Semua gadis akan tumbuh menjadi seorang wanita. Tapi tidak semua wanita bisa menjadi seorang ibu.
Bayu secara tidak sengaja bertemu dengan Ara, seorang mama muda dengan dua anak. Ia membantu mengurus Ara dan kedua anaknya sebagai bentuk pertanggung jawabannya atas kecelakaan yang menimpa Ara. Tanpa berpikir panjang, Ia malah mengambil peran sebagai papa untuk anak-anak Ara dan suami untuk Ara.
Setelah menikah, Ia malah mendapati bahwa Ara ternyata masih gadis. Lalu siapa sebenarnya anak-anak yang memanggil Ara mama? dan siapa Ibu yang teman dan kenalannya begitu mereka takuti?
Sejak mengenal Bayu, hidup Ara bagaikan sebuah roller coaster. Bayu menerobos masuk dan mengambil alih hidupnya. Padahal ada sebuah rahasia yang disimpan oleh Ara. Ketika terjadi sesuatu yang mengancam rahasia itu dan anak-anaknya, Ara terpaksa menikah dengan Bayu untuk melindungi mereka semua.
Lalu bagaimana dengan Ara dan Bayu? apakah mereka bisa belajar mencintai satu sama lain, atau selamanya terjebak dalam Hero dan Damsel in Distress Syndrome?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aimee Valentine Marasuchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
🕰🕰🕰
Jack menatap wanita yang sedang tersenyum kepada Bossnya itu dengan curiga. "Jadi kamu hamil dua kali, dua - duanya mati saat masih bayi? " Ayu mengangguk dengan senyum kosong. Sepertinya masih fly dari obat yang baru diberikan Boss. "Kenapa bisa begitu? Apa tetanggamu ga ada yang bantu merawat anak - anak kamu? " Wanita itu mengangkat bahunya. "Kelaparan, mungkin? Kalaupun ada tetangga… tidak ada susunya. Sejak lahir minumnya air sama teh aja. Ngapain buang- buang uang buat beli susu? Mending buat beli obat" Tawanya renyah.
Boss memandangi wanita itu dengan senyum miring. "ASImu tidak keluar? Atau mengandung obat makanya ga kamu kasih ke anak kamu?" Dia tertawa lagi. "Haha… mungkin juga ya, makanya pelanggan aku suka banget sama ASIku. Ya itu, lumayan dijual daripada dibuang- buang." Boss tertawa mendengarnya. "Berarti kamu ga keberatan hamil lagi? Biar lebih cepat menutup hutangmu? Lumayan lho, satu bayi bisa seratus jutaan kalau laki - laki. Belum kalau ASI nya juga kamu jual."
Jack berusaha menahan dirinya untuk tidak bereaksi. Ia sendiri sebetulnya jijik dengan Bossnya itu. Hanya saja, karena dia tidak ada tempat lain untuk pulang, dia jadi tidak punya pilihan lain. Tak sengaja matanya menangkap kilatan aneh di mata Ayu. Hanya sekilas sebelum kilatan itu menghilang, tapi senyuman miring Ayu setelah itu nampak seperti predator. "Hmm, ayo aja. Tapi, aku tidak tahu apakah masih bisa hamil atau ga dengan kondisi rahim aku yang udah kebanyakan kena obat dan alkohol." Boss tertawa keras. "Itu urusan saya. Kamu tidak perlu lagi pakai obat. Jaga kesehatan aja. Bayaran kamu sebagai inang jauh lebih menguntungkan daripada cuma pelacur biasa. Jack! Kamu urus dia. Pokoknya dimaksimalkan. Obatnya ganti dengan obat kesuburan. "
Jack membungkuk formal sementara Bossnya keluar dari ruangan, lalu duduk di kursi yang baru ditinggalkan pria itu. "Anak- anak elo meninggal setelah dilahirkan? " Ayu meliriknya sekilas lalu tersenyum sambil mengangguk. "Bagaimana dengan yang akan lahir nanti? " Tanyanya sambil mengeluarkan selembar foto dari kantong celananya. Ayu membeku saat melihat foto itu. "Yang lain mungkin cukup bodoh untuk percaya pada ibu kos elo yang kelihatan jelas bohongnya itu. Tapi gue bukan mereka yang merusak otak sendiri dengan obat."
"Apa yang lo inginkan?" Tanya Ayu tegang. Jack menggeleng. "Mereka lebih baik bersama wanita itu. Gue akan bakar foto ini. Elo ga usah khawatir. Hanya gue yang tahu soal ini. Tapi elo harus tahu, Yusak yang menjual kalian sama kami." Ayu mengangguk. "Yusak dulu sewa gue untuk ayah mereka. Yang kedua ga sengaja. Tapi gue ga bisa membiarkan mereka hidup kaya gue. Jadi mereka ga bisa jadi anak gue." Jack menghela nafas. "Elo belum jawab pertanyaan gue."
Ayu menatapnya tajam. "Lo juga belum jawab pertanyaan gue. Apa yang lo inginkan? " Jack menatap wanita itu tajam, lalu tertawa terbahak - bahak. "Elo masih tajam rupanya. Jadi selama ini elo cuma pura - pura fly. Lalu kemana obat yang di kasih ke elo itu?" Ayu menggeleng "oh, obatnya gue pakai kok, hanya saja gue tahu caranya mengendalikan supaya tidak kecanduan. Pakai oke tidak juga no problem. Tapi untuk ini" Katanya sambil mengetukkan jari ke pelipisnya, "seratus persen masih berfungsi"
"Gue suka gaya elo" Kata Jack. "Mama Beruang, eh? Begini. Yusak kabur dari kami. Gue cuma ga mau anak elo diincar terus. Mereka berdua itu sakit jiwa." Ayu menatapnya tajam. "Ga usah lo bilang pun gue juga tahu. Kenapa lo mau bantu menghindarkan anak itu dari mereka? Kan lo juga kerja sama mereka?" Jack menghembuskan nafas keras. "Boss itu satu- satunya yang menerima gue saat saat diusir keluarga dulu. Gue ga ada pilihan lain. Tapi gue bener - bener mual pas terakhir ada anak yang ga kuat dimainin orang - orang sakit itu. Sampai sekarang gue masih mimpi buruk melihat mata anak itu dan dengar teriakan sama tangisannya. Gue ga mau lagi lihat dan denger yang kaya gitu."
Ayu mengangguk. "Ga akan ada anak lain. Bahkan kalau gue harus jadi pelacur seumur hidup, ga akan ada anak lain yang akan lahir dari gue. Gue udah minum obat setelah kelahiran anak kedua gue. Kalau diperiksa, organnya akan kelihatan masih bagus, tapi realnya gue udah steril." Jack terpana mendengarnya. "Kok… lo santai aja menyatakan gitu? " Tanyanya shock. Ayu mengangkat bahunya lagi. "Gue ga mungkin repotin orang lain lagi kan? Cukup dua, kaya slogan KB. Setelah yang kedua kemarin, gue rasanya udah ga sanggup lagi. Meskipun kalau itu sama ayah mereka. Udah cukup."
🕰🕰🕰
Yusak menghempaskan diri di tempat duduk di depan Pelabuhan Tanah Merah sambil menanti kapal yang akan membawanya kembali ke Indonesia melalui Batam. "Sial, sial, sial !!! " Makinya sambil mengacak - acak rambutnya kesal. Kegagalannya membawa Aya bisa berakibat fatal, apalagi kliennya kali ini adalah seorang bos Yakuza dari Jepang. Ia sudah membayangkan menyiksa gadis kecil itu dan merekamnya di video untuk dikirimkan kepada ayah kandungnya yang sialan itu. Saat sang ayah mengetahui keberadaan putri kandungnya, semua sudah akan terlambat. Gadis kecil itu sudah menjadi boneka Yakuza, tidak mungkin diselamatkan. Rencananya.
Sayangnya gadis sialan itu ternyata semenyebalkan ayahnya, dan yang lebih parah lagi, Ia kabur ke pelukan ayah kandungnya. Seakan - akan mengejek Yusak dengan menggagalkan rencananya persis di ambang keberhasilan. Benar- benar sialan. "Setidaknya dia sepertinya luka parah karena ditabrak mobil sialan itu. Kuharap dia mati, biar ayahnya hancur anaknya mati di pelukkannya." Gerutunya. Sebuah ingatan terlintas di kepalanya, tentang gadis kecil lain yang juga tertabrak mobil dengan keras saat mengejar pria lain. Yusak menggelengkan kepalanya kuat - kuat untuk mengusir ingatan itu. "bukan… itu bukan Gina. Gina selamat. Gina baik - baik saja. Anak itu yang harus mati."
Ia mengangkat kepalanya dan matanya menangkap seorang wanita yang sangat dikenalnya sedang duduk merokok di bangku lain. Bajunya nampak bagus, kacamata hitamnya menutupi mata yang serupa dengan mata anak yang baru saja dia doakan supaya mati. Seringai licik pun muncul di bibirnya. Tidak. Ini belum selesai. Dia masih bisa mendapatkan anak sialan itu.
"Yo! Ayu!" Wanita didepannya menaikkan kacamata hitamnya keatas kepalanya. Matanya menajam, lalu senyum miring mulai merekah di bibirnya. "Oho, lama tidak terlihat! " Sapanya ceria. "Mau menuju kemana lo? Gue kira lo udah ilang ditelan bumi." Yusak langsung beranjak mendekati Ayu dan menariknya masuk ke pelukkannya. "Gue tadinya mau ke Batam. Tapi ga jadi. Yu, lo ga kangen anak lo? Dia habis kecelakaan lho." Pancingnya.
"Anak gue? Anak yang mana? Orang anak gue lahir sebentar terus mati kok. Aneh -aneh aja lo ini" Kata Ayu santai. "Aya Yu, gue lihat pas dia ketabrak mobil. Kayanya parah banget. Gue bisa anter lo kesana kalau lo mau nengok" Ayu menggeleng - geleng. " Apa hubungannya sama gue? Gue ga punya anak. Lo mabuk?" Tanyanya sambil mendekatkan hidungnya ke mulut Yusak. Tanpa berpikir panjang, Yusak langsung meraih dagu Ayu untuk ******* bibirnya, tanpa memedulikan rontaan kecil Ayu. Pikirnya, wanita ini sok jual mahal.
"Hei! Lepaskan wanitaku! Sialan kau! " Yusak merasa dia ditarik paksa dari Ayu dan dihajar oleh sekelompok orang sementara Ayu berlari memeluk pria yang menariknya dan melemparkannya ke sekelompok preman yang menghajarnya itu. "Kamu tidak apa- apa, sayang? " Tanya pria itu pada Ayu. Ayu menggeleng manja. "Dia aneh, masa dia bilang anakku kecelakaan, padahal tadi kita habis antar Martin sama Tina ke sekolahnya. Kan kalau ada apa - apa sekolah pasti kasih tahu ya. Terus tiba - tiba langsung main cium gitu"
"Iya, aku lihat kok, kamu ga mau dicium. Raka, bawa dia! Nanti buat kasih makan anak - anak di penangkaran!" Kata Pria itu sambil mencium puncak kepala Ayu. "Siap Bos! " Dengan mata bengkak yang nyaris tertutup, Yusak melihat Ayu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum licik, lalu menjulurkan lidahnya sebelum mengikuti prianya masuk ke gedung pelabuhan.
Reynard sial, Ayu sial dan Aya sial, batin Yusak jengkel. Dalam kesibukannya mengumpati keluarga sialan itu Ia tak menyadari bahwa Ia dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu seukuran peti mati sampai kotak itu ditutup dan kegelapan meliputinya.