gani
novelnya lumyan menarik untuk seorang pemula. terus semangat ditunggu novel novel lainnya dengan gendre terbaru
Deni Abdul Gani
ceritanya sangat menarik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!