Indonesia
NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sehari Tanpa Kesibukan

Pagi pertama di villa terasa jauh berbeda dari pagi-pagi yang biasa dilewati Tiffany.

Tidak ada ponsel yang terus bergetar karena pesan dari sekretaris.

Dan yang paling aneh...

Tidak ada Gavin yang mengganggunya.

Tiffany membuka mata perlahan.

Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya meraih ponselnya.

Tidak ada rapat pagi.

Tidak ada agenda perusahaan.

Tidak ada laporan yang harus diperiksa.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Benar-benar liburan..."

Tiffany bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela.

Begitu tirai dibuka, cahaya matahari pagi langsung memenuhi kamar.

Pemandangan taman dan danau terlihat begitu tenang.

Tiffany hampir lupa bahwa di luar sana masih ada dunia yang penuh pekerjaan.

Ia baru saja hendak berbalik ketika terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok.

"Nona?"

Suara Mei terdengar dari luar.

"Ya?"

"Apakah Nona sudah bangun? Sarapan sudah disiapkan."

"Sebentar."

Tiffany membuka pintu.

Mei berdiri dengan sopan.

"Nona, Tuan sudah berada di ruang makan."

Tiffany mengangguk singkat.

"Baik."

Ia kemudian berjalan keluar.

Namun, baru beberapa langkah...

"Tante."

Tiffany berhenti. Alisnya sedikit terangkat ketika mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya itu.

Gavin muncul dari ujung koridor sambil membawa secangkir kopi.

"Kenapa?"

"Kamu sudah bangun?"

Tiffany menatapnya datar, seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

"Kalau belum, aku tidak mungkin sedang berdiri di sini."

Gavin mengangguk dengan wajah serius.

"Benar juga."

Ia kemudian menyerahkan cangkir kopi yang satunya kepada Tiffany.

Tiffany melihat cangkir tersebut dengan sedikit heran.

"Ini?"

"Kopi."

"Aku tahu itu kopi."

"Berarti tidak perlu bertanya."

Tiffany menerima cangkir tersebut sambil mendengkus pelan.

Ia menyesap sedikit.

Pas.

Tidak terlalu pahit.

Tidak terlalu manis.

Tiffany menatap Gavin dengan tatapan sedikit terkejut.

"Kamu yang buat?"

"Iya."

"Kok tahu takaran kopiku?"

Gavin terlihat bingung.

" Kan aku sudah sering membuatkan kamu kopi."

Tiffany terdiam. Tatapannya sejenak jatuh pada cangkir kopi di tangannya.

Oh.

Benar juga.

Selama tinggal bersama, Gavin memang sudah hafal bagaimana ia minum kopi.

Tidak terlalu manis.

Dan harus cukup kuat untuk membuatnya benar-benar terjaga.

Begitu juga sebaliknya.

Tanpa sadar, Tiffany sudah hafal kebiasaan Gavin.

Ia tahu Gavin tidak akan pernah benar-benar sarapan kalau tidak dipaksa.

Ia tahu pria itu akan mencari camilan terlebih dahulu setelah bangun.

Ia tahu kalau Gavin terlalu lama diam, biasanya sedang memikirkan makanan.

Hal-hal kecil yang awalnya tidak penting...

Entah sejak kapan mulai menjadi sesuatu yang mereka lakukan secara otomatis.

"Kok diam?"

Tiffany tersadar dan segera mengalihkan pandangan.

"Tidak apa-apa."

"Jangan bilang kamu terharu karena suamimu membuatkanmu kopi."

Tiffany langsung berjalan melewatinya dengan wajah sedikit memerah karena kesal.

"Jangan mulai."

Gavin tertawa kecil lalu mengikuti.

---

Sarapan pagi berlangsung santai.

Tiffany mengambil roti panggang.

Gavin tanpa mengatakan apa-apa langsung mengambil piring buah dan meletakkannya di depan Tiffany.

Tiffany melirik piring tersebut.

"Aku tidak minta."

"Kamu nanti lapar."

"Aku bisa mengambil sendiri."

"Iya."

Gavin mengambil kembali piring itu.

Kemudian, dua detik kemudian, meletakkannya lagi di depan Tiffany.

Tiffany menatapnya dengan dahi berkerut.

"Terus kenapa dikembalikan?"

"Karena aku sudah tahu kamu akhirnya akan mengambilnya."

Tiffany menatap Gavin dengan kesal.

Menyebalkan.

Tapi benar.

Beberapa menit kemudian, tangannya memang mengambil potongan buah tersebut.

Gavin hanya tersenyum kecil.

Tiffany pura-pura tidak melihat sambil melanjutkan sarapannya.

---

Setelah sarapan, mereka memutuskan berjalan mengelilingi area villa.

Tiffany menunjukkan beberapa tempat yang pernah ia datangi saat kecil.

Ada kebun kecil di belakang villa.

Ada lapangan rumput.

Ada jalan setapak menuju danau.

Bahkan ada sebuah bangunan kecil yang dahulu digunakan Tiffany untuk menyimpan mainannya.

"Di sini dulu ada rumah-rumahan."

Gavin melihat bangunan kecil itu dengan ekspresi tidak percaya.

"Serius?"

"Iya."

"Kamu main rumah-rumahan?"

Tiffany mengangguk.

"Dengan siapa?"

"Sendiri."

Gavin langsung menatapnya dengan ekspresi kasihan yang berlebihan.

"Kenapa?"

"Apa?"

"Kasihan sekali."

Tiffany langsung memukul lengannya dengan kesal.

"Aku memang tidak punya teman sebaya di sini karena ini villa pribadi keluarga!"

Gavin tertawa.

"Berarti dari kecil sudah cocok jadi CEO."

Tiffany mengerutkan kening, penasaran dengan maksudnya.

"Kenapa?"

"Karena sudah terbiasa bekerja sendirian."

Tiffany terdiam. Tatapannya sempat berubah sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat.

Kemudian, tanpa sadar, ia tertawa kecil.

"Kamu benar-benar menyebalkan."

"Aku tahu."

Gavin tersenyum puas, sementara Tiffany hanya menggelengkan kepala.

---

Menjelang siang, Gavin menemukan sesuatu yang langsung menarik perhatiannya.

Sebuah perahu kecil berada di tepi danau.

Gavin menunjuknya.

"Naik itu."

Tiffany mengikuti arah jarinya, lalu langsung menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau."

"Kamu takut?"

Tiffany langsung menoleh dengan tatapan tertantang.

"Aku tidak takut."

"Kalau begitu naik."

Tiffany terdiam.

Gavin tersenyum kecil, jelas merasa berhasil memancingnya.

Tiffany menghela napas panjang.

"Kalau perahunya terbalik, kamu yang bertanggung jawab."

"Siap, Tante."

Tiffany baru sadar ada salah satu pelayan villa di dekat mereka.

Ia langsung menoleh kepada Gavin dengan tatapan memperingatkan.

"Jangan panggil aku sembarangan."

Gavin menoleh kepada pelayan tersebut.

Kemudian kembali kepada Tiffany dengan senyum jahil.

"Oh, iya."

Senyumnya semakin lebar.

"Maaf, Sayang."

Tiffany memelototinya dengan wajah kesal.

Pelayan villa pura-pura sibuk melihat ke arah lain, berusaha mati-matian menahan ekspresinya.

---

Akhirnya, mereka benar-benar naik perahu.

Tiffany duduk di depan.

Gavin di belakang.

Awalnya semuanya berjalan tenang.

Sampai Gavin mendayung terlalu kuat.

Perahu bergoyang.

Tiffany langsung memegang sisi perahu dengan wajah panik.

"Gavin!"

"Apa?"

"Pelan!"

"Iya ini sudah pelan."

"Perahunya hampir miring!"

Gavin langsung memperlambat gerakannya.

"Baik, Tante."

Tiffany menoleh dengan tatapan tidak percaya.

"Kenapa?"

"Kalau tidak ada orang lain, kenapa tiba-tiba jadi Tante lagi?"

"Memangnya mau dipanggil apa?"

Tiffany membuka mulut.

Namun, ia tidak menemukan jawaban.

Gavin tersenyum puas melihatnya.

"Nah."

"Diam."

Tiffany kembali menghadap ke depan dengan wajah sebal, sementara Gavin hanya menahan tawanya.

---

Sore hari, mereka kembali ke villa.

Tiffany kemudian duduk di teras sambil membaca buku.

Gavin entah pergi ke mana.

Sepuluh menit kemudian, ia muncul membawa dua gelas minuman.

Satu diletakkan di samping Tiffany.

Tiffany bahkan tidak perlu melihat.

"Teh?"

"Benar."

"Tidak terlalu manis?"

"Benar."

Tiffany akhirnya mengangkat wajah dan menatap Gavin dengan sedikit heran.

"Kamu sekarang hafal sekali."

Gavin duduk di kursi sebelahnya.

"Sudah tinggal serumah sekian lama."

Ia mengangkat bahu.

"Kalau hal seperti ini saja tidak hafal, berarti aku suami yang buruk."

Tiffany terdiam sebentar. Tatapannya kembali pada buku di tangannya.

Kemudian, ia kembali membaca.

Namun, kali ini...

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Gavin juga tidak mengatakan apa-apa lagi.

Mereka hanya duduk berdampingan.

Masing-masing melakukan kegiatannya sendiri.

Tidak ada percakapan romantis.

Tidak ada kata-kata manis.

Namun, suasananya terasa nyaman.

Seolah keduanya memang sudah terbiasa berbagi ruang yang sama.

---

Menjelang malam, Tiffany baru sadar Gavin ternyata tidak ada di ruang utama.

"Mei."

"Ya, Nona?"

"Suamiku di mana?"

Mei terlihat sedikit berpikir.

"Tuan  tadi pergi ke area belakang bersama Paman Liu."

Tiffany mengernyitkan kening, sedikit penasaran.

"Untuk apa?"

"Saya kurang tahu, Nona."

Tiffany kembali duduk.

Mungkin hanya mencari sesuatu.

Ia tidak terlalu memikirkannya.

Yang tidak diketahui Tiffany...

Di belakang villa, Gavin sedang berbicara dengan Paman Liu.

"Semua sudah siap?"

"Sudah, Tuan."

"Bagus."

Gavin melihat ke arah danau.

Kemudian tersenyum kecil.

"Besok malam kita lakukan."

Paman Liu mengangguk.

Gavin menepuk pundaknya.

"Dan jangan sampai istriku tahu."

"Baik, Tuan."

Gavin kemudian berjalan kembali menuju villa dengan senyum tipis yang menyimpan sesuatu.

Sementara di ruang utama, Tiffany masih membaca bukunya tanpa mengetahui apa pun.

Liburan mereka baru memasuki hari pertama.

Dan Gavin sudah diam-diam menyiapkan sesuatu yang akan membuat malam terakhir mereka di villa menjadi sebuah kenangan yang berbeda.

bagaiman smdengan rivisi kali ini apakah masih ada yang perlu diperbaiki lagi apa sudah cuku

1
lily
menarik
white star ⭐: trimakasih kak 5 bintangnya
total 1 replies
Mommy Cantik💋
SEMANGAT TERUS KAKAKKK🌹🌹🌹😍
Mommy Cantik💋
Bagusss Teruskan Thorr Good Jobb ❤❤🌹🌹🌹
Mommy Cantik💋
😍😍🌹🌹🌹 Bagus Banget Ceritanya.. Lanjut Thorrr
Mommy Cantik💋: Sama sama kakak.. 🌹🌹🌹😄
total 2 replies
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!