Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga paling murah
Setelah sholat Zuhur, Halimah dan Mbok Ayu di antar pak Jamal ke Mall. Sebelum membeli ponsel, mereka makan siang dulu.
"Nyonya, Tuan Muda nitip ini," Mbok Ayu mengulurkan kartu kredit pada Halimah.
"Ini..."
"Iya, ini kartu kredit khusus buat Nyonya. Atas nama Nyonya juga. Tuan Muda akan mentransfer setiap bulannya. Tapi, kalau sudah habis sebelum waktunya, Tuan muda akan langsung mentransfer lagi saat itu juga," Mbok Ayu menjelaskan tepat seperti yang diamanahkan Daffa saat ia menelpon tadi.
Dengan ragu Halimah mengambil kartu itu dari tangan mbok Ayu, "Apa ini tidak terlalu berlebihan, Mbok?"
"Tidak sama sekali, Nyonya. Tuan Muda belum pernah melakukan hal seperti ini pada wanita mana pun."
Raut wajah bingung Halimah, berubah menjadi haru. Lagi! ia bertanya, mengapa Daffa begitu baik padanya.
Kini Halimah berdiri di depan puluhan ponsel mahal yang tersusun rapi dalam rak kaca. Mbok Ayu berdiri di sampingnya, menemaninya memilih ponsel yang akan dibelinya.
Seorang penjaga toko, menyapa dengan senyum ramah, "Selamat siang, Mbak. Mau cari ponsel tipe apa?"
Halimah sedikit menunduk, suaranya pelan. "Eh... yang biasa saja, Mas. Kalau ada yang paling murah."
"Baik, Mbak. Boleh tau budgetnya di kisaran berapa ya?" tanya si Mas sambil membuka rak kaca.
Halimah melirik kartu kredit di tangannya. Jantungnya berdegup. "Itu... yang paling murah aja, mas. Yang penting awet dan gampang dipakai."
Mas toko mengangguk lalu mengeluarkan 3 kotak, "Ini ada 3 rekomendasi, Mbak. Yang ini kameranya bagus buat konten. Yang ini baterainya awet. Kalau yang ini... paling laris, fiturnya lengkap."
Halimah menatap ketiganya dengan ragu. Jarinya hampir menyentuh yang harganya paling mahal, lalu ditarik lagi.
"Saya ambil yang ini saja, Mas," menunjuk kotak yang di tengah. Warna hitam, desainnya sederhana.
"Baik, Mbak. Mau sekalian pasang anti gores juga, Mbak?"
"Boleh. Tapi, yang biasa saja ya, Mas."
Halimah memilih ponsel dengan harga di bawah dua juta. Ponsel yang harganya paling murah. Ia sudah merasa cukup senang.
Setelah membeli ponsel, Halimah langsung meminta nomor Tasya yang kemarin di simpan di ponsel pak Jamal. Dengan senyum bahagia, Halimah langsung menelpon Tasya.
"Halo, Mbak Tasya?"
"Eh, ini Halimah ya?" tanya Tasya di seberang sana.
"Iya, Mbak. Oh iya, gimana interview nya? Mbak diterima?" Halimah begitu antusias.
Di ujung sana, Tasya tersenyum senang mendengar betapa antusiasnya Halimah. Sejak menikah dan punya anak, Tasya sudah sangat jarang merasa bahagia karena tak ada yang begitu peduli padanya.
"Interview nya sudah selesai. Mbak masih belum tau diterima atau tidak. Mereka bilang akan menghubungi Mbak lagi, besok."
Halimah tersenyum lega, "Mbak gak usah khawatir, besok pasti Mbak diterima."
"Kamu seyakin itu Mbak bakal diterima?"
"Iya. Kan udah aku bilang, aku punya kenalan di Surya Holding," oceh nya menyombongkan diri.
Mbok Ayu sama pak Jamal ikut tersenyum melihat senyum bahagia Halimah, meski memang mereka merasa khawatir jika sampai Halimah tau siapa Tasya sebenarnya.
"Mbak dimana? Anak-anak mana? Boleh main gak sama mereka. Aku lagi bosan loh, Mbak," rengeknya bicara tanpa henti.
Tasya memberitahu Halimah dimana ia berada. Halimah pun langsung menemui Tasya di taman bermain anak di depan sekolah mereka.
Kedatangan Halimah disambut riang oleh anak-anak itu.
"Tante, tadi aku gak diejek teman-teman lagi di sekolah," adu Cindy, si kakak yang kini sudah kelas empat SD.
"Aku juga. Malahan tadi, teman-teman nanya, dimana aku beli sepatu, berapa harga tas aku. Gitu..." timpal si kecil Dio yang baru kelas dua SD.
"Oh ya? Bagus dong. Tapi, kalian belajar yang benar gak tadi di sekolah?" tanya Halimah berjongkok duduk di hadapan dua bocah itu.
"Belajar dong, Tante. Ini nih nilainya," Cindy mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas nya.
Dio juga ikut pamer nilainya tadi pada Halimah.
Tasya tersenyum senang melihat anak-anak begitu nyaman bersama Halimah. Padahal beberapa hari lalu, mereka begitu sedih dan selalu menanyakan Papa mereka yang entah dimana.
"Mas, Tuan Muda harus tau ini atau lebih baik kita diam saja?" bisik Ayu bertanya pada suaminya.
"Waduh, aku juga tidak tau harus bagaimana, Yu. Takutnya kalau kita cerita tentang Non Tasya yang sudah di sini lagi dan sudah bercerai, Tuan muda malah prihatin dan ingin membantu Non Tasya. Lalu, bagaimana nasib Nyonya Halimah," jawab Pak Jamal yang juga ikut kebingungan.
Mereka belum tahu saja, Daffa sudah bertemu duluan dengan Tasya. Bahkan Daffa juga sudah tau kalau Halimah dan Tasya sudah saling mengenal.
Halimah keasikan bermain bersama anak-anak Tasya sampai tidak sadar azan ashar sudah berkumandang. Halimah pun izin pulang duluan. Tadinya ia menawarkan ingin mengantar mereka pulang, tapi Tasya menolak.
"Ya udah, aku duluan ya mbak."
"Terimakasih sudah menemani Cindy sama Dio, hari ini."
"Justru mereka yang menemani aku hari ini loh Mbak."
Halimah tersenyum membalas senyuman Tasya.
"Bye bye, anak-anak. Jangan nakal ya," Halimah memeluk mereka bergantian.
"Besok bisa main lagi, Tante?" tanya Cindy dengan wajah memelas.
"Kak, Tante Halimah mungkin besok sibuk," tegur Tasya pada anaknya.
Halimah tersenyum, menyentuh masing-masing pipi Cindy dan Dio, "Kalau Tante gak sibuk, Tante bakal main lagi sama kalian. Oke!"
"Oke deh," sahut mereka lesu.
Pak Jamal melajukan mobil, meninggalkan area taman.
"Bye bye...." Halimah melambaikan tangan pada Cindy dan Dio.
Mereka membalas lambaian tangan itu dengan lemas. Wajah ceria mereka kembali menjadi sedih lagi.
"Kalian senang ya main sama Tante Halimah?"
"Iya, Ma. Tante Halimah baik," jawab mereka kompak.
"Iya, Tante Halimah sangat baik. Tapi...." Kalimat itu tak mampu Tasya lanjutkan. Setelah hari ini bertemu lagi dengan Halimah, ia mulai menyadari sesuatu.
"Pak Jamal, Mbok Ayu," lirih Tasya mengingat dua orang itu yang tidak asing baginya.
"Apa mungkin, Halimah sama Daffa...."
Bersambung....