Indonesia
NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah ke Apartement

Kondisi Pak Bambang sudah jauh membaik. Bahkan hari ini dokter sudah mengizinkannya untuk pulang. Namun, ada pesan penting yang harus diingat: Pak Bambang tidak boleh sampai terlalu banyak pikiran, kelelahan, apalagi mendengar kabar yang mengejutkan. Sedikit saja stres bisa memicu serangan jantungnya kambuh.

"Bapak mau mengucapkan terima kasih banyak buat kalian berdua. Makasih ya, sudah menjaga Bapak selama di rumah sakit. Maafkan kalau Bapak banyak meropotkan. Biaya rumah sakit ini pasti mahal sekali, kan? Apalagi kalian menempatkan Bapak di kamar yang sebagus ini." ujar Pak Bambang seraya memandangi sekeliling ruangan.

"Sudah, Bapak enggak usah memikirkan soal biaya. Semuanya sudah Devan urus. Yang paling penting sekarang Bapak sembuh total." balas Devan dengan senyum menenangkan.

Aira menatap suaminya dengan perasaan haru. Padahal biaya perawatan di fasilitas VVIP begini jelas tidak murah, tetapi Devan menanggung semuanya tanpa beban sedikit pun.

"Apa Siska sama Karin enggak ada yang datang kemari, Aira?" tanya Pak Bambang pelan. Matanya menyirat kecemasan dan rasa sedih karena tidak satu pun dari anak-anaknya yang lain datang menjenguk.

"Enggak ada, Pak. Ibu juga enggak kelihatan. Tapi ya sudahlah, enggak usah dipikirkan. Yang penting di sini kan ada Aira. Lagi pula kata dokter, hari ini Bapak sudah boleh pulang." potong Aira cepat, berusaha mengalihkan perhatian. "Aira cuma bingung kalau harus ninggalin Bapak sendirian di rumah. Nanti siapa yang mengurus Bapak? Kan Aira sudah enggak tinggal di sana lagi."

Pak Bambang langsung menggenggam erat tangan putri keduanya itu. Ada rasa hangat sekaligus tidak enak hati. "Aira, kamu enggak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Bapak masih bisa mengurus diri sendiri, kok. Lihat saja, sekarang Bapak sudah sehat dan segar lagi."

"Kalau Aira mau, kita bisa bawa Bapak untuk tinggal bersama kita." sahut Devan santai.

"Jangan, tidak usah. Bapak tidak mau menyusahkan kalian." tolak Pak Bambang cepat.

"Iya, Mas Devan. Lagian kan kita masih tinggal di rumah Nenek kamu, rasanya kurang enak. Aku juga belum sempat bilang apa-apa sama Ibu." desis Aira pelan pada suaminya.

Devan akhirnya memilih mengalah dan menyerahkan keputusan itu pada istrinya. Padahal, kalau mertuanya itu mau, Devan bisa saja langsung membawanya ke salah satu apartemen mewahnya agar Pak Bambang bisa beristirahat dengan tenang di sana.

Sore harinya, Devan mengantarkan Pak Bambang pulang ke rumah. Begitu mobil mewah yang dikendarai Devan berhenti tepat di depan halaman, Karin yang sedang berdiri di teras langsung melotot terperanjat.

"Wah, mobil siapa ini? Mewah banget, malah jauh lebih keren daripada mobil cowok yang kemarin! Jangan-jangan... ini mobilnya Raka lagi? Apa dia sengaja datang kemari mau menemui aku?" gumam Karin percaya diri setengah mati.

Dia sama sekali tidak menyadari bahwa mobil mewah itu milik kakak iparnya sendiri, pria yang selama ini selalu diejek keluarganya sebagai kuli bangunan miskin.

Rasa percaya diri Karin langsung hancur berkeping-keping begitu pintu mobil terbuka. Matanya seolah mau melompat keluar saat melihat Aira dan Devan turun melangkah keluar, lalu dengan hati-hati menuntun Pak Bambang.

Karin terpaku melongo. Kemarin dia memang tidak melihat kendaraan apa yang dipakai kakak dan kakak iparnya itu.

"Mbak Aira... Bang Devan...? Ini... beneran kalian?" desis Karin sambil mengucek matanya berulang kali. Ia sampai memindai penampilan Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Mbak Aira, kok... kenapa sekarang penampilanmu bisa sekelas ini? Terus Bang Devan juga... kenapa bisa kelihatan ganteng dan rapi begini?" tanyanya tergagap-gagap.

"Itu enggak penting. Sekarang kamu minggir dulu, aku mau mengantar Bapak ke kamarnya." tebas Aira dingin. "Kamu ini gimana, sih? Bapak sakit dan dirawat di rumah sakit, kok sama sekali enggak ada niat buat jenguk?"

Karin yang refleks mundur memberikan jalan, langsung membela diri dengan nada ketus. "Ya aku mana tahu kalau Bapak sakit sampai masuk rumah sakit! Orang rumah enggak ada yang memberi tahu aku, gimana aku bisa datang?"

Jawaban santai Karin malah membuat emosi Aira makin mendidih. Perlakuan ibu dan kakaknya memang sudah sangat keterlaluan, bisa-bisanya ada anggota keluarga yang sakit keras tapi semua orang seolah tidak peduli.

"Bener-bener keterlaluan ya orang-orang di rumah ini. Bisa-bisanya enggak ada satu pun yang melangkah ke rumah sakit cuma buat nengok keadaan Bapak!" omel Aira, tidak bisa lagi menahan kekesalannya.

"Sudah, Aira, yang penting kan Bapak sekarang sudah sehat." sela Pak Bambang mencoba menenangkan, tidak ingin suasana makin keruh.

"Oh, ternyata sudah pulang? Bagus deh, biar enggak terus-terusan merepotkan orang." celetuk Bu Ismi yang mendadak muncul dari dalam rumah. Tanpa dosa sedikit pun, ia menyindir suaminya sendiri yang baru saja kembali dari rumah sakit.

Aira mengelus dadanya, menahan napas akibat ulah ibunya sendiri. "Ya ampun, Ibu! Kok ngomongnya begitu, sih? Bapak ini baru pulang!"

Bu Ismi malah melipat tangan di dada dengan senyum sinis. "Memangnya kamu berharap Ibu bakal ngomong apa? Gara-gara Bapak kamu sakit, uang Ibu habis buat bayar rumah sakit! Sudah tahu keuangan keluarga lagi seret, bisa-bisanya malah pakai acara masuk rumah sakit segala!"

Baru saja melangkah masuk rumah, Pak Bambang sudah disembur omelan tajam. Bu Ismi melirik Aira dan Devan dengan tatapan menilai yang penuh prasangka.

"Kamu juga, Aira! Punya uang bukannya dipakai buat bantu bayar biaya rumah sakit Bapakmu, malah dipakai gaya-gayaan enggak penting. Menyewa baju bagus sama mobil mahal cuma buat pamer! Mending uangnya buat nutupin tagihan rumah sakit!" celetuk Bu Ismi pedas.

Mendengar tuduhan ibunya, raut terkejut di wajah Karin mendadak sirna, berganti dengan seringai licik.

"Oalah... jadi semua barang bagus ini cuma hasil sewaan? Elah, kirain beneran punya sendiri." ejek Karin kembali ke tabiat aslinya yang arogan.

Aira hanya memutar bola matanya malas. Rasanya sia-sia meladeni kepicikan pikiran mereka.

"Lagian, tadinya kan dia mau pamer di acara pernikahan kamu, Karin. Tapi sayangnya kamu malah batal nikah." timpal Beni suami yang baru datang melangkah bergabung.

"Betul banget! Kasihan ya, sudah sewa mahal-mahal tapi gagal pamer ke semua orang. Hahaha!" cibir Siska menyambung dengan tawa mengejek yang kentara sekali.

Pak Bambang kembali memegang dadanya yang terasa sesak. Baru beberapa menit menginjakkan kaki di rumah, telinganya sudah diuji oleh kata-kata yang begitu menyakitkan hati.

"Sudah... cukup... *uhuk, uhuk!*" Pak Bambang terbatuk-batuk keras.

"Ya ampun, Bapak!" Aira langsung menahan tubuh ayahnya. Mulutnya tak tahan lagi untuk menyemprot keluarga beracun di hadapannya. "Kalian bisa enggak sih kalau ngomong difilter dikit?! Pikirin kondisi kesehatan Bapak! Dokter bilang Bapak enggak boleh stres banyak pikiran! Kalau begini terus, gimana kesehatan Bapak bisa pulih?. Apa Bapak harus ikut tinggal sama Aira sama Mas Devan saja?" lanjut Aira tegas, sudah tak tahan lagi.

Bu Ismi justru terkekeh sinis. "Ooh, ya bagus dong! Malah makin makin sip! Berarti enggak ada lagi beban penyakitan yang ngerepotin di rumah ini. Bisanya cuma ngabisin uang aja!"

"Halah, sok-sokan banget kayak mampu ngidupin orang sakit aja." cibir Karin sengit sambil bersedekap dada.

"Hati-hati, lho... Nanti ujung-ujungnya malah terlilit utang ke mana-mana cuma demi gaya." timpal Siska ikut-ikutan memanas-manasi.

Beni juga ikut menyunggingkan senyum malas. Jujur saja, dia sendiri enggan jika harus ikut direpotkan mengurus mertua yang sakit-sakitan. Dalam hati, dia bersyukur kalau Aira benar-benar membawa Pak Bambang pergi. "Jangan cuma bisanya gertak sama banyak omong doang, buktikan dong bawa sekarang." tantang Beni pedas.

Melihat perlakuan mereka yang makin tidak beradab, Devan langsung merangkul pundak istrinya. "Sudah, Sayang. Kita bawa Bapak tinggal bareng kita saja." potong Devan tenang tapi penuh penekanan.

Aira menatap suaminya ragu. "Beneran enggak apa-apa, Mas?"

Devan mengangguk mantap.

Akhirnya Pak Bambang hanya bisa pasrah diajak pergi oleh Aira dan Devan. Di rumah ini, jelas tak ada lagi tempat hangat untuknya. Tidak ada satu pun yang menginginkan kehadirannya.

Tanpa banyak bicara lagi, Devan langsung membawa istri dan ayah mertuanya menuju salah satu hunian miliknya, sebuah apartemen mewah yang terletak di kawasan paling elit di pusat kota.

Sembari merengkuh Aira di sampingnya, Devan diam-diam mengambil ponsel dan menghubungi asisten pribadinya.

"Al, tolong siapkan unit apartemen utama sekarang. Siapkan semua keperluan istri dan ayah mertuaku. Kami akan tinggal di sana untuk sementara." perintah Devan tegas.

"Baik, Tuan. Segera saya kondisikan." jawab Aldi di seberang telepon, lalu bergerak cepat memerintahkan para staf untuk menyiapkan segalanya.

Di tengah perjalanan, ponsel Devan kembali bergetar. Layar memunculkan nama ayahnya. Devan menghela napas berat, malas luar biasa untuk mengangkatnya. Tapi kalau diabaikan, pria tua itu pasti akan mengamuk dan memicu keributan panjang.

"Halo, Pa.@ sapa Devan dingin.

*"Devan, nanti malam kamu wajib datang ke rumah utama! Bawa sekalian istri barumu itu, kenalkan sama keluarga besar!"* tuntut ayahnya tanpa basa-basi.

Devan mengusap wajahnya. Mengunjungi rumah ayahnya adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan hari ini. Di sana, dia harus berhadapan lagi dengan ibu tiri dan saudara-saudara tirinya yang bermulut tajam dan bermuka dua.

"Nanti malam kayaknya Devan enggak bisa, Pa." tolak Devan datar. Hari ini mertuanya baru keluar dari rumah sakit, mana mungkin dia tega meninggalkannya begitu saja?

*"Enggak ada alasan, Devan! Harus nanti malam!"* potong sang ayah tak mau dibantah. *"Ada hal yang sangat penting yang harus Papa bicarakan sama kamu. Wajib datang!"*

Sifat pemaksa ayahnya memang tak pernah berubah. Sambungan telepon diputus sepihak. Devan menyandarkan punggungnya, tahu kalau nanti malam dia terpaksa harus menginjakkan kaki ke rumah keramat itu.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Aldi berbelok halus memasuki gerbang komples apartemen ultra-mewah. Gedung pencakar langit yang menjulang megah itu sebenarnya adalah salah satu aset properti milik Devan sendiri. Gurita bisnis Devan memang bergerak di bidang properti kelas atas, tak heran jika dia menguasai belasan hotel bintang lima serta mall terbesar di ibu kota.

Pak Bambang dan Aira terpana saat melangkah masuk. Unit apartemen milik Devan yang berada di lantai 20 nomor 209 itu jangankan mirip apartemen biasa, luas dan kemewahannya bahkan mengalahkan rumah-rumah megah para pejabat.

"Selamat datang, Tuan, Nyonya." sambut seorang pelayan pribadi yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan sopan. Pelayan ini memang disewa khusus untuk mengurus unit, datang tiap pagi dan pulang sore hari.

"Apa semuanya sudah siap?" tanya Devan memastikan kamar khusus untuk mertuanya sudah tertata rapi.

"Sudah siap sempurna, Tuan." jawab pelayan itu penuh hormat. Devan mengangguk puas.

Pak Bambang menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang harum, bersih, dan dipenuhi perabotan elegan bernilai fantastis. Matanya masih menyiratkan rasa tak percaya.

"Apa... kita beneran bakal tinggal di sini?" tanya Pak Bambang perlahan, suaranya agak bergetar melihat kemewahan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Devan tersenyum tipis, menatap ayah mertuanya dengan tulus. "Iya, Bapak. Mulai sekarang Bapak tinggal di sini bersama kami. Bapak suka, kan?"

Pak Bambang tak sanggup berkata-kata lagi, terpukau dengan kehangatan dan kemewahan tempat baru yang kini menjadi rumahnya.

**BERSAMBUNG**

1
Sri Supriatin
Lanjut thor 😍😍😍😍
Meee
Devan kasih tau Aira KLO Raka dan ibunya bukan orang tua kndungmu,jangn sampai Aira yng polos termakan rayuan dua ular.
Sri Supriatin
Tks upnya thor😍😍💪💪💪
Sri Supriatin
Lagi bayangin thor n lanjuuut 👍👍😍😍
Sri Supriatin
Lanjuuut thor👍👍👍👍😍😍😍
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Kalau maling mah pasti ketangkap
Sri Supriatin
Eeh ada ngohiang Bogor selalu ku incar klu pul ke Bogor.... Asinan n talas 👍👍👍
Sri Supriatin
Susah klu anak lebih dr satu bagi rasa sayang... Tapi kalau bedainnya ky bu Ismi sih kebangetan🤭🤭
Sri Supriatin
Ha ha Anggun kn getahnya... Arum kan cuma mak tiri🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Ha ha kapok Arum🤭🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Karma dr perbuatan kalian🤭🤭
Sri Supriatin
Mampus Bagas🤣🤣🤣 mana setuju oma nyuntik dana🤭😄😄😄
Meee
pecat aja tuh si Bagas,mulutnya nyinyir banget blom tau dia 🤭🤭
Sri Supriatin
Mimpi Bagas malah kamu yg ditendang🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Kaget kan liat undangannya.... Apalagi nnti liat pestanya 🤭🤭😄😄😄😄
Meee
ada seorang ibu seperti itu,gara"Aira terlahir bukan laki".
Sri Supriatin
Ngak sabar nunggu pestanya Devan n Aria di gelar 😍😍😍
Sri Supriatin
Nah karmakN?
Sri Supriatin
Goed job Devan 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!