Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Pertemuan Wati dan Seorang Lelaki, Kepala kampung marah?
Di alam bawah sadar ini, ntah apa namanya, Wati merasa bahagia, sebab dIrinya dapat bertemu atau setidaknya dapat melihat pria tampan itu.
Awalnya Wati merasa enggan untuk memanggil dan mendekati lelaki itu, namun setelah beberapa waktu berlalu, Wati pun memberanikan diri untuk mendekat ke tempat lelaki itu berada.
Senyuman manis dan menggoda terbentuk sempurna di sudut bIbir lelaki itu, tatapan mata tajam namun teduh menenangkan terpancar dengan jelas. Baru kali ini Wati dapat menikmati suasana berduaan dan berada dalam posisi sedekat ini, walaupun mereka sudah beberapa kali bertemu.
Wati hanya diliputi perasaan bahagia yang memenuhi hatinya. Tanpa di sadari Wati saat ini tempat itu berubah secara drastis, dari yang semula hanyalah padang rumput ilalang yang luas, kini berbagai tanaman bunga berbagai warna sudah tumbuh, namun aneh bukan hanya di pada saat padang ilalang hilang menjadi taman bunga yang tumbuhi berbagai warna-warni, tetapi warna tanaman berubah ubah secara serempak, terkadang hanya berwarna biru, hanya berwarna kuning, hanya berwarna pink dan berwarna cerah lainnya.
Perubahan warna terjadi dengan sangat smooth, sehingga terasa menenangkan hati dan indah sekali.
Kini di suatu sisi bentangan padang penuh bunga berwarna-warni itu, terbentuk sebuah tempat yang berupa hutan mini dengan sebuah aliran sungai kecil yang mengalirinya dan sebuah pohon besar tumbuh di dekat sungai tersebut.
Berbagai kupu-kupu berterbangan di sekitar pohon besar itu hingga ke aliran sungai di dekatnya.
Sungai kecil berbentuk bertingkat-tingkat dengan sehingga membentuk beberapa kolam mini yang warna dasar sungai hingga ketepinya sungguh indah dah juga warnanya berubah secara halus dan perlahan-lahan sehingga tidak menyebabkan keanehan.
Kini Wati telah berada di tepi sungai, berjalan berdua di tepiannya sambil mengobrol ringan. Selang beberapa saat mereka sudah berposisi duduk di tepi sungai berangkulan, sesaat samping-sampingan dengah Wati menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki tampan itu yang tak lain adalah lelaki yang dikenalnya semenjak pertemuan di Balai kampung yang diikutinya karena Slamet teman sepekerjaan dengannya itu, membatalkan ke ikut sertaannya karena sudah pernah mengikuti pertemuan sejenis namun tidak mendapatkan apa-apa. Sehingga Wati dengan tiba-tiba di minta oleh Kepala sekolah untuk menggantikan Slamet.
Saat teringat Slamet warna bunga dan alam sekitar mendadak berwarna gelap dan terlihat suram, disertai awan gelap di langit.
Wati bangun dari posisi duduknya dan berdiri tegak seolah-olah khawatir akan suatu dengan mengamati sekitar, lelaki tampan itu pun turut berdiri juga dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan Wati lalu memeluk Wati dari belakang, sambil menggenggam kedua tangan Wati yang membentuk posisi silang.
Mendadak suasana menjadi cerah kembali di penuhi warna pink dan berbagai kombinasi warna yang sungguh indah sekali.
Tiba-tiba..., entah sIapa yang menyebabkan mereka berdua masuk kedalam kolam alam yang terbentuk alami di aliran sungai. Keceriaan semakin bertambah-tambah saja. Mereka berenang kesana kemari sambil berkejaran dengan senyum ceria.
Beberapa bunga pun segera mengeluarkan kuncup dan mulai bermekaran, menambah keindahan alam sekitar.
Kini Wati dan pasangannya berenang bersama membentuk membentuk berbagai kombinasi gerakan yang indah, terkadang menyelam ke bawah air dan dilanjutkan dengan muncul ke permukaan dan diulangi beberapa kali dengan gerakan yang berbeda-beda namun terlihat lebih mesra dan hangat.
Wati dan sang lelaki tampan sebagai pasangannya saat ini bermain siram-siraman air di permukaan sungai. Mereka mengakhiri kegiatan berenangnya dengan berpelukan mesra seolah-olah waktu tak ingin berakhir. ***
Di warung Widuri, Harjo mengamati dari dekat mimik wajah Wati yang kelihatan lebih segar dan cerah berbeda jauh saat ditinggalkannya untuk makan. Harjo duduk di samping kepala Wati yang masih berada dalam keadaan pingsan.
Beberapa pengunjung warung mulai berpulangan yang tersisa hanya Pak Mulya saja. Saat ini wajah Widuri sedang dalam mode sedikit cemberut dan muram. Barangkali hal inilah yang menjadi alasan beberapa pengunjung itu kabur dari tempat tersebut. ***
Di ruangan Balai Kampung, Slamet kelihatan cemberut sekali wajahnya, setelah kena marah Kepala kampung.
Hal sebab Slamet memaksakan perkataannya kepada Kepala kampung dan beberapa orang pegawai Balai kampung.
"Saya yakin, Wati sudah berada di ruangan ini, sebab tadinya kami berangkat bersama-sama dari sekolah. Tidak mungkin dirinya tidak ada di ruangan ini." tutur Slamet kepada Kepala kampung yang ditemani petugas Linmas di dalam ruangan itu.
"Tenang Pak Slamet, coba perhatikan sendiri di Balai kampung ini, tidak terlihat sama sekali Ibu guru Wati." Jawab Kepala kampung, mencoba menenangkan Slamet.
"Tidak mungkin!!! Kami berdua berjalan bersama-sama, hanya saja saya kelelahan dan berhenti sejenak di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi jalan...." ungkap Slamet kembali dengan perkataan yang lebih keras, namun Slamet menyimpan sebagian ceritanya, sebab Dia tidak ingin Kepala kampung tahu semuanya.
"Tetapi kamu cek saja sekeliling tempat ini. Kami sama sekali tidak menyembunyikannya!" ungkap Kepala kampung sedikit kesal sebab Slamet seolah-olah selalu menuduh mereka menyembunyikan Wati guru yang telah disakiti oleh Slamet itu.
"Benar sekali, Pak Slamet boleh memeriksa setiap sudut ruangan yang terdapat di Balai kampung kita ini, sebab saya sendiri berada di dalam ruangan Balai ini sudah seharian dan tidak pernah menemui Ibu guru Wati." ucap Junaedi salah seorang petugas Linmas yang bekerja di Balai kampung, membela pimpinannya.
Slamet sedikit terdiam, sebab kedua orang dihadapannya terlihat berubah roman wajahnya.
"Tetapi, saya sudah memeriksa kamar mandi juga sebenarnya, tetapi saya tidak percaya Ibu Wati tIdak ada di... " Belum selesai Slamet mengutarakan perkataannya, Kepala kampung segera, menghentakkan meja, dan meminta Slamet untuk pergi.
"Sebaiknya anda mencarinya terlebih dahulu, setelah itu kamu boleh datang kembali dan melapor." Teriak Kepala kampung merasa jengkel.
Junaedi yang juga terkejut seperti halnya Slamet, segera bergerak menuju kursi keberadaan Slamet duduk dan memintanya pergi.
"Silahkan Pak Slamet keluar." pinta Junaedi setelah melihat Kepala kampung yang saat ini sedikit emosi.
Melihat suasana yang sudah berbalik 90 derajat itu, Slamet dengan perlahan bangkit sambil berkata,
"Saya tetap tidak percaya Bu Wati tidak datang ketempat ini." tutur Slamet sambil mempercepat langkah kakinya, sebab Junaedi sudah mulai Mendorong tubuhnya dengan lebih keras.
Slamet di dorong oleh Junaedi hingga keluar ruangan kecil tempat Kepala kampung bekerja, bahagian dari Balai Kampung, lalu Junaedi menutup pintu ruangan tersebut.
Slamet masih juga tidak percaya kalau Wati tidak berada di dalam Balai kampung, apalagi tidak sampai ke gedung ini.
Slamet mondar-mandiri di depan kantor kecil berukuran empat kali enam itu berulang-ulang kali.
Tiba-tiba kepala Slamet masuk ke dalam Kantor di Balai kampung itu, setelah sebelumnya membuka secara perlahan-lahan pintu ruangan.
Kepala kampung dan Junaedi terkejut melihat keberadaan kepala seseorang yang tiba-tiba melihat kearah mereka. ***
Apakah Wati akan di temukan Slamet?
Apakah Wati akan segera sadar dari pingsannya?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru