Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia sang Kakek
Blaam!!
DUAR!!!
Dor! Dor! Dor!
Rentetan suara senjata terdengar saling bersahutan dari sebuah bangunan kuno yang tampak sepi. Bangunan itu berdiri jauh dari pemukiman warga, tersembunyi di antara pepohonan lebat dan jalanan yang hampir tidak pernah dilalui manusia.
Dari luar, bangunan tersebut terlihat kusam dan terbengkalai. Dindingnya dipenuhi lumut, beberapa jendelanya bahkan sudah pecah. Namun, siapa pun yang masuk ke dalamnya akan menemukan pemandangan yang sama sekali berbeda.
Bangunan tua itu merupakan salah satu markas rahasia Klan Lu.
Dan malam ini, tempat tersebut berubah menjadi medan perang. Lu Zhichen berdiri bersama Han Mo dan beberapa anak buahnya. Suara tembakan terus menggema dari berbagai arah.
"Serang!"
"Jangan biarkan satu pun dari mereka melarikan diri!" Perintah Zhichen terdengar dingin.
Pria itu bergerak cepat di tengah kekacauan. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan untuk menyerangnya. Malam ini, Lu Zhichen benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Pemimpin Klan Lu. Pria yang selama bertahun-tahun ditakuti oleh dunia bawah tanah Beijing.
Ia bergerak bagaikan singa yang sedang kelaparan. Senjata andalannya berada erat di tangannya, sementara seluruh tubuhnya nyaris dipenuhi cipratan darah. Bukan darahnya. Melainkan darah para musuh yang dengan lancang mengusik ketenangan Klan Lu. Wajah Zhichen tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Setiap kali salah satu musuh mencoba mendekat, ia langsung menghentikannya. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Tidak ada kesempatan untuk meminta ampun.
Malam ini, mereka datang untuk menghancurkan Klan Lu. Dan mereka harus membayar mahal karena telah memilih musuh yang salah. Beberapa saat kemudian, suara tembakan mulai mereda. Satu per satu musuh tumbang. Keheningan perlahan kembali memenuhi bangunan tua tersebut. Zhichen berdiri di tengah ruangan dengan napas sedikit memburu. Tatapannya menyapu seluruh area.
"Laporkan."
Han Mo segera mendekat. "Sudah hampir semuanya dilumpuhkan, Master. Beberapa orang mereka mencoba melarikan diri, tetapi sudah berhasil diamankan."
"Bagus." Zhichen mengusap sudut bibirnya yang terkena sedikit noda darah. "Serang balik Markas mereka."
Han Mo mengangkat kepala. "Serang balik, Master?"
"Ya." Tatapan Zhichen berubah semakin dingin. "Serang markas mereka malam ini juga." Ia berjalan perlahan melewati tubuh-tubuh musuh yang bergelimpangan. "Ambil kembali seluruh wilayah yang mereka kuasai."
Han Mo mengangguk. "Baik, Master."
"Dan pastikan mereka mengingat satu hal." Zhichen berhenti. "Jangan pernah berani menyentuh Klan Lu jika tidak ingin kehilangan semuanya."
"Baik." Jawab Han Mo mantap. Perintah itu segera diteruskan kepada seluruh anak buah.
*
*
Beberapa menit kemudian, pasukan Klan Lu bergerak menuju markas lawan untuk melakukan serangan balasan. Ini bukan sekadar pertempuran. Ini adalah pesan. Pesan kepada seluruh dunia bawah bahwa Klan Lu masih berdiri. Bahkan lebih kuat daripada sebelumnya. Zhichen menyeringai tipis. Untuk pertama kalinya sejak Yuxin pergi, suasana hatinya sedikit membaik. Bukan karena ia sudah melupakan istrinya.
Tidak.
Justru sebaliknya. Kemarahannya terhadap musuh malam ini menjadi pelampiasan dari kekacauan yang memenuhi pikirannya. Yuxin tetap berada di kepalanya. Namun, sekarang ia sudah memiliki tujuan. Setelah semua urusan klan selesai, ia akan pergi ke Bali. Ia akan menemukan istrinya. Apa pun yang terjadi. Han Mo masih setia mengikuti Zhichen dari belakang, menunggu perintah selanjutnya.
"Han Mo."
"Ya, Master?"
"Siapkan penerbangan untuk fajar nanti menuju Bali."
Han Mo sedikit terkejut.
"Tuan akan langsung menyusul Madam?"
"Ya."
Zhichen menjawab tanpa ragu.
"Bawa beberapa orang kita. Cari keberadaan istriku."
"Baik, Master."
Han Mo segera berbalik untuk melaksanakan perintah tersebut.
*
*
Sementara itu, Zhichen memasuki bagian terdalam markas Klan Lu yang merupakan peninggalan mendiang kakeknya. Tempat itu sudah lama tidak digunakan. Ruangan tersebut dulunya menjadi ruang kerja khusus sang kakek. Di dalamnya terdapat berbagai dokumen lama mengenai wilayah kekuasaan Klan Lu, perjanjian antar-klan, hingga catatan rahasia yang berhubungan dengan dunia bawah.
Zhichen berjalan perlahan. Debu tebal memenuhi hampir seluruh permukaan meja dan rak. Sudah bertahun-tahun ruangan ini dibiarkan begitu saja. Namun, ketika hendak keluar, pandangan Zhichen tiba-tiba tertuju pada sebuah map tua yang terselip di antara tumpukan dokumen. Alisnya berkerut. Ia mengambil map tersebut.Tangannya mengusap debu yang menutupi permukaannya.Kemudian matanya membeku. Di bagian sampul tertulis sebuah kalimat.
PERJANJIAN LU DAN SHEN
Tatapan Zhichen langsung berubah. "Perjanjian... Lu dan Shen?" Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia membuka map tersebut. Semakin banyak lembaran yang dibaca, semakin berubah ekspresi wajahnya. Tangannya bahkan mulai bergetar. Di dalam dokumen itu tersimpan sebuah fakta yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ketahui. Sebuah rahasia yang berhubungan dengan dirinya.Dan juga... Shen Yuxin.
"Jadi..."
Zhichen menelan ludah. "Ini alasan Kakek dulu menjodohkan ku dengan Yuxin?" Matanya terus membaca. Sebuah kejadian yang selama bertahun-tahun terkubur dalam ingatannya perlahan muncul kembali.
Dua Puluh Empat Tahun Lalu
Sebuah vila sederhana di pinggiran Beijing tampak begitu tenang. Dua orang pria tua duduk berdampingan di teras. Keduanya adalah sahabat lama. Kakek Lu dan Kakek Shen. Di halaman luas di depan mereka, dua orang anak kecil sedang bermain. Lu Zhichen yang baru berusia lima tahun berlari mengejar seorang gadis kecil yang membawa boneka beruang cokelat kesayangannya.
"Yuxin! Tunggu!"
"Tidak mau!" Yuxin kecil tertawa sambil berlari. "Kamu tidak akan bisa menangkapku!"
Zhichen terus mengejarnya.
Keduanya tertawa lepas.
Suara tawa mereka terdengar begitu indah bagi kedua kakek yang sedang memperhatikan dari kejauhan. Namun, senyum Kakek Shen perlahan memudar. Tatapannya jatuh kepada cucu perempuannya. Ada rasa iba dan bersalah yang begitu dalam di matanya. "Aku terlalu kasihan kepada cucu perempuanku yang satu itu."
Kakek Lu menoleh. "Maksudmu Yuxin?"
Kakek Shen mengangguk. "Kehadirannya di keluarga Shen tidak pernah benar-benar disambut hangat oleh istriku sendiri." Ia menghela napas panjang. "Ibunya sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga Shen. Tetapi entah setan apa yang merasuki hati istriku hingga dia bisa begitu tega kepada Yuxin dan ibunya."
Kakek Lu terdiam.
Kemudian ia mengembuskan napas berat. "Zhichen juga hampir memiliki nasib yang sama." Tatapan pria tua itu menerawang jauh. "Jika istriku masih hidup, mungkin Zhichen akan menjadi cucu kesayangannya." Ia tersenyum pahit. "Sayangnya, dia lebih dulu pergi meninggalkan kami."
Kakek Shen menepuk pundaknya.
"Kehidupanmu juga tidak mudah."
"Putriku hanya satu, Lu Meirong. Cucu pertamaku, Wanqing, memiliki penyakit sejak lahir." Suara Kakek Lu terdengar berat. "Kehidupannya memang tidak mudah." Ia menundukkan kepala. "Saat Meirong belum menyadari bahwa di dalam rahimnya sudah ada Zhichen, seluruh pikirannya hanya tertuju kepada Wanqing."
Kakek Shen terdiam. "Ketika Meirong dan suaminya mengetahui kehamilan itu, mereka merasa belum siap." Tatapan Kakek Lu dipenuhi kesedihan. "Meirong bahkan hampir mengambil keputusan untuk menggugurkan Zhichen."
Kakek Shen membelalak.
"Untung istriku mengetahuinya lebih dulu." Ia menghela napas panjang. "Rencana gila itu akhirnya tidak pernah terlaksana." Kakek Lu kembali memandang kedua cucunya.
"Namun, setelah Zhichen lahir, Meirong tetap tidak bisa memberikan perhatian kepadanya."
"Wanqing saat itu sedang dalam kondisi kritis dan harus dibawa ke Meksiko untuk mendapatkan perawatan yang lebih lengkap."
"Sejak lahir hingga sekarang, Zhichen tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
Kakek Shen menepuk pelan pundak sahabatnya. "Lu, jangan terlalu bersedih." Ia tersenyum. "Yuxin maupun Zhichen masih memiliki kita. Kita yang akan menyayangi mereka. Kita juga yang akan melindungi mereka dari kejamnya dunia ini."
Kedua pria tua itu kemudian terdiam. Tanpa mereka sadari, kedua cucu mereka sudah berlari semakin jauh ke halaman belakang. Yuxin kecil memeluk boneka beruangnya erat sambil terus berlari. Zhichen mengejarnya dengan tawa lepas.
"Tunggu!"
"Tangkap aku kalau bisa!"
Tawa kedua bocah itu terdengar begitu polos.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari vila. Di dalamnya terdapat beberapa pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam. Mereka memperhatikan gerak-gerik kedua bocah tersebut.
Salah seorang pria mengangkat ponselnya. Panggilan masuk dari seseorang yang jelas merupakan atasannya.
"Bagaimana?"
Suara berat terdengar dari seberang.
"Apakah cucu laki-laki si tua bangka itu sudah kalian tangkap?"
Pria tersebut melirik ke arah Zhichen kecil.
"Belum, Bos."
Ia tersenyum penuh percaya diri. "Tapi sebentar lagi kami pasti bisa mendapatkannya."
Dari seberang terdengar tawa menggelegar.
"Ha-ha-ha!"
"Bagus."
Suara itu kemudian berubah dingin.
"Cepat lakukan."
"Setelah itu, Klan Lu akan hancur di tangan kita."
Pria tersebut tersenyum.
"Dimengerti, Bos."
Panggilan berakhir.
sukses terus untuk karya mu
😭😭😭😭
langsung ganti mode manja