Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Deja vu

Suasana cake shop sore hari itu belum terlalu ramai, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk di lantai dua. Musik syahdu yang diputar pelan terasa sangat pas berpadu dengan cuaca yang sedang mendung.

Di balik konter bar, Anya sedang duduk sembari asyik mengobrol dengan anak-anak bar tentang seorang penyanyi terkenal yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara sekolah.

"Kalian nonton gak? Mumpung deket banget," tanya Anya sembari menatap antusias ke arah Adit dan Eka.

"Males. Gak begitu ngefans. Lagian juga pas masuk shift kerjaku," jawab Adit santai, tetap fokus membersihkan gelas.

Anya mengalihkan lirikannya ke arah Eka yang tampak sedang menata gelas dan sendok.

"Kalo aku sih, udah jelas, ya. Gak mungkin gak nonton. Pas banget aku libur, terus kebetulan juga tempatnya di SMA-ku dulu. Makin gak ada alasan buat gak berangkat dong," sahut Eka dengan senyum bangga.

"Gila sih, bisa-bisanya sampe ngundang Vexia cuman buat acara sekolah. Ahh... sebenernya pengen banget nonton, tapi mepet banget acaranya sama jam kerjaku," gerutu Anya, menopang dagu menyangga kepalanya dengan kedua tangan.

"Coba izin aja sama Mbak Belinda. Kali aja dibolehin nelat bentar. Palingan acaranya cuman sampe jam empat atau lima gitu. Mumpung masih empat hari lagi acaranya," saran Adit memberi masukan.

Eka ikut mengangguk setuju. "Nah, masuk tuh. Kalo iya, nanti aku usahain tiketnya biar dapet. Soalnya kalo jauh-jauh hari lebih gampang nyarinya, apalagi ada orang dalem, ya kan? Kebetulan acaranya belum disebarin ke umum. Katanya H-2 baru pasang pengumuman."

"Nah, kesempatan tuh, Nya!" seru Adit.

"Atau gitu aja, ya?" Anya manggut-manggut, meski raut wajahnya masih tampak ragu. "Kayaknya pasti dikasih izin sama Mbak Bel."

Tiba-tiba, Kinan muncul dari pintu dapur. Ia masih mengenakan almamater kampusnya yang baru saja tiba seusai praktek mengajar di sekolah. Langkahnya tampak tergesa-gesa dengan napas yang sedikit terengah-engah.

"Kalian tau Mbak Bel dimana, gak?" tanya Kinan sembari menyapu pandangan ke sekeliling.

"Lagi ke luar. Gak tahu ke mana." ujar Adit dari balik konter bar yang masih sibuk membersihkan gelas.

Anya menyahut, "Udah dari jam dua tadi dan belom balik sampe sekarang. Ada apa Kin? Penting banget kayaknya."

"Aku mau izin libur," jawab Kinan polos.

Mendengar itu, mata Anya mendadak membelalak kaget. "Izin libur? Wah, jangan-jangan kamu mau nonton juga ya, Kin?"

Kinan mengerutkan dahi, tampak kebingungan dengan arah pembicaraan Anya yang nadanya tiba-tiba meninggi.

Adit meletakkan gelas yang sedang dibersihkannya. "Mbak Belinda pernah bilang kalo gak boleh ada lebih dari satu orang yang izin bersamaan di hari yang sama lho, ya."

"Nah, bener tuh, Kin," timpal Anya cepat, memasang posisi defensif. "Dan aku udah mau izin duluan. Dah lama aku pengen liat Vexia secara langsung dan ini adalah kesempatanku."

"Hah? Nonton? Vexia? Kalian ngomongin apa sih?" Kinan menggelengkan kepala, tampak makin kebingungan dengan tuduhan yang dilayangkan padanya.

Anya menatap Kinan curiga. "Lho, bukannya kamu pengen izin di hari Senin buat nonton Vexia?"

"Gak! Aku pengen izin libur hari Sabtu, soalnya aku ada acara," jawab Kinan memperjelas.

Anya seketika menghembuskan napas lega yang sangat panjang seraya memegangi dadanya. "Oalah... syukurlah kalo gitu!"

Beberapa saat kemudian, dari balik kaca transparan cake shop, tampak sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu. Tak lama, seseorang cewek keluar dari kursi pengemudi.

"Nah, itu orangnya dateng," ujar Eka seraya memberi kode dengan dagunya ke arah luar.

Belinda melangkah masuk ke dalam cake shop lewat pintu depan. Matanya langsung mendapati mereka berempat yang sedang berkumpul mengobrol di area bar.

"Mbak!" ucap Kinan dan Anya bersamaan.

Belinda berjalan pelan menghampiri bar, lalu menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. "Apaan?"

Anya menatap ke arah Kinan. "Kamu duluan aja deh, Kin."

Kinan hanya melirik Anya sekilas. Pandangan Belinda kini teralihkan sepenuhnya, menatap tepat ke arah Kinan.

"Ada apa sih?" tanya Belinda meminta penjelasan.

"Jadi gini, Mbak. Aku mau izin libur buat sabtu ini. Boleh gak, Mbak?" ujar Kinan perlahan, menyampaikan maksud utamanya.

"Ohh..." jawab Belinda singkat. Tanpa memberi kepastian, ia berjalan santai menuju ruang kerjanya. "Kita omongin di dalem aja."

"Ah, iya, Mbak," sahut Kinan, mengekor di belakang Belinda dengan langkah sedikit canggung.

Setelah berada di dalam ruangan, Kinan langsung mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja Belinda.

Belinda menyandarkan punggungnya di kursi."Jadi, kamu mau izin di hari sabtu ini, Kin?"

"Iya, Mbak," jawab Kinan mengangguk pelan.

"Ada keperluan mendadak?"

"Gak mendadak juga sih, Mbak. Cuman... sahabatku mau tanding di final bola basket dan rencanaku mau nonton sekalian memberikannya semangat buatnya, Mbak."

Belinda hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi, membuat Kinan merasa salah tingkah sendiri di kursinya.

Takut permintaannya dianggap berlebihan, Kinan buru-buru menambahkan, "Tapi kalo misalnya emang gak bisa, ya gak apa juga, Mbak. Soalnya juga bukan acara yang terlalu penting."

Kinan refleks menundukkan kepala. Barulah Belinda tersenyum tipis lalu menjawab, "Gak apa kok, Kin. Boleh kamu izin besok lusa."

Mendengar ucapan itu dari Belinda, kelegaan luar biasa langsung terpancar di wajah Kinan.

"Beneran, Mbak? Aku kira gak boleh," ujar Kinan menatap Belinda.

"Kalo hari biasa, mungkin gak bakal aku izinin. Tapi berhubung besok lusa cake shop akan tutup lebih awal, jadinya ya oke-oke aja," jelas Belinda sembari merapikan beberapa berkas di mejanya. "Soalnya hari Minggunya bakal ada test food serta ada event Minggu depannya. Lagian udah cukup banyak pesanan buat hari Minggu. Jadinya ya... Minggu kita tutup aja. Tapi kalian tetep masuk buat ngasih komentar dan masukan soal menu baru nanti."

"Te-terima kasih kalo gitu, Mbak Bel."

Belinda hanya mengangguk pelan. "Minggu depan bakal lebih rame dari biasanya, jadi siap-siap aja."

"Siap, Mbak!" Kinan tersenyum lega, lalu pamit keluar dari ruangan Belinda dan bersiap memulai shift kerjanya.

Malam harinya, suasana kamar terasa begitu tenang. Kinan berbaring santai di atas kasur sembari memegang ponsel, membuka grup chat yang hanya berisikan tiga orang: Mika, Alya dan dirinya. Sebuah grup kecil yang mereka beri nama M.A.K.

Kinan: Udah siap belom buat besok lusa?

Alya: Pastinya dong. Kalian siap-siap aja nanti liat aku angkat piala.

Kinan: Wih, aku tunggu. Eh, iya... Aku udah dapet izin dari tempat kerja. Jadi bisa dateng besok lusa.

Alya: Syukurlah kalo gitu, Kin.

Kinan: Btw, Mika ke mana ya?

Alya: Jam segini mah udah tidur dia. Tau sendirilah si tukang molor itu.

Kinan hanya membalas pesan itu dengan sebuah emotikon senyum. Ia meletakkan ponselnya di samping bantal lalu tersenyum bahagia.

Hubungan persahabatannya dengan Mika dan Alya terasa semakin erat dari hari ke hari. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya, kehadiran dua sahabatnya itu bisa membuat hidup dan dunia kuliahnya yang semula datar menjadi begitu berwarna.

Hari Sabtu siang, Kinan sedang duduk di ruang tamu, mengobrol santai dengan ibunya. Meski suasana di antara mereka sudah membaik, di dalam lubuk hati Kinan terkadang masih menyimpan rasa bersalah atas kejadian beberapa hari lalu saat emosinya sempat tersulut hingga tak sengaja membentak ibunya.

Beberapa saat kemudian, tanpa sepengetahuan Kinan, ternyata Alya dan Mika sudah sampai di rumahnya. Dua jam lebih awal dari waktu kumpul yang mereka sepakati untuk pergi ke kampus bersama.

Kinan langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan tergesa menuju depan rumah.

"Lho, kenapa kalian udah ke sini?" tanya Kinan kaget begitu melihat kedua temannya itu.

"Gak apa, gabut aja di rumah nungguin jam berangkat. Mending ke rumahmu sekalian. Toh udah lama juga gak kemari," sahut Mika, melangkah masuk mendahului tanpa ragu.

"Sekalian nanti berangkat bareng ke kampusnya. Lagian di rumah Mika juga gak ngapa-ngapain, daripada ia ketiduran terus susah dibangunin," timpal Alya yang tampil sporty mengenakan jersey basket di balik jaketnya.

Mika menoleh cepat, memasang muka tidak terima. "Ya kan normal! Hari libur mau ngapain lagi kalo gak tidur? Ya kan, Kin?"

Kinan terkekeh pelan melihat tingkah laku mereka berdua. Dari balik punggung Kinan, ibunya ikut menyusul ke depan pintu dan menyambut kedatangan Mika serta Alya dengan senyum hangat.

"Mika, Alya... ayo masuk," sapa Ibu Kinan ramah.

Alya dan Mika melangkah masuk tanpa ragu, lalu langsung duduk di sofa ruang tamu.

"Tunggu sebentar, ya. Ibu buatkan es teh," ucap Ibu Kinan sebelum berlalu masuk ke arah dapur.

"Wah, enak nih seger-seger di siang yang panas kayak gini!" Mika menyeringai lebar, membayangkan kesegaran es teh meluncur membasahi tenggorokannya.

Alya menoleh tajam ke arah Mika. "Aku bilangin mamamu, ya, kalo kamu terus-terusan minum es! Ntar kalo udah sakit, baru deh rewel."

"Apalah Alya ini, dikit-dikit cepu! Toh aku juga gak bakal sakit," cibir Mika sembari memalingkan wajahnya.

Akan tetapi, tepat beberapa saat setelah kalimat itu terucap, Mika tiba-tiba batuk pelan.

Uhuk! Uhuk!

"Nah, kan. Itu buktinya! Baru juga dibilangin," seru Alya.

Mika buru-buru membela diri dengan wajah memerah. "Mana ada! Ini cuman gara-gara asap di jalan tadi, kok!"

Kinan yang duduk di antara mereka hanya bisa tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertengkaran kecil nan kocak dari kedua temannya itu.

Sore harinya, tepian lapangan basket kampus bergemuruh oleh sorak-sorai penonton dan tepuk tangan meriah. Di tengah lapangan, Alya dan tim basketnya baru saja secara resmi mengangkat piala kemenangan mereka tinggi-tinggi ke udara.

Senyum bangga dan derai air mata bahagia mengiringi pencapaian itu. Kemenangan manis ini sekaligus mengantarkan tim mereka menjadi perwakilan resmi kampus sekota untuk berlaga di kompetisi tingkat provinsi pada awal tahun depan.

Mika tampak terlalu bersemangat. Ia berteriak paling keras sembari melompat-lompat kegirangan, sementara Kinan bertepuk tangan dengan senyum lebar penuh rasa bangga.

Begitu seluruh rangkaian selebrasi selesai, Alya berjalan pelan menghampiri mereka berdua. Sekalipun peluh masih membasahi pelipis dan lehernya, wajahnya masih tampak bersinar penuh semangat.

"Kalian liat gak tadi tembakan jarak jauhku?" Ujar Alya antusias.

"Liat dong!" sahut Mika tanpa ragu, langsung memeluk Alya erat-erat. "Gila, keren abis! Gak kusangka Alya yang kukenal ternyata sehebat ini!"

Kinan mengangguk setuju, meskipun ia sebenarnya tak terlalu paham tentang permainan bola basket. "Selamat ya, Al. Tadi beneran keren mainmu."

"Terima kasih, terima kasih kalian!" Alya membalas pelukan itu hangat sambil menarik napas panjang.

"Selamat, ya, Ven," ucap seseorang yang tiba-tiba menyapa sembari mengulurkan tangannya ke arah Alya.

Kinan dan Mika spontan menoleh bersamaan. Di samping Alya, berdiri seorang cowok tinggi berwajah kalem, mengenakan hoodie abu-abu dengan rambut yang sedikit berantakan tertiup angin sore.

Mika sampai bengong mematung, lalu bergumam pelan dengan mata tak berkedip, "Waaah, keren banget dia. Bisa-bisanya Alya punya kenalan cowok yang keren kayak gini."

Lalu, cowok itu perlahan menoleh tepat ke arah Kinan.

Pandangan mereka saling bertemu untuk sepersekian detik. Sangat singkat, tapi cukup untuk membuat detak di dalam dada Kinan mendadak jadi tak karuan.

Alya menepuk bahu cowok itu sambil tersenyum lebar. "Makasih Nath. Eh, kenalin Ini temen-temenku. Ini Mika."

Mika langsung sumringah, mendadak salah tingkah dan melambaikan tangan kecilnya. "Ha-halo Nathan!"

Nathan membalas lambaian itu dengan anggukan ramah sembari tersenyum tipis. Namun, pandangannya tak bertahan lama di Mika sebelum akhirnya kembali beralih menatap Kinan.

"Dan yang satu lagi namanya..." lanjut Alya hendak memperkenalkan sahabatnya.

"Kinan?" potong Nathan tiba-tiba.

Alya melirik bergantian ke arah Nathan dan Kinan. Ia membisu sejenak, menyadari perubahan atmosfer yang tak biasa di antara mereka berdua. "Ah, iya, bener. Namanya Kinan."

"Ahh... Hai," sapa Kinan canggung. Senyum tipis terukir di wajahnya dengan pipi yang perlahan memerah.

Tak lama kemudian, Nathan membetulkan tudung hoodie-nya. Nada suaranya terdengar ringan, tetapi gerak-gerik tubuhnya menunjukkan ia agak terburu-buru ingin menyudahi momen itu. "Aku balik dulu ya, Ven, Mika, dan... Kinan. Selamat sekali lagi atas kemenangannya."

Dalam hitungan detik, cowok tinggi itu langsung menghilang di tengah kerumunan. Namun, jejak kehadirannya yang singkat masih tertinggal, terutama di benak dan perasaan Kinan yang mendadak berkecamuk.

"Oh, kalian udah saling kenal? Baru tau aku," tanya Alya, menoleh ke arah Kinan seketika.

Kinan hanya mengangguk pelan, menunduk menatap ujung sepatunya untuk menyembunyikan rona wajahnya. Ia bingung dan tak tahu harus menatap ke mana untuk mengalihkan rasa gugupnya.

"Wah, sudah saling kenal, ya? Dunia emang sempit ternyata." Alya tersenyum menggoda, memasang raut wajah iseng. "Atau jangan-jangan... ini alasan kamu jadi agak beda akhir-akhir ini ya, Kin?"

Dan tentu saja, Mika tak mau ketinggalan menyambar momen langka itu. "Dunia emang sempit, atau emang jod--?"

"MIK!" potong Kinan cepat.

Wajah Kinan kian memerah abaikan kepiting rebus. Ia buru-buru memalingkan pandangannya ke arah kerumunan mahasiswa pendukung yang masih sibuk bersorak merayakan kemenangan tim basket kampus.

Namun, di tengah godaan itu, pikiran Mika tiba-tiba teralihkan oleh satu hal yang mengganjal. "Eh, ngomong-ngomong... kenapa tadi si Nathan kok memanggilmu 'Ven', Al?"

Kinan ikut menoleh dengan ekspresi serupa. Tatapannya mengandung rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan Mika.

"Katanya sih, dia punya temen yang namanya Alya juga," jelas Alya santai sembari merapikan jaketnya. "Namaku kan Alya Vendara Putri. Jadi biar gak bingung, dia manggil aku 'Ven'. Gitu deh. Dia emang orangnya... beda dan gak gampang ditebak."

"Ooh..." Mika dan Kinan mengangguk bersamaan. Gerakan mereka kompak yang menandakan rasa penasaran mereka akhirnya terjawab tuntas.

"Ayo ke kantin! Kali ini aku traktir kalian deh," ajak Alya tiba-tiba.

Mika langsung mengacungkan jempolnya. "Wih, boleh juga tuh! Kebetulan aku udah laper banget. Capek teriak-teriak nyemangatin Alya tadi."

Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk melangkah menuju kantin kampus yang letaknya tak begitu jauh dari lapangan basket. Kinan berjalan di tengah di antara Mika dan Alya yang keduanya masih seru membahas pertandingan barusan.

"Masih gak nyangka timku bisa melangkah sampe sejauh ini. Dari tingkat kampus sekota, sekarang bisa sampe ke tingkat provinsi. Bakal makin berat ini perjuangannya."

"Semoga nanti menang lagi. Biar ditraktir lagi," celetuk Mika.

Alya melirik Mika jahil. "Males ah. Ntar Kinan aja yang bakal tak traktir."

"Gak bisa gitu dong, Al! Pilih kasih itu namanya. Kalo naktrir Kinan, ya harus aku juga dong!" protes Mika dengan raut wajah memelas.

Kinan menyenggol lengan Alya sambil tertawa. "Kasian Mika dong, Al, kalo ia sendiri gak di traktir."

"Tuh! Kinan aja ngerti."

Gelak tawa pecah di antara mereka ,terasa begitu hangat, dan akrab di sepanjang jalan. Namun, saat langkah mereka baru saja melewati gedung fakultas tempat Kinan berkuliah, tiba-tiba sebuah suara mendadak memanggil memecah keceriaan mereka.

"Kinan!"

Sebuah teriak seseorang terdengar dari arah belakang.

Langkah Kinan sontak terhenti kaku, disusul oleh Alya dan Mika yang refleks menghentikan langkah mereka. Keduanya bersamaan menatap ke arah Kinan yang mendadak membatu.

Ekspresi Kinan tampak berubah drastis. Ia sangat mengenali suara itu, bahkan tanpa ia perlu menoleh ke arah sumber suara tersebut berasal.

Mika dan Alya saling pandang, sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi kepada sahabat mereka.

"Ada apa, Kin?" tanya Alya cemas.

"Kok tiba-tiba berhenti?" lanjut Mika.

Kinan tak bersuara. Dengan gerakan kaku dan berat, ia perlahan memutar tubuhnya. Beberapa meter di depannya, berdiri seorang cowok tinggi berbalut jaket jeans pudar. Wajah cowok itu memajang senyum lebar, bukan senyum ramah, melainkan cengiran yang tahu betul dampaknya terhadap Kinan.

Di sampingnya, ada seorang cewek berparas jelita bertubuh langsing dengan pakaian minim yang tampak terlalu mencolok untuk lingkungan kampus. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah Kinan.

Kinan terdiam dan napasnya kian terengah-engah. Dunia seolah merapat sempit. Keramaian kampus lenyap berganti hening mencekat. Jantungnya berdegup cepat, bukan karena gugup, melainkan akibat sesuatu yang selama ini tak ingin ia lihat kembali.

"Ro-Romi," bisik Kinan, suaranya hampir tak terdengar.

Alya melirik Mika, mengirimkan isyarat tanya lewat tatapan mata. Namun, keduanya sama-sama tidak mengenal sosok cowok itu. Satu-satunya hal yang mereka tangkap hanyalah ekspresi Kinan yang mendadak berubah menjadi seperti orang ketakutan.

Kinan menunduk. Bibirnya gemetar hebat, sementara jemarinya meremas kuat tali tas selempang. Ia sama sekali tidak siap untuk ini. Bukan di sore yang damai ini. Bukan juga setelah hari yang sebenarnya berjalan sangat manis bagi dirinya.

Romi melangkah pelan mendekat, membiarkan lengannya tetap digandeng oleh cewek di sampingnya. Setiap langkahnya begitu tenang, begitu santai seperti tak sadar bahwa kehadirannya baru saja menyeret Kinan kembali ke masa lalu yang selama ini ia tutup rapat, yang ia kubur dengan susah payah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kinan kembali merasa ketakutan luar biasa.

Langit sore yang cerah di atas mereka tak sanggup mengimbangi badai yang menyeruak di dada Kinan. Beberapa luka ternyata belum benar-benar sembuh. Dan hari ini, semuanya kembali menganga.

Kinan membeku di tempat. Sementara itu, senyum tipis terukir di wajah Romi terasa bak sebuah pembuka. Bukan sebuah sapaan ramah, melainkan babak awal dari sesuatu yang buruk.

"Lama gak ketemu ya, Kinan."

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!