Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Pulanglah, Kak

​Pintu rumah tertutup perlahan setelah pertengkaran hebat itu berakhir. Tak ada lagi suara bentakan. Tak ada lagi perdebatan sengit.

​Yang tersisa hanyalah isak tangis Hanifah yang mulai melemah di pelukan ibu mertuanya. Arkana masih berdiri di samping ranjang dengan kepala tertunduk dalam. Dadanya terasa begitu sesak melihat istrinya yang terus mendekap erat tiga pakaian bayi mungil itu.

​Bu Sulastri mengusap pelan punggung Hanifah. "Nak... menangislah kalau memang ingin menangis. Jangan dipendam sendiri."

​Hanifah mengangguk pelan dalam dekapan. Air matanya kembali jatuh membasahi kain. "Maaf, Bu... Hanifah tidak kuat..."

​"Kamu tidak perlu meminta maaf," potong Bu Sulastri lembut sambil memeluknya lebih erat. "Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, Nak."

​Pak Hadi yang sejak tadi berdiri di dekat pintu mengembuskan napas panjang, mengusap dadanya.

​Sementara itu, Ayah Arkana perlahan bangkit berdiri. Ia membalikkan badan dan menatap kakaknya yang masih membisu mematung di sudut kamar.

​"Ratna..." panggil Ayah Arkana pelan namun tegas.

​Bibi Ratna mengangkat wajahnya perlahan dengan raut kaku. "Iya... Dik?"

​Ayah Arkana menarik napas panjang sebelum kembali bersuara. "Proyekmu di kota ini... sudah selesai, kan?"

​Bibi Ratna mengangguk singkat. "Sudah."

​"Kalau begitu..." Ayah Arkana kembali menatap Arkana dan Hanifah sejenak, lalu beralih pada kakaknya. "Sudah hampir satu bulan kamu tinggal di rumah mereka. Menurutku... sekarang sudah waktunya kamu kembali ke rumahmu sendiri."

​Bibi Ratna tersentak kaget. Matanya membelalak menatap sang adik tanpa berkedip. "Apa...? Kamu mengusir kakakmu sendiri?!"

​Ayah Arkana menggeleng pelan. "Bukan. Aku hanya ingin mengembalikan rumah ini kepada pemiliknya. Mereka membutuhkan ketenangan, Ratna. Bukan perdebatan."

​Bibi Ratna menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu pahit. "Jadi... sekarang kamu lebih memilih membela mereka daripada kakakmu sendiri?"

​"Aku tidak sedang membela siapa pun!" pangkas Ayah Arkana menatapnya lurus. "Aku sedang membela apa yang benar! Dan hari ini... yang benar adalah membiarkan dua orang yang sedang berduka ini mendapatkan ketenangan!"

​Ruangan kembali sunyi seketika. Bibi Ratna meremas kuat tali tas kerjanya. "Aku hanya ingin mereka mendengarkan nasihatku! Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun!"

​Ayah Arkana mengangguk pelan, menatap kakaknya dengan gurat kekecewaan yang dalam. "Aku tahu. Tapi niat baik tidak akan berarti jika disampaikan dengan cara dan pada waktu yang salah."

​Ia melangkah mendekati Bibi Ratna. "Kak... Kamu juga seorang perempuan. Kamu pasti tahu seberapa hancurnya hati seorang ibu ketika kehilangan anak." Suara Ayah Arkana mulai bergetar. "Yang dibutuhkan Hanifah saat ini bukan penghakiman. Bukan tuduhan. Bukan mencari siapa yang salah! Yang dia butuhkan hanyalah dipeluk!"

​Bibi Ratna perlahan menundukkan kepala. Bibirnya terkunci rapat.

​"Selama ini aku selalu menghormatimu karena kamu kakakku, dan itu tidak akan pernah berubah," lanjut Ayah Arkana tegas. "Tapi menghormati bukan berarti membiarkanmu terus melukai orang lain."

​Bibi Ratna memejamkan mata rapat-rapt. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas lagi ucapan adiknya.

​Beberapa detik berlalu dalam keheningan mendalam sebelum ia kembali membuka mata. "Baik. Kalau memang kehadiranku membuat suasana semakin buruk... aku akan pulang."

​Ia menarik napas panjang, mencoba menegakkan kepalanya. "Bukan karena aku merasa salah, tapi karena pekerjaanku di sini memang sudah selesai."

​Tanpa menunggu balasan lagi, Bibi Ratna melangkah keluar kamar. Langkah kakinya terdengar pelan menelusuri lorong. Sesampainya di ruang tamu, ia menyambar koper kecil dan tas kerjanya.

​Sebelum membuka pintu depan, ia sempat berhenti dan menoleh sekilas ke arah pintu kamar utama. Tatapannya tertahan sejenak pada sosok Hanifah. Namun, bibirnya tetap terkunci rapat. Tak ada kata maaf. Tak ada ucapan penyesalan.

​Klek. Pintu rumah dibuka, lalu kembali tertutup rapat.

​Kepergian Bibi Ratna menyisakan keheningan yang teramat panjang di dalam rumah. Ayah Arkana mengembuskan napas berat. "Semoga suatu hari nanti... Kakak bisa memahami semuanya."

​Ia kemudian berbalik menatap Bu Sulastri dan Pak Hadi. "Pak Hadi, Bu Sulastri... Saya mewakili keluarga besar mengucapkan terima kasih banyak. Terima kasih karena selama ini sudah menjaga dan membelagkan Arkana dan Hanifah."

​Pak Hadi tersenyum hangat, melangkah mendekat. "Jangan berkata begitu, Pak. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai tetangga dekat."

​"Benar, Pak," timpal Bu Sulastri ikut mengangguk. "Hanifah sudah kami anggap seperti anak sendiri. Kalau suatu saat mereka membutuhkan bantuan apa pun, pintu rumah kami selalu terbuka lebar."

​Ayah Arkana menggenggam tangan Pak Hadi erat-erat dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak... Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak dan Ibu."

​"Sama-sama, Pak. Kita ini bertetangga," sahut Pak Hadi menepuk pelan punggung tangan Ayah Arkana. "Kalau bukan kita yang saling membantu, siapa lagi?"

​Mendengar percakapan tulus itu, air mata Hanifah kembali menetes. Namun kali ini, bukan karena merasa hancur atau sendirian... melainkan karena rasa haru bahwa di tengah duka terhebatnya, masih ada tangan-tangan tulus yang merangkulnya erat.

​Sore itu perlahan berganti malam. Setelah memastikan kondisi Hanifah lebih tenang, satu per satu dari mereka berpamitan pulang.

​Pintu rumah kembali terkunci rapat. Rumah kecil itu kembali sunyi. Kini hanya tersisa Arkana dan Hanifah—dua insan yang sedang belajar saling menguatkan dan menerima kenyataan bahwa mulai hari itu, mereka harus melanjutkan hidup dengan tiga ruang kosong yang akan selalu tersimpan abadi di dalam hati.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!