Riana gadis adalah gadis desa yang tinggal bersama ibunya setelah ditinggal ayahnya pergi mencari kesenangan hidupnya sendiri. Bertemu dengan seorang pria aneh yang selalu bersedia berusaha membahagiakan dia dan ibunya, meski banyak Lika liku dan pertentangan yang harus mereka hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kembali
Siang yang cerah, sembari menunggu Kakek untuk berjalan-jalan sore aku ikut bergabung dengan ketiga sepupuku di warung. Ketiganya sedang sibuk mengepak barang-barang pesanan pelanggan yang akan diantar atau ada juga yang di ambil sendiri kemari, kalau tidak disiapkan dari siang katanya saat sore mereka akan kerepotan. Karena waktu sore itulah pembeli paling ramai datang.
"Mbak Ri sudah ke rumah bulik Sinta dan Om Sony kan?" Galih yang sedang memasukkan barang kedalam kardus bekas mi instan bertanya padaku.
"Pulang dari rumahmu mbak langsung ke rumah mereka, senang sekali mereka sekarang sangat ramah padaku" ku jawab pertanyaannya.
"Ya jelas saja mbak, mereka kan sudah tahu siapa mas Mahesa. Juragan Soleh sudah menceritakan semuanya, jadi mereka pasti sudah dengar juga" aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Apapun alasannya mbak tetap bersyukur kok, setidaknya keluarga kita jadi rukun semua" ku serahkan selembar kertas pesanan yang jatuh ke lantai pada Indah.
Satu jam kemudian Kakek menyusul ku dan langsung mengajakku pergi ke pasar, beliau mengatakan ingin membeli martabak telor.
Ke kemudikan mobil perlahan untuk menikmati perjalanan sore kami, setiap hari kakek terus memaksa mengajari aku mengendarai mobil. Sekarang setelah aku mahir Kakek selalu duduk manis di bangku sebelah kiri.
"Jadwal kontrol kehamilanmu kapan nak, apakah disini ada klinik bersalin yang mempunyai dokter kandungan?"
"Masih Minggu depan kek, di kecamatan sana ada klinik yang lumayan lengkap kok" ku balas klakson beberapa orang yang berpapasan dengan kami.
"Stok obat Kakek bagaimana, apa perlu kita ke kota untuk membelinya di apotik yang besar?" tanyaku
"Masih aman, kalau memang dibutuhkan nanti Kakek minta antar Galih saja ke kota. Kamu istirahat saja dirumah ya" aku tersenyum pada pria yang begitu menyayangiku ini.
Tiba ditempat penjual martabak Kakek turun sendiri untuk memesan lalu kembali lagi ke mobil dan mengajakku berkeliling lagi sembari menunggu pesanan kami.
Kami bercanda, bernyanyi dan bercerita tentang apapun. Satu hal yang tidak pernah Kakek bahas denganku yaitu tentang mas Mahesa, Kakek benar-benar berusaha menjaga perasaanku agar tidak lagi sedih karena mengingat suamiku yang bahkan sampai sekarang masih belum menghubungi aku.
Ketika kembali ke penjual martabak aku terbengong karena Kakek membeli banyak sekali martabak gurih bahkan ada yang manis juga.
"Banyak sekali Kek, memangnya kita sanggup menghabiskannya"
Kakek tertawa lalu menyentil keningku
"Kau menganggap Kakekmu ini rakus? Kita nanti mampir ke rumah saudara-saudara kita dan membaginya" aku tertawa sambil mengelus keningku.
Segera ku hidupkan mesin mobil dan ku lajukan menuju desaku, setiap sampai di rumah kerabat yang kami tuju Kakek memaksa aku tetap di mobil. Beliau yang langsung turun mengantarkan kotak makanan itu pada mereka.
"Hei Riana....kapan kamu pulang, sekarang sudah naik kelas ya, bawaannya mobil coy" teh Lilis yang kebetulan keluar dari halaman Bulik Sinta mengentikan sepeda motornya di samping mobilku.
"Sudah lama teh, boleh dong naik kelas manusia kan selalu ingin maju" ku rapikan rambutku yang sedikit berantakan saat menjawab pertanyaannya.
"Tapi dimana suamimu yang ganteng itu, kenapa sekarang malah jalan sama aki-aki. Jangan bilang kamu menangkap mangsa yang lebih kaya ya" aku memutar malas mataku mendengar ucapan julidnya
"Suamiku ada dong, sedang sibuk mencari nafkah dan sebongkah berlian untukku. Sedangkan beliau kakek suamiku yang selalu menjagaku dan calon cicitnya agar selalu bahagia" teh Lilis langsung melengos dan menarik gas motornya meninggalkan aku.
Setelah Kakek keluar dari rumah bulik Santi kami segera memutuskan kembali kerumah, beberapa kotak martabak lainnya nanti biar diantar Intan ke tetangga di sekitar rumahku.
Saat memasuki halaman rumah terlihat sebuah mobil hitam terparkir didepan rumahku, aku segera memarkirkan mobil lalu masuk dari pintu samping. Setelah meminta Intan membagikan makanan yang kami beli aku menyusul kakek yang sudah lebih dulu ada diruang tamu.
Apakah mas Mahesa menyusul kemari, tapi kenapa mobilnya terasa asing. Ku tarik nafasku dan melangkah ke ruang tamu.
Di ruang tamu ada Kakek, Ibu dan seorang pria yang selama ini selalu aku rindukan, yang juga menyakitiku sangat dalam. Dia cinta pertamaku
"Ayah....." suaraku bergetar menahan tangis
Pria itu diam menatapku, entah apa yang tersirat pada pandangan matanya. Rindu atau justru rasa malu.
Pria yang kupanggil ayah itu bangkit dan mendekatiku, ingin aku berlari memeluknya menumpahkan semua rindu yang aku tahan selama enam tahun. Tapi aku juga ingin memakinya, kenapa dia setega itu bahkan dihari paling penting dalam hidupku dia tega tidak hadir.
Tubuhku bergetar saat dia memeluk tubuhku, air mataku mengalir deras. Semua rasa sakit, rindu, benci, cinta, kecewa bercampur menjadi satu. Aku terus terisak saat dia berulang kali mengucapkan maaf padaku. Enam tahun aku dan ibuku menahan semua rasa sakit dan rindu, lalu sekarang tiba-tiba kembali dengan kata maaf.
"Sayang, tenangkan hatimu. Kakek tau ini sangat tidak mudah untukmu, tapi Kakek yakin kamu adalah cucuku yang berhati lembut dan pemaaf. Jangan simpan rasa dendam dan sakit hati yang akan merusak pikiran dan ketulusanmu" Kakek merengkuhku dan mendudukkan disofa.
Ku sandarkan kepalaku dibahunya, ku tarik nafasku dalam berulang kali untuk meredam semua emosiku. Aku berusaha berpikir jernih dan melepaskan semua perasaan sakit dan dendamku, dia adalah ayahku cinta pertamaku. Dulu dia sangat menyayangiku, mungkin waktu enam tahun ini adalah ujian untuk cinta kami.
Perlahan kubuka mataku ayahku masih duduk di hadapanku menatapku, berulang kali diusap sudut matanya.
"Ayah......aku rindu" ku peluk erat tubuhnya, ku tumpahkan semua rasaku.
Setelah puas menumpahkan rindu kami berbincang sembari menunggu Indah dan Intan menyiapkan makan malam, ayah bercerita kalau sekarang sudah berpisah dari istri barunya. Aku tidak ingin mencari tau alasan mereka berpisah, yang pasti sekarang ayahku sudah kembali pada kami. Ada binar yang tidak bisa disembunyikan ibu dan aku bahagia melihatnya.
"Ayah dan Ibu malam ini tidur di kamarku ya, aku ingin seperti dulu" pintaku pada mereka.
"Hmmmm anak ayah ternyata masih tetap manja ya, padahal sebentar lagi sudah jadi ibu" aku tertawa manja saat ayah mengacak rambutku.
"Awas saja kalau kamu besok melupakan Kakek ya" kakek berbalik padaku sebelum masuk ke kamarnya.
"Tidak akan Kek..... dirimu selalu yang terdepan" ku antarkan Kakek ke kamarnya seperti biasa, jangan sampai drama selama di rumah sana terulang gara-gara aku melupakannya.
Ayah dan Ibu berbaring di kanan dan kiri ku seperti saat aku kecil dulu, aku merasa bahagia sangat bahagia. Andaikan mas Mahesa ada dan melihat hal ini pasti kebahagiaanku benar-benar lengkap.
Ku elus perutku yang terasa bergerak, mungkin anakku ikut merasakan apa yang sedang aku pikirkan saat ini
"Sabar ya nak, semoga ayahmu segera kembali pada kita dan bersatu selamanya" bisikku sebelum aku memejamkan mataku.
banyak aja plot twist nya 🗿
Semangat Thor 👍🏻😗
semangat Thor 👍🏻
Nayla lagi iyuhhh