Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Percaya Diri
Tia menatap telapak tangan Sam yang terulur di hadapannya dengan napas naik-turun. Otaknya yang biasa realistis kini serasa dihantam badai. Ia mengangguk kaku, membiarkan jemarinya disambut genggaman hangat Sam yang kokoh.
"O-oke... aku ikut," kata Tia dengan suara mencicit, masih merasa butuh bukti lain yang lebih riil untuk memercayai kelesuan logika malam ini.
Saat mereka melangkah keluar, emak-emak Kompleks yang menonton dari balik pagar gang hampir kehilangan kesadaran. Hendra membukakan pintu mobil dengan penuh hormat, menyapa Tia bagaikan menyambut seorang ratu. Di sepanjang perjalanan menuju kawasan perumahan elite Menteng Indah, Tia hanya bisa duduk menyudut di sudut jok kulit Rolls-Royce yang sangat empuk, menatap koper kulit berisi sertifikat aset di pangkuan Hendra dengan pandangan nanar.
Dua puluh menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam raksasa yang terbuka otomatis. Di balik gerbang, terhampar sebuah rumah megah bergaya modern klasik tiga lantai dengan pilar-pilar raksasa, kolam renang berlampu temaram, dan taman luas yang tertata rapi.
Hendra membukakan pintu. Sam menuntun Tia melangkah masuk melewati pintu jati raksasa. Deretan pelayan dan penjaga keamanan berbaris rapi di lorong utama, membungkuk hormat begitu Sam dan Tia melintas.
"Selamat datang di kediaman utama, Bapak Samsudin, Ibu Tia," sapa kepala rumah tangga dengan nada sangat takzim.
Tia berdiri mematung di tengah aula utama yang beralaskan marmer Italia mengilap. Chandelier kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan. Tia meremas jemari Sam kuat-kuat, kepalanya mendadak terasa pusing luar biasa.
Ia menoleh ke arah Sam, menatap suami sewaannya itu dengan mata bergetar penuh keraguan.
"Mas Sam... jujur sama aku," bisik Tia, suaranya gemetaran hebat. "Kamu... lagi menipuku kan? Kamu sengaja menyewa semua orang ini, menyewa mobil mewah, bahkan menyewa rumah raksasa ini cuma buat membuktikan kalau kamu bukan pengangguran?! Uang dari mana kamu buat menyewa semua ini, Samsudin?!"
Mendengar tuduhan konyol yang keluar dari bibir istrinya, rasa canggung dan minder yang biasanya menggelayuti Sam seketika menguap tuntas. Entah mengapa, keraguan Tia yang keras kepala itu justru memicu rasa percaya diri yang luar biasa meluap-luap di dalam dada sang mantan pawang buaya. Rasa percaya diri seorang pria yang tahu pasti bahwa ia tidak sedang berbohong, dan bahwa seluruh imperium di sekelilingnya adalah nyata miliknya.
Sam tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pesona berwibawa yang sanggup melumpuhkan pertahanan wanita mana pun.
Tanpa peringatan, Sam melangkah satu senti lebih dekat, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Tia dan menarik tubuh wanita itu rapat ke dadanya. Tia tersentak, napasnya tertahan saat wajah tegap Sam hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Mbak Tia..." suara Sam terdengar begitu berat, dalam, dan bergetar seksi di telinga Tia. "Aku tidak menipu. Aku tidak menyewa siapa pun. Rumah ini, mobil di luar, koper aset itu... semuanya asli milikku. Dan yang paling penting..." Sam menatap lurus ke dalam manik mata Tia, "...rasa cintaku sama Mbak Tia juga seratus persen asli, tanpa kepalsuan sedikit pun."
Deg!
Jantung Tia berdegup begitu kencang bagaikan mau melompat keluar dari rongga dadanya. Wajahnya membara panas sampai ke leher. Tatapan mata Sam yang begitu intens dan tegas membuat seluruh persendian di tubuh Tia terasa melumer seketika.
Sam memiringkan kepalanya sedikit, mengelus pipi Tia yang merona merah dengan ibu jarinya yang hangat.
"Sekarang katakan sama aku, Mbak..." ujar Sam lembut namun mengikat. "Apa yang Mbak Tia inginkan? Sebutkan saja. Apapun yang Mbak Tia mau di dunia ini, detik ini juga bakal aku berikan."
Tia menelan salivanya yang terasa kering. Gengsi tingginya sebagai wanita karier berusia 35 tahun mencoba bertahan di benteng terakhir, menolak untuk menyerah begitu saja pada pesona sang suami miliarder. Tia membusungkan dadanya, mencoba memasang wajah menantang walau matanya tak bisa berbohong.
"O-ya?!" cetus Tia dengan suara yang diusahakan selangit. "Kalau beneran kaya... aku mau tas mahal! Tas Chanel keluaran terbaru yang harganya ratusan juta! Coba belikan aku itu sekarang kalau memang kamu bukan penipu!"
Sam bukannya terkejut, malah tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu renyah dan penuh kemenangan.
Sam menoleh ke arah Hendra yang berdiri tegap beberapa meter di belakang mereka. "Mas Hendra, butik Chanel paling eksklusif di pusat kota masih bisa dibuka malam ini?"
Hendra tersenyum profesional. "Untuk Direktur Utama Norman Corp, seluruh mall mewah di pusat kota bisa kita kosongkan dan buka khusus malam ini juga, Mas Sam."
"Bagus. Minta mereka siapkan koleksi tas terbaru," perintah Sam santai.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah kembali berada di dalam Rolls-Royce Phantom menuju kawasan pusat perbelanjaan paling mewah di kota.
Di dalam mobil yang melaju tenang, suasana kembali memanas. Tia yang dilanda salah tingkah luar biasa berusaha menggeser duduknya sejauh mungkin ke sudut pintu mobil, meremas tas kecilnya erat-erat demi menjaga jarak dari Sam.
Melihat istrinya yang berusaha kabur ke sudut jok, naluri usil Sam menyala. Pria tegap itu sengaja mengikis jarak, menggeser duduknya rapat ke samping Tia hingga bahu kekarnya menempel di lengan Tia.
"M-Mas Sam! Ngapain sih duduknya rapat-rapat begini?!" tegur Tia histeris dengan wajah memerah padam, menyudutkan punggungnya ke pintu mobil. "Kan joknya masih luas!"
Sam tidak menjawab. Pria itu justru memajukan wajahnya, menatap Tia terang-terangan dari jarak dekat tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Pandangan matanya begitu tajam, memancarkan rasa gemas dan kasih sayang yang membara.
Tia makin salah tingkah, memalingkan wajahnya ke jendela karena tak sanggup menatap mata tajam Sam. "Jangan menatap aku seperti itu, Samsudin! Bikin risih tahu tidak?!"
Sam terkekeh pelan, meraih telapak tangan Tia yang dingin lalu menggenggamnya erat-erat, menautkan jemari mereka di atas pangkuan.
"Kenapa tidak boleh, Mbak Tia?" bisik Sam di dekat telinga Tia, membuat bulu kuduk wanita itu meremang hebat. "Menyenangkan sekali rasanya bisa jatuh cinta sama istri sendiri. Hubungan kita kan sudah halal... Mau aku tatap terus-menerus, mau aku peluk erat-erat, bahkan kalau aku mau mencium Mbak Tia sekarang juga... hukumnya sudah dihalalkan, kan?"
Tia membelalakkan matanya kaget, menoleh secepat kilat ke arah Sam. Bibir Sam hanya berjarak satu senti dari bibirnya, mengukir senyuman jahil yang sangat tampan.
"S-Samsudin... kamu... kamu beneran mau menciumku?!" cicit Tia dengan napas terengah-engah, jantungnya berdebar brutal tak terkendali.
Sam tertawa lepas melihat kepanikan manis dari istrinya yang biasanya galak itu. Ia tidak langsung mencium bibir Tia, melainkan mengecup punggung tangan Tia dengan sangat lembut dan dalam.
"Nanti saja di rumah baru kita, Mbak..." goda Sam seraya tersenyum manis. "Biar tidak diganggu sama Mas Hendra di depan."
Hendra yang mendengar dari kursi depan hanya bisa menahan tawanya, sementara Tia menutup wajahnya yang membara panas dengan kedua telapak tangannya, menyadari bahwa hidupnya sebagai 'penyewa suami kredit' telah resmi berubah total menjadi kisah cinta paling mahal dan paling mendebarkan dalam sejarah hidupnya.
..._____...
*Bentar lagi tamat ya guys...
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄