"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 31] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Embun pagi masih menggantung di pucuk-pucuk daun mawar taman belakang Mansion Carlous. Suara gesekan sapu lidi dan derak mesin pemotong rumput beradu pelan dengan denting peralatan dapur. Anisa berdiri agak tersembunyi di balik pilar koridor samping, tangannya menggenggam kain lap yang setengah terlipat.
Di balik gamis indah bermotif lembut lengkap dengan cadar warna senada yang membingkai wajahnya, kelopak mata Anisa berkedip pelan. Pendengarannya menangkap obrolan hangat dua pelayan senior yang sedang melipat taplak meja di dekat area taman.
"Yo wis toh, Mbak, namanya juga suami pulang kerja capek," sahut Bi Sumi, suaranya terdengar renyah sembari menepuk-nepuk kain. "Kuncinya itu bukan cuma perut kenyang. Di atas ranjang ya kudu pinter melayani. Biar senyumnya ke kita terus, gak ngelirik betis wanita lain di luar sana."
"Bener banget itu," timpal Mbak Nah dengan kekeh pelan. Tangannya cekatan merapikan lipatan kain. "Menjaga rumah itu bukan cuma nyapu ngepel, tapi bikin suami ngerasa rumah itu tempat paling nyaman. Celah sedikit saja kosong, pelakor jaman skarang langsing-langsing, gesit betul masuknya!"
Anisa meremas kain di tangannya. Dadanya berdesir hangat sekaligus disergap rasa canggung yang menusuk pelan. Hatinya terenyuh mendengarkan petuah polos namun mendalam itu. Bagaimana dengan dirinya? Jujur, lahir dan batin Anisa sudah sepenuhnya siap jika Oscar menginginkannya kapan saja. Namun seminggu terakhir, Oscar benar-benar tenggelam dalam gulungan berkas perusahaan. Edward—kakaknya yang jahil dan tak kenal ampun itu—terus melimpahkan tumpukan tugas tanpa jeda, memaksa Oscar sampai harus menginap di hotel dekat kantor.
Tapi tak terbersit sedikit pun rasa curiga di benak Anisa. Ia percaya penuh pada suaminya.
Derap langkah sepatu kulit yang tergesa menampar lantai marmer memecah lamunannya. Anisa menoleh cepat.
"Mas Oscar...?" bisik Anisa pelan dari balik cadarnya.
Pria tinggi berdasi miring itu berhenti mendadak. Wajah Oscar tampak kusam oleh kelelahan, kantung mata tipis membingkai paras tampannya. Namun saat maniknya menangkap sosok Anisa, binar di matanya seketika menyala terang. Napasnya agak memburu saat ia mendekat.
"Anisa..." panggil Oscar, suaranya sedikit serak.
Tanpa membuang waktu, Oscar merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan tiga kotak beludru merah berukuran bervariasi. Ia menyodorkannya begitu saja ke dada Anisa dengan raut polos tanpa dosa.
"Ini buat kamu. Tadi Mas minta sekretaris pilihkan yang paling mahal sebelum pulang," ucap Oscar cepat, menyapu rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang.
Anisa menerima kotak-kotak itu dengan jemari agak gemetar. Saat penutupnya terbuka, kilau menyilaukan dari deretan emas padat, liontin berlian, dan kalung bermata megah memantulkan cahaya pagi. Anisa menelan ludah, dadanya sesak oleh rasa canggung. Ia terbiasa tampil sederhana, dan kemewahan vulgar ini terasa begitu asing.
"Mas... ini terlalu berlebihan," tutur Anisa pelan, menatap mata suaminya dengan ragu. "saya tidak membutuhkan semua perhiasan mahal ini..."
Oscar mengerutkan dahi, kepalanya agak miring. Dalam pikiran polosnya yang dibesarkan di tengah kekayaan melimpah, wanita yang paling dicintainya tentulah harus diguyur oleh barang termahal di dunia agar bahagia.
"Lho, kenapa? Kamu gak suka modelnya?" tanya Oscar polos, jemarinya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Nanti Mas suruh tukar yang lebih mahal lagi kalau kurang sreg."
Melihat kepolosan dan niat tulus yang begitu jujur dari suaminya, perlahan mata Anisa menyipit hangat—ia tersenyum manis di balik cadarnya.
"Bukan begitu, Mas. saya suka... terima kasih banyak ya, Mas Oscar," sahut Anisa lembut, jemarinya mengelus punggung tangan Oscar yang kasar. "Mas pasti capek banget, kan?"
"Sedikit," Oscar terkekeh pelan, mengusap tengkuknya. "Tapi nanti malam kita harus keluar lagi. Ada pesta bisnis yang diadakan Tuan Rolando S.J—suaminya Bu Direktur Chika. Kamu dampingi Mas, ya?"
Anisa mengangguk tanpa ragu. "Iya, Mas. saya siap."
Malam harinya, grand ballroom hotel bintang lima itu berkilau bagai lautan bintang. Denting gelas kristal dan gesekan biola klasik memenuhi udara yang harum parfum mewah.
Sesuai dugaan, begitu menjejakkan kaki di ruangan, Oscar langsung ditarik oleh jajaran pengusaha senior atas perintah tegas Edward. Anisa berdiri agak terasing di sudut ruangan, meremas gaunnya pelan. Namun rasa canggung itu tak bertahan lama saat sebuah tangan berbalut sarung tangan sutra menepuk bahunya lembut.
"Anisa, Sayang... jangan berdiri menyendiri begitu," suara merdu nan anggun menyapa.
Anisa menoleh dan mendapati Barbara—istri dari Edward—berdiri menatapnya penuh kehangatan. Wanita aristokrat sejati itu tersenyum lembut, memiringkan kepalanya anggun.
"Ayo, berdiri di samping ku," ajak Barbara seraya menarik jemari Anisa. Dengan penuh kesabaran, Barbara mulai membimbingnya.
"Nah, pinter banget," puji Barbara tulus, matanya berbinar melihat Anisa yang begitu cepat beradaptasi. "oh iya Anisa kalau tertawa kecil saat mengobrol dengan relasi, cukup angkat sedikit sudut bibirmu, jangan terlalu lepas. Angkat dagumu sedikit... ya, begitu. Kamu cantik sekali malam ini, Anisa."
Anisa mengikuti instruksi itu.
Suasana lingkaran sosialita itu mendadak agak hening saat seorang Madam Vivienne beralih menatap Anisa. Senyumnya ramah, tapi binar matanya seperti elang yang siap menguliti mangsa.
"Oh, jadi ini istri dari Tuan Muda Kedua," ucap Madam Vivienne, nadanya sengaja dikeraskan sedikit agar terdengar oleh beberapa wanita di dekat sana.
"Kabar pernikahan kalian mengejutkan kami semua bulan lalu. Ngomong-ngomong, sayang... kudengar dari salah satu kolegaku, kamu dulu bekerja di bidang manajemen toko bunga biasa sebelum menikah? Pasti melelahkan ya harus berdiri berjam-jam bekerja seperti itu?"
Jebakan nya terlihat jelas.Dia sengaja membongkar sesuatu yang di perintahkan suaminya sebagai pekerja biasa di depan umum untuk menyembunyikan anisa yang sebenarnya tidak pernah bekerja apapun tapi kini merasa minder, malu, dan merasa 'tidak pantas' berada di pesta itu.
Mendengar itu, jantung Anisa pasti berdesir hebat. Di samping Anisa, Barbara langsung merapatkan posisi kursi rodanya dengan Anisa. Barbara memberikan remasan lembut yang menenangkan di lengan Anisa. Tatapan mata nya kepada Anisa seolah berbisik
Jangan tundukkan kepalamu. Kamu adalah istri sah keluarga ini sekarang. Angkat dagumu.
Anisa akhirnya menelan ludah, mengingat bahwa ia membawa nama baik suami nya dan kakak ipar pria nya edward yang merupakan kepala keluarga.
Akhirnya Anisa menarik napas, lalu menjawab dengan suara yang luar biasa tenang namun tegas
"Pekerjaan itu memang melelahkan, Madam Vivienne," jawab Anisa sambil menatap matanya langsung tanpa rasa takut, namun tetap tersenyum sopan.
"Namun, dari sana saya belajar banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang—tentang kerja keras, bagaimana menghargai setiap orang dari berbagai latar belakang, dan bagaimana tetap tenang di bawah tekanan."
Anisa menjeda kalimatnya, lalu melirik ke arah Barbara dengan tatapan penuh rasa hormat.
"Keluarga ini, terutama Kakak Ipar saya selaku kepala keluarga dan istri beliau, menerima saya bukan karena dari mana saya berasal, melainkan karena nilai-nilai kejujuran yang saya bawa. Dan sekarang, saya berada di sini untuk belajar dari Kakak Ipar saya bagaimana menjadi pendamping yang baik untuk suami saya."
Mendengar jawaban Anisa yang begitu jujur, berani, namun tetap menaruh hormat pada aturan keluarga, wajah Madam Vivienne sesaat menjadi kaku. Dia tidak menyangka gadis dari kalangan biasa bisa menjawab sekokoh itu tanpa menjadi emosional.
Barbara langsung tersenyum lebar, menatap Madam Vivienne dengan tatapan tajam seorang istri kepala keluarga yang membela adiknya.
"Benar sekali, Vivienne. Suamiku sebagai kepala keluarga selalu berkata bahwa kemewahan luar bisa dicari, tapi integritas dan ketulusan hati seperti yang dimiliki adikku ini adalah hal yang sangat langka di zaman sekarang. Kami sangat beruntung memilikinya di keluarga ini."
Anisa merasakan hangat menelusuri dadanya. Rasanya asing sekaligus membahagiakan, bagaimana etiket dan aturan sederhana bisa mengubah cara pandang orang lain tanpa membuat dirinya merasa dihakimi. Di samping Barbara, Anisa merasa memiliki sosok ibu yang siap melindungi dan membimbingnya di dunia glamor yang keras ini.
Sementara itu, di balkon lantai dua yang remang, Edward berdiri menyandarkan badannya ke pagar besi tempa. Pria berparas tampan dengan tubuh tak terlalu tinggi itu memutar-mutar gelas wiski di genggamannya. Pandangan mata nakalnya menembus kerumunan di bawah, tepat tertuju pada sosok Anisa yang sedang berbincang dengan istrinya.
Alis Edward terangkat. Matanya menyipit fokus pada area dada hingga pinggang Anisa.
'Perutnya masih rata?' batin Edward heran.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh keheranan. Setahunya, darah klan Carlous—termasuk dirinya, Wilgard, dan Oscar—memiliki dorongan berhasrat besar dan rasa memiliki yang sangat kuat serta sulit dikontrol. Ia sungguh tak habis pikir bagaimana adik kecilnya yang polos itu bisa menahan diri sejauh ini terhadap istri secantik Anisa.
Tap. Tap.
Langkah kaki tergesa mendekat. Luca—tangan kanan kepercayaan Edward—membungkuk sedikit di sampingnya, suaranya nyaris tenggelam oleh denting musik ballroom.
"Tuan... Ananira tidak ditemukan," bisik Luca prihatin. "Petunjuk di lokasi terakhir benar-benar buntu. Dia menghilang tanpa jejak."
Klek.
Cengkeraman jari-jari Edward pada pembatas balkon mengerat seketika. Es batu di dalam gelasnya berdenting keras. Ananira benar-benar kabur? Wanita muda yang dulu menorehkan benang kelam di hidupnya itu benar-benar lenyap?
Dada Edward bergemuruh hebat. Otot rahangnya mengeras, membakar amarah dan rasa penasaran yang sempat mengendap. Namun, saat pandangannya kembali jatuh ke lantai bawah—menatap Barbara yang sedang tertawa hangat sambil merangkul bahu Anisa dengan penuh kasih—gejolak di dalam dada Edward mendadak surut.
Apinya padam. Lebur menjadi abu.
Dendam lama yang dulu membara, bayangan gelap masa lalu, dan rasa ingin menyiksa Ananira... semuanya menguap ditiup angin malam. Edward menghela napas panjang, membiarkan dadanya lapang. Ia sadar, kini ia adalah seorang kepala keluarga. Ia memiliki Barbara yang mencintainya tulus, dan ia tak ingin lagi mengotori jalannya dengan bayangan masa lalu yang membunuh jiwa.
"Biarkan dia pergi, Luca," ucap Edward, suaranya terdengar dingin namun teramat tenang. "Pencarian selesai."
Luca membeku di tempat. Matanya melebar menatap punggung tuannya tak percaya.
"T-tapi Tuan...?" sela Luca ragu, tahu betul betapa dalamnya obsesi masa lalu bos besarnya itu.
"Kamu dengar perintah saya, kan?" Edward menoleh sedikit, menatap Luca dengan mata yang kini teduh. "Tutup semua berkasnya."
"Baik, Tuan..." jawab Luca lirih.
Luca membuang napas perlahan, menatap lurus ke bawah pada sosok Anisa yang tersenyum lugu. Di dalam hatinya yang paling dalam, Luca berdoa dengan sangat khusyuk... semoga jika Ananira masih bernapas di luar sana, wanita itu tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kehidupan klan Carlous. Jangan sampai masa lalu kelam itu kembali, apalagi sampai merusak kepolosan dan kebahagiaan nyonya muda mereka... Anisa.
Saat menuju pintu keluar, Anisa dan Oscar berpapasan dengan Tuan Rumah yang mengadakan pesta tak lain adalah direktur Chika. di sana Oscar mengambil alih pembicaraan dengan sangat sopan, sementara Anisa mendukungnya di samping.
"Madam Chika, pesta malam ini benar-benar luar biasa dan sukses besar. Terima kasih banyak atas undangan terhormat ini."balas Oscar pelan
"Oh,Tuan muda Oscar! Acaranya bahkan belum sampai di dansa utama, apakah Anda sudah mau pergi?"
"Sayang sekali, iya. Istri saya baru saja pulih dari kurang enak badan, dan saya tidak ingin memaksanya berdiri terlalu lama. Saya harus mengutamakan kesehatannya malam ini." Oscar mengunakan alasan klasik wanita aristokrat yang paling aman
menggunakan alasan kesehatan/kenyamanan istri. Ini membuat oscar terlihat sebagai pria yang sangat penyayang sesungguhnya.
"Pesta Anda sangat indah, direktur Chika. Suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di sini. Semoga sisa malam ini berjalan menyenangkan bagi Anda."balas nya Anisa
"Ah, begitu rupanya. Sayang sekali. Tapi tentu saja, kesehatan istri Anda adalah yang utama. Hati-hati di jalan, Tuan Muda. Senang bisa mengenal istri Anda yang anggun."tersenyum maklum dan kagum
Begitu berbalik, Oscar dengan protektif menuntun Anisa menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu di lobi. Di dalam mobil yang tenang, barulah Anisa benar-benar bisa menghela napas lega dan berbicara dari hati nya yang cukup gelisah
tapi....
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...