Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Terjebak, berdua?
"Flora... apa menurutmu aku bisa mengalahkan Emery?" tanya Airyn cemas saat mereka bersiap menaiki ranjang masing-masing.
Flora yang sudah memposisikan tubuhnya di balik selimut berusaha memproses pertanyaan itu dalam kantuk yang teramat berat. "Hmm... kau akan... babak belur..." gumamnya lirih, matanya terpejam sepenuhnya, lelap.
Airyn yang mendengarnya seketika merasa disambar petir. Apakah peluangku benar-benar nol di hadapan Emery?!
"Hei, Flora! Jawab yang benar! Aku tidak mau babak belur!" seru Airyn gemas seraya mengguncang-guncang bahu sahabatnya. Namun Flora bergeming, tak lagi merespon karena sudah terlelap pulas.
Frustrasi yang menggebu membuat kantuk Airyn lenyap total. Karena tak sanggup berdiam diri di kamar, gadis itu akhirnya mengenakan jaketnya dan berjingkat keluar menuju perpustakaan akademi. Ia sendiri tidak tahu pasti apa yang dicarinya—mungkin sekadar petunjuk, naskah kuno, atau jurus rahasia yang sanggup membantunya bertahan di arena duel nanti.
Suasana perpustakaan sangat sepi dan sunyi. Pendar lampu meja kekuningan membiaskan pendar hangat di beberapa sudut rak. Airyn menyusuri lorong divisi olahraga dan seni tempur, matanya menyapu deretan jilid tebal yang terpajang di rak tingkat.
"Sedang apa kau?"
"Aaa!" Airyn tersentak kaget hingga buku di genggamannya terlepas dari jemari.
Gadis itu buru-buru berbalik dan mendapati Teira sudah berdiri tegap di belakangnya, menyambar buku yang terjatuh ke lantai.
"Oh, 'Teknik Bela Diri Dasar dan Respons Fisik’..." gumam Teira membaca judul di sampul kulit tersebut.
Airyn dengan sigap merampas buku itu dari genggaman Teira. "Bukan urusanmu!"
"Kau tidak akan pernah bisa menang melawan Emery. Postur tubuhmu saja kecil dan kurus begitu," ejek Teira tajam, memandang Airyn dari atas ke bawah.
Ejekan itu seketika memicu kekesalan Airyn. "Kau sendiri pasti akan langsung ditumbangkan Snow nanti!" ketus Airyn menembakkan balasan. Beruntung atmosfer malam memaksa mereka menahan volume suara, jika tidak, mereka pasti sudah didepak keluar oleh pengawas perpustakaan.
Tak ingin menambah daftar kekesalannya, Airyn memutar badan dan melangkah pergi.
"Kau mau ke mana?" Teira justru mengekor rapat di belakangnya.
"Kembali ke kamar!" pangkas Airyn mempercepat langkah kakinya. Ia bahkan mengambil jalur berbelok-belok di antara lorong rak raksasa demi mengocek Teira.
Namun anehnya, setiap kali Airyn berbelok di sudut lorong, sosok pemuda bersurai ungu plum itu selalu tahu-tahu sudah berdiri tenang di hadapannya!
"Agh! Bagaimana bisa kau bergerak secepat itu?!" celetuk Airyn frustrasi, menghentikan langkahnya.
"Oh. Kurasa ini adalah bentuk manipulasi Aether khusus yang kukuasai," terang Teira tanpa bermaksud menyembunyikannya.
Airyn membelalakkan mata. Jadi Teira sudah mendeteksi dan mengaktifkan cabang manipulasi Aether-nya sendiri—sebuah pergerakan secepat kilat!
"Ya... selamat kalau begitu. Kemampuan yang sangat hebat," puji Airyn agak ketus seraya mencoba melewati bahu Teira untuk keluar.
"Aku justru jauh lebih penasaran dengan teknik telepati yang ditunjukkan Profesor Seraphina tadi sore," ujar Teira melangkah sejajar, masih membuntuti Airyn.
Airyn menghela napas pasrah. "Kenapa kau tidak menanyakannya langsung pada Profesor?"
"Kau kan juga bisa melakukannya. Ajarkan padaku," tuntut Teira tanpa rasa segan.
Airyn yang sudah tiba di depan sepasang pintu ganda perpustakaan menyambar gagang kayunya. "Pelajari saja sendiri!" cetusnya seraya menarik pintu kuat-kuat.
Namun... pintu itu bergeming kaku.
Airyn mengernyit, menariknya sekali lagi menggunakan dua tangan. Pintu utama perpustakaan telah dikunci rapat dari luar! Airyn terkunci di dalam—dan yang lebih buruk, ia terjebak bersama si mulut pedas ini!
"Oh. Tampaknya kita terkunci di sini. Itu artinya kau punya banyak waktu untuk mengajariku," pangkas Teira datar, sama sekali tidak memancarkan kepanikan.
Airyn tak menyerah. Ia mengerahkan pendar Aether airnya, mencoba mengalirkan tekanan ke celah kunci. Namun usaha itu sia-sia; alih-alih meretas engsel, air dari vas bunga di sekitar meja justru tersedot mendekat dan menggumpal di sampingnya tanpa memberi hasil. Pintu lain menuju lorong kaca pun juga sama hal nya sudah terkunci.
"Sudahlah, kau cuma buang-buang Aether. Kau tidak akan bisa menghancurkan pintu kayu tebal itu, kecuali kau seorang Aetherist tanah atau logam," ujar Teira santai. Pemuda itu berbalik menuju area meja baca, menyalakan pendar lampu meja, lalu menduduki salah satu kursi kayu panjang.
Dengan langkah lesu, Airyn menyusul dan menduduki kursi di seberang Teira. Pasrah bahwa ia harus menghabiskan sisa malam di tempat ini.
"Ayo, ajarkan teknik telepati itu padaku," desak Teira masih menuntut.
Airyn menarik napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan meja.
"Dengar ya, ini sangat rumit. Kau membutuhkan konsentrasi gelombang pikiran tingkat tinggi," gertak Airyn, melebih-lebihkan tingkat kesulitannya. Padahal saat pertama kali dicoba oleh Kaelen, ia bisa langsung menguasainya dengan mudah. Airyn sengaja membuat prosesnya terdengar rumit agar pemuda sok tahu ini menyadari batasannya.
Teira menegakkan punggungnya, condong ke depan hingga jarak wajah mereka memendek. Iris matanya yang berwarna ungu memancarkan fokus penuh. "Aku siap. Lakukan!"
"Oke. Tatap mataku, fokuskan pikiranmu, dan ucapkan pesanmu di dalam hati seolah kau sedang membisikkannya langsung ke dalam benakku."
Keduanya memaku pandangan satu sama lain dalam keheningan total.
‘'Bagaimana? Kau bisa mendengar suaraku di dalam kepalamu?’' Airyn mengalirkan gelombang pikirannya langsung ke kesadaran Teira.
Mata Teira membelalak kaget. Ia mengangguk cepat—merekam fakta bahwa gelombang suara Airyn benar-benar bergetar di dalam benaknya! Airyn memberi isyarat agar Teira mencoba membalasnya.
Teira memusatkan seluruh fokusnya, menatap manik emas Airyn tanpa berkedip sedikit pun.
Satu menit berlalu... dua menit...
Mata Airyn mulai terasa perih dan kering akibat tatapan tanpa jeda itu. Ia berkedip beberapa kali.
"Hei! Kenapa kau berkedip terus? Fokusku jadi buyar!" protes Teira jengkel.
"Astaga, Teira! Ini sudah berapa lama?! Aku ini mengantuk!" cetus Airyn jujur seraya menguap lebar. Kepalanya terasa berat didera lelah.
"Belum selesai! Coba sekali lagi!" paksa Teira tidak mau menyerah.
Airyn mendesah pasrah, kembali membuka matanya lebar-lebar dan menatap iris ungu Teira. Namun rasa kantuk yang teramat sangat akhirnya menang; Airyn memejamkan mata dan menyandarkan pipinya di atas telapak tangan.
BRAAK!
Gebrakan tangan Teira di atas meja membuat Airyn tersentak bangun seketika. Pemuda itu tampak gusar karena gelombang pikirannya tak kunjung sanggup menembus benak Airyn.
"Sudahlah... Seperti kata Profesor Seraphina tadi, tidak semua Aetherist sanggup menguasai cabang manipulasi Aether. Kau harusnya sudah bersyukur bisa menguasai pergerakan secepat kilat itu," ujar Airyn menenangkan.
Teira meremas jemarinya, masih belum menerima kegagalannya. "Kenapa kau bisa menguasainya sedangkan aku tidak?"
"Mana kutahu? Aku dan Pamanku bisa saling terhubung dengan sangat mudah," pangkas Airyn dengan mata yang kembali meredup. Namun mendadak, mata emasnya membelalak tegap.
"Astaga! Aku bahkan belum sekalipun memberikan kabar pada Paman Kaelen sejak tiba di sini!" seru Airyn panik.
"Teira, apa kau tahu bagaimana cara mengirimkan surat keluar dari Asteria?" desak Airyn mencari metode komunikasi tercepat.
Teira menaikkan sebelah alisnya. "Surat? Kau dan wilayahmu masih sekuno itu?"
"Memangnya ada cara lain?!"
Teira bangkit dari bangkunya, melangkah menuju deretan rak buku di sudut ruangan, lalu kembali membawa sebuah bola kristal bening berukuran sedang dan meletakkannya di atas meja.
Airyn menatap bola kristal itu dan Teira bergantian dengan dahi berkerut.
"Di Voltara, kami memanfaatkan ini untuk komunikasi jarak jauh," terang Teira. Pemuda itu menarik napas, lalu menekan tombol di dudukan kristal tersebut. Seketika, proyeksi hologram membumbung naik menampilkan pemandangan sebuah ruangan.
^^^"Oh? Tumben sekali bocah ini mengontak ku... Eh? Siapa gadis di sebelahmu? Kau punya pacar sekarang?"^^^
Sesosok pria paruh baya bersurai ungu plum muncul pada layar proyeksi—Jove dari Voltara sekaligus ayah Teira. Airyn hanya sanggup menyunggingkan senyum canggung setengah mati.
"Aku cuma sedang mengetes bola kristal ini, Ayah. Sudah dulu," pangkas Teira cepat dengan wajah memerah, lalu mematikan sambungan hingga proyeksi kembali membiaskan pendar biru netral.
Airyn terkagum-kagum. "Wah... ini luar biasa sekali! Bagaimana cara kerjanya?"
"Media kristal ini memancarkan gelombang khusus yang terhubung dengan permukaan kaca atau cermin penerima. Tadi aku menghubungkannya dengan cermin di kamar Ayah," terang Teira.
"Bisa coba hubungkan ke Pamanku di Tidebay?!" pinta Airyn penuh harap.
Teira tampak ragu sejenak, namun jemarinya tetap menekan tombol frekuensi dan mengarahkan koordinat sinyal menuju wilayah Tenggara—Tidebay.
"Sinyalnya mungkin tidak terlalu presisi, tapi mari kita lihat," gumam Teira.
Layar hologram bergetar menayangkan garis-garis statis, sebelum akhirnya membiaskan gambar yang cukup jernih—menampilkan interior sebuah kamar tidur yang amat dikenal Airyn. Kamar pribadinya di Istana Tidebay!
"Halo? Paman? Apakah ada orang di sana?" panggil Airyn condong ke depan layar.
"Halo...?" ulangnya beberapa kali. Keheningan menyambut panggilan itu; wajar saja, ruangan itu tampak kosong melompong.
Namun tepat saat Airyn berniat menyuruh Teira mematikan sambungan, matanya menangkap sebayang sosok melangkah mendekat dari balik pintu menuju arah cermin!