Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Jalan yang Tidak Ada Namanya
...Bima tidak langsung naik. Ia berdiri di antara pintu mobil dan aspal basah, dengan lengan kiri yang ia tekan sendiri ke sisi tubuh supaya darahnya tidak menetes lebih banyak. Dari arah warung, bunyi langkah tadi berhenti. Lalu terdengar suara orang memanggil di gang belakang, dua kali, dengan nada yang tidak sabar....
..."Kamu masih punya waktu," kata perempuan di dalam mobil. "Tidak banyak."...
..."Ibu saya di dalam."...
..."Aku tahu."...
..."Kalau saya naik, ibu saya—"...
..."Ibumu tidak ada di daftar mereka. Dia hanya ada di daftar orang yang kebetulan lewat." Perempuan itu menutup map di pangkuannya. "Kamu yang ada di daftar mereka."...
...Bima menoleh ke jendela warung. Wartini masih berdiri di ambang pintu, mukenanya sudah jatuh ke bahu. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap Bima dengan mulut sedikit terbuka, seperti sedang menunggu seseorang mengatakan bahwa semua ini salah paham....
...Dari ujung gang, lampu sorot kuning menyapu dinding ruko. Mesin mobil kedua menderu....
..."Mas!" teriak Wartini. "Mas, jangan!"...
...Bima masuk ke mobil. Pintu menutup dengan bunyi berat, dan dunia di luar langsung mengecil menjadi kaca basah dan lampu jalan yang berkedip....
... ...
...Pengemudi di kursi depan sudah menginjak gas sebelum pintu benar-benar tertutup. Ia laki-laki muda, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek di kedua sisi. Ia tidak menoleh ke belakang....
..."Ada yang ngikutin, Bu," katanya....
..."Aku lihat."...
..."Mau saya pancing ke jalan besar?"...
..."Jangan. Belok kiri di pom bensin, lalu lewat jalur sepeda. Pelan saja."...
..."Pelan, Bu?"...
..."Pelan. Mereka menunggu kita panik."...
...Pengemudi itu mengangguk sekali dan memutar setir. Ban belakang sempat selip di aspal licin, lalu mencengkeram lagi dengan bunyi yang membuat tulang Bima ikut bergetar. Ia memegang sandaran jok depan dengan tangan kanan. Tangan kirinya basah dan hangat, dan rasa perih mulai naik dari siku sampai ke bahu....
..."Kamu nggak apa-apa?" tanya perempuan itu....
..."Nggak."...
..."Kamu pucat."...
..."Ini cuma lampu jalan."...
...Perempuan itu tidak membalas. Ia membuka laci kecil di sandaran pintu dan mengeluarkan kotak logam berwarna abu-abu. Di dalamnya ada kain kasa, plester, dan botol kecil yang ia buka dengan satu tangan....
..."Lengan kirimu. Buka jaketnya."...
..."Saya bisa sendiri."...
..."Dengan satu tangan? Di mobil yang sedang belok?"...
...Bima ragu, lalu membuka resleting jaket dengan tangan kanan, meringis ketika bahan jaket menyentuh luka. Kain kasa langsung menempel di kulitnya. Perempuan itu menekannya tanpa aba-aba. Bima menahan napas dan menggigit bibir bawahnya....
..."Tahan."...
..."Pelan-pelan dikit bisa nggak?"...
..."Kalau pelan, kita kena tembak."...
...Bima menoleh ke kaca belakang dan baru sadar lampu kuning tadi sudah berubah menjadi dua pasang lampu yang mengikuti mereka dari jarak sekitar lima mobil. Mobil hitam, sama seperti yang berhenti di seberang warung kemarin malam....
..."Rico," kata perempuan itu, masih menekan kasa. "Mereka mau ke jembatan layang."...
..."Tahu, Bu."...
..."Jangan lewat sana. Ambil jalan tanah di belakang pasar ikan."...
..."Itu jalan becek, Bu. Mobilnya bisa kepeleset."...
..."Makanya pelan."...
...Rico memutar setir tanpa menjawab lagi. Mobil melompat ke jalan yang lebih sempit, lalu menghantam genangan besar. Air memercik ke kaca depan, dan Bima merasakan dorongan keras di perutnya seperti ditarik dari dalam. Dari kaca belakang, lampu sorot mobil pengejar berputar ke arah mereka....
...Lalu sesuatu pecah di belakang kepala Bima....
...Bunyi itu lebih keras dari yang ia bayangkan. Kaca belakang runtuh menjadi serpihan kecil yang berhamburan ke jok dan ke rambutnya. Telinganya berdenging. Ia tidak sempat berpikir, tangannya langsung naik ke kepala....
...Perempuan itu sudah mencengkeram kerah jaketnya dan menariknya ke bawah. Gerakannya cepat, nyaris kasar, dan Bima jatuh ke lantai mobil dengan lutut menghantam bagian bawah jok. Kepalanya membentur kotak logam, tapi tidak terlalu keras....
..."Jangan bangun," kata perempuan itu, sangat pelan....
..."Kamu—"...
..."Diam."...
...Dari atas, Bima mendengar suara tembakan lagi. Satu. Dua. Logam di sisi kanan mobil berbunyi seperti seseorang memukul panci dengan sendok besar. Perempuan itu tidak berteriak. Ia hanya menekan bahu Bima lebih kuat dengan satu tangan, dan tangan lainnya mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya. Bima tidak sempat melihat apa itu. Yang ia lihat hanya ujung jarinya yang tetap stabil, seperti sedang memegang gelas air....
..."Rico, sekarang."...
...Mobil berbelok tajam ke kiri. Bima terguling ke samping. Di luar, ia mendengar suara benturan keras, bunyi besi yang digesek dinding, dan teriakan seseorang yang terdengar jauh. Ketika mobil akhirnya lurus lagi, Bima bisa mencium bau karet terbakar dan asap knalpot yang tebal....
..."Sudah?" bisik Bima....
..."Belum."...
...Mereka melewati tumpukan kotak ikan yang diletakkan di tepi jalan. Air garam dan bau amis masuk lewat jendela yang pecah. Bima mengangkat kepala sedikit dan melihat mobil pengejar terjepit di antara truk pengangkut es dan tiang listrik. Pengemudinya keluar dari pintu, berlari sambil menekan telinga. Lampu depan mobil itu masih menyala, tapi asapnya mulai naik dari kap mesin....
...Rico tidak menoleh. Ia hanya tersenyum sebentar, tipis, lalu menginjak gas lagi....
...Bima duduk di jok dengan napas yang belum rata. Serpihan kaca masih menempel di kausnya. Tangan kirinya gemetar, dan ia menyembunyikannya di bawah paha....
..."Kamu tadi bisa mati," katanya....
..."Iya."...
..."Kamu nggak takut?"...
...Perempuan itu menatap jalan di depan. Lampu jalan yang melintas di wajahnya membuatnya tampak lebih muda dari yang Bima kira, dan lebih lelah. Tapi ekspresinya tidak berubah....
..."Takut itu buang waktu," katanya. "Kamu tadi sempat takut?"...
..."Saya nggak—"...
..."Tangan kirimu masih gemetar."...
...Bima menarik tangannya lebih dalam ke bawah paha. Tidak ada yang bicara lagi sampai mobil memasuki area pelabuhan yang gelap. Di sana bau laut terasa lebih tajam, bercampur dengan minyak dan besi karatan. Deretan kontainer berdiri seperti dinding, dan di sela-selanya ada lampu kuning yang berkedip lemah....
... ...
...Mobil berhenti di depan sebuah ruko dua lantai dengan shutter besi yang sudah setengah terbuka. Papan nama di atasnya sudah pudar: *PT. Samudra Lintas Sentosa — Agen Pelayaran*. Dua laki-laki berdiri di bawah lampu teras. Satu memegang rokok yang belum dinyalakan, satu lagi membawa payung hitam yang tidak ia buka meski hujan masih turun....
...Ketika perempuan itu turun dari mobil, kedua laki-laki itu langsung menundukkan kepala. Tidak dalam-dalam, hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Bima memperhatikan. Laki-laki yang memegang rokok itu menyimpan rokoknya ke saku tanpa diminta. Laki-laki yang memegang payung memegangnya lebih erat....
...Perempuan itu tidak melihat mereka. Ia berjalan langsung ke dalam, melewati pintu kaca tanpa menoleh, seolah lantai di depannya sudah dibersihkan sejak tadi....
..."Bawa dia ke atas," katanya dari dalam....
..."Saya nggak mau ke atas," kata Bima....
...Perempuan itu berhenti di tangga. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya menoleh sedikit ke arah pintu....
..."Kalau kamu mau pergi, pintunya di sana. Jalan kaki ke Gang Melati, lewat pasar yang sekarang sudah penuh orang-orang tadi."...
...Bima berdiri di ambang pintu. Hujan menetes dari atap ruko dan jatuh di depan sepatunya. Di seberang jalan, mobil hitam pertama sudah tidak terlihat, tapi Bima tahu mobil yang tadi mengejar mereka belum tentu berhenti mencari....
...Laki-laki dengan payung hitam melangkah sedikit ke samping, menutup jalan keluar. Ia tidak menyentuh Bima. Ia hanya berdiri di sana....
..."Biarkan," kata perempuan itu tanpa menoleh. "Dia boleh pergi kalau mau."...
...Laki-laki itu tidak bergerak....
...Bima menatap punggung perempuan itu, lalu ke laki-laki berpayung, lalu lagi ke pintu. Kakinya tidak mau bergerak. Ia tahu itu bukan karena takut pada laki-laki berpayung. Itu karena ia tahu persis ke mana ia akan pergi kalau keluar dari sini....
..."Saya ikut," katanya akhirnya. "Tapi saya mau tanya dulu."...
..."Silakan."...
..."Kenapa saya?"...
..."Kamu sudah tanya itu tadi malam."...
..."Dan Mbak nggak jawab."...
...Perempuan itu turun dua anak tangga, berhenti, lalu menatap Bima dari atas. Kali ini ekspresinya sedikit berbeda, seperti seseorang yang baru sadar bahwa lawan bicaranya tidak sepolos yang ia kira....
..."Karena kamu tidak takut padaku," katanya. "Dan itu jarang."...
..."Saya takut."...
..."Tadi, tapi tidak sampai kamu lari. Kamu tadi malah masuk ke mobil." Ia mengangkat dagunya sedikit. "Ada yang bilang dia takut, tapi tetap berdiri di depan orang yang bisa membunuhnya. Itu jenis orang yang kubutuhkan."...
...Bima tidak tahu harus merasa dipuji atau diancam. Ia memilih diam, lalu berjalan naik....
... ...
...Lantai dua ruko itu hanya berisi meja panjang, beberapa kursi lipat, dan rak arsip yang penuh map. Lampu di atas meja berwarna kuning. Di sudut ruangan ada sofa kulit yang sobek di bagian lengan. Seorang perempuan paruh baya datang dari ruangan belakang, membawa handuk kecil dan kotak P3K yang lebih besar dari yang ada di mobil. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia langsung meletakkan handuk di bahu Bima....
..."Duduk," katanya singkat....
...Bima duduk. Perempuan paruh baya itu membuka perban dan mulai membersihkan lukanya. Bima mendesis ketika alkohol menyentuh luka....
..."Maaf, Mas," kata perempuan itu. "Sakit, ya?"...
..."Nggak apa-apa, Bu."...
..."Ini pasti kena pecahan kaca tadi. Mas masih bisa gerakkan jari?"...
...Bima menggerakkan jarinya. Perempuan paruh baya itu mengangguk, lalu melirik ke arah pintu tempat perempuan misterius itu berdiri sambil memegang ponsel....
...Bima melihat laki-laki tua berkumis yang sedari tadi duduk di kursi pojok berhenti mengetuk-ngetuk meja. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi jarinya diam, dan itu cukup....
...Perempuan itu mengangkat ponsel ke telinga. "Apa kabar di sana?"...
...Suara di seberang samar. Bima bisa mendengar bunyi kipas angin dan orang yang bicara pelan....
..."Ibunya aman?"...
...Suara itu menjawab lagi....
..."Adiknya?"...
...Perempuan itu mendengarkan lebih lama kali ini. Ekspresinya tidak berubah, tapi bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang baru melepaskan beban kecil yang sudah lama ia pegang....
..."Bagus. Jangan biarkan dia keluar sampai pagi." Ia menutup telepon tanpa mengucapkan salam....
...Bima berdiri. Perban di lengannya belum selesai, tapi ia tidak peduli. "Ibu saya ada di mana?"...
..."Di rumah Pak Darto."...
..."Saya mau lihat."...
...Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk pada laki-laki tua berkumis. Laki-laki itu membuka laci, mengeluarkan ponsel kecil, dan menyodorkannya tanpa bicara. Layarnya menampilkan rekaman kamera yang sedikit goyang. Ruang tamu sempit dengan dinding cat hijau yang mengelupas di bagian bawah. Wartini duduk di kursi plastik, selendang lusuh menutupi bahunya. Di sebelahnya, Dimas tertidur dengan kepala bersandar di lengan ibunya dan sepatu yang masih terpasang....
...Wartini mengusap rambut Dimas pelan, lalu menatap pintu seperti sedang menunggu seseorang masuk....
...Bima menelan ludah. Ia mengembalikan ponsel itu dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil....
..."Dia belum tidur," katanya pelan....
..."Dia tidak akan tidur sampai kamu pulang," kata perempuan itu. "Ibumu cerdas. Dia tahu kapan harus diam."...
..."Ibu saya nggak perlu dipuji."...
..."Aku tidak memujinya. Aku cuma bilang dia cerdas."...
...Bima menatapnya lama. Ada sesuatu yang ia tangkap dari cara perempuan itu bicara. Tidak ada nada merendahkan, tidak ada kebencian. Hanya kepastian, seperti seseorang yang sudah lama mengamati orang lain tanpa pernah menyentuhnya....
... ...
...Bima duduk di sofa kulit yang sobek. Ia menaruh tangan di lutut dan menunggu, karena ia tahu perempuan itu belum selesai....
..."Kamu mau tahu apa?" tanya perempuan itu....
..."Ayah saya."...
..."Yang mana?"...
..."Jangan main-main."...
...Perempuan itu menarik kursi dan duduk di seberang Bima. Ia menyilangkan kaki, lalu meletakkan map cokelat di atas meja. Kali ini ia membukanya. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas berisi kolom angka dan tanggal, seperti buku kas yang disalin ulang....
..."Ayahmu bukan kurir," katanya....
..."Ibu saya bilang dia kerja di kantor pengiriman."...
..."Itu benar. Hanya saja dia tidak mengantar barang. Dia yang mencatat barang apa saja yang keluar dan masuk ke Gudang 4. Setiap kontainer, setiap nomor, setiap tanggal." Ia mengetuk salah satu kolom dengan kuku jarinya. "Kalau ada yang hilang dari gudang, dia yang tahu lebih dulu. Makanya dia dibutuhkan."...
..."Dibutuhkan siapa?"...
...Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya membalik satu lembar lagi....
..."Halaman tiga belas," kata Bima. "Itu daftar kontainer?"...
..."Itu catatan terakhirnya. Sebelum dia berhenti."...
..."Kenapa dia berhenti?"...
...Perempuan itu menatap Bima. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia terlihat ragu. Sangat sebentar, hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Bima menyadari bahwa tidak semua yang ada di map itu bisa ia baca....
..."Itu pertanyaan yang sama dengan yang ingin kujawab sejak dua belas tahun lalu," katanya....
...Bima tidak bisa menahan diri. "Ibu saya bilang bapak meninggal sakit jantung. Di kursi depan, malam-malam, waktu pulang."...
..."Itu cerita yang dia pilih untuk didengar."...
..."Dan Mbak tahu yang sebenarnya?"...
..."Aku tahu sebagian."...
...Bima berdiri lagi. Lengannya berdenyut keras. "Itu bukan jawaban."...
..."Itu jawaban untuk satu pertanyaan. Kamu sudah dapat satu."...
..."Saya nggak minta satu!"...
...Ruangan itu jadi sunyi. Laki-laki tua berkumis berhenti bergerak. Perempuan paruh baya di belakang Bima menutup kotak P3K pelan-pelan....
...Perempuan itu tidak berdiri. Ia tidak juga menaikkan suara. "Duduk, Bima. Lukamu belum selesai dibalut."...
..."Saya mau pulang."...
..."Pulang ke mana? Ke warung yang sudah kamu tinggalkan dengan api di lantai?" Ia menatap lurus ke mata Bima. "Mereka tahu nama adikmu. Mereka tahu jam pulang sekolahnya. Kalau kamu pulang sekarang, yang kamu bawa hanya lebih banyak orang yang harus kamu lindungi."...
...Bima tidak punya jawaban. Ia duduk lagi, lebih keras dari yang ia niatkan....
..."Tanya yang lain," kata perempuan itu. "Yang kamu benar-benar ingin tahu."...
...Bima menatap map itu. Tanggal di kolom paling bawah: 14 Maret, dua belas tahun lalu. Di sebelahnya ada tulisan tangan yang tidak asing, miring dan naik sedikit ke kanan. Ia mengingat malam ketika Pak Darto bicara tentang badan yang basah dan hujan yang tidak turun....
..."Malam itu," katanya pelan. "Waktu bapak pulang. Badannya basah."...
...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah laki-laki tua berkumis, dan laki-laki itu mengangguk seperti sudah menunggu isyarat itu sejak tadi. Ia bangkit, berjalan ke rak arsip, dan mengambil satu map biru yang tipis. Ia meletakkannya di depan Bima tanpa membuka....
..."Baca halaman terakhir," katanya....
...Bima membukanya dengan tangan kanan. Kertasnya sudah lembek di pinggir. Di bagian bawah ada daftar nama penjemput, lengkap dengan nomor plat mobil dan jam. Tulisan di sana tidak rapi, seperti ditulis di atas lutut....
...Di baris ketiga dari bawah, ia membaca nama itu....
...*Darto Susilo. Plat B 4471 SK. 14 Maret, 04.10. Jemput dari Gang Melati ke Pelabuhan Utara. Kembali dengan penumpang.*...
...Bima menatap nama itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur....
..."Itu..." Suaranya tercekat. "Itu Pak Darto."...
..."Iya."...
..."Dia bilang saya nggak pernah... dia bilang dia cuma lihat bapak pulang basah. Dia bilang..."...
..."Dia memang melihatnya," kata perempuan itu. "Dia yang menyetir mobil itu."...
...Bima mengangkat wajahnya. Perempuan itu tidak tersenyum, tidak juga tampak puas. Ia hanya mengambil map itu kembali dan menutupnya dengan hati-hati, seolah isinya bisa pecah....
..."Dan sampai sekarang dia masih menerima gaji dari kami," katanya. "Lewat warungmu, setiap bulan, dalam amplop cokelat yang kamu kira dari pengelola pasar."...
...Bima menggenggam tepi meja. Tangannya tidak gemetar kali ini. Ia merasa seluruh tubuhnya sudah terlalu tegang untuk gemetar....
...Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia mengeluarkannya dengan tangan kanan. Ada satu pesan masuk, dari nomor yang ia kenal. Nomor Pak Darto yang sudah lama ia simpan di bawah nama "Darto Warung"....
...Pesan itu pendek. Hanya tiga kata, dan kata terakhirnya ditulis dengan huruf kecil semua....
...*Maaf, Mas. Jangan.*...
...Bima menatap layar itu tanpa berkedip. Di sebelahnya, perempuan itu sudah berdiri dan mengambil mantelnya dari sandaran kursi....
..."Dia mengirim pesan?" tanyanya tanpa menoleh....
...Bima tidak menjawab. Ia menutup ponsel dan memasukkannya ke saku, tapi jarinya tidak melepaskannya....
..."Jangan telepon dia dulu," kata perempuan itu. "Pagi ini kita pergi ke Gudang 4."...