Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Gengsi hancur lebur
Malam harinya, suasana di mansion makin tidak karuan.
Zevanna masih mengurung diri di kamar tamu lantai dua. Di dalam kamar, dia tidak berhenti bolak-balik sambil mengunyah keripik kentang dengan beringas. Setiap kali mengingat adegan Aruna menyuapi Areksa di meja makan tadi siang, rasanya ingin sekali Zevanna melempar vas bunga ke kepala suaminya itu.
"Cowok nggak tahu diri! Muka tembok! Posesifnya ke aku doang, tapi kalau sama cewek lain langsung welcome banget kayak pintu minimarket!" omel Zevanna pada dinding kamar.
Sekitar jam delapan malam, perut Zevanna mulai berbunyi lagi. Karena tadi siang cuma minum susu dan makan roti sedikit, maag-nya mulai memberi sinyal protes. Mau tidak mau, Zevanna harus turun ke dapur untuk mencari makanan.
Sebelum keluar kamar, Zevanna memasang topeng "sok cuek" terbaiknya. Dia merapikan rambut, melipat tangan di dada, lalu melangkah turun tangga dengan gaya anggun dan dingin.
Namun, baru saja menapakkan kaki di area ruang tengah, Zevanna langsung menghentikan langkah.
Di sana, Areksa dan Aruna sedang duduk berdua di sofa panjang sambil menonton TV. Aruna tampak menyandarkan kepalanya di bahu Areksa dengan santai, sementara Areksa sibuk mengupas buah apel untuk kakaknya itu.
Melihat pemandangan itu, kepala Zevanna rasanya mau meledak seketika.
Gila! Ini bener-bener gila! Masa nempel-nempel gitu di depan TV?! Di rumah ini pula! jerit Zevanna dalam hati.
Zevanna langsung mengalihkan pandangan, berjalan lurus ke arah dapur tanpa menyapa sedikit pun. Langkah kakinya sengaja dihentakkan agar suaranya terdengar kencang.
Di sofa, Aruna menyenggol rusuk Areksa pelan sambil berbisik, "Tuh, adik ipar dateng. Mukanya makin rata kayak jalan tol."
Areksa cuma tersenyum tipis, lalu sengaja meninggikan suaranya. "Kak Aruna mau apel lagi? Aku kupasin yang manis nih."
"Boleh dong, Sayang," balas Aruna jahil, sengaja memakai panggilan manja yang bikin suasana makin panas.
PRANG!
Suara gelas beradu keras dengan meja marmer dapur terdengar nyaring. Zevanna di dapur secara tidak santai menaruh gelasnya.
"Sayang-sayang... gila kali ya! Jijik banget!" maki Zevanna tanpa suara di balik kulkas, mukanya sudah merah padam gara-gara menahan cemburu dan kesal yang campur aduk.
Zevanna mengambil kotak susu dari kulkas, berniat langsung kembali ke kamar tanpa peduli makan malam lagi. Rasa laparnya mendadak hilang digantikan rasa enek.
Tapi saat Zevanna keluar dari dapur, Areksa mendadak berdiri dan berjalan menghalangi jalannya di dekat meja bar.
"Zevanna," panggil Areksa singkat.
Zevanna menghentikan langkahnya, menjaga jarak tepat satu meter sesuai "prosedur" mereka. Dia tidak menatap mata Areksa, melainkan menatap leher kemeja pria itu dengan tatapan dingin.
"Ada apa lagi, Pak CEO?" sahut Zevanna malas.
"Kamu belum makan malam," kata Areksa datar. "Di meja ada makanan. Makan dulu."
"Nggak usah. Saya nggak lapar," potong Zevanna cepat. "Saya nggak mau ganggu momen mesra Bapak sama 'mbak-mbak' di sana. Takut merusak pemandangan."
Areksa menahan senyumnya yang hampir pecah melihat nada bicara Zevanna yang ketus setengah mati. Pria itu menyilangkan tangan di dada.
"Kamu marah?" goda Areksa pelan.
"Marah? Ngapain saya marah?" Zevanna tertawa sinis, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Nggak penting banget. Mau Bapak pacaran, mau Bapak mesra-mesraan sama siapa aja, itu bukan urusan saya. Kan kita cuma sebatas atasan dan bawahan yang kebetulan satu rumah."
"Oh ya?" Areksa melangkah maju satu langkah, mengikis jarak.
Zevanna otomatis mundur satu langkah. "Jarak aman satu meter, Pak Areksa! Jangan lupa aturan yang Bapak bikin sendiri!"
Aruna yang menonton dari sofa ruang tengah akhirnya tidak sanggup menahan tawa lagi. Wanita itu menyemburkan tawa kencangnya, membuat Zevanna dan Areksa menoleh bersamaan.
"Aduh... maaffff banget! Kakak udah nggak kuat tahan tawa dari tadi siang!" seru Aruna sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.
Zevanna mengernyit bingung. Kakak?
Aruna berdiri di sebelah Areksa, lalu merangkul leher adik laki-lakinya itu dengan kasar sampai Areksa sedikit meringis.
"Halo adik ipar galak! Kenalin, nama aku Aruna, kakak kandung si es batu ini," ujar Aruna dengan senyum cerah tanpa dosa. "Maaf ya waktu kamu sama Areksa, Kakak lagi ada pameran seni di London jadi nggak bisa datang. Baru sempat pulang ke Indonesia kemarin."
Zevanna membeku di tempat. Matanya membelalak lebar. Otaknya seolah berhenti berputar selama beberapa detik.
K-kakak... kandung?!
"K-kakak?" beo Zevanna polos, suaranya mendadak menciut.
"Iya, Kakak Kandung. Satu papa, satu mama," jelas Aruna sambil tertawa geli melihat ekspresi Zevanna yang tampak syok.
Wajah Zevanna yang tadinya pucat karena kaget, dalam hitungan detik berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Malu, canggung, dan gengsi yang hancur berkeping-keping bercampur jadi satu!
Zevanna melirik Areksa. Pria itu sedang menatapnya dengan senyum miring yang sangat menyebalkan, senyuman penuh kemenangan yang menegaskan bahwa Areksa tahu betul kalau istrinya sedang cemburu buta dari tadi siang.
"Jadi... dari tadi kamu cemburu sama Kak Aruna, Nana?" bisik Areksa dengan nada menggoda yang bikin Zevanna rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Zevanna menelan ludah kasar. Gengsinya yang setinggi langit mendadak menolak untuk menyerah begitu saja.
"S-siapa yang cemburu?!" elak Zevanna gagap, mukanya makin panas. "Nggak ada yang cemburu! Saya cuma... cuma nggak suka ada tamu yang berisik!"
"Masa?" goda Aruna ikut-ikutan. "Tapi tadi siang waktu kakak nyuapin Areksa, mata kamu kayak mau menyemburkan api lho."
"Itu... itu karena saya laper!" jawab Zevanna asal, mencari alibi paling tidak masuk akal.
Tanpa mampu menahan rasa malu yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun, Zevanna langsung memutar badan dan lari secepat kilat menuju tangga.
"Zevanna!" panggil Areksa sambil tertawa pelan.
"Nggak usah panggil-panggil!" teriak Zevanna dari tengah tangga tanpa berani menoleh lagi. "Saya mau tidur! Jangan ada yang ganggu!"
Brak!
Pintu kamar mandi dan pintu kamar tamu ditutup kencang oleh Zevanna.
Di dalam kamar, Zevanna langsung menjatuhkan diri ke kasur dan menutupi seluruh wajahnya pakai bantal.
"AAAAAAAAAKKKK! MALU BANGET ANJINGGG!" jerit Zevanna tertahan di balik bantal, kakinya menendang-nendang udara dengan histeris. "Goblok banget Zevanna! Kenapa nggak nanya dulu sih?! Kenapa main cemburu aja?! Mana muka Areksa nyebelin banget lagi! Huaaa mau pindah planet aja!"
Sementara itu di lantai bawah, Areksa dan Aruna tertawa lepas.
"Sana samperin," dorong Aruna sambil menepuk bahu adiknya. "Gengsinya udah hancur tuh. Kesempatan kamu buat minta maaf dan baikan."
Areksa mengangguk pelan. Senyum hangat terukir di bibirnya, senyuman tulus yang sudah seminggu ini menghilang. Rasa cemas dan tegang akibat perang dingin mereka sirna seketika.