Indonesia
NovelToon NovelToon
Kepak Asa

Kepak Asa

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Raira Megumi

Nindya, seorang gadis muda yang memiliki banyak mimpi dan harapan akan nasib kaum perempuan yang masih belum mendapatkan hak sepenuhnya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia ingin nasib kaum perempuan di kampungnya berubah lebih baik ditengah pemikiran yang masih kolot.
Perjuangannya tentu saja tidak berlangsung dengan mulus dan lancar. Ada banyak tantangan, terutama dari para tokoh masyarakat yang masih memiliki pemikiran kolot.
Dalam perjalanannya, dua orang pria yang saling berlomba untuk mendapatkan perhatiannya. Yang satu adalah seorang dokter muda dan tampan yang selalu membantu dan mendukungnya dan yang satunya adalah pak camat galak yang kerap menjenggal langkahnya
Namun, ada seseorang dalam hati Nindya. Seseorang dari masa lalunya yang masih kuat bercokol dalam hatinya.
Siapa yang akan dipilih Nindya untuk menemaninya menggapai setiap mimpi dan harapannya? Apakah sang dokter tampan? Sang Camat yang galak? Atau laki-laki dari masa lalunya kembali untuk bersama dengannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raira Megumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Sakit

“Nda, wajah kamu pucat sekali.” Dian khawatir melihat Nindya yang sepertinya menahan sakit. “Kita ke dokter, yuk!” ajak Dian.

“Inda baik-baik saja, Teh. Cuma agak sakit kepala, tapi masih bisa ke kelas, kok,” kata Nindya menguatkan diri untuk berjalan.

“Kamu tidak baik-baik saja Nindya!” kata Dian tegas.

Nindya kembali duduk karena merasa pandangannya berputar, dan perutnya melilit.

“Tuh kan, kamu sakit Nda. Kita ke dokter sekarang!” Dian tidak ingin dibantah.

“Tidak perlu, Teh. Cukup istirahat sebentar sama minum teh manis saja sepertinya cukup.”

“Jangan berisik Nindya! Teteh izin dulu ke kepala sekolah. Kita ke Puskesmas sekarang.

Setelah Dian kembali dan mendapatkan izin dari kepala sekolah, ia langsung menuntun Nindya dan membantunya untuk naik ke motor yang akan dikendarai oleh Endah.

“Ndah, hati-hati bawa motornya,” kata Dian mengingatkan.

“Siap, Teh.”

“Nanti yang masuk ke kelasnya Inda siapa?”

“Teteh yang akan menggantikan. Kamu jangan khawatir.”

Nindya mengangguk. Ia menahan kepalanya yang pusing.

Jarak dari sekolah ke Puskesmas cukup jauh. Setelah melakukan perjalanan selama 15 menit mereka sampai di Puskesmas.

“Nindya!” panggil seseorang.

“Pak Dokter.” Endah yang menjawab.

“Nindya, wajah kamu pucat sekali.”

“Iya, Dokter. Tolong periksa Inda.”

“Kamu daftar dulu!” perintah Fahri pada Endah. “Nindya, kamu langsung saja masuk ke ruang periksa. Kebetulan kosong.”

“Saya antar Inda ke ruang periksa dulu, baru nanti daftar.” Endah menuntun Nindya yang terlihat lemas.

Setelah mengantar Nindya ke ruang periksa ada perawat yang menuntunnya untuk tidur di bangkar dan memeriksa tekanan darah. Setelah perawat selesai mengukur tekanan darah, Fahri mulai memeriksa dengan stetoskopnya.

Endah masuk ke ruang periksa seteleh selesai dengan administrasi pendaftaran.

“Tekanan darah kamu sangat rendah. Saya khawatir kamu terkena tifus, tapi ini masih perkiraan saja. Kamu harus diperiksa ke lab. Saya beri rujukan untuk periksa ke lab di kota.”

“Tifus, Dok?”  tanya Endah khawatir.

“Masih perkiraan saja karena Nindya bilang kalau perutnya sakit dan merasa lemas. Harus periksa dulu ke lab untuk diagnosa yang tepat.”

Endah menganggukkan kepala. Ia khawatir dengan kondisi Nindya. Memang selama 2 minggu ini, timnya sangat sibuk untuk mempersiapkan rencana pelatihan. Mereka secara maraton silaturahmi ke tokoh-tokoh masyarakat disamping terus melakukan penyusunan kurikulum dan pembuatan modul. Mereka juga dipusingkan dengan dana yang masih kurang.

Nindya yang paling bersemangat dalam persiapan ini. Ia yang paling banyak bersilaturahmi ke para tokoh masyarakat. Ia juga paling sibuk dalam pembuatan modul pelatihan.

“Untuk sementara jangan makan yang pedas. Makannya yang lembut-lembut dulu. Jangan minum air dingin juga. Perbanyak minum air hangat. Saya tuliskan resep untuk obat pereda sakit kepalanya. Kamu harus istirahat yang cukup.”

“Baik, Dok,” jawab Nindya lirih.

Setelah keluar dari ruang periksa, Endah menebus obat yang diresepkan.

“Nda. Kita ke lab sekarang saja. Kamu telepon orang rumah buat mengantar kita ke kota.”

“Nanti saja, Ndah. Kita pulang dulu ke rumahku.”

Endah menghidupkan motornya dan mengantar Nindya pulang.

Sesampainya di rumah, Euis heran karena Nindya pulang lebih awal dan diantar oleh Endah.

“Neng kenapa?” kekhawatiran Euis semakin bertambah tatkala melihat wajah Nindya yang pucat.

“Neng cuma sakit kepala, Mbu,” jawab Nindya.

“Tadi Inda diperiksa di Puskesmas. Kata Dokter Fahri, kemungkinan Inda sakit tifus. Tapi itu baru perkiraan Dokter Fahri. Inda diberi rujukan untuk periksa ke lab.” Endah menceritakan apa yang terjadi pada Nindya tanpa ditutup-tutupi.

“Neng kenapa tidak telepon Ambu? Neng mah hobi bikin Ambu khawatir.” Euis terisak melihat kondisi putrinya.

“Neng tidak apa-apa kok, Mbu.”

“Tidak apa-apa bagaimana. Kata Dokter Fahri kamu itu kena tifus.”

“Kan baru perkiraan saja.” Nindya tetep keukeuh dengan pendapatnya kalau ia baik-baik saja.

“Kita pergi sekarang ke lab, Mbu?” tanya Endah.

“Nanti aku pergi sama Ambu saja. Kamu balik aja ke sekolah. Kasihan murid kamu kalau gurunya gak ada.”

“Aku gak ada kelas lagi hari ini,” kata Endah tegas.

“Ambu siap-siap dulu. Neng Endah mau mengantar? Tidak sibuk? Soalnya Abah sedang di luar kota, jadi tidak bisa menemani,” tanya Euis pada Endah.

“Iya Ambu, Endah antar,” jawab Endah.

“Kamu mah cerewet Ndah, jadinya Ambu khawatir. Padahal kan ini cuma sakit biasa,” protes Nindya.

“Sakit biasa gimana? Wajah kamu terlihat seperti vampir begitu, pucat gak berwarna,” kata Endah sambil bercanda agar mereka tidak tegang.

“Ayo berangkat sekarang!” ajak Euis.

“Kita ke sananya pakai apa, Mbu? Abah sama Mang Ajat kan sedang ke luar kota.”

“Ambu yang jadi supir,” kata Euis tegas.

“Haaaa, Ambu kan sudah lama tidak menyupir. Memang masih berani?” tanya Nindya.

“Eeeh, jangan sembarangan ngatain Ambu sudah tidak bisa nyupir. Dulu tuh, Abah dan Ambu hobi traveling berdua saja pakai mobil. Kita gantian nyupirnya. Gini-gini juga Ambu tuh pembalap handal di masa mudanya,” ungkap Euis bangga.

Endah mengacungkan dua jempol tangannya. “Ambu keren.”

Endah menemani Nindya di kursi penumpang belakang. Euis tidak salah membanggakan diri sebagai pembalap di masa mudanya. Kemampuan menyupirnya memang masih mantap di usinya yang sudah tidak muda lagi.

“Ambu keren banget sih. Benar-benar pembalap sejati,” puji Endah pada Euis.

“Kamu baru tahu, Ndah?”

“Iya Ambu. Endah gak nyangka Ambu bisa nyetir sekeren ini.”

Euis tersenyum mendengar pujian Endah, untuk sejenak ia melupakan kekhawatirannya pada Nindya.

**********

to be continued...

1
Dwi Rahayu
/Drool/
Dwi Rahayu
lama dikit pula😭😭
Dwi Rahayu
update lama dikit pula
.huhuhu😭😭😭
Rus Tono
knp setiap up selalu lama pa dahal cerita nya bagus...up yg rajin .di tunggu kelanjutan nya
Raira Megumi: maaf ya, up-ny lama, sempat dirawat seminggu, trus baru sembuh eh kena sakit lagi. Mudah-mudahan next setiap dua-tiga hari sekali up-nya...

terima kasih sudah membaca ceritaku
total 1 replies
Dwi Rahayu
lanjutkan
Dwi Rahayu
ringan ceritanya tp asyik sekali alurnya
Vani Setiani
jangan kelamaan up nya Thor cerita nya bagus🌹🌹🌹
Vani Setiani
seneng bisa lanjutin ceritanya nya
cerita sederhana to berkesan hingga yg baca hanyut dengan cerita nya di tunggu kelanjuta n nya ..💓🌹
Sriza Juniarti
baguus👍🥰💕
Vani Setiani: kpn up nya LG...
total 1 replies
SicantikKinyisKinyis
Semangat Kak, jangan lupa mampir di karya aku yang berjudul My Love's Aylin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!