Tak kusangka takdir hidupku akan jadi serumit ini
Kisah percintaan seorang gadis cantik idola SMA Nusa Bangsa, bernama Ariana Kamilla dengan seorang cowok cool bernama Eza. menjadi awal mula dilema panjang cinta segi tiga dimasa yang akan datang
Pelecehan, penghianatan dan dendam membawa Ariana pada kehidupan kelam yang menyedihkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon morieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan yg tak mampu Bersinar Sendiri
Diruang perawatan, wajah bunda masih terlihat pucat, matanya masih saja terpejam, tapi tadi suster bilang kalau bunda sedang tertidur, membuat Arin sedikit lebih tenang.
Di perhatikanya tubuh bundanya yg tengah tergolek di atas ranjang perawatan dengan selang infus yg menempel di pergelangan tanganya dan dua buah selang oksigen yg mengarah masuk kedalam hidungnya. kata suster karna efek dari dehindrasi dan asam lambung yg meningkat bunda mengalami sedikit sesak nafas.
badan bunda terlihat kurus dengan pipinya yg terlihat lebih tirus. Arin dapat merasan tulang yg begitu menonjol saat meraba pergelangan tangan bunda. tubuh wanita yg dulu tampak segar berisi kini terlihat begitu layu, cekungan di kelopak matanya begitu terlihat, menandakan ia kesulitan tidur
Air mata Arin kembali menetes, air hidungnyapun tiba tiba saja mengalir, betapa Ayah membuat wanita kesayangannya itu rapuh dan akhirnya roboh begini. ingin rasanya saat ini Arin berlari menemui pria biadab itu untuk mencaci dan menapar wajahnya habis habisan, hingga rasa kesal dan amarahnya bisa terpuaskan.
Tiba tiba sentuhan hangat mendarat di pundak Arin yg tengah bergetar menahan isak, sentuhan tangan itu dari sosok Eza yg tak pernah sedetikpun beranjak dari sisinya
di rengkuhnya kepala dan pundak Arin dan di sandarkan pada tubuhnya yg kini berdiri tegak tepat di belakang kekasih tercintanya itu, seolah siap menjadi tempat bersandar bagi tubuh Arin yg kini tengah rapuh.
Arinpun tak kuasa menahan tangisnya, seolah rasa nelangsa begitu kental membalut di sekujur tubuhnya, duka seolah tengah menari nari dalam jalan cerita kehidupan Arin saat ini.
Rasanya begitu lega saat beberapa waktu lalu Kak Rio menghubunginya, dan mengatakan akan segera pulang secepat mungkin. sedang pada Kak Fikri, Arin tak bisa berharapa banyak untuk kakaknya yg satu itu bisa lekas pulang, mengingat jarak kota yg begitu jauh, dan kesibukanya yg tentu tak bisa begitu saja di tinggalkan. apa lagi kini ia menjadi tulang punggung keluarga, penopang kehidupan Arin dan bunda.
"sayang...kamu pasti lapar, dari siang tadi aku belum liat kamu makan"
"aku belum lapar Za..."
"ayolah sayang..kamu harus makan, jangan biarkan tubuh kamu lemah juga. kita keluar ke kantin dekat sini saja ya...biar kita bisa cepat kembali, lagian di luar banyak suster yg menjaga kok"
"Za....,"
grueek....grueekk....
terdengar suara perut Arin meraung tiba tiba, tanda bahwa memang rasa lapara tengah menderanya. hanya saja keengganan meninggalkan bunda sendirian seolah bisa meredam sejenak rasa lapar dalam perutnya
"tuu...kaan..ternyata perut kamu lebih jujur"
Arin tersenyum saat Eza meledeknya sambil mengusap manja ujung rambutnya.
Sebelum berjalan menuju kantin yg terletak di pelataran depan rumah sakit, terlebih dulu Arin menitipkan bunda pada suster jaga yg berada di depan kamar perawatan. agar saat bunda terjaga, bunda tidak bingung mencari carinya.
Ternyata setelah menghabiskan semangkuk soto ayam dan beberapa potong gorengan tubuh Arin terasa lebih bertenaga
"lain kali, kamu nggak boleh lagi sampai lupa makan. gimana kamu mau jagain bunda kalau kamu sendiri nggak bisa jaga diri"
Arin mengaggukkan kepala mengulas senyum pada Eza yg kini di rasa Arin sedikit lebih cerewet. selalu mengomel saat Arin melewatkan sedikit saja waktu jam makannya. begitupun saat di sekolah, tiba tiba ia akan datang dengan membawan sekeres makanan saat ia tahu Arin melewatkan jam makan siangnya.
setelah mengisi kenyang perut mereka di kantin rumah sakit, kedua muda mudi itupun berjalan kembali ke ruang perawatan bunda.
saat tengah berjalan di pelatan parkir Eza tiba tiba memandangi Arin dari ujung kaki hingga kepala. membuat Arin keheran dan sedikit salah tingkah
"kamu rese deeehh..." Arin merasa sedikit risih
"kamu dari siang belum ganti baju?" ternyata Eza baru menyadari kalau sedari siang tadi Arin memang masih menggunakan baju putih abu abunya
"emang kenapa? mana sempat ganti baju...mikirin bunda aja udah bikin aku panik, emang aku bau ya..?" Arin mengendus endus kedua bagian ketiaknya yg masih beraroma parfum
"sedikiiiit..."
"Ezaaaa....." Arin memukul pundak Eza gemas, melihat ekspresi cowok itu yg terlihat begitu menyebalkan, rasa kesal bercampur malu saat cowoknya itu mengejeknya sedikit bau ketek.
"nggak sayang...aku becanda" Eza mengakhiri candaanya karena melihat wajah arin yg terlihat begitu serius menanggapi candaanya. "tapikan sekarang udah malem...anak SMA juga nggak ada yg keluyuran masih pake baju seragam gini"
"terus gimana donk"
"eemmm...tunggu sebentar ya..."
tiba tiba Eza berlari ke arah tempat ia memarkirkan motornya. dan sekejap kembali dengan membawa sesuatu.
"nih..kamu bisa ganti pake kaus aku dulu"
tak ingin menunggu lama merekapun kembali melanjutkan langkah kaki menuju ruang perawatan, sambil terus bercanda
"benerankan sayang aku nggak bau..?"
"beneran nggak...sumpah..liat ..nih....nih..."
"Ezaaa..."
Arin berteriak sambil tertawa geli saat Eza tiba tiba mengendu endus ke arah kedua ketiaknya
Setelah selesai mengganti bajunya dengan kaus yg di pinjamkan Eza tadi di toilet, Arin menyusul Eza yg tengah sibuk memainkan ponselnya sambil duduk di sofa yg ada di sudut kamar bunda.
Arin sedikit melirik ke layar ponsel yg tengah di tatap serius Eza, ternyata ia tengah sibuk memainkan game yg ada di ponselnya
"kamu nggak ngabarin trio kurcaci?"
"nggak"
seperti sudah begitu paham siapa yg dimaksutkan Eza dengan trio kurcaci
"kenapa?"
"besok mereka sudah mau berangkat liburan, aku nggak mau mereka akhirnya batal liburan gara gara aku"
"kamu nggak kepengen ikut liburan sama mereka"
lama kelamaan Arin jadi gemas dengan gaya cowok di sebelahnya itu, ia terus saja bertanya tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari layar ponselnya
"kamu nggak mau liburan juga?" Arin malah berbalik mengajukan pertanyaan pada Eza
"nggak"
"kenapa"
tanya Arin semakin penasaran, sambil kini memandang serius ke arah wajah tampan di hadapanya
"mau tau liburan aku kayak apa?"
tiba tiba Eza menghentikan permainan gamenya, meletakkan ponselnya di atas sofa dan tubuhnya memiring ke samping persis berhadapan dengan tubuh Arin, di naikan 1 kakinya dengan posisi tertekuk di atas sofa, sedang di gunakannya sebelah lenganya menopang kepala, seolah mencari posisi ternyaman agar bisa dengan jelas memandang wajah Arin.
"Aku biasa mengisi liburanku begini dengan bekerja sayang, mengumpulkan receh" meski terkesan santai tapi Arin tak menemukan gurat canda dalam dialog Eza kali ini
"kerja..? kerja apa? dimana?"
"eemm..., liburan kali ada temen yg nawarin aku jadi waiter di kafenya"
"waiter..?
Arin mengernyitkan dahinya tak percaya,
mana mungkin putra konglomerat Handoko Willian jadi pelayan kafe
"kamu nggak percaya?"
"wajah begini, jadi pelayan kafe?"
Arin menjepit dagu Eza dengan telunjuk dan jempolnya, sambil melihat sisi kiri dan kanan wajah rupawan kekasihnya
"tahun lalu aku jadi tukang cuci piring di pantry hotel bintang lima papa.., mungkin kamu nggak akan percaya, tapi itulah kenyataanya" Eza merapikan helaian rambut Arin dan menyelipkan di belakang telinganya
"kamu tau sayang...bulan tampak bersinar indah saat kamu pandang ia dari bumi, tapi ketika di dekati, disana cuma ada bukit terjal dan hamparan pasir tandus, bulan terlihat terang bercahaya hanya karena mendapat pantulan sinar dari matahari, tapi kenyataanya bulan tak mampu bercahaya sendiri"
"seperti itulah aku saat ini....."
udh bosan kali erza..si arin ukur 17 thn kaya umur 25 thn keliatan tua,,peyot,suram wajahnya tubuhnya langsung melar, pantatnya langsung turunnnn, buah dada nya langsung kendor kaya udh netein anak.
si arza nanti nikahnya sama yg msh perawan, yg msh suci,tertutup dan tdk liar lagj murahan.