Follow IG Aska: Askaori12
🚫DILARANG PROMO DI SINI!!!!🚫
Sebelum baca Aga: Genius Girl, baca dulu Arrogant Girl Adventure
Setelah berhasil kembali ke dunia modern, Jin Lien mengira jika semua berjalan sesuai rencananya. Namun, Jin Lien harus memulai langkah awal di dunia modern dengan ingatan dan kekuatannya disegel.
Pelanggaran yang dilakukan Jin Lien dengan membawa semua kerabatnya yang tidak mencapai ranah reinkarnasi, membuatnya harus memulai dari awal tanpa orang-orang tercinta menemani setiap langkahnya.
Hanya berbekal sistem yang tidak terpengaruh, Jin Lien memulai segalanya dan tidak menyerah untuk mencari apa yang kurang dan mengisi perasaan kosong di hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askaori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak
Baili Yue terpaku mendengar, jika nama keluarganya akan berubah menjadi 'Di'.
"Guru, kenapa aku harus mengubah namaku?"
"Kau sendiri tahu jika dunia ini tidak sederhana, sebelum kau menolak, guru akan memberitahu sebuah rahasia."
"Apa itu?"
"Dengar baik-baik!"
Seketika Baili Yue menjadi sangat serius.
"Guru bukan makhluk dunia ini, tapi dari dunia berbeda. Dunia itu dipenuhi oleh kultivator dan ahli pil. Di dunia itu, guru memiliki seorang murid, dan guru berniat menunggu dia tiba dan membangun keluarga besar di bawah naungan keluarga 'Di'. Keluarga 'Di' di dunia itu adalah keluarga Kerajaan Vampir."
Baili Yue menjadi kaku, tapi dia masih mendengarkan dengan serius.
"Membangun keluarga 'Di' adalah untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi termasuk dirimu dan paman. Untuk saat ini, kalian berdua adalah orang terpenting bagiku, jadi aku harap kau mau menggunakan nama keluarga 'Di', mengerti?"
Memikirkan jika gurunya sangat menyayanginya, dia tidak ingin mengecewakan harapan sang guru.
"Aku bersedia."
"Bagus, kembali ke kamarmu!"
"Baik Guru."
Melihat kepergian Baili Yue, Li Yong menghela napas panjang.
Benar saja, dunia modern ini tidak sederhana.
Membuka laptopnya, Li Yong segera mengirim kabar pada Zheng Jue.
***
Tiba di rumah, Jin Lien langsung naik ke kamar miliknya. Mengganti seragam dan melemparkan tubuhnya di kasur empuk.
Pikirannya melayang jauh, hingga dia ingat jika dia memiliki banyak uang di tangannya.
Bangkit dari ranjangnya, Jin Lien mengganti hotpants yang dipakainya menjadi Jeans hitam panjang, mengambil tas bahu dan mengenakan sepatu.
Keluar dari kamarnya, dia mendapati Nian Fei yang berdiri di depan pintu.
"Mau ke mana?"
"Aku ingin jalan-jalan, bolehkan Bu?"
"Oke, jangan pulang terlambat."
"Ya."
Jin Lien dengan cepat mengecup pipi Nian Fei dan berlari turun. Xi Mo masih mengikuti dengan patuh.
Mengambil sepedanya, dan dia bergerak jauh dari kediaman. Berpikir jika dunia ini ajaib, pasti juga ada bahaya tersembunyi.
Jauh dari kediaman, Jin Lien akhirnya tiba di pusat perbelanjaan. Berhenti dan memasuki salah satu Cafe, Jin Lien memesan Late dan memilih duduk di bangku dekat jendela.
Memikirkan banyak uang di tangannya, Jin Lien bingung ke mana akan dia belanjakan uang tersebut.
"Apakah sebaiknya aku membuka bisnis, lumayan kan buat tambahan. Masa bergantung sama keluarga. Ya, meski keluarga memanjakan aku sih."
Jin Lien bergumam pada dirinya sendiri. Di tangannya ada lebih dari ratusan juta kredit.
Melihat keluar jendela, banyak orang yang berlalu lalang, Jin Lien tersenyum melihat orang-orang tersebut.
Tanpa diduga, dunia yang terlihat biasa-biasa saja ini, menyimpan keajaiban dan bahaya di balik kegelapan.
Namun, tubuh Jin Lien menjadi kaku ketika matanya menangkap sinar laser berwarna merah.
Dia menyipitkan matanya hingga pandangannya jatuh pada seorang pria paruh baya yang di temani dua orang pengawal.
Braaak
"Sialan."
Jin Lien tidak peduli betapa kagetnya pengunjung cafe, dia hanya mempercepat langkahnya untuk menghampiri pria paruh baya tersebut.
"Paman awassss!!!!"
Suara Jin Lien tentu menarik perhatian para warga di sekitar, dan itu membuat mereka bingung.
Jin Lien berteriak keras, tapi kakinya tidak berhenti berlari hingga dia mencapai lokasi pria paruh baya tersebut.
Sreeek
Dia mendorong pria paruh baya tersebut hingga tersungkur.
Pssssiiiuuu
Dan percikan darah segera membuat para warga panik. Beruntung Jin Lien berhasil menyelamatkan pria paruh baya tersebut, tapi sayang bahu kirinya yang menjadi sasaran peluru penembak jitu tersebut.
"Ugh."
Tidak menunggu lebih lama, Jin Lien bermanuver dan merebut senjata dari salah satu pengawal pria paruh baya dan membidik di mana penembak jitu berada.
Dor
Suara tembakan menambah panik para warga, tapi Jin Lien tidak peduli. Dia tidak tahu, apakah tembakannya berhasil mengenai penembak jitu tersebut atau tidak.
Setelah menembak, Jin Lien mengembalikan senjata tersebut dan melihat pria paruh baya tersebut.
Melihat pria paruh baya tersebut tidak apa-apa, Jin Lien menghela napas lega.
"Syukurlah paman tidak apa-apa."
Melihat darah yang terus mengalir dari bahu kiri Jin Lien, pria tersebut panik.
"Yos, pergi lihat lokasi di mana gadis itu menembak! Nil, segera telepon ambulans!"
Yos segera pergi dan Nil dengan cepat menelepon ambulans, tapi dihentikan oleh Jin Lien.
Namun, entah mengapa, Jin Lien merasa penglihatannya berputar dan perlahan menjadi gelap.
Melihat Jin Lien pingsan, Pria paruh baya tersebut menjadi sangat dingin. Tidak ada yang menyadari jika mata hitamnya perlahan berubah merah.
Dia mengernyit ketika dia tidak bisa mencium aroma darah Jin Lien. Satu hal yang dia tahu, jika aroma darah tidak tercium, maka orang tersebut telah ditandai oleh pasangannya.
"Nil, tidak perlu menelpon ambulans, kita bawa dia ke rumah."
"Ya Tuan."
Segera, pria paruh baya tersebut membawa Jin Lien memasuki mobilnya.
Di dalam mobil, pria paruh baya tersebut mengambil alat dan segera mengeluarkan peluru dari bahu kiri Jin Lien.
Ketika peluru tersebut keluar, tatapan pria paruh baya tersebut semakin berbahaya. Pasalnya, peluru yang mengenai Jin Lien bukan peluru biasa, tapi pelurur perak yang memiliki mantra kutukan.
Setelah peluru keluar, Luka Jin Lien perlahan mulai menutup dan Xi Mo merayap keluar melalui kerah baju Jin Lien.
Xi Mo menatap pria paruh baya tersebut dengan waspada.
"Jangan takut! Aku tidak akan melukai tuan mu, tapi tuan mu membutuhkan perawatan segera mungkin, karena yang mengenainya bukan peluru biasa."
Xi Mo mengangguk dan terus menatap khawatir pada Jin Lien. Dia menggosokkan tujuh kepalanya di pipi Jin Lien dan ekornya menggali ke masuk ke dalam tas Jin Lien.
Dia mengeluarkan ponsel Jin Lien dan memberi isyarat agar pria paruh baya tersebut menelepon keluarga Jin Lien.
"Tidak perlu untuk saat ini, jika nanti malam dia tidak sadar, aku akan menelpon keluarga."
Xi Mo terus mengawasi Jin Lien yang pingsan, tiba-tiba dia mengalami shock ketika melihat rambut hitam Jin Lien perlahan berubah menjadi pirang keemasan di setiap helainya.
Perubahan Jin Lien juga membuat pria paruh baya menjadi panik dan memerintahkan Nil untuk mempercepat laju mobil.
Saat ini, dia benar-benar sangat marah. Bahkan di dunia yang merupakan penduduk biasa, orang-orang itu ingin menyerangnya.
"Nak maaf, seandainya aku lebih waspada."
Tidak lama kemudian, mereka akhrinya sampai di vila yang terlihat mewah.
Pria paruh baya itu dengan panik menggendong Jin Lien dan membawanya ke sebuah kamar kosong dan bersih.
Xi Mo juga mengikuti dengan membawa tas bahu Jin Lien. Dia juga merasa bersalah, mengapa dia tidak melindungi Jin Lien.
Dia meletakkan tas Jin Lien di samping Jin Lien, dan melingkar di samping kepala Jin Lien.
....