Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi!!

Perjuangan Haselyn untuk membuka tokonya akhirnya membuahkan hasil. Sambutan para pelanggan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Sebagian besar dari mereka adalah pelanggan lama yang telah lama menggunakan jasanya, dan kini mereka datang untuk mendukung toko yang baru resmi dibuka dua minggu lalu.

Setiap pujian, setiap senyuman, dan setiap pelanggan yang kembali berbelanja menjadi bukti bahwa kerja kerasnya selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Sesuai rencana yang telah ia susun sejak awal, Haselyn mempersiapkan semuanya dengan matang sebelum keberangkatannya ke Inggris. Ia telah mempercayakan operasional toko kepada Ardan, orang yang selama ini paling memahami ritme usahanya.

“Bagaimana, Kak Ardan? Bagian yang ini sudah benar-benar paham, kan?” tanya Haselyn sambil menunjuk laporan operasional di hadapannya.

Ardan mengangguk mantap. “Sudah. Kakak sudah mengerti sebagian besar alurnya.” Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang sedikit ragu. “Tapi… meskipun kamu di Inggris nanti, kamu masih akan mengawasi pekerjaan kakak, kan?”

Haselyn menatapnya.

“Kakak takut melakukan kesalahan,” ujar Ardan jujur. “Kakak tidak ingin mengecewakanmu.”

Senyum tipis terukir di wajah Haselyn. “Tentu, Kak. Aku tetap akan memantau semuanya dari sana. Kita bisa berkomunikasi lewat video call atau laporan harian melalui email.”

Ia menutup map di tangannya, lalu melanjutkan, “Selain itu, Nenek Imah juga akan sesekali datang ke toko untuk mewakiliku melihat perkembangan operasional toko. Jadi, kalau ada kendala, Kakak bisa berdiskusi dengan beliau.” Meskipun Haselyn mempercayakan toko itu kepada Ardan, ia tetap ingin memiliki sistem pengawasan yang baik. Baginya, kepercayaan bukan berarti melepas tanggung jawab sepenuhnya.

“Baiklah,” jawab Ardan dengan senyum lega. “Kalau begitu kakak jadi lebih tenang.”

“Bagus.” Ujar Haselyn dengan senyum lega

“Kakak lanjut kerja dulu, ya.” Merasa cukup paham dengan pengarahan Haselyn, Ardan kembali melaksanakan pekerjaannya

“Iya, Kak.” Haselyn mempersilahkan Ardan untuk kembali bekerja

Ardan kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Haselyn berjalan menyusuri setiap sudut toko. Tatapannya teliti memeriksa rak demi rak, menghitung persediaan barang, memastikan tidak ada stok yang menipis, dan mencatat barang-barang yang perlu segera dipesan.

Toko itu bukan sekadar tempat usaha. Toko itu adalah impian yang ia bangun dari nol, dengan keringat, air mata, dan perjuangan yang tidak pernah diketahui banyak orang. Dan sebelum ia meninggalkan Indonesia, ia ingin memastikan bahwa impian itu tetap berdiri dengan kokoh.

Setelah selesai memeriksa seluruh persediaan barang, Haselyn melangkah menuju sebuah bangku kosong di area membaca yang berada di dekat jendela. Ia duduk perlahan, menyandarkan tubuhnya yang masih terasa lemah.

Tatapannya menerobos kaca jendela, memandangi jalanan yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan. Pikirannya melayang jauh.

Masa depan yang dulu ia susun dengan begitu rapi kini terasa kabur. Rentetan peristiwa buruk yang menimpanya dalam beberapa waktu terakhir telah mengacaukan banyak hal. Mimpi yang seharusnya menjadi sumber semangat justru kini terasa seperti sesuatu yang semakin sulit ia genggam.

Ia mengembuskan napas panjang. “Kenapa hidupku selalu seperti ini?” batinnya lirih.

“Nona…” Suara lembut seseorang membuyarkan lamunannya.

Haselyn tersentak pelan. Ia menoleh dengan sedikit terkejut dan mendapati Rahma berdiri di sampingnya. “Ah…” Ia berkedip beberapa kali, berusaha mengembalikan fokusnya. “Ada apa, Rahma?” tanyanya.

“Maaf mengganggu, Nona. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nona.” Rahma mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu masuk toko.

Haselyn mengikuti arah pandang Rahma. Seorang pria berdiri di balik pintu kaca, mengenakan kemeja gelap dengan postur tegap. Wajahnya tampak asing.

Kening Haselyn berkerut. “Siapa dia?”

Ia mengamati pria itu beberapa saat, berusaha mengingat apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun semakin lama ia memperhatikan, semakin yakin bahwa ia tidak mengenal pria tersebut. Entah mengapa, sebuah firasat aneh perlahan menyusup ke dalam dadanya.

“siapa namanya” tanya Haselyn

Rahma menggaruk tengkuknya dan terkekeh “lupa tanya nona, terlalu fokus dengan ketampanannya tadi” menurut Rahma pria yang berkunjung begitu tampan sampai membuat Rahma kehilangan fokus dan melupakan untuk bertanya  siapa nama pria yang datang berkunjung

“ya sudah biar aku lihat sendiri” Haselyn bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju pintu masuk toko. Langkahnya tenang, meskipun rasa penasaran mulai mengusik pikirannya.

Ia berhenti tepat di hadapan pria itu. “Anda mencari saya?” tanyanya sopan.

Pria tersebut menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Haselyn, begitu dalam hingga membuat Haselyn tanpa sadar mengernyit. Ia mencoba mengenali wajah asing di hadapannya, tetapi tidak menemukan satu pun ingatan yang terasa familiar.

“Maaf… ada keperluan apa mencari saya?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit canggung.

Kevin menatap Haselyn lekat-lekat. Wajah yang selama ini memenuhi pikirannya kini benar-benar berada di hadapannya. Namun reaksi Haselyn membuat dadanya menegang.

Apa dia tidak mengingatku?

Pertanyaan itu bergema di benaknya. Kevin menarik napas pelan, berusaha menenangkan gemetar yang tidak bisa ia sembunyikan. “Apa kabarmu?” tanyanya lirih.

Seketika. “Deg.” Jantung Haselyn serasa berhenti berdetak.

Suara itu. Suara yang selama ini menghantuinya dalam mimpi buruk. Tubuhnya membeku. Ujung jarinya terasa dingin, sementara napasnya mendadak menjadi tidak teratur.

Mungkin ia tidak mengingat wajah pria itu. Namun suara itu… Suara itu terukir begitu jelas di dalam benaknya.

Mata Haselyn membelalak. Wajahnya perlahan memucat, dan tubuhnya tanpa sadar mundur selangkah. Suara itu adalah suara yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Suara pria yang telah menghancurkan hidupnya pada malam itu.

Mata Haselyn membelalak lebar. Wajahnya seketika memucat, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah yang meluap tanpa bisa ia bendung.

“Kau!” Tangannya terangkat, menunjuk lurus ke arah pria yang memberinya sebuah mimpi buruk yang terasa begitu panjang untuknya dengan tatapan yang dipenuhi kebencian.

“Plak!” Suara tamparan itu menggema keras di dalam toko.

Kepala Kevin terlempar ke samping. Bekas lima jari mulai tampak jelas di pipinya. Bibirnya pecah, dan setetes darah segar mengalir di sudut mulutnya.

Namun Kevin tidak melawan.Ia tidak menghindar. Ia tidak marah.

Dengan perlahan, ia menyentuh pipinya yang berdenyut nyeri. Tatapannya kembali tertuju pada Haselyn, yang kini berdiri dengan tubuh gemetar. “Aku memang pantas menerima ini,” bisiknya dalam hati.

“Pergi!” Suara Haselyn bergetar, tetapi penuh kemarahan. “Pergi dari sini!”

Kevin menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan. “Aku cuma ingin meminta maaf,” ucapnya lirih.

“Maaf?” Haselyn tertawa pendek, tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Kamu pikir kata maaf bisa menghapus semua yang sudah kamu lakukan padaku?”

Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang semakin sulit dikendalikan. Tanpa ingin mendengar sepatah kata pun lagi, Haselyn segera menoleh ke arah petugas keamanan yang berjaga di depan toko.

“Pak Aslan!” Pria matang itu segera menghampiri Haselyn dengan wajah bingung. “Ada apa, Nona?”

Haselyn menunjuk Kevin dengan tangan yang masih gemetar. “Usir dia.” Suaranya terdengar tegas. “Usir dia sekarang juga. Jangan pernah biarkan dia datang ke toko ini lagi.”

Aslan sempat menatap Kevin sekilas. Ia tidak mengenal pria itu, tetapi kemarahan dan ketakutan yang terpancar dari wajah Haselyn membuatnya tidak perlu bertanya lebih jauh. “Baik, Nona.”

Aslan melangkah maju, berdiri di depan Kevin. “Maaf, Pak. Silakan tinggalkan tempat ini.”

Kevin tidak memedulikan Aslan. Tatapannya tetap tertuju pada Haselyn. “Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan!” bentak Haselyn. Air matanya mulai menggenang, tetapi suaranya tetap lantang.

“Yang kamu hancurkan bukan cuma hidupku. Kamu menghancurkan diriku.” Kalimat itu membuat Kevin membeku di tempat.

Sementara Haselyn berdiri dengan napas terengah-engah, menatap Kevin dengan kebencian yang selama ini ia pendam seorang diri.

Aslan menunjukkan wajah garangnya di depan Kevin “tolong jangan buat keributan di sini tuan, silahkan Anda pergi dari sana” Aslan masih berusaha menggunakan bahasa yang sopan untuk mengusir Kevin pergi

Kevin mengembuskan napas panjang. Ia menyadari bahwa percakapan mereka tidak akan membuahkan hasil hari ini. Haselyn bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan lebih dari beberapa kalimat.

“Aku akan pergi,” ucap Kevin pelan. “Tapi aku akan kembali lagi. Kita harus bicara.” Tatapannya masih tertuju pada Haselyn. “Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mendengar penjelasanku.”

Haselyn tidak menanggapi sepatah kata pun. Ia membalikkan tubuh dan melangkah masuk ke dalam toko tanpa menoleh lagi. Baginya, keberadaan Kevin hanya membuka kembali luka yang selama ini berusaha ia kubur.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!