Indonesia
NovelToon NovelToon
Love In The Crossfire

Love In The Crossfire

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murka sang bos besar

Kabar mengenai kegagalan penculikan yang dilakukan Piku dan Rangga tersebut akhirnya sampai ke telinga Bos Tiger melalui salah satu anak buah yang berhasil melarikan diri dari lokasi kejadian tersebut, sebuah kabar yang membuat sang bos besar tersebut murka bukan kepalang, mengingat operasi tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuannya sama sekali.

"PANGGIL PIKU DAN RANGGA SEKARANG JUGA!" bentak Bos Tiger dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh anak buah yang berada di gudang tersebut langsung membeku ketakutan menyaksikan kemarahan yang begitu jarang mereka lihat dari sosok bos mereka tersebut.

Tidak lama kemudian, Piku dan Rangga tiba di hadapan Bos Tiger dengan wajah yang menunjukkan ketakutan yang begitu besar, menyadari bahwa kegagalan operasi mereka tersebut pasti akan membawa konsekuensi yang sangat serius bagi posisi mereka dalam organisasi tersebut.

"Apa yang kalian pikirkan, melakukan operasi penculikan tanpa izin saya?!" hardik Bos Tiger dengan suara yang penuh kemarahan, menghantam meja kerjanya dengan keras hingga beberapa dokumen berhamburan jatuh ke lantai gudang tersebut.

"Bos, kami cuma mau nunjukin kesetiaan kami dengan nyelesain masalah tentara yang udah ganggu operasi kita itu," jelas Piku dengan suara yang gemetar, mencoba membela diri meski dia sendiri tahu betul bahwa alasan tersebut terdengar begitu lemah di hadapan kemarahan bosnya tersebut.

"Kesetiaan?! Kalian malah bikin operasi kita jadi sorotan pihak militer! Sekarang mereka pasti udah curiga besar sama kita, dan kemungkinan besar bakal ngincer seluruh operasi BlackSystem, termasuk bisnis rumah sakit yang selama ini jalan mulus tanpa gangguan!" bentak Bos Tiger, mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai dampak besar yang mungkin timbul akibat kecerobohan kedua anak buahnya tersebut.

Jecko, yang berdiri tidak jauh dari lokasi tersebut, menyaksikan kemarahan bosnya tersebut dengan ekspresi yang sulit dibaca, meski dalam hatinya sendiri dia merasakan kekhawatiran yang jauh lebih dalam mengenai arah organisasi tersebut yang semakin sering mengambil risiko besar tanpa perhitungan matang.

"Bos, mungkin ini saatnya kita evaluasi seluruh strategi operasi kita. Kalau terus kayak gini, cepat atau lambat kita bakal kena masalah besar," ujar Jecko dengan nada yang berusaha terdengar objektif, mencoba memberikan saran yang bijaksana di tengah situasi yang begitu tegang tersebut.

Bos Tiger menatap Jecko dengan tatapan yang sedikit melunak, menghargai pandangan tangan kanannya tersebut yang selama bertahun-tahun selalu terbukti memberikan pertimbangan yang matang. "Kamu benar, Jecko. Piku, Rangga, mulai sekarang, semua operasi harus melalui persetujuan saya langsung, tidak ada lagi tindakan sepihak yang bisa membahayakan seluruh organisasi ini."

"Siap, Bos. Kami minta maaf atas kecerobohan ini," jawab Piku dan Rangga hampir bersamaan, menundukkan kepala mereka dengan penuh rasa bersalah, menyadari betapa dekatnya mereka dengan hukuman yang jauh lebih berat jika Bos Tiger tidak sedikit melunak berkat saran dari Jecko tersebut.

"Sebagai konsekuensi, kalian berdua akan saya tempatkan di posisi paling bawah untuk sementara waktu, sampai saya yakin kalian bisa dipercaya lagi menjalankan tugas yang lebih penting," lanjut Bos Tiger, memberikan hukuman yang meski tidak terlalu berat, cukup untuk memberikan pelajaran bagi kedua anak buahnya tersebut mengenai pentingnya disiplin dan koordinasi dalam menjalankan operasi organisasi tersebut.

Setelah Piku dan Rangga meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk antara lega dan malu, Bos Tiger duduk kembali di kursinya, merenungi berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari kejadian tersebut. "Jecko, menurut kamu, seberapa besar kemungkinan militer bakal ngelakuin operasi besar-besaran buat ngebongkar organisasi kita?"

"Kemungkinan besar cukup tinggi, Bos, apalagi kalau emang benar tentara yang ngalahin Piku itu terkait langsung sama Kapten Endrik. Kita harus mulai siapin langkah antisipasi," jawab Jecko dengan penuh kehati-hatian, memberikan analisis yang objektif mengenai situasi yang semakin genting tersebut.

Bos Tiger mengangguk, mempertimbangkan berbagai opsi yang bisa dia ambil untuk melindungi organisasinya tersebut dari ancaman penyelidikan militer yang semakin mendekat. "Kita perlu tingkatkan keamanan di seluruh lokasi operasi kita, terutama di rumah sakit. Kalau sampai bukti-bukti soal bisnis organ itu ketahuan, bisa hancur semua yang udah kita bangun selama ini."

"Saya akan koordinasikan dengan Direktur Harjono untuk memperketat pengamanan di rumah sakit, Bos," jawab Jecko, meski dalam hatinya sendiri, dia merasakan ketidaknyamanan yang semakin bertambah mengenai betapa kejinya bisnis perdagangan organ tersebut, sebuah ketidaknyamanan yang mulai mempengaruhi keyakinannya sendiri mengenai jalan hidup yang telah dia pilih selama bertahun-tahun tersebut.

Sepulang dari pertemuan tersebut, Jecko mengendarai mobilnya dengan pikiran yang begitu berkecamuk, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan yang telah dia bantu jalankan selama bertahun-tahun sebagai tangan kanan Bos Tiger tersebut. Dia teringat kembali pada kehangatan yang selalu dia rasakan setiap kali Baing bercerita mengenai kebaikan keluarga Lidar, sebuah kehangatan yang begitu kontras dengan kekejaman bisnis gelap yang setiap hari harus dia jalankan tersebut.

"Apakah saya udah terlalu jauh terjerumus dalam dunia ini?" gumam Jecko pelan pada dirinya sendiri, sebuah pertanyaan yang mulai sering muncul dalam benaknya belakangan ini, terutama setelah menyaksikan bagaimana organisasi yang dia bantu bangun tersebut semakin sering melibatkan kekerasan dan kejahatan yang begitu keji terhadap orang-orang yang tidak bersalah.

Sesampainya di rumah, Jecko mendapati Baing sedang duduk di ruang tamu, mengerjakan tugas sekolahnya sambil sesekali tersenyum mengingat kejadian lucu yang dia alami bersama Zein di sekolah hari itu. "Pa, tadi Zein cerita katanya ada tentara yang nyelametin Kak Kwila dari penculikan. Untung Kak Kwila selamat, Pa," ujar Baing dengan nada yang penuh kekhawatiran namun juga kelegaan mengenai kabar tersebut.

Mendengar cerita tersebut, Jecko merasakan hatinya semakin berat, menyadari betapa dekatnya dia sendiri dengan kejadian tersebut, mengingat dialah yang telah membantu menutupi kegagalan Piku dan Rangga tersebut dari hukuman yang lebih berat, meski secara tidak langsung, dia juga menjadi bagian dari organisasi yang telah mencoba menculik anggota keluarga yang selama ini begitu baik kepada putranya tersebut.

"Untung Kak Kwila selamat, Nak," jawab Jecko dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan pergolakan batin yang semakin hari semakin sulit dia tahan sendirian tersebut, sebuah pergolakan yang akan segera membawa dia pada keputusan besar yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya di masa depan, sebuah keputusan antara tetap setia kepada organisasi yang telah memberinya kekayaan, ataukah kembali kepada jalan kebenaran yang telah lama dia tinggalkan demi melindungi putranya dari bahaya yang semakin mengintai tersebut.

"Pa, kenapa mukanya kelihatan capek banget? Kerjaan lagi banyak ya?" tanya Baing dengan penuh perhatian, memperhatikan wajah ayahnya yang tampak begitu lelah dan tegang sejak beberapa waktu belakangan ini.

"Iya, Nak, kerjaan emang lagi berat. Tapi Papa akan selalu usahain yang terbaik buat kamu," jawab Jecko sambil mengelus kepala putranya tersebut dengan penuh kasih sayang, sebuah kasih sayang yang begitu tulus namun juga menyimpan kepedihan mendalam mengenai jalan hidup yang telah dia pilih demi memberikan kehidupan yang layak bagi anak semata wayangnya tersebut.

Malam itu, sebelum tidur, Jecko duduk sendirian di kamarnya, merenungi kembali seluruh perjalanan hidupnya sejak pertama kali bergabung dengan organisasi BlackSystem tersebut, menyadari bahwa mungkin sudah waktunya baginya untuk mempertimbangkan langkah besar yang akan segera mengubah seluruh takdirnya, sebuah langkah yang akan menentukan apakah dia akan terus terjebak dalam dunia gelap tersebut, ataukah akhirnya berani mengambil kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar demi masa depan putranya yang begitu dia cintai tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!