Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan hina istri saya!
Pagi ini, Daffa membawa Halimah kembali ke rumah utama untuk ikut sarapan bersama keluarganya. Ahmad yang meminta Daffa datang, untuk membicarakan tentang pelantikannya.
Suasana meja makan tak lagi sama. Beberapa hari lalu, Kakek menyambut Halimah dengan senyuman, namun pagi ini, senyum itu sudah tidak ada. Hanya ada gurat kebencian di wajah Amanda dan Wulan yang menatapnya.
Daffa tidak pernah melepaskan pandangannya dari Halimah. Ia selalu menepati janjinya untuk melindungi Halimah sekali pun harus melawan wanita yang telah melahirkannya. Dan sampai hari ini, janji itu masih Daffa tepati.
"Begini Daffa," Ahmad mulai membuka suara, "Terkait pelantikan kamu sebagai pewaris sah Surya Holding, baiknya dilaksanakan setelah peringatan seratus hari kepergian Kakek. Bagaimana menurutmu?"
Daffa meletakkan sendoknya pelan, menelan sisa makanan di mulut. Ia bersuara dengan suara yang sangat tenang, "Aku setuju dengan apapun yang Om anggap itu baik."
Ahmad tersenyum senang, "Baguslah karena kamu paham maksud, Om. Dan tentang kita yang tidak mengadakan tahlilan, itu juga karena wasiat Kakek mu. Papa tidak mau diadakan tahlilan di rumah ini selepas Papa meninggal," tutur Ahmad mengingat pembicaraannya beberapa tahun lalu dengan Papanya.
"Sebagai gantinya, Hanif sudah menggerakkan orang untuk mengirimkan bantuan sembako setiap hari sejak kemarin ke 13 panti asuhan di kota ini, itu akan berlangsung sampai seratus hari," lanjutnya sambil memperhatikan raut wajah Daffa yang masih tampak tenang.
"Hari ini, Om juga sudah memanggil beberapa pedagang makanan untuk buka stand di depan rumah ini. Makanan gratis untuk siapa saja yang mampir. Rencananya juga akan berlangsung selama seratus hari. Jadi, bagaimana pendapatmu, Daffa?"
"Aku setuju, Om," jawabnya singkat dan tak ada ekspresi keberatan sama sekali di wajahnya.
Ahmad tersenyum lega, "Terimakasih Daffa. Dan... Om mau minta maaf sama kamu, karena kemarin kami sudah berdiskusi dengan Hanif perihal pelantikan kamu tanpa kehadiran kamu. Bukan Om tidak ingin mengundangmu, hanya saja Om pikir kamu masih sangat bersedih kemarin." Ahmad tampak menyesal karena telah lancang berdiskusi tanpa Daffa.
Tangan Daffa meraih gelas di depannya, mereguk air putih itu hingga setengah gelas, "Tidak apa, Om. Lagi pula, apapun itu mengenai Kakek dan beberapa urusan lain, memang seharusnya Om yang memutuskan. Karena Om anak Kakek, sementara aku hanya cucu."
Seketika Ahmad terdiam, wajahnya berubah merah. Entah apa yang dirasakannya saat mendengar kalimat terakhir Daffa.
Sedangkan Amanda dan Wulan masih tetap tenang, menyuap makanan mereka seakan tidak terjadi apa-apa. Mereka bahkan terang-terangan mengabaikan kehadiran Daffa dan Halimah.
Setelah sarapan itu berakhir, Ahmad mengajak Halimah dan Daffa duduk di ruang tamu sambil berbincang ringan. Hanya obrolan ringan, menceritakan masa lalu saat Kakek masih ada.
"Sayang, aku ke atas bentar ya. Mau ambil sesuatu. Kamu tunggu di sini!" ucap Daffa lembut pada Halimah setelah obrolan ringan itu hampir berakhir.
Halimah mengangguk patuh, namun matanya mengikuti arah langkah kaki Daffa hingga menghilang di ujung tangga.
"Tidak usah takut, Halimah. Om tidak akan melakukan hal jahat kok sama kamu."
Halimah menoleh kearah sumber suara, wajahnya merah merasa tidak enak hati, "Maaf kalau saya menyinggung perasaan, Om. Sungguh saya hanya belum terbiasa tanpa Daffa, Om."
Kalimat itu membuat Ahmad terkekeh, "Ya, Om paham kok. Namanya juga pengantin baru."
Halimah menunduk malu mendengar kata pengantin baru. Rasanya entah mengapa terdengar begitu istimewa di telinganya.
"Oh iya, Om kebelakang dulu ya. Kamu duduk saja di sini, bentar lagi Daffa juga kembali," pamit Ahmad.
"Iya, Om."
Begitu Ahmad pergi, Wulan datang menghampiri Halimah. Dengan raut wajah sinis, Wulan duduk di sofa tempat suaminya duduk tadi.
"Kamu mantan istri Rangga, kan?" Wulan langsung menanyakan hal itu tanpa mengawali dengan basa-basi.
Baru saja Halimah akan membuka Mulut, Wulan sudah lebih dulu berbicara lagi. "Rangga, suami keponakanku, Santi. Kamu kenal mereka, Kan?"
Halimah mengangguk, "Iya, Tante."
"Saya curiga deh sama kamu Halimah. Jangan-jangan kamu menerima ajakan Daffa untuk menikah, karena kamu mau balas dendam ke Santi, kan?" tuduhnya tanpa dasar.
"Tapi, kamu harus tau Halimah. Daffa menikahi kamu hanya demi warisan. Lagi pula, wanita seperti kamu, jelas bukan tipe Daffa."
Wulan terus berceloteh merendahkan Halimah tanpa memberi kesempatan Halimah membela dirinya.
"Dengar baik-baik Halimah. Wanita miskin, janda dan mandul seperti kamu, tidak cocok bersanding dengan seorang Daffa Nugraha Surya. Santi yang cantik, berpendidikan dari keluarga terpandang saja tidak dilirik sama sekali oleh Daffa. Apa lagi kamu!" menatap Halimah dengan tatapan mencemooh.
"Sudahlah Wulan, percuma memperingatkan wanita mandul ini. Dia tidak tahu diri. Berharap Daffa mau menyentuhnya lalu memberinya uang. Hanya itu yang dia butuhkan," celetuk Amanda ikut menimpali pembicaraan itu.
Halimah hanya bisa menunduk, menggenggam erat jemarinya, menahan rasa perih di hati, setiap kali dua manusia itu mengucapkan kata mandul berulang kali.
Di atas sana, Daffa baru saja melangkah turun. Ia mempercepat langkahnya saat melihat Halimah dirundung oleh Wulan dan Amanda.
"Berhenti meremehkan istri saya!" teriak Daffa lantang dari tangga.
Dua perempuan itu sontak menoleh ke arah daffa.
Raut wajah Daffa merah padam, tangannya mengepal menggenggam erat map file di tangannya. Langkahnya cepat, menghampiri Halimah.
"Jangan pernah menghina istri saya lagi!" ucapnya dengan rahang mengeras.
Tangan Daffa meraih tangan Halimah lembut, lalu merangkul pinggangnya pelan. "Sayang, kita pulang. Maaf aku meninggalkan kamu terlalu lama," ucap Daffa dengan suara yang seketika berubah sangat lembut dan tenang, padahal beberapa detik lalu, ia sangat emosional.
"Sekali lagi, kalian menghina istri saya. Saya tidak akan segan-segan melawan kalian!" Daffa berkata dengan suara yang penuh peringatan.
Dua orang itu diam, terpaku. Wulan bergidik ngeri melihat raut wajah Daffa yang begitu mengintimidasi. Sementara Amanda semakin tersulut emosi.
Dalam situasi seperti ini, jika dulu Amanda akan langsung melawan Daffa, kali ini ia memilih tenang, karena Albert mengatakan rencana mereka sudah mulai berjalan.
Daffa membawa Halimah keluar dari rumah itu dengan emosi yang meluap. Jika saja bukan karena dua orang itu, wanita, Daffa mungkin sudah memberi pelajaran pada mereka.
"Halimah, maaf karena aku membawa kamu kembali ke rumah itu," ucapnya saat mobil mulai melaju.
"Tidak apa, Daffa. Lagi pula, mereka mungkin benar. Wanita seperti saya, sejak awal memang sudah tidak pantas berada di sini," Halimah menunduk, menatap tangannya yang memegangi ujung jilbabnya.
"Satu yang harus selalu kamu ingat, Halimah. Aku menikahi kamu bukan karena warisan sialan itu. Bukankah kita sudah sepakat bahwa pernikahan ini, akan kita jalani dengan tanpa paksaan dan saling menjaga juga menghargai satu sama lain."
"Terimakasih, Daffa."
Daffa bergegas melajukan mobil menuju apartemen, menurunkan Halimah di depan gedung itu, ia juga memastikan anak buah Gio ada di sana untuk mengawasi Halimah sampai Halimah kembali masuk ke apartemen.
Setelah itu, Daffa langsung menuju kantor. Ia tidak ingin terlambat untuk mewawancarai Tasya secara langsung. Ia ingin melihat langsung keadaan wanita itu.
Bersambung....