Tiga orang wanita yang berstatus sahabat mengaku fans berat seorang pria yang bernama Bian Putra Arianto.
Namun, lama-kelamaan rasa persahabatan mereka memudar. Salah seorang dari mereka mengaku jatuh cinta pada Bian dan membatasi temannya yang lain untuk berinteraksi dengan pria itu.
Akankah persahabatan mereka akan terputus hanya karena seorang pria?
Akankah Bian juga bisa memahami semuanya?
Kepada siapakah akhirnya Bian akan melabuhkan cintanya?
Akankah hubungan mereka berjalan mulus tanpa ada cobaan?
Simak kisahnya di novel ini yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dhyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Bian
"Kak Mara..!" Carissa berlari menghampiri kakaknya begitu melihat Amara turun dari mobil. Tangannya langsung memeluk erat leher Amara sampai Amara terbatuk-batuk.
"Kak Mara kemana saja, kenapa Kakak tidak pernah pulang ke rumah?"
"Ini dikendorkan dulu, Dek. Kakak nggak bisa nafas." Amara memegang tangan Carissa yang melingkar di lehernya. Carissa bukan hanya mengendorkan pelukannya, tetapi gadis itu melepas pelukannya lalu menatap kakaknya dengan air mata berlinang. "Kak Mara nggak sayang lagi ya, sama Rissa. Kenapa Kakak nggak pernah pulang?"
Amara tersenyum haru. Tidak bisa dipungkiri, kalau dirinya juga sangat merindukan adiknya itu. "Maafkan Kakak, Dek. Kak Mara kerja, Dek. Kakak butuh uang untuk biaya sekolah Kakak nanti." Ucapnya sambil mengusap air mata Carissa.
"Papa kan selalu pergi kerja untuk kita, Kak. Kata papa kemarin, papa selalu kerja biar kita berdua bisa sekolah tinggi seperti orang lain."
Amara menunduk seraya mengusap air matanya. Dia tidak mau Carissa melihatnya menangis. "Maafkan Kakak, Dek. Kakak mau meringankan beban papa, biar papa tidak terlalu capek kerja."
"Tapi aku nggak suka Kak Mara pergi. Aku nggak ada teman di rumah. Mama sering membentak-bentak aku kalau menanyakan Kak Mara padanya. Mama menyuruh aku pergi mencari Kakak sendirian. Aku kan nggak tau, Kak Mara dimana."
Amara kembali tersenyum haru. Tangannya terangkat mengusap-usap kepala adiknya lalu mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. "Mm.. Papa dimana sekarang?" Amara sengaja mengalihkan perhatian Carissa, agar suasananya juga beralih. Melihat rumahnya kembali membuat perasaan Amara campur aduk. Terlalu banyak kenangan pahit yang tersimpan di rumah itu.
"Papa di dalam sedang menunggu Kakak. Tadinya Papa juga meminta Rissa untuk menunggu di dalam. Tapi, Rissa ingin segera bertemu Kakak." Jawab Carissa polos.
Amara kembali tersenyum, tetapi air matanya mengalir deras di pipinya. Untuk pertama kalinya dia mengeluarkan air mata sebanyak itu di depan Carissa. Biasanya dia selalu berhasil menyembunyikan deritanya di hadapan gadis kecil itu. Tangannya menarik pelan tubuh adiknya. Memeluk tubuhnya dengan hangat. Amara mengusap air matanya lalu beranjak bangkit. "Tunggu sebentar ya, Dek. Kakak mau berpamitan pada Adzra." Setelah cukup lama melepas rindu dengan Carissa, Amara teringat dengan mobil yang terparkir di belakangnya.
Amara berbalik, ia mendapati Pak Amir sedang menatapnya dengan sedih. Amara tidak tau ekspresi Bian dan Adzra yang duduk di jok belakang.
"Kak Mala napa nangis?" Tangan kecil Adzra langsung terulur mengusap air mata Amara begitu Amara menongolkan kepalanya di pintu mobil. "Ciapa yang peyuk Kak Mala itu?" Adzra menunjuk ke arah Carissa yang masih berdiri menunggu Amara.
"Oh, itu adiknya Kak Mara, Sayang. Kak Mara masuk dulu ya, nanti Kakak main lagi sama Adzra." Amara mengusap kepala Adzra seraya mencium pipi gembul anak itu. Terasa berat untuk berpisah dengan Adzra. Anak itu terlalu menggemaskan. Ditambah dengan gaya bicaranya yang masih cadel, tapi ngomongnya banyak membuat Amara pasti akan sangat merindukan bocah gembul itu.
"Kak Mala dangan pelgi lama, Adzla ndak mahu main syama Uncle. Uncle Bian ndak syelu.." Adzra memanyunkan bibirnya.
"Eh, bilang Uncle nggak seru di ajak main. Kalau di ajak belanja, siapa yang paling seru?" Bian akhirnya mengeluarkan jurus andalan. Adzra paling suka di ajak keluar bersama Bian. Pamannya itu pasti membelikan apapun yang dia mau. Berbeda ceritanya kalau kedua orang tuanya yang membawanya keluar. Apalagi kalau Amara. Amara hanya membelikan sesuai dengan perintah dari orang tuanya Adzra saja. Adzra masih memanyunkan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan pamannya.
Amara hanya bisa tersenyum lemah, tidak tau apa yang harus dia lakukan. Tampang Adzra yang seperti itu menandakan kalau anak itu sedang ngambek berat.
"Mm.. Mara, kami pamit dulu ya. Jangan lupa jaga diri kamu baik-baik. Lindungi diri kamu dengan sebaik-baiknya, karena kamu sedang berada di kandang harimau. By.." Bian melambai pelan. Untuk bersalaman sudah pasti pria itu tidak mau. Sejauh ini, Amara belum pernah bersalaman dengan pria itu. Jangankan bersalaman, bersentuhan ujung jari pun, tidak pernah terjadi.
"Assalamu'alaikum.." Bian mengucap salam setelah Pak Amir menghidupkan mesin mobil. Menepuk-nepuk pantat Adzra yang sudah berpindah memeluknya.
"Wa'alaikumsalam, Kak. Hati-hati.."
Amara menatap kepergian mobil Bian sampai mobil itu hilang dari pandangan.
*********
Malam itu...
Bian sulit memejamkan matanya. Amara belum ada kabar sejak dia dan Adzra mengantarnya kemarin. Padahal Bian berulang kali memintanya untuk segera mengirimkan pesan.
Bian berguling-guling di atas tempat tidur. Bayangan Amara tiba-tiba berkelebat dalam pikirannya. Tingkah konyol gadis itu, tingkahnya yang malu-malu saat mencuri-curi pandangnya, semuanya terekam indah dalam memory otaknya.
"Mara.. kamu kemana sih?" Bian menautkan jari-jari tangannya. Perasaannya benar-benar khawatir. "Apa.. apa aku menghubunginya saja ya.." Bian terus berperang dengan pikirannya.
Bian akhirnya tidak tahan untuk tidak menghubungi Amara. Tangan yang dia tahan dari tadi agar tidak melakukan panggilan, tidak bisa ia tahan lagi.
Panggilan terjawab setelah Bian mencobanya dua kali.
"Assalamu'alaikum, Kak." Suara Amara sedikit serak. Bukan karena gadis itu baru bangun. Tapi, suaranya serak karena menangis.
"Wa'alaikumsalam, Mara." Bian terdiam. Mendengar suara Amara seperti itu membuatnya semakin khawatir. Gadis itu terdengar tidak baik-baik saja.
"Kak Bian kenapa belum tidur?"
Bian tersentak mendengar pertanyaan Amara. "Aku.. aku sedang menunggu kabar dari kamu, Dek. Kamu hilang kabar dari kemarin. Aku.. aku hanya mengkhawatirkankamu."
Ssrrroook.. "Aku baik-baik saja, Kak. Maaf, aku sibuk dari kemarin. Aku membereskan kamarku yang berantakan karena kelamaan ditinggal."
Bian tersenyum lemah seraya menarik nafas lega. "Bukannya kamar kamu terkunci selama kamu pergi." Ia langsung teringat cerita Amara beberapa bulan yang lalu, kalau gadis itu selalu mengunci pintu kamarnya jika dia tidak di rumah.
"Pintunya memang terkunci pas aku pergi, Kak. Tapi, ada yang mendobraknya sampai rusak." Amara menghela nafas berat. "Aku hanya bersyukur, galon di dalam kamarku tidak hilang."
"Hah, maksud kamu?" Bian berucap bingung. Bisa-bisanya wanita ini mengkhawatirkan galonnya jika hilang. "Biasanya orang mengkhawatirkan uangnya yang hilang. Kok, kamu malah mengkhawatir galon. Lagian ngapain coba taruh galon di dalam kamar."
Amara memaksakan diri untuk menarik sudut bibirnya. "Justru itu, Kak. Di dalam galon ku ada banyak uang hasil jerih payahku menahan nafsu untuk tidak banyak jajan selama di sekolah. Uang dalam galon itu adalah hasil tabunganku sejak aku naik kelas dua SMP dulu." Amara menatap sayang ke arah galon besar yang dia letakkan di sudut ruangan.
"Mm.." Bian akhirnya mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja Amara jarang jajan, ternyata gadis itu gemar menabung. "Terus bagiamana keadaan galon kamu? Apa dia masih kenyang atau isi perutnya terkuras habis?" Bian sengaja memakai kata-kata out of the box untuk mengusir perasaan aneh yang mengganggunya dari tadi.
"Alhamdulillah, galonku masih berisi, Kak. Tapi, kayaknya dia lapar karena kelamaan tidak dikasih makan. Aku hanya bersyukur, Tante Hanum tidak tau kalau isinya adalah uang." Amara membuang nafas kasar. "Ngomong-ngomong kenapa Kak Bian tiba-tiba menghubungi ku?"
"Eh, mm.. aku mengkhawatirkan kamu, Mara. Kamu jawab dengan jujur, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa orang-orang di rumahmu memperlakukan kamu dengan baik."
Amara kembali menyusut hidungnya yang tidak henti-hentinya mengeluarkan cairan. "Aku.. baik, Kak."
"Aku nggak percaya, Mara. Suara kamu terdengar tidak baik-baik saja. Apa kita bisa bertemu besok?"
"Untuk apa, Kak?"
"Untuk memastikan dengan mata kepalaku sendiri, kalau kamu memang baik-baik saja."
"Tapi.."
"Tapi apa, Mara?"
"Aku ingin menghitung isi galonku besok, Kak. Hanya besok aku ada waktu. Lusa aku akan masuk ujian."
Ucapan Amara menimbulkan tanda tanya dalam benak Bian. "Mm.. kenapa harus menghitungnya besok? Masih ada lain kali, kan. Kamu bisa menghitungnya setelah selesai ujian nanti. Aku ingin mengajak kamu melihat Kampus lagi besok."
"Tapi, aku harus bisa memastikan, Kak."
"Memastikan apa, Mara?"
Amara menunduk lemah. Suaranya sudah tercekat di tenggorokan karena air matanya susah siap untuk tumpah lagi.
"Mara..."
Hening,
Bian melirik handphonenya. Masih tersambung, tetapi tidak terdengar apa-apa. Saat mendekatkan kembali handphonenya ke telinga, samar-samar ia mendengar isak tangis Amara.
Bian memejamkan matanya. "Kamu jelaskan semuanya besok. Aku akan datang menjemputmu jam delapan pagi. Istirahatlah, jangan menangis lagi. Assalamu'alaikum.." Bian mematikan sambungan telepon.
******
suka skli sm crtanya😚
saya suka...
ksih bonus dong thor...