Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Sah
Hari masih pagi buta. Langit masih terlihat gelap, fajar belum menyingsing.
"Farhan... Bangunlah. Kita harus segera ke KUA," ucap Nawang Wulan, sembari mengguncang pundak puteranya.
Farhan tersentak kaget. Ia menggeliat, lalu beranjak dari tempat tidurnya.
"Kenapa ke KUA, Ma?" tanyanya dengan suara serak. Khas orang bangun tidur.
"Ini adalah tahapan untuk membuang kutukannya,"
"Kenapa gak nikah siri saja, Ma?" tanya Farhan dengan nada malas.
"Farhan, dengarkan mama. Semua ini demi menyelamatkan nyawa yang lainnya, dan kamu harus membantu mama," Nawang Wulan tampak memohon.
Farhan terdiam sejenak. Lalu akhirnya mengangguk. Sebab jika ia ingin mencari jawaban yang lebih jauh, maka wanita yang sudah melahirkannya itu akan menghindar.
Sejujurnya ia ingin tahu lebih dalam. Ia yakin, ini bukan sekedar untuk menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi ada keterikatan lain yang lebih jauh.
Farhan beranjak dari tempat tidurnya. Lalu bergegas untuk membersihkan dirinya.
****
"Nawang Wulan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat sang suami sudah berpakaian rapih.
"Sayang. Mas merasa kamu sedang menyimpan sebuah rahasia yang jauh lebih dalam. Tidak mungkin ini demi nyawa empat calon tumbal lainnya," Rayyan angkat bicara.
Nawang Wulan terdiam sejenak. Ia duduk di tepian ranjang.
"Jika sampai tumbal empat laki-laki itu tercapai, maka yang bangkit bukan saja Mbah Jati... Tetapi juga Ki Priyono...." ucapnya dengan nada bergetar.
Rayyan membeliakkan matanya. "Bagaimana bisa itu saling berhubungan? Apa masalahnya?" tanya Rayyan dengan rasa penasaran.
"Karena Ki Priyono adan Mbah Jati adalah saudara kembar. Jika salah satu diantara mereka dapat bangkit, maka kembarannya akan ikut bangkit," suara Nawang Wulan bergetar.
Rayyan terdiam, dan suasana mendadak hening.
"Itu sebabnya, Kasih menemukan Farhan, karena takdir mereka yang saling terikat? Farhan adalah titisan dari Eyang Getih, sedangkan Kasih titisan dari pedepokan Gunung Angker. Dan hanya Farhan yang dapat mematahkan kutukannya?" suara Rayyan cukup pelan.
Nawang Wulan menganggukkan kepalanya.
"Ya... Sebab itu Mbah Jati dan iblisnya sangat membenci Farhan. Karena darah Eyang Getih sudah mengunci segel mereka,"
Rayyan terduduk di tepian ranjang dengan tubuh yang lemas.
"Sejauh mana kita sudah meninggalkan Desa Getih, tetapi tanah itu tetap saja memanggil, seolah tak dapat di lepaskan," Rayyan merasakan nafasnya cukup sesak.
"Itu karena, ari-ari alias kakang kawahmu di tanam di tanah Getih," Nawang Wulan menjelaskan.
Bagaimana kalau ruwatannya gagal?
"Maka Farhan akan mati. Desa Getih akan kembali menjalani pesugihan,"
Rayyan terdiam dalam keheningan.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan dari luar pintu.
"Ya, Mama dan Papa sudah bersiap," jawab Nawang Wulan. Ia dapat melihat dengan tembus pandang, siapa di balik pintu.
Farhan menatap pintu kamar kedua orangtuanya. Ia berdiri cukup lama, dan membuatnya semakin merasa begitu sangat penasaran.
Sementara itu, Kasih sudah bersiap dengan kebaya pemberian dari Nawang Wulan.
***
Farhan dan Kasih duduk sebuah meja yang di depannya seorang penghulu yang akan menikahkan mereka.
Nawang Wulan dan juga Rayyan sudah berada di belakangnya. Sedangkan dua orang saksi di panggil dari pihak RT dan warga di sekitar kediaman Rayyan.
"Saya terima nikahnya Kasih Binti Abdullah dengan mas kawin emas seratus gram di bayar tunai..." suara Farhan terdengar lancar dan dalam hitungan detik pernikahan mereka sah dimata agama dan juga negara.
Kasih tak dapat menyangka jika ia benar-benar dinikahi oleh Farhan.
Meskipun Farhan menikahinya hanya karena rasa patuh terhadap orang tuanya, tetapi dalam hatinya ia merasa cukup senang.
Kasih menundukkan kepalanya, sedangkan Farhan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Setelah ijab kabul selesai, mereka pulang kerumah, tanpa perayaan pesta.
"Maaf, Farhan... Mungkin kamu sudah memiliki kekasih, dan tidak mencintai Kasih. Tetapi mama tak punya pilihan," Nawang Wulan merasa bersalah atas tindakannya.
"Bahkan kita tidak mengadakan pesta. Hanya berjaga-jaga. Sebab ditakutkan jika nanti ada musibah yang tidak diinginkan,"
Farhan hanya tersenyum tipis. Sebenarnya ia memiliki pujaan hati, tetapi ia tidak pernah serius mengumandangkan kata untuk menikah.
Meskipun ia dan Kasih baru saling mengenal, tetapi ia juga tidak tahu, mengapa tidak bersikeras menolaknya.
****
Malam menjelma. Farhan dan juga Kasih sudah berada dikamar yang sama.
Akan tetapi, malam ini adalah malam pertarungan. Keduanya belum dapat melakukan malam pertama, sebelum penyucian diri dalam membuang sengkolo selesai di lakukan.
Kamar berukuran lima meter kali lima meter, dengan ranjang king size, membuat keduanya semakin canggung.
Mereka tidur terpisah, di tepian ranjang sisi kiri dan kanan.
Di tengah ranjang, tampak kosong, dengan jarak yang cukup jauh, sejauh selat Sunda.
Suasana begitu hening, dan yang terdengar hanya detak keduanya yang memburu.
"Jangan malam pertama. Harus kuat melawan, sebab godaannya sangat besar. Demi keselamatan kalian,. Tahan sampai ruwatan sengkolo selesai di lakukan,"
"Kamu ngantuk?" tanya Farhan. Suaranya terdengar bergetar. Ia merasa tiba-tiba ingin bercinta. Bayangan Kasih saat keluar dari kamar mandi saat sore tadi, tiba-tiba mengusik benaknya.
Dalam hatinya, ia merasa siksa yang cukup luar biasa.
"Tidak..." jawab Kasih pelan, dan mereka saling memunggungi satu sama lainnya.
"Oh..." suara Farhan hampir hilang.
Suasana kembali hening.
Wuuussh!
Angin bertiup yang entah darimana datangnya.
Para demit yang berjaga di luar mengendus kedatangan sosok musuh yang ingin menghancurkan ruwatan.
Lampu kamar berkedip sebanyak tiga kali. AC tiba-tiba saja mati. Bau amis menyengat dan bau tanah kuburan bercampur menjadi satu.
Dari balik pagar rumah yang tinggi, muncul asap hitam yang menggumpal. Kemudian membentuk ekor. Itu adalah ekor kalajengking.
Iblis Kalajengking sedang mengubah wujud yang tidak penuh. Ia takut oleh pagar gaib rumah.
"Kalian sudah sah," bisik suara itu. Serak. Langsung di telinga Farhan. "Lakukan kewajiban suami istri. Satu malam. Tumbal keempat langsung lunas.
Farhan merasakan bulu kuduknya meremang. Tangannya terasa dingin.
"Kasih... Apakah kamu sudah tidur," bisik Farhan.
Kasih menoleh ke arah Farhan. "Kenapa? Kamu takut?" tanyanya dengan nada dingin.
"Bukan. Aku... aku hanya tidak mau kamu jadi tumbal."
Iblis itu di balik pintu pagar tertawa dengan suara yang kekeh.
Farhan langsung beranjak dari kamarnya. "Kamu tetap di sini.... Jangan keluar."pesannya.
Kasih diam membisu. Lalu menatap punggung Farhan yang meninggalkan kamar
Buto Ijo yang mengetahui kehadiran Kalajengking, melesat menuju pagar rumah.
Ditangannya, ia sedang memegang sebuah pentungan.
"Ooooow....." ia mengetok-ngetok kan pentungannya di telapak tangannya yang berukuran besar.
Kalajengking yang menyadari hal tersebut langsung mendesis.
"Kamu emang cari perkara, ya!" ucap Buto Ijo dengan sinis.
"Dasar Kolor Ijo! Maumu apa sih? Ikut campur mulu!" geram Iblis Kalajengking, sembari mengibaskan ekornya.
Wuuussh!
Buto Ijo melesat menghindar, dan mengayunkan pentungannya, dan mengenai capit sang Kalajengking.
Traaang!
Suara benda itu saling beradu.
"Dasar setan!" maki Kalajengking. Gigi runcingnya menggeretak.
"Sama... Sesama setan jangan saking ejek," ucapnya dengan santai.
Jawaban itu, semakin membuat Kalajengking merasa kesal.
Saat bersamaan, Farhan keluar dari dalam rumah.
Semoga mereka bisa menemukan Kasih yah.. ☺
Sekalian tuh ajak Roro Penguk, biar dia nggak gangguin keluarganya Rayyan lagi.. 🧐
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌