Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31
Di balik puing-puing meja resepsionis yang hancur, Trevor tampak berdiri dengan posisi tubuh setengah terbuka. Pria itu sama sekali tidak tampak takut; sebaliknya, di balik topeng badutnya yang mengerikan, Trevor terlihat sangat menikmati setiap detik pertumpahan darah ini! Ia tertawa histeris, menyemburkan tembakan secara membabi buta ke arah luar sembari sesekali berteriak memaki para petugas.
"AYO BAJINGAN! HANYA INI YANG KALIAN PUNYA?! TAMBAH LAGI PASUKAN KALIAN!" jerit Trevor penuh kegilaan seraya mengganti magasin senapannya yang kosong dengan gerakan kilat.
Di luar gedung bank, jumlah armada kepolisian telah membengkak berlipat ganda. Tidak hanya mobil patroli Stanier standar, kini dua unit van taktis SWAT yang tebal berwarna hitam juga telah memblokir jalan raya utama. Puluhan petugas kepolisian LSPD bersama personel SWAT berseragam serba hitam dan berpelindung tubuh tebal mengambil posisi bertahan di balik kap kendaraan mereka, membentuk barikade ketat yang mengurung area depan bank.
THU-THU-THU-THU-THU-THU-THU!
Deru baling-baling helikopter kepolisian Maverick menggelegar dari atas langit! Cahaya lampu sorot (searchlight) raksasa berkekuatan puluhan ribu watt dari helikopter menembus kegelapan debu di aula bank, menyapu lantai marmer dan menyilaukan pandangan siapapun yang berada di dalam. Dari pintu samping helikopter yang terbuka, seorang penembak jitu (sniper) kepolisian mengarahkan laras senjatanya langsung ke dalam aula.
"Sialan, helikopter patroli udara sudah mendarat di atas kita!" umpat Franklin seraya berlindung di balik pilar beton utama.
"Jangan biarkan mereka mengunci posisi kita! Bantu Trevor, buka jalan menuju van!" tebas Michael seraya mengokang M4 Carbine-nya.
Andika, Michael, dan Franklin tanpa ragu langsung merapat ke barisan depan, menyatukan kekuatan tembakan bersama Trevor. Baku tembak dalam skala masif pun meledak seketika!
RAT-AT-AT-AT-AT-AT-AT-AT!
DUM-DUM-DUM-DUM-DUM!
Andika mengambil posisi di balik pilar sebelah kiri. Dengan ketenangan dingin di tengah dentuman amunisi yang memekakkan telinga, Andika mengarahkan laras senapannya ke arah mobil patroli terdepan. Jemarinya menekan pelatuk dalam dorongan beruntun yang terukur. Peluru kaliber 5.56mm menyembur presisi, menghantam kaca depan mobil patroli dan memaksa dua personel SWAT yang mencoba maju untuk mundur kembali berlindung di balik roda!
PRRRAANG! SPARK!
Percikan api membakar badan mobil-mobil polisi saat ratusan peluru dari empat senapan serbu perampok itu menghantam baja kendaraan secara bersamaan. Suara selongsong peluru tembaga yang kosong jatuh berdentang di atas lantai marmer aula terdengar seperti hujan besi. Trevor yang mendapat dukungan penuh dari Andika dan yang lainnya semakin menjadi-jadi. Ia memuntahkan tembakan beruntun ke arah tangki bahan bakar salah satu mobil patroli LSPD di seberang jalan.
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat meletup hebat! Kobaran api jingga membumbung tinggi ke udara, menghancurkan mobil patroli tersebut dan melempar dua petugas kepolisian ke samping! Gelombang kejutan ledakan beserta kepulan asap hitam pekat seketika tercipta, menutupi pandangan barikade LSPD di jalan raya.
Kepanikan dan kekacauan melanda barisan kepolisian. Asap pekat dan dorongan tembakan gencar dari empat perampok berdarah dingin itu berhasil memaksa pasukan polisi dan SWAT mundur beberapa langkah untuk mencari perlindungan baru.
"Celah terbuka! Ini kesempatan kita! LARI KE VAN SEKARANG!" teriak Michael memberikan instruksi pemungkas!
Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, mereka berempat melakukan manuver meloloskan diri. Menyandang tas kargo berisi beban berat jutaan dolar dan emas di punggung mereka, Andika, Michael, Franklin, dan Trevor berlari kencang menerobos pintu kaca utama yang hancur, melompati puing-puing bangunan, dan meluncur deras menuju pelataran parkir samping!
TAT-TAT-TAT-TAT-TAT!
Tembakan balasan dari helikopter dan beberapa polisi yang tersisa masih menyapu area sekitar mereka, memercikkan tanah dan meretakkan dinding beton di sekeliling langkah berlari mereka. Namun dengan kecepatan dan kejelian penuh, keempatnya berhasil mencapai van Declasse Burrito hitam yang masih menyala di bawah naungan gedung.
Pintu samping van dibanting terbuka lebar!
"MASUK! MASUK! CEPAT!" seru Franklin.
Andika melemparkan tas kargo emasnya lebih dulu ke dalam lantai kendaraan, lalu melompat masuk dengan tangkas. Michael dan Trevor menyusul dengan lompatan cepat, mendarat di dalam ruang kargo van yang sempit. Franklin melompat ke kursi kemudi, membanting pintu pengemudi rapat-rapat, dan langsung menekan pedal gas dalam-dalam hingga mencapai dasar lantai!
VROOOOOOOOOOOOOMMMMM!
SREEEEEEEEEEECH!
Ban belakang van berputar hebat di atas aspal, membakar karet ban hingga memercikkan asap putih dan bunyi decitan keras yang melengking! Van Declasse Burrito itu meledak meluncur maju bagaikan peluru yang ditembakkan dari meriam, menerobos keluar dari pelataran parkir samping dan membelok tajam menghantam trotoar jalan utama!
"Pegang pegangan pintu! Kita kabur!" jerit Franklin seraya memutar kemudi secara ekstrem untuk menghindari sisa barikade polisi!
Van hitam itu melaju gila-gilaan menembus arus lalu lintas Pacific Bluffs, menerobos lampu merah dan membuat mobil-mobil warga sipil berbelok liar saling bertabrakan demi menghindari terjangan kendaraan perampok tersebut.
Namun, pelarian mereka dari area bank sama sekali tidak berjalan mudah.
Di kaca spion tengah, Franklin melihat tiga unit mobil patroli Vapid Stanier LSPD yang selamat dari ledakan langsung memutar balik kendaraan mereka. Raungan sirine ganda kembali bergema bersahut-sahutan, mengejar van hitam itu dengan kecepatan tinggi dari jarak beberapa puluh meter di belakang!
Yang lebih Mencekam, di atas langit yang mulai dipenuhi awan kelam, suara kibasan baling-baling raksasa tidak kunjung menjauh. Helikopter Maverick kepolisian meluncur tajam menembus angin laut, memotong jalur udara tepat di atas van mereka. Cahaya sorot putih raksasa dari helikopter itu mengunci van Declasse Burrito dari udara, menerangi seluruh bodi kendaraan dan melacak setiap lekuk pergerakan kabur mereka tanpa celah sedikit pun!
"Sialan! Polisi di darat masih menempel ketat, dan helikopter bangsat itu terus mengikuti kita dari langit!" geram Franklin seraya terus memacu kendaraan menembus kecepatan maksimum!
Dari dalam bagasi belakang yang bergoyang hebat akibat guncangan laju van, Andika mengintip keluar melalui kaca jendela belakang yang gelap. Pandangannya menatap tajam ke arah kilatan lampu sirine merah-biru yang mengejar di belakang serta sorotan cahaya helikopter yang memburu mereka dari langit. Perampokan bank telah berhasil dieksekusi, namun kini aksi pelarian maut melintasi jalanan kota Los Santos baru saja dimulai.
Guncangan hebat menghantam kabin van Declasse Burrito saat Franklin memutar kemudi secara ekstrem demi menghindari mobil warga sipil yang mendadak berhenti. Di bagasi belakang, posisi Andika, Michael, dan Trevor terlempar kasar membentur dinding besi kendaraan. Sorotan lampu searchlight dari helikopter Maverick kepolisian yang terus menempel di langit menerobos masuk melalui kaca belakang yang gelap, menyinari wajah-wajah bertopeng badut yang dipenuhi kilat keberanian dan bahaya.
Melihat raungan sirine merah-biru makin merapat di garis belakang, Trevor meludah ke lantai van. "Bajingan-bajingan berseragam ini tidak tahu kapan harus menyerah!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Trevor, Andika, dan Michael secara serempak merogoh holster taktis di pinggang mereka. Tangan mereka menyambar pistol semiotomatis Glock 17 berwarna hitam legam. CKLAK-CKLAK! Suara pengokangan kokoh beruntun bergema di dalam kabin van yang berderu keras.
Mereka bertiga menggeser posisi berlutut di dekat kaca jendela belakang van. Dengan gerakan tangkas, Trevor menendang sisa-sisa pecahan kaca belakang hingga bersih total, membuka ruang tembak yang luas dan tak terhalang menuju arah jalan raya di belakang mereka.
Angin kencang malam seketika berhembus liar masuk ke dalam ruang bagasi, membawa serta raungan sirine LSPD yang memekakkan telinga.
"Tembak ban dan pengemudinya! Buat mereka melintir!" perintah Michael dingin seraya menyandarkan kedua lengannya di bingkai jendela bawah untuk menstabilkan bidikan.
"Makan ini, Bangsat!" jerit Trevor histeris!
BANG! BANG! BANG! BANG!
Baku tembak dalam kecepatan tinggi meledak secara brutal di tengah jalan tol coastal highway! Trevor memuntahkan tembakan beruntun dari Glock-nya. Masing-masing kilatan api (muzzle flash) dari ujung laras menyinari kegelapan jalanan.
Andika dan Michael memadukan alur tembakan mereka dengan presisi tinggi. Andika memicingkan mata di balik lubang topeng badutnya, mengunci fokus pada mobil patroli Vapid Stanier terdepan yang hanya berjarak belasan meter di belakang mereka. Dari balik kaca depan mobil patroli itu, dua petugas kepolisian LSPD mengarahkan pistol dinas mereka keluar jendela dan membalas tembakan!
PRRRAANG! DUM-DUM-DUM!
Peluru-peluru kaliber 9mm dari kepolisian menyambar bodi belakang van Burrito, merobek plat besi kendaraan, memercikkan bunga api liar, dan memecahkan lampu rem belakang! Satu peluru melintas hanya beberapa senti di samping kepala Andika, menghantam atap dalam van dengan suara dentang keras.
Namun Andika tak sedikit pun gentar. Napasnya tetap stabil dan teratur. Ia mengoreksi arah pergerakan laras Glock-nya mengikuti guncangan van, lalu menarik pelatuk tiga kali berturut-turut dengan cepat!
BANG! BANG! BANG!
Peluru presisi tembakan Andika menembus tepat di tengah kaca depan mobil patroli terdepan! PRRRAANG! Kaca tersebut hancur berkeping-keping, dan dua peluru menghantam dada serta leher pengemudi polisi tersebut. Petugas itu seketika tewas terkulai di atas roda kemudi! Mobil patroli yang kehilangan kendali itu melintir tajam dalam kecepatan 120 km/jam, membentur pembatas jalan beton dengan dahsyat, lalu berguling beberapa kali di udara hingga meledak menjadi kobaran api raksasa!
BOOOOOOMMMM!
"BAGUS, ANDIKA! SATU DOWN!" teriak Trevor tertawa gila menembus gemuruh angin!
Mobil patroli kedua di belakangnya terpaksa membanting setir secara mendadak demi menghindari puing-puing ledakan temannya, membuat jarak mereka sempat melonggar.
Sementara perang sengit terjadi di bagian belakang, Franklin memamerkan keahlian mengemudinya yang luar biasa di balik roda kemudi. Dalam situasi penuh tekanan dan kejaran peluru, pandangan Franklin sangat fokus. Indrenalinnya berpacu dalam tingkat tertinggi, membuat waktu seolah berjalan lebih lambat di matanya.
Franklin menginjak rem sebentar, memutar kemudi secara presisi untuk melakukan manuver power slide memotong dua jalur jalan sekaligus, lalu kembali menginjak gas penuh di celah sempit antara dua truk kontainer besar! Van Burrito meloncat tangkas membelah jalanan, meninggalkan guncangan angin keras bagi kendaraan di sekitarnya.
VROOOOOOOOOMMM!
"Kalian di belakang tetap menembak! Aku akan membawa kita melintasi jalur rumit!" seru Franklin tenang namun tegas melalui mikrofon taktisnya.
Meski Franklin berhasil mempermainkan mobil-mobil patroli LSPD di darat melalui celah-celah lalu lintas yang gila, pantauan dari helikopter Maverick kepolisian di udara terbukti sangat sulit untuk dihilangkan.
THU-THU-THU-THU-THU-THU-THU!
Baling-baling helikopter menggerung tepat di atas atap van mereka. Cahaya lampu sorot putih raksasa dari helikopter itu terus menempati posisi van, menyinari kendaraan mereka bagaikan panggung pertunjukan maut di tengah kegelapan malam Los Santos. Dari pintu samping helikopter, seorang anggota tim taktis kepolisian terus memuntahkan tembakan beruntun menggunakan submachine gun ke arah atap van!
TAT-TAT-TAT-TAT-TAT!
Plat besi atap van terlubangi peluru beruntun, memercikkan serpihan logam panas ke dalam bagasi.
"Helikopter sialan ini tidak mau lepas!" umpat Michael seraya memasukkan magasin baru ke dalam pistol Glock-nya dengan gerakan terampil. CKLAK! Michael kemudian mengarahkan larasnya ke atas, menembak ke arah helikopter melalui lubang-lubang di atap van.
BANG! BANG! BANG! BANG!
Aksi kejar-kejaran dan aksi saling tembak ini berlangsung kian sengit dan menegangkan. Di bawah guyuran cahaya lampu sorot helikopter yang tak terputus dan deretan mobil polisi baru yang terus berdatangan dari simpang-simpang jalan untuk menggantikan unit yang hancur, van Burrito terus melaju kencang dalam pusaran peluru, ledakan, dan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam kota.