Indonesia
NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pukul 04:00 pagi. Udara di kawasan pelabuhan Tanjung Priok terasa berat, bercampur antara bau amis laut, debu batu bara, dan oli mesin yang menyengat. Di tengah gelapnya malam, Gudang Nomor 4 di Area C berdiri seperti monster besi yang tidur. Di balik dinding seng bergelombangnya, terdapat jantung dari operasi pencucian uang Raka Adityama di Indonesia.

Di dalam sebuah mobil komando hitam yang diparkir dua ratus meter dari gerbang gudang, Reyna duduk menatap tiga layar monitor yang menyala redup. Di sebelahnya, Gavin Sterling sedang merokok cerutu tipis, sementara Nadia mengetik dengan kecepatan luar biasa. Di kursi depan, Inspektur Arya dari Bareskrim Siber—seorang perwira jujur yang merupakan kontak lama Gavin—sedang memeriksa senapan serbunya.

"Tim taktis sudah berada di posisi, Nona Reyna," lapor Inspektur Arya pelan, matanya tertuju pada teropong malam yang mengarah ke gudang. "Dua puluh penjaga bersenjata di dalam. Sesuai instruksi Anda, kami akan bergerak hanya setelah Anda memberikan sinyal bahwa komunikasi mereka dengan luar terputus total."

Reyna menatap layar tengah yang menampilkan peta jaringan satelit. "Nadia, bagaimana status jammer?"

"Penyekat sinyal lokal sudah aktif dalam radius lima ratus meter," jawab Nadia, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Frekuensi satelit mereka sedang saya loop. Dari dalam gudang, mereka akan melihat sinyal ke pulau Raka masih normal, tapi sebenarnya pesan mereka tidak akan pernah keluar. Dan dari pulau Raka, perintah apa pun tidak akan bisa masuk."

Reyna mengangguk puas. Raka telah memerintahkan Haryo untuk menghancurkan server jika jejak mereka terlacak. Jika penjaga di dalam gudang menyadari mereka diserang, mereka akan menekan tombol darurat untuk membakar seluruh ruang server menggunakan sistem termite yang terpasang di langit-langit. Reyna tidak akan membiarkan bukti itu hangus.

"Putus sambungannya sekarang," perintah Reyna.

Nadia menekan Enter. Di layar, indikator koneksi satelit dari Gudang 4 berubah dari hijau menjadi merah, lalu berkedip palsu sebagai hijau lagi.

"Sambungan terputus. Mereka sekarang buta dan tuli," lapor Nadia.

"Inspektur, eksekusi," ucap Reyna dingin.

Inspektur Arya segera menekan tombol radio di bahunya. "Tim Alpha, Bravo, masuk. Eksekusi!"

Dari balik bayang-bayang kontainer kargo, tiga puluh anggota Detasemen Khusus Bareskrim bergerak cepat seperti hantu. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak memberi peringatan. Dengan menggunakan alat pemotong hidrolik, gerbang samping gudang dihancurkan dalam hitungan detik.

BRUK!

Pintu besi itu rubuh. Tim Alpha melemparkan granat kejut ke dalam.

Duar!

Cahaya putih menyilarkan dan suara pekak meledak di dalam gudang. Para penjaga yang sedang bersantai di pos keamanan langsung panik. Mereka meraih senjata dan radio mereka, mencoba menghubungi pusat komando di pulau Raka untuk meminta perintah pembakaran server. Namun, radio mereka hanya mengeluarkan suara desis statis.

"Jangan melawan! Polisi! Letakkan senjata kalian!" teriak Inspektur Arya saat ia dan timnya menyerbu masuk, lampu senjata mereka menari-nari di kegelapan gudang yang luas.

Reyna menonton semuanya melalui kamera drone mikro yang telah dilepaskan oleh tim taktis sebelum penyerbuan. Ia melihat para penjaga itu bingung. Tanpa perintah dari Raka, mereka tidak berani mendekat ke panel pembakar server. Keraguan itu adalah celah yang dimanfaatkan oleh polisi untuk melumpuhkan mereka satu per satu dengan tembakan peringatan dan borgol.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh penjaga berhasil dilucuti dan ditundukkan.

"Area aman, Nona," suara Inspektur Arya terdengar melalui earpiece Reyna. "Kami sedang menuju ruang server."

Reyna menahan napas saat layar drone menunjukkan tim polisi mendoblor pintu baja ruang server. Di dalam sana, deretan rak server berdengung kencang, lampu-lampu LED berkedip seperti bintang-bintang kecil. Di tengah ruangan, terdapat sebuah panel merah dengan tulisan THERMITE PURGE.

Inspektur Arya segera mendekati panel itu dan mencabut kabel daya utamanya dengan tang isolasi. "Sistem pembakaran dinonaktifkan. Ruang server aman."

Reyna menghela napas panjang yang baru ia sadari ia tahan. "Bagus. Sekarang, cari ruang tersembunyi. Haryo bilang ada sesuatu yang lebih dari sekadar server."

Tim polisi mulai memindai ruangan. Nadia, yang kini terhubung dengan jaringan internal gudang melalui kabel fisik yang dicolokkan oleh salah satu teknisi polisi, mulai memindai struktur bangunan.

"Nona, ada anomali," ucap Nadia tiba-tiba. "Lantai di sudut utara ruangan memiliki densitas yang berbeda. Ada ruang bawah tanah di bawah lantai beton itu."

Reyna menatap layar. "Inspektur, sudut utara. Ada lantai palsu."

Inspektur Arya dan dua anggotanya segera berlari ke sudut utara. Mereka menemukan sebuah panel tersembunyi di bawah tumpukan kabel. Dengan usaha keras, panel itu ditarik terbuka, menampakkan tangga besi yang menuju ke ruang bawah tanah yang remang-remang.

Ketika Inspektur Arya turun dan menyalakan senter, ia tidak menemukan server. Ia menemukan sebuah brankas besi tua yang tebal, dan di atasnya, terdapat sebuah meja kayu dengan tumpukan buku catatan kulit hitam.

"Ya Tuhan..." gumam Inspektur Arya melalui earpiece. "Ini adalah buku besar fisik. Catatan manual. Dan ada puluhan hardisk di dalam brankas ini yang belum terhubung ke jaringan."

Reyna tersenyum tipis. Raka Adityama mungkin seorang jenius digital, tetapi ia cukup tua dan paranoid untuk menyimpan salinan fisik dari semua transaksi gelapnya, termasuk nama-nama politisi dan pejabat tinggi yang ia suap. Ini bukan sekadar bukti pencucian uang. Ini adalah buku harian yang bisa meruntuhkan setengah dari pemerintah dan elit bisnis Jakarta.

"Amankan semua. Bawa ke markas Bareskrim yang paling rahasia. Jangan percayai siapa pun di luar tim Anda, Inspektur," perintah Reyna.

"Siap, Nona Reyna. Operasi berhasil tanpa satu pun bukti yang hangus."

Reyna menutup earpiece-nya. Ia menatap Gavin, yang sedang tersenyum puas sambil mengepulkan asap cerutunya.

"Kau baru saja memotong tangan dan kaki Raka di Jakarta, Nak," ucap Gavin, suara beratnya penuh dengan kekaguman. "Dengan buku besar fisik itu, Interpol bisa membekukan seluruh aset globalnya dalam dua puluh empat jam. Dia sekarang hanya kepala tanpa tubuh."

"Kepala tanpa tubuh masih bisa menggigit, Gavin," balas Reyna, matanya menatap layar yang kini menampilkan peta pulau pribadi Raka. "Kita baru saja membuatnya kehilangan miliaran dolar dan seluruh jaringannya di Asia. Dia tidak akan duduk diam menunggu mati."

***

Delapan ratus kilometer di timur, di pulau pribadi Raka Adityama, suasana jauh dari kata tenang.

Di ruang komando bawah tanah, lampu-lampu darurat berwarna merah berkedip panik. Layar utama yang biasanya menampilkan aliran dana dari seluruh dunia kini menampilkan pesan CONNECTION LOST.

Raka berdiri di tengah ruangan, dadanya naik turun. Bekas luka bakar di wajahnya tampak semakin mengerikan karena warna merah padam yang menyelimuti kulitnya. Maya berdiri di sudut, tangannya mengepal.

"Node Jakarta gelap," lapor seorang operator dengan suara gemetar. "Sinyal satelit terputus total. Kami mencoba mengirim perintah pembakaran, tapi tidak ada respons. Tim di gudang... mereka hilang kontak."

Raka tidak berteriak. Ia tidak membanting meja. Ia hanya berdiri di sana, menatap layar hitam itu dengan tatapan yang begitu dingin hingga bisa membekukan lautan.

"Reyna Arland," bisik Raka, suaranya terdengar seperti gesekan pisau di atas batu nisan. "Dia tidak mencoba meretasku. Dia memotong urat nadiku dengan pisau bedah hukum."

Raka berbalik perlahan, menatap Maya. "Digital tidak akan cukup lagi, Maya. Gadis itu telah membuktikan bahwa dia lebih licik dari serigala mana pun di dunia maya. Sekarang, kita kembali ke cara lama."

Maya mengangkat kepalanya, matanya menyala dengan niat membunuh. "Perintah Anda, Tuan?"

"Pergi ke Jakarta," perintah Raka, setiap kata keluar seperti racun yang menetes. "Tinggalkan jejak digitalmu. Biarkan Interpol dan polisi sibuk dengan buku besar Haryo. Sementara mereka sibuk melihat ke bawah, kau akan datang dari atas. Bawa tim pembersih terbaikmu. Aku tidak ingin dia ditangkap. Aku tidak ingin dia diadili. Aku ingin kepalanya dikirimkan padaku dalam sebuah kotak."

Maya membungkuk sedikit. "Siap, Tuan. Dia akan mati sebelum matahari terbenam besok."

Perang digital telah usai. Sekarang, perang fisik dan darah akan dimulai. Dan untuk pertama kalinya sejak ia bangkit dari kematiannya, Reyna tidak akan bisa melihat serangan itu datang melalui layar komputer.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!