Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Di bawah naungan langit sore panti asuhan
Tatapan terkejut Zaid perlahan lumer, berganti menjadi sebuah garis senyum tipis yang memancarkan kehangatan tiada tara.
Kehadiran Nara di tempat ini, membawa dua tas besar berisi wadah brownies yang aromanya masih tercium samar, sungguh di luar dugaannya.
"Cieee... Kak Zaid! Siapa itu Kak? Cantik banget kayak putri raja!" teriak Bimo, bocah laki-laki berusia delapan tahun yang baru saja berjalan melewati Zaid. Celotehan polos itu disambut sorak-sorai riuh dari anak-anak panti lainnya.
Wajah Nara seketika merona merah, namun ia berhasil menguasai diri. Ia menyunggingkan senyum paling manis, lalu melangkah lebih dekat ke tengah kerumunan anak-anak.
"Assalamualaikum, Halo semuanya," sapa Nara lembut, berlutut menyamakan tingginya dengan anak-anak. "Kenalkan, nama Kakak... Nara. Kakak ke sini membawa oleh-oleh brownies panggang hangat. Siapa yang mau?"
"Wa'alaikum salam... MAU, KAK!" seru puluhan anak serempak, menggelegarkan halaman panti yang asri.
Zaid terkekeh pelan, melangkah mendekati Nara dan mengambil alih satu tas besar yang tampak cukup berat di tangan istrinya.
"Ayo masuk dulu, jangan di luar. Kasihan kamu kepanasan, Nara."
Mereka beranjak menuju aula utama panti yang bernuansa kayu nan sejuk. Dibantu oleh Mbok Tini dan beberapa pengurus panti, Nara dengan telaten membagikan potongan-potongan brownies di atas piring-piring kecil.
Bukan hanya untuk anak-anak, Nara juga menyisihkan wadah khusus berisi porsi besar untuk para pengurus panti yang telah mendedikasikan hidup mereka di sana.
"Ini khusus untuk Mas Zaid," panggil Nara pelan, menyodorkan sebuah piring kecil berisi dua potong brownies dengan taburan keju melimpah ke arah Zaid yang sedang berdiri menyandar di pilar aula. Nara yang terkesan anak yang ceria dan sepontan nyaris membuat Zaid salah tingkah karena perlakuan Nara kepada nya.
Zaid menerima piring itu, matanya menatap Nara hangat. "Terima kasih, Nara. Kamu tidak perlu merepotkan diri sampai sebanyak ini."
"Sama sekali tidak merepotkan, Mas," balas Nara tulus, membalas tatapan Zaid. "Melihat mereka tersenyum saja rasanya capek aku langsung hilang."
Zaid menyesap rasa brownies buatan Nara. Lumeran cokelat pekat yang berpadu dengan gurihnya keju langsung memanjakan lidahnya. "Ini... enak sekali, Nara. Tidak terlalu manis, pas."
"Beneran, Mas?" Mata Nara berbinar gembira menerima pujian jujur tersebut.
"Beneran, Kak Nara! Ini brownies paling enak yang pernah Bimo makan!" potong Bimo tiba-tiba dengan mulut yang masih menyisakan remahan cokelat di sudut bibirnya.
"Iya Kak! Lebih enak dari yang di toko-toko!" sahut Rara, bocah perempuan berusia lima tahun, mengangguk-angguk bersemangat.
Mendengar kepolosan mereka, tawa renyah Nara pecah. Rasa bahagia yang begitu membuncah memenuhi dadanya. Zaid, yang berdiri di sampingnya, tak bisa memalingkan pandangannya dari tawa lepas wanita itu.
Sembari anak-anak menikmati camilan sore mereka, Zaid mengajak Nara duduk di bangku kayu panjang yang menghadap ke area taman belakang panti.
"Panti ini didirikan sekitar enam tahun lalu," Zaid memulai cerita, suaranya mengalun tenang di antara deru angin sore.
"Waktu itu saya dan tiga teman kampus prihatin melihat banyaknya anak jalanan di sekitar area kampus. Kami mulai dari menyewa rumah kontrakan kecil, sampai akhirnya ada donatur yang membebaskan lahan ini."
"Mas Zaid hebat sekali..." bisik Nara kagum, menatap profil samping wajah Zaid yang tegas. "Pasti tidak mudah membagi waktu antara kuliah, bisnis, dan panti."
"Awalnya memang berat," Zaid tersenyum tipis. "Tapi setiap kali melihat anak-anak ini punya tempat berteduh yang layak dan bisa tersenyum tanpa beban, rasa lelah itu hilang begitu saja. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang rasa syukur."
Nara mengangguk pelan. Dadanya berdesir. Di balik ketegasan dan kepribadiannya yang irit bicara di dunia luar, Zaid memiliki hati yang amat lapang.
Pria ini tidak hanya membangun benteng perlindungan untuk dirinya semalam, tetapi juga telah menjadi pelindung bagi puluhan anak yang kehilangan arah.
"Kak Nara! Ayo sini bermain sama kita!"
Teriakan Rara memecah obrolan mendalam mereka. Bocah perempuan itu berlari kecil, menarik-narik ujung gaun kasual Nara dengan wajah penuh harap.
Di sudut taman, beberapa anak usia empat hingga enam tahun sudah berkumpul melingkar di atas karpet karpet rumput sintesis.
"Ayo, Kak! Kak Nara janji mau cerita dongeng, kan?" tambah Bimo tak mau kalah.
Nara menoleh pada Zaid sejenak, seolah meminta izin. Zaid hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Pergilah, mereka sudah menunggu."
Dengan penuh semangat, Nara bergabung di tengah kerumunan kecil itu. Ia duduk bersila di atas rumput, membiarkan gaun kasualnya sedikit kotor tanpa memikirkannya sama sekali.
Nara mulai membacakan sebuah buku cerita dongeng yang ada di rak panti. Suaranya berganti-ganti menirukan karakter hewan dalam cerita, kadang menjadi suara beruang yang berat, kadang menjadi suara kelinci yang melengking jenaka.
Anak-anak di sekelilingnya tertawa terbahak-bahak, sesekali memeluk lengan Nara atau bersandar di pangkuannya.
Di saat itulah, Nara merasakan sebuah kebebasan yang luar biasa.
Selama bertahun-tahun, hidupnya penuh dengan aturan dan ekspektasi ketat dari kedua orang tuanya. Setiap langkahnya diawasi, setiap keputusannya dibatasi oleh rasa cemas sang Papah yang berlebihan.
Namun sore ini, di tengah riuh tawa anak-anak panti, beban terselubung di pundaknya seolah menguap begitu saja. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi putri yang sempurna. Ia hanya Nara, gadis yang mencintai anak-anak dengan segenap hatinya.
Rasa syukur mendalam merayapi relung hatinya. Momen ini menjadi salah satu sore terindah dalam hidupnya.
.
.
Sementara itu, di sudut aula, Zaid berdiri diam. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada Nara.
Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan, menerpa wajah Nara, membiaskan aura kecantikan alami yang amat memikat.
Rambutnya yang membingkai kerudung instannya berayun lembut ditiup angin. Tawa lepasnya, binar matanya yang penuh kasih, dan cara wanita itu mengelus kepala anak-anak dengan lembut... semuanya terekam begitu indah di mata Zaid.
Tanpa sadar, Zaid merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia mengarahkan kamera ke arah Nara.
Cklik.
Satu foto berhasil terabadikan. Dalam bidikan layar, Nara tampak tertawa lebar sambil memangku Rara, dikelilingi anak-anak yang menatapnya penuh kagum.
Foto itu begitu hidup, memancarkan kehangatan yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata. Zaid menatap hasil foto itu cukup lama, mengukir senyum tulus yang amat jarang ia perlihatkan pada siapa pun.
"Kak Zaid! Kok cuma ngeliatin sih? Ayo sini ikut!"
Tiba-tiba, Bimo berlari mendekat dan menarik kencang tangan Zaid. Pria kaku itu sempat tersentak kaget.
"Eh, Bimo... Kak Zaid di sini saja—"
"Gak boleh! Kak Nara lagi mendongeng soal Singa dan Tikus, Kak Zaid harus jadi Singanya!" paksa Bimo pantang menyerah, menghela tangan Zaid hingga pria bertubuh jangkung itu terpaksa menuruti kemauan sang bocah.
Nara menengadah saat merasakan bayangan tinggi menutupi cahayanya. Matanya beradu dengan mata Zaid yang tampak sedikit serba salah dan canggung karena diseret oleh Bimo.
Nara tak sanggup menahan senyum geli melihat ekspresi 'pasrah' dari suaminya yang biasa disegani itu.
"Nah, ini dia Raja Singanya sudah datang!" seru Nara riang sambil menunjuk Zaid. "Ayo Mas Zaid, duduk di sini." Nara menepuk rumput kosong tepat di sampingnya.
Zaid menghela napas pasrah namun bibirnya tak bisa menahan ukiran senyum. Ia melipat kakinya dan duduk tepat di samping Nara. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Nara bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Zaid.
"Ayo Kak Zaid, aummm githu!" perintah Rara polos.
Zaid berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa canggungnya di depan Nara dan anak-anak. Dengan agak kaku, Zaid membuka mulutnya, "Aumm..."
"Suaranya kurang galak, Kak Zaid!" protes Bimo disambut tawa geli dari anak-anak lain.
Nara tertawa renyah, menutup mulutnya dengan telapak tangan. Suara tawanya begitu merdu di telinga Zaid. Tanpa ragu, Nara menoleh ke arah Zaid dan berbisik pelan.
"Ayo Mas, jangan kaku begitu. Bikin suaranya lebih besar lagi."
Zaid menatap mata Nara yang berbinar jahil. Ada dorongan aneh yang membuat Zaid akhirnya melepaskan seluruh gengsi dan sikap formalnya.
Pria itu mengacak rambut Bimo gemas, lalu mengaum lebih keras dengan nada bercanda hingga membuat anak-anak menjerit gembira dan menghambur memeluk Zaid dan Nara sekaligus.
Di tengah tawa riuh dan pelukan hangat anak-anak panti yang mengelilingi mereka berdua, mata Zaid dan Nara kembali bertemu dari jarak yang amat dekat.
Tidak ada lagi canggung. Tidak ada lagi jarak. Di bawah naungan langit sore panti asuhan, ikatan di antara dua insan itu tak lagi sekadar status di atas kertas, melainkan sebuah kehangatan nyata yang perlahan-lahan menyatu dalam tulusnya rasa saling mengagumi.
lanjut thor 🙏