Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Sayang Tanpa Ikatan Darah
#31
Tok!
Tok!
Sebelum membuka pintu, Azam mengetuk terlebih dahulu, “Masuk.” Terdengar suara sahutan dari dalam kamar.
“Assalamu'alaikum, Ayah, Bunda,” ucap Azam saat membuka pintu.
“Waalaikumsalaam,” jawab kedua orang tua Azam dengan wajah lega. “Akhirnya sampai juga kamu, Nak.”
“Maaf, Bund. Aku kelamaan, ya?” tanya Azam langsung mendekati Bunda Hilda, bermaksud menggendong Ghazi.
“Eits, sudah cuci tangan, ganti baju? Habis perjalanan jauh, loh,” ujar Ayah Irfan mengingatkan, demi kebaikan tentunya, karena Ghazi baru genap dua bulan usianya.
Azam mengangkat tangannya, “Oh, iya, lupa. Kalau gitu cium aja.” Azam menunduk lalu mencium gemas pipi Ghazi yang mulai bulat. “Masih panas,” guman Azam.
“Iya, sih, tapi ini sudah turun, tadi siang cukup tinggi, ya, Yah?”
“Iya, Bundamu panik bukan main, makanya dia telepon kamu. Minta segera pulang.”
Azam menunduk, karena merasa bersalah, “Maaf, karena aku merepotkan Bunda dan Ayah lagi.”
“Sudah, sudah, cepat mandi sana, lalu gendong anakmu, sepertinya Ghazi sudah kangen.”
Azam mengangguk lalu berbalik menuju pintu, namun, ia baru teringat sesuatu. “Bunda, Ayah, mmm— ada Dina di ruang tamu.”
“Hah?! Dina? Ibu ASI nya Ghazi?!” pekik Bunda Hilda saking kagetnya, ia tak menyangka apa yang diharap-harapkannya dalam hati ternyata dikabulkan Tuhan. Wajah wanita itu sumringah bukan main.
“Iya, Bund, tadi pas aku kabari Dina soal kondisi Ghazi, Dina langsung bilang ingin ikut, dan mengunjungi Ghazi. Bunda dan Ayah nggak keberatan, kan, kalau Dina menginap di rumah ini beberapa hari?” tanya Azam, ia gelisah menanti reaksi kedua orang tuanya.
“Tentu saja boleh, Zam. Kamu ini mikirnya kok aneh begitu,” jawab Ayah Irfan.
Azam tersipu, lalu bergegas berjalan menuju kamarnya untuk bersih-bersih dan menukar pakaian.
Sementara itu, Bunda Hilda dan Ayah Irfan segera keluar menemui Dina. Untung saja Aisha sangat pengertian, gadis itu nampak berbincang akrab dengan Dina, bahkan sudah menghidangkan minuman hangat serta beberapa kudapan ringan untuk Dina.
“Dina—” sapa Bunda Hilda ramah.
“Tante—” sahut Dina dengan wajah sumringah. Apalagi saat melihat Ghazi ikut keluar bersama Bunda Hilda.
Wanita itu pun menyalami kedua orang tua Azam, “Om dan Tante apa kabar?”
“Alhamdulillah, masih diberi nikmat dan umur panjang untuk bisa menjaga cucu.”
Nampaknya Bunda Hilda langsung memahami arah tatapan Dina, hingga tanpa Dina minta Bunda Hilda langsung menyerahkan Ghazi ke pelukan Dina.
“Tante— ini—” Dina tak sanggup berkata-kata.
“Gendonglah dia, kamu pasti merindukannya,” kata Bunda Hilda, mempersilahkan Dina melepas kerinduannya pada Ghazi.
Dina mendekap Ghazi dengan erat, namun, tetap memberikan ruang yang nyaman bagi bayi itu untuk bergerak. “Sayang— Tante rindu, dan cemas. kamu sakit, ya? Hmm, jangan sakit, Nak. Nanti Tante sedih,” bisik Dina dengan suara lirihnya, namun, Dina tak menyadari bahwa semua orang yang mendengarnya ikut berkaca-kaca.
Ghazi pun sepertinya merasakan kehadiran Dina, bayi itu menggerak-gerakkan kepalanya, mulut mungilnya terbuka seolah menginginkan sesuatu. Setelah beberapa saat berusaha namun, tak membuahkan hasil, tangis Ghazi pun melengking keras, menggema di seluruh penjuru rumah.
“Aisha, ambilkan dotnya Ghazi di kamar Bunda,” pinta Bunda Hilda.
“Iya, Bund,” jawab Aisha, gadis itu berjalan cepat ke kamar kedua orang tuanya.
“Tante— bolehkah aku menyusuinya—” pinta Dina, sejak tadi bukannya Dina tak paham, ia paham dan sepertinya payu daranya pun mendadak terasa nyeri seperti penuh dengan ASI.
Itu hal normal dan alami, artinya tubuhnya menyambut tangisan Ghazi dengan memberikan respon positif, hanya saja Dina belum berani mengungkapkannya.
Bunda Hilda seketika paham bahwa Dina tak nyaman karena mereka sedang berada di ruang tamu, terlebih lagi ada Ayah Irfan di sana. “Boleh, Nak. Bunda Ajak Dina ke kamar Aisha saja,” jawab Ayah Irfan.
“Oh, iya, Yah.”
Bunda Hilda pun mengajak Dina ke kamar Aisha, untunglah kamar itu memiliki tempat tidur yang luas, misalkan malam nanti Dina tidur seranjang di kamar Aisha pun tidak akan jadi soal.
Setibanya di kamar, Dina pamit berganti pakaian nyaman serta membersihkan tangan sebelum menyusui Ghazi, semua demi kenyamanan bayi itu. Karena Dina pun menyadari ia baru saja dari luar rumah, jadi semua harus serba bersih.
Beberapa saat kemudian, dengan lembut dan penuh kasih, Dina menyusui Ghazi. Air mukanya terlihat bahagia, lega, merasa sempurna sebagai seorang ibu, meski yang disusuinya bukan anak yang ia lahirkan.
Tapi begitulah nikmat yang Tuhan kasih untuk hamba-hambanya yang tulus ikhlas saling menyayangi. Tak ada keharusan ada ikatan darah, yang penting adalah bagaimana kita dengan tulus mencurahkan kasih sayang.
Tangan Dina tak henti mengusap kepala Ghazi dengan lembut, memastikan suhu badan bayi tak setinggi sebelumnya.
Bunda Hilda menatap pemandangan tersebut dengan perasaan haru, andai ia boleh lancang berdoa, ia ingin wanita ini menjadi ibu sambung cucunya. Tapi, apalah daya bila takdir Tuhan belum menghendakinya.
Di ruang tamu, Azam sudah keluar dari kamarnya dalam keadaan bersih, serta sudah selesai menjalankan kewajiban lima waktunya.
“Yah, kok, sepi? Kemana semua orang?”
Ayah Irfan tak menjawab, hanya memberi kode menggunakan lirikan matanya. Azam hanya menganggukkan kepalanya, sudah sangat mengerti bagaimana situasi anaknya.
•••
Keesokan harinya di tempat berbeda.
“Kamu sudah gila, Cakra!” Sarah menatap tajam pria yang duduk santai di hadapannya. Sejak tiba di kafe tempat mereka janjian ia sudah merasa tidak nyaman. Terlebih ketika Cakra menyambutnya dengan senyum tipis yang menyebalkan, seolah-olah kedatangannya hanya untuk memenuhi keinginan seorang pria yang tak bisa menerima penolakan.
“Aku sudah bilang, jangan menghubungiku sembarangan!” desis Sarah, berusaha menjaga intonasi suaranya agar tidak menarik perhatian pengunjung lain. “Kalau sampai Mas Farhan tahu aku bertemu denganmu, semuanya bisa berantakan.”
Cakra terkekeh, ia bahkan belum menyentuh minuman di hadapannya, tapi belum apa-apa Sarah sudah menceramahinya.
“Lucu sekali. Sekarang kamu takut ketahuan suamimu sendiri?” sindir Cakra.
“Jangan mempermainkanku, Cakra!”
“Lalu, bagaimana aku harus memperlakukanmu, Sarah? Sebagai teman lama yang kebetulan punya rahasia bersama? Atau sebagai seseorang yang bisa sewaktu-waktu kamu panggil sebagai penghangat ranjangmu?”
Sarah mengepalkan tangan di bawah meja. “Apa maumu?” tanyanya, jelas ia tak ingin berlama-lama ada di dekat Cakra.
“Nah, begitu lebih baik. Kita tidak perlu membuang waktu untuk basa-basi.”
Cakra menegakkan punggungnya dari tempat ia bersandar, lalu menatap Sarah tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah.“Aku butuh uang.”
Sarah langsung mengernyit. “Lagi?!” pekiknya geram.
Namun, Cakra hanya mengangguk santai sambil menghisap batang rokok di tangannya, “Kenapa? Kamu pikir kebutuhan hidupku bisa selesai hanya dengan sekali meminta?”
“Kamu sudah menerima uang dariku sebelum, dan sebelum-sebelumnya!” geram Sarah.
“Sudah habis, sayangku.”
Sarah nyaris tertawa karena tak percaya, ia sudah muak dengan sikap Cakra, tapi ia tak bisa melepaskan diri. “Kamu pikir aku ini mesin uang?!” bisiknya geram. “Aku juga punya kehidupan sendiri. Aku punya suami, keluarga, dan banyak hal yang harus kujaga. Kamu tidak bisa terus-menerus menyeretku ke dalam masalahmu!”
“Kalau begitu, kenapa kamu dulu menyeretku ke dalam masalah hidupmu, Jalang!?”
Sungguh kalimat yang tak terduga, karena mereka berdua memiliki kelakuan yang sama, yang satu butuh kepuasan, yang satu lagi butuh uang, hingga menjual dirinya demi memuaskan seseorang.
Cakra mengeluarkan ponselnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Ia tidak menunjukkan apa pun kepada Sarah, tetapi tatapannya cukup membuat wanita itu merasa terancam.
“Aku masih menyimpan bukti tentang apa yang kita lakukan terhadap Dina.”
Wajah Sarah seketika menegang. “Jangan membawa-bawa nama Dina di sini.”
“Kenapa? Takut ada orang yang mendengar?”
“Cakra!”
Cakra tersenyum penuh ejekan, karena merasa sudah berada di atas angin. “Kalau rahasia itu sampai terbongkar, menurutmu bagaimana reaksi Farhan? Bagaimana reaksi keluarga Permana ketika mereka tahu bahwa orang yang selama ini mereka lihat sebagai bidadari dan ibu peri, ternyata adalah seorang Jalang murahan.”
Sarah terdiam, ia tahu Cakra bukan orang yang bisa diajak berunding dengan mudah. Pria itu tidak peduli dengan apa yang akan dialami orang lain, selama ia bisa memperoleh keuntungan pribadi.
“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Sarah lagi, kali ini dengan suara lebih rendah.
“Uang, memang apa lagi?”
“Berapa?”
Cakra menyebutkan jumlah yang membuat Sarah spontan membelalakkan mata.
“Kamu sudah benar-benar tidak waras! Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu tanpa menimbulkan kecurigaan?”
“Itu urusanmu.”
“Enteng sekali kamu bicara! Kamu yang meminta, tetapi aku yang harus memikirkan bagaimana caranya?”
Cakra mengangkat bahu. “Kamu bisa mencari alasan. Katakan saja untuk kebutuhan rumah tangga, investasi, atau apa pun yang biasa dilakukan orang dengan uang sebanyak itu. Bukankah kamu cukup pandai menyusun cerita? Atau lakukan sesuai dengan keahlianmu, tidur dengan pria manapun, terserah. Asalkan aku bisa dapat uang.”
Sindiran itu membuat Sarah semakin geram. Ia ingin berdiri dan meninggalkan meja tersebut, tetapi ancaman Cakra menahannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu terus mengendalikanku,” katanya dengan mata merah karena amarah.
Cakra justru tersenyum. “Kamu boleh mencoba, Sarah. Tapi ingat satu hal, kita terlibat dalam urusan yang sama. Kalau aku jatuh, kamu juga tidak akan bisa berpura-pura tidak mengenalku.”
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣