Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan dibalik keraguan
Pintu ruangan tertutup rapat. Ruangan itu dingin, hanya ada suara AC dan ketukan pena Daffa di atas meja.
Tasya duduk di hadapannya. Ia memakai baju yang dibelikan Halimah kemarin. Tangannya basah karena keringat, menahan gejolak dalam dada yang begitu berisik di hadapan seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya.
Daffa sama sekali tidak menatapnya. Matanya hanya terpaku pada CV milik Tasya.
Sekilas Tasya sedikit menegakkan pandangan untuk menatap raut wajah Daffa yang sangat jauh berbeda dari yang ia ingat belasan tahun lalu. Raut wajah itu kini, datar, dingin, dan tak tersentuh. Daffa bahkan terlihat seakan tidak mengenalnya sama sekali.
"Silakan perkenalkan diri," ucap Daffa datar, matanya menatap berkas lamaran di tangannya tanpa melirik Tasya sedikit pun.
Tasya menelan ludah. Ia meniru nada dingin itu, berusaha sekuat tenaga bersikap profesional, "Nama saya Tasya Amelia. Saya melamar posisi staf HRD. Sebelumnya saya pernah bekerja di salah satu perusahaan asing selama hampir lima tahun..."
Daffa akhirnya mengangkat wajah. Pandangan mereka beradu sebentar, satu detik yang terasa seperti selamanya. Namun tak ada kilatan kenangan di mata Daffa. Ia hanya mengangguk pelan, seolah melihat orang asing yang baru pertama kali ia temui.
"Pengalaman kerjamu cukup baik," ujarnya singkat, "Kita hubungi lagi nanti."
"Terima kasih... Pak Daffa." Tasya berdiri, membungkuk sopan, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah stabil, meski kakinya terasa lemas.
Di balik pintu, Daffa baru saja menurunkan topeng wajah tenangnya, menatap punggung Tasya yang menjauh dengan perasaan yang tak bisa ia artikan.
Sementara di apartemen, sejak pagi Halimah hanya duduk di balkon, menatap pemandangan kota dan taman yang tidak jauh dari area apartemen. Ada beberapa anak-anak yang bermain di taman itu di temani Ibu mereka.
"Kalau punya anak, mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini," lirihnya, bibirnya melengkung indah merespon raut wajah bahagia anak-anak di bawah sana.
Sejak pulang dari rumah utama pagi tadi, Halimah hanya berdiam sambil menonton televisi.
Halimah ingin mengerjakan sesuatu, seperti membantu Mbok Ayu masak, atau sekedar mencuci piring. Tapi Daffa menegaskan pada Mbok Ayu, untuk tidak membiarkan Halimah melakukan pekerjaan apapun.
Selama ini Daffa sudah sangat baik padanya, Halimah hanya ingin melakukan apapun yang Daffa minta. Meski hal itu malah membuatnya seperti tidak bisa bergerak sama sekali.
Halimah sudah terbiasa melayani keluarga suaminya sejak dulu. Jadi, saat bertemu Daffa, ia malah lebih sering dilayani oleh Mbok Ayu, ketimbang memberi pelayanan pada orang lain.
"Mbok, apa Daffa pernah punya kekasih?" tanya Halimah menoleh ke arah Mbok Ayu yang sedang menyetrika pakaian di sudut ruang tengah.
Mendapat pertanyaan itu, Mbok Ayu langsung menghentikan aktivitasnya. Ia jadi bingung harus menjawab apa. Terlebih kekasih Tuan Mudanya itu adalah Tasya dan Halimah sudah menganggap Tasya sebagai keluarganya.
"Em, kenapa Nyonya bertanya soal itu?"
"Saya hanya penasaran, apakah Daffa memang selalu memperlakukan orang terdekatnya seperti ini?"
"Seperti ini? Maksud, Nyonya?" Mbok Ayu meninggalkan meja setrikanya, ia melangkah menuju balkon, menghampiri Halimah.
"Maksudnya, seperti melarang melakukan pekerjaan apapun. Apa memang seperti itu?"
Mbok Ayu tersenyum sambil menghela napas, "Dulu waktu masih SMA, Tuan Muda pernah punya pacar. Pernah sekali di bawa ke rumah utama, tapi ya gitu, namanya masih anak remaja, mereka pacaran biasa aja. Tuan muda juga tidak terlihat mengekang atau mengatur pacarnya."
Halimah mengangguk pelan, "Apa Daffa pernah punya pacar lagi selain pacar waktu SMA?"
"Setahu Mbok, Tuan muda cuma punya pacar sekali itu saja. Dan itu kali pertama dan terakhir Mbok bisa melihat Tuan Muda benar-benar tampak bahagia."
"Mbok tau mengapa mereka putus?" Halimah makin penasaran.
Mbok Ayu kembali tersenyum, "Alasan mereka putus, karena Kakek tidak setuju Tuan Muda melanjutkan hubungan dengan gadis itu. Orangtua gadis itu terlibat kasus korupsi," bisik Mbok Ayu.
Halimah semakin penasaran, ia ingin bertanya lebih banyak, tapi ponsel Mbok Ayu malah berdering. Panggilan masuk dari Daffa.
Dengan cepat Mbok Ayu menjawab panggilan itu, "Iya, Tuan Muda."
Wajah Mbok Ayu tampak berubah-ubah saat mendengar ucapan dari Daffa di ponselnya. Sesekali Mbok Ayu tersenyum manis pada Halimah yang membuat kening Halimah mengerut dan mata sedikit menyipit.
"Baik, Tuan Muda."
Panggilan itu berakhir, tapi senyum manis Mbok Ayu masih belum usai.
"Ada apa, Mbok? Kabar baik ya?"
"Iya. Nyonya siap-siap, sebentar lagi kita berangkat."
"Berangkat ke mana?"
"Ke Mall."
"Mau beli apa, Mbok?"
"Tuan Muda bilang, Mbok disuruh temani NYonya buat beli HP. Nyonya tidak punya HP, kan."
Halimah terdiam, cukup lama, ia masih mencoba mencerna apa yang baru saja Mbok Ayu katakan.
Dulu Halimah pernah punya ponsel, di belinya dengan gaji pertamanya waktu menjadi karyawan pabrik sebelum bertemu Rangga. Lalu, setelah menikah dengan Rangga, ponsel itu rusak. Beberapa kali Halimah meminta agar dibelikan ponsel lagi, meski hanya ponsel bekas, tapi Rangga tidak pernah menggubrisnya.
Lalu, sekarang! Daffa, pria asing yang tidak punya perasaan apapun padanya lebih dari sekedar rasa saling menghormati, bersedia membelikannya ponsel tanpa diminta. Bahkan Daffa juga sudah membelikan banyak pakaian yang mahal melalui Mbok Ayu.
"Kenapa? Kenapa kamu sebaik ini Daffa? Aku takut, aku takut aku tidak bisa lepas lagi dari kamu. Aku takut, semakin lama, aku malah ingin memiliki kamu hanya untuk diriku sendiri," batin Halimah menjerit, menolak dan ketakutan dengan semua kebaikan Daffa padanya.
Bersambung....